Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita


Sebagai penduduk Tangerang, adalah galau bila ingin main ke pantai. Opsinya adalah : kepulauan seribu (menyeberang dari Angke, Ancol atau Tanjung Pasir) atau pantai di kawasan Banten. Jika memang niat, bisa sekalian ke Sangiang atau menyeberang ke Lampung. Yang paling sering didengar? Jelas Anyer dan Carita, mungkin juga Karang Bolong yang memang satu garis pesisir. Karena saya hanya memiliki waktu satu malam, rasa-rasanya tidak akan puas bila main ke pulau. Pasti hanya akan capek di jalan. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Carita dan Karang Bolong.

Oh iya, mengapa judul dari post ini saya menggunakan kata ‘biaya’? Karena saya ingin membagikan pengalaman bagaimana jika kita jalan-jalan ke Anyer dkk tanpa rombongan (misal hanya berdua saja). Gimana sih, worth it nggak uang yang kita keluarkan dengan hiburan wisata yang kita nikmati? Saya akan mencoba menjelaskan sedetail mungkin untuk rincian biayanya.

Pertama adalah masalah transportasi. Dari Tangerang atau Jakarta adalah hampir nggak mungkin naik motor berdua saja sampai ke Anyer. Kecuali jika dalam rangka touring, itu lain lagi ya. untuk naik umum pun juga pastinya repot, kan kita mau main-main. Jadi saya dan parter jalan-jalan kali ini memilih untuk menggunakan mobil. Urusan mobil, sudah pasti bercabang lagi yaitu bensin dan biaya toll. Untuk bensin, saya rasa semua tipe mobil sudah dipastikan harus mengisi bensin (Pertamax) minimal 200ribu untuk PP. Mengenai uang toll, dari toll Tangerang  sampai ke pintu keluar Cilegon barat dikenakan 48ribu. Sekalian saja ya untuk toll pulang, karena kebetulan lewat Cilegon Timur, jadi toll pulang kena 38ribu. 

Kedua yaitu mengenai penginapan. Meskipun sepanjang bibir pantai hampir semuanya adalah penginapan, sulit untuk menemukan harga murah. Percaya deh L kondominium atau hotel-hotel yang bisa dibilang bagus harganya berkisar 350 sampai 650ribu (ini bicara kamar standar ya).  kalau yang di atas 700ribu saya yakin kamarnya memuaskan. Tapii… sangat sulit untuk kalian memesan hotel di sana melalui aplikasi seperti Traveloka atau pegipegi. Karena tidak mau ribet, saya memilih untuk tetap memesan lewat aplikasi.

Untuk hotel yang standar banget banget masih saja harga minimalnya 250ribu. Bukannya apa, kalau di hotel-hotel kota besar seperti Bandung saja 300ribu sudah dapat kamar bagus meskipun hotel budget. Kan nggak mungkin kalian mau datengin hotel satu-satu demi bandingkan harga karena memesan on the spot. Hehe. Jadi siapkan dana 300 sampai 450ribu untuk kamar standar.


Ketiga pastilah tentang tiket masuk wisata pantai (dan retribusi lainnya). Kabetulan hotel tempat saya menginap tidak memiliki akses pribadi ke pantai, jadi harus masuk melalui pintu resmi. Saya sengaja ingin pagi-pagi ke pantai demi menghindari ramai. pukul 7 pagi saya mendatangi pintu masuk kawasan pantai dan tidak menemukan siapapun berjaga di pos loket. Yasudah, masuk saja deh. Hehe. Fyi kalau sudah ada petugasnya kita dikenakan retribusi 10ribu ya.

Carita memang pantainya kadang bersih, kedang keruh. Sayang sekali saat itu sedang keruh meski tidak banyak sampah. Banyak tukang jajanan seperti kopi, bakso, gorengan dan juga tukang pijit. Oleh-oleh khas yang banyak ditawarkan adalah ikan kering dan pete. Bonus lagi jika ke pantai pagi-pagi, semua harga oleh-oleh dibanderol habis-habisan oleh pedagangnya, katanya untuk penglaris. Hehe. Serius, kalian bisa dapat setengah dari harga normal bila hari mulai siang.

Beranjak dari Carita, saya kembali ke hotel. Untunglah, meskipun kamar yang saya pesan standar, tetap mendapat sarapan. Lumayan kan jadi nggak perlu jajan lagi untuk sarapan. Selepas check out kami menuju ke pantai Karang Bolong. Pantai ini terletak kurang lebih hanya 8km dari Carita. Di seberang pintu masuk resminya ada parkiran mobil yang cukup luas dan penjaja oleh-oleh berjejer. Parkir mobil dikenakan 20ribu.


Namun sayangnya saya terjebak nostalgia untuk urusan tiket masuknya. Abang parkir langsung menuntun kami untuk masuk ke pantai (tidak melalui pintu resmi), kami diarahkan pada pintu cottage yang memiliki akses langsung ke pantai. Sempat ge-er akan digratisin, tapi malah kebenjut L jadi kami disuruh bayar 30ribu untuk 2 orang dengan 1 tiket seharga 15ribu. Saya langsung protes “30ribu dua orang tapi tiketnya satu?” trus kata mas-masnya “iya mbak sama aja tetep bisa masuk dua-duanya kok” sebenarnya saya ingin lebih bawel lagi, tapi karena tengah hari yang panas ini jadi saya memilih langsung masuk saja tanpa banyak komentar lagi.

Jadi maaf nih, untuk retribusi resmi masuk Karang Bolong saya tidak tahu pastinya, bisa di cek ke blog-blog sebelah ya. Estimasi saja sama yaitu 15ribu atau pahitnya deh 20ribu. Di dalam kawasan pantai pun saya tidak banyak jajan, karena kebetulan membawa bekal dari jajanan semalam yang masih ada. Hehe. Tapi tetap sih, wajib beli kelapa muda. Sempat sewot dan berpikir akan kena harga mahal lagi, tapi rupanya kelapa muda dibanderol hanya 10ribu saja. Jika kalian ingin menyewa tikar untuk duduk-duduk santai dipinggir pantai (cailahh), harganya 25ribu bisa sepuasnya. Mau berapa lama terserah deh.
Nah biaya intinya saya rasa 3 hal itu tadi saya, yaitu transport, hotel dan retribusi wisata. Mau itung-itungan nggak?
Bensin                200.000
Toll                      86.000
Hotel                  300.000
Retribusi Wisata  30.000
Jajan dkk            100.000
Total                   716.000

Itu sudah ngepres yaaa.. beneran nggak jajan banyak. Kesel nggak? Kesel lah haha biasanya modal 1jt udah bisa jalan ke Bandung 2 malam dan mengunjungi beberapa objek wisata L

Jadi inti dari post kali ini adalah, kalau kalian ingin main-main ke Anyer, Carita, Tanjung Lesung dkk sangat disarankan untuk rombongan, jangan cuma berdua atau bertiga apalagi sendiri. Supaya yang diajak patungan juga makin banyak. Hehe. Segitu dulu deh, nanti kalau ada yang baru di share lagi.

Tangerang,
22 Agustus 2017



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Inginkan ngopi tapi sedang di mall? Pasti ketemunya starbucks, maxx coffee atau djournal yang memang banyak membuka gerai di dalam mall. Sebenarnya merekapun punya kopi yang authentic atau kopi yang memang dibuat dari biji kopi asli dan khas daerah-daerah tertentu di Indonesia. Kita lebih sering menemukan authentic coffee di kedai-kedai kopi seperti Tanamera, Filosofi Kopi atau kedai lain yang tidak hanya menyediakan kopi berhias latte art kekinian.

Kemarin saya memutuskan untuk mampir ke Louis Doughnuts & Coffee saat sedang jalan-jalan di Supermall Karawaci. Dekat dengan Gramedia, pas banget untuk santai sejenak setelah berkeliling belanja buku. Awalnya banyak yang post di instagram tentang donat di coffee shop ini yang lucu dan menarik. Tapi saya lebih tertarik untuk menjajal kopinya.


Setiap menjajal coffee shop baru saya tak pernah sungkan-sungkan untuk bertanya pada si barista tentang kopi yang akan saya pesan. Awalnya saya hendak mencoba kopi Papua, namun sayang sedang habis. Kata si barista, itu authentic coffee yang paling enak. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Bali Kintamani. Sementara partner ngopi saya yang seti, Nurul, memilih Tiramisu latte.

Seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, saya suka dengan yang namanya buy something and get something free. Haha. Rupanya setiap pembelian 1 kopi, kita dapat free 1 donat. Namun sepertinya promo ini tidak berlangsung terus menerus, karena pada kunjungan kedua saya tidak lagi mendapat promo tersebut. Saya pun memilih green tea donut dan Nurul memilih cokelat (standar ya, karena kami belum yakin dengan rasa-rasa yang lain hehe.)


Di Louis Doughnuts & Coffee tidak tersedia cangkir atau mug untuk minuman kopi variasi, semua menggunakan cup. Namun begitu Bali Kintamani saya datang, rupanya disajikan dalam teko press (entah apa namanya, mungkin ada yang tahu?) dan cangkir kecil yang imut sekali. Disediakan juga 2 bungkus gula pasir.


Awalnya saya mencoba si Bali Kintamani tanpa gula sama sekali. Rasanya legit, tidak terlalu pahit dan tidak pekat. Beda dengan kopi Toraja. Uap masih mengepul ketika saya tekan penyaring yang ada di dalam teko. Ampas kopi pun turun disusul kopi panas yang menyembul keatas. Hmmm.. harum.



Sementara pesanan Nurul, si tiramisu latte, tidak jauh beda dengan café latte pada dasarnya hanya saja memang manisnya tiramisu cukup terasa. Pokoknya rasanya manis dan samasekali tidak ada unsur kopi. Tentang si roti bulat bolong di tengah (donat), sayang sekali belum cukup memuaskan di lidah. Ukurannya yang memang imut sebenarnya cocok sekali untuk teman ngopi. Namun mungkin kebetulan memang rasa yang saya pilih kurang cocok dengan kopi yang saya minum. Tentang harga menurut saya masih lumayan terjangkau, meskipun tidak jauh beda dengan kedai kopi di luar.

Tangerang,
01 Agustus 2017



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sepanjang bibir pulau Jawa bagian selatan memang identik dengan obyek wisata pantai. Setelah dari hutan pinus asri, saya dan Sita menuju bagian pesisir Bantul. Saat masuk kawasan wisata sudah ada yang berjada di gardu masuk dan membayar retribusi. Saat masuk sudah ada papan penunjuk arah dimana sebagian besar untuk menuju ke pantai adalah berbelok ke kanan. Jalanannya lebar kali panjang dan sepi, ditambah dengan angin laut yang kencang. Jadi hati-hati bila kalian naik motor terutama bagi yang kurus. Hehe.

Jalanan masuk kawasan pantai

Kami memutuskan mampir ke 2 pantai, yaitu Pandansari dan Goa Cemara. Yang membuat saya tertarik untuk ke Pandansari adalah adanya mercusurar sebelum kita mencapai bibir pantai. Pantai Pandanwanginya sendiri tidak terlalu ramai, tidak cukup besih juga namun kalian bisa duduk-duduk di dahan pohon cemara yang pendek. Tidak banyak pedagang dan toilet, singkatnya memang pantai ini kalah pamor dengan pantai Goa Cemara. Untuk masuk ke pantai ini dikenakan kembali tarif Rp 2.000,-. 

Aslinya sih, ketakutan

Setelah melihat pantai, kami menuju mecusuar. Tarif untuk masuk ke dalam adalah Rp5.000,- per orang. Ada kurang lebih 6 lantai dengan tangga memutar di dalam. Sangat tidak disarankan untuk kalian yang memiliki phobia ketinggian. Karena selain memang tinggi, angin laut dari puncak mercusuar sangat sangat besar. Terlebih lagi pada waktu musim kemarau. Pesan si bapak penjaga waktu itu adalah “Anginnya besar ya mbak, jangan nyender atau pegangan di besi.” Alhasil kamipun senantiasa menempel pada dinding. Hehe. Oh iya selain mercusuar, di pantai ini juga ada agrowisata kebun buah naga hlo. Cocok untuk ibu-ibu yang membawa serta anaknya. Bisa sekalian jalan-jalan ke kebun.

sumber

Jika mau pemandangan bagus, pilihlah waktu sore antara pukul 16.00 – 17.00 karena matahari sudah condong ke barat dan kalian masih sempat kembali ke bibir pantai untuk menikmati sunset. Di atas nggak perlu lama-lama ya. Bahaya karena memang tidak ada peralatan pelindung apapun dan besi pembatasnya hanya 2 garis saja.

Setelah dari mercusuar kami bergegas menuju ke pantai Goa Cemara. Lagi-lagi ada retribusi, yaitu Rp3.000,-. Goa Cemara tentu lebih ramai karena memang lebih terkenal. Ada banyak warung makan, toilet bahkan ada pos polisi juga. Banyak andhong dan perahu-perahu kecil.

setelah matahari terbenam

Meskipun di kawasan hutan cemaranya kotor, tapi di bibir pantai cukup bersih kok. Saran sih ambil yang bagian kanan ya dari pintu masuk, karena lebih sepi. Dan sunsetnya… tidak mengecewakan. Bagus kok (menghibur diri karena gagal liat lautan awan di Sumbing). Oke setelah sunsetnya habis dan matahari telah seluruhnya tenggelam, kami beranjak untuk kembali pulang.


Sangat penting jika kalian kesini, pastikan lampu kendaraan hidup (tidak bermasalah). Jalanan keluar pantai hingga kampung terdekat nggak ada lampu :( dengan angin yang gede pula, kalian harus ekstra hati-hati karena cenderung sepi. Kesimpulannya gelap dan berbahaya. Setelah keluar dari wilayah pesisir kami mulai kembali memasuki perkampungan dan menuju Jogja kota karena berencana lewat Prambanan untuk ke Solo. Perjalanan ke Solo kami tempuh kira-kira 2,5jam. Itu udah pakai ngebut sih ya. dengan sampainya di rumah, berakhir pula ngebolang seri lebaran tahun ini. ya, cuma segitu :’) mudah-mudahan bisa naik gunung yaaa nanti setelah masa vakumnya habis. Hehe.

Tangerang,

22 Juli 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Apakah kalian termasuk pengguna setia angkutan sewa khusus atau yang kerap kita sebut dengan taksi online? Ternyata tidak semua kendaraan yang mengangkut penumpang setiap harinya memiliki izin dari Kementerian Perhubungan. Alasannya bermacam-macam: mulai dari lama dan rumitnya sistem perizinan, adanya praktek pungli, biaya tinggi atau mungkin karena  kurangnya informasi yang seharusnya diterima oleh si pengusaha angkutan khusus. Atau … bisa jadi memang pengusaha angkutan itu sendiri yang tidak mau repot mengurus izin. Wah kalau yang terakhir mudah-mudahan jangan sampai ya. Karena mengenai angkutan sewa khusus itu sendiri telah diatur dalam Peraturan Menteri Nomor 26 Tahun 2017.

Menanggapi pentingnya izin penyelenggaraan usaha angkutan dan operasional kendaraan yang tidak berjalan cukup baik karena hambatan-hambatan di atas, BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek) meluncurkan sistem perizinan online untuk angkutan sewa khusus. Seperti apa prosesnya dan apakah kelebihannya dibandingkan pengajuan izin secara manual?

Penghargaan kepada Pramudi dan Masinis oleh Menteri Perhubungan

Pada hari Minggu tanggal 16 Juli 2017 lalu bertempat di gedung BPTJ, saya bersama rekan-rekan blogger berkesempatan untuk hadir dalam acara peluncuran sistem perizinan online untuk angkutan sewa khusus. Mulai diberlakukannya sistem ini diresmikan langsung oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia yaitu Bapak Budi Karya Sumadi. Dalam peresmian itu, diperlihatkan pula secara langsung simulasi dari sistem perizinan online tersebut. Menurut Plt. Ketua BPTJ yaitu Bapak Bambang Prithatono, sistem ini diluncurkan agar memudahkan semua pihak terkait, yaitu bagi pelaku usaha angkutan khusus maupun pemerintah yang bertindak mengawasi.

Slogan “Smart transportation for smart city” pun dirasa sangat cocok dengan rilisnya sistem perizinan online ini. Jakarta sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan dituntut untuk menjadi kota yang dapat menjadi acuan bagi kota-kota lain. Untuk itu segala aspek pendukung roda kehidupan di kota ini dari waktu ke waktu dibuat menjadi secanggih mungkin sehingga layak berpredikat  ‘smart city’. Begitupun pada aspek transportasinya, mulai dari pengadaan angkutan hingga eksekusi penumpang harus dilakukan dengan cara yang ‘smart’ yaitu dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang terus berkembang, salah satunya diterapkan dalam sistem perizinan ini.

keluarga BPTJ berfoto dengan Pak Menteri setelah peresmian 

Kelebihan sistem perizinan online ini antara lain adalah : waktu relatif singkat, biaya minim, bebas pungli, yang terpenting juga tentunya dapat diakses kapan dan di mana saja tanpa harus bertatap muka dengan petugas. Sehingga dengan demikian tidak ada lagi alasan bagi para pengusaha angkutan khusus untuk tidak mendaftarkan kendaraannya. Keunggulan lain dari sistem ini adalah berbasis non tunai, karena telah terintegrasi dengan sistem SIMPONI (Sistem Informasi PNBP Online) dari Kementerian Keuangan. Sehingga nantinya operator angkutan dapat langsung menerima e-billing PNBP melalui email dan dapat membayarnya langsung lewat bank terdekat tanpa harus datang ke kantor BPTJ, seperti pembayaran melalui e-billing lainnya.

Untuk prosesnya, bisa langsung diakses melalui http://ask.dephub.go.id/. Karena ada berbagai perizinan atau perubahan data yang dapat di proses pada laman ini, maka alur prosesnya pun berbeda-beda. Jangan khawatir, BPTJ telah menyediakan SOP yang bisa langsung di unduh. Secara garis besar beginilah tampilan dari Sistem Informasi Pelayanan Perijinan Angkutan Sewa Khusus tersebut :


Beranda laman http://ask.dephub.go.id/ . Jika perusahaan sudah terdaftar, dapat langsung login.

 Belum terdaftar? Bisa langsung klik menu 'Pendaftaran' dan isi form data yang ada.

Untuk tahu bagaimana proses pengajuan izin dan lain sebagainya, langsung saja klik menu 'SOP' dan unduh peraturan sesuai keperluan. Misalnya izin penyelenggaraan pertama kali, perpanjangan izin atau yang lainnya. File yang terunduh berformat pdf dan cukup jelas untuk dipelajari.

para blogger yang hadir dalam acara peresmian

Sistem ini akan diberlakukan di Jabodetabek untuk tahap awal dan apabila berjalan baik akan segera diterapkan juga pada daerah-daerah lain. Tentunya kita semua berharap dengan lancarnya sistem yang berlaku akan membuat pengawasan dan keberlangsungan angkutan khusus menjadi lebih teratur. Selain memudahkan pengusaha angkutan dan pemerintah, tentunya kita sebagai pengguna angkutan khusus juga merasa aman dan nyaman karena kendaraan yang kita tumpangi sudah memiliki izin operasi.

Tangerang,
17 Juli 2017


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
 

Mencari hotel budget di Jakarta tidak sulit sama sekali. Meskipun ditaburi hotel berbintang, masih banyak hotel bintang 2-3 yang menawarkan harga murah meriah. Kemarin saya berkesempatan untuk menjajal Ibis budget Tanah Abang, Jakarta Pusat. Nilai plus yang langsung terasa adalah hotel ini cukup dekat dengan stasiun besar Gambir. Pas banget untuk kalian yang sedang singgah di Jakarta dan menggunakan moda transportasi kereta api. Lokasinya pun tidak sulit di cari, dengan gedung tinggi yang menonjol diantara bangunan lain di sekelilingnya. kalau naik grab car dari Gambir kira-kira Rp10.000,- ya.


Untuk ukuran kamar bisa dibilang sempit, namun worth it dengan harganya. Namanya juga hotel budget kan? Hehe. Kamar mandi dan toiletnya terpisah dengan ukuran yang benar-benar pas. Tidak tersedia peralatan mandi ya, hanya ada shampoo yang difungsikan juga sebagai sabun mandi (tulisannya sih shampoo & bodywash) :D jadi beli dulu di luar ya untuk pasta giginya. Nah wastafel ada di samping kasur, dengan sebuah kaca minimalis. Mmmm bisa becek sih lantainya kalau kalian banyak gerak saat cuci muka atau gosok gigi di wastafel.


Buat yang nggak bisa tidur tanpa guling, tanang. Di hotel ini disediakan guling. Kebetulan saya pesan king bed, jadi ada dua bantal dan dua guling. Hehe berasa penuh deh kasurnya. Tidak ada lemari, jika ingin gantung baju disediakan hanger tepat di depan kamar mandi dan ada sebuah kaca panjang vertikal disampingnya. Jadi kalian bisa ngaca-ngaca genit sebelum keluar kamar. Ngomong-ngomong, kemarin saya pesan lewat traveloka dan kamarnya tidak free sarapan. Lalu saat check in langsung ditawarin apakah mau tambah fasilitas sarapan dengan charge Rp40.000,- per orang. (cmiiw ya, seingat saya segitu).


Resepsionisnya ramah, tidak pakai uang jaminan ataupun meninggalkan KTP. Jadi saat check in tinggal tunjukkan kartu identitas, bayar, dan bisa langsung dapat kunci kamar. Oiya, kamarnya free wifi juga. Tapi waktu itu saya lupa mencoba, jadi nggak tahu deh seberapa kencang wifinya :D ratenya 4 dari 5 yah, nggak sampai Rp300.000,- kalian bisa menginap di pusat kota Jakarta dengan nyaman :)


Tangerang,
05 Juli 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 Menghadapi jam check in dan check out hotel memang kadang membuat kita jadi serba salah. Datang siang, angkat kaki juga siang. meskipun, saya lebih sering meninggalkan hotel pagi-pagi karena ingin segera mendatangi destinasi yang sudah ada di list liburan. Saat pulang lebaran kemarin, saya kehabisan tiket dari Solo dan alhasil harus pulang ke Jakarta dari Jogja. Enggan merepotkan orang rumah, saya berniat naik prameks dari Solo menuju Jogja.

Tiket prameks yang kini sudah dapat dipesan H-7 sangat rawan habis sebelum hari keberangkatan, terutama di jam-jam pagi dan sore. Tiket kereta Gajah Wong yang akan membawa saya kembali ke perantauan dijadwalkan berangkat pukul 18.00 WIB. Sementara, saya sudah tiba di Jogja pukul 13.30 WIB karena kebagian kereta prameks di jam 12.00 WIB.

Daripada bosan menunggu, saya berniat untuk jalan-jalan dahulu ke Malioboro mengingat stasiun Tugu berjarak sangat dekat dari ikon kota Jogja tersebut. Lalu bagaimana ya dengan koper dan barang bawaan saya yang lain? Saat masih di Solo saya memang sudah mencari tahu tentang adanya loker di stasiun Tugu, dan begitu turun dari kereta prameks saya langsung menghampiri petugas stasiun.
Loker barang bagian luar

“Mbak, di sini ada loker barang ya?”
“Oh ada bu, itu tinggal lurus ke depan.”
Nah, loker ini berada persis di tengah-tengah stasiun, cari saja lorong yang memisahkan peron 2,3 dan 4,5,6. Iseng saya bertanya lagi karena tiket saya sebenarnya berangkat dari stasiun Lempuyangan:
“Mbak kalau saya titip barang, terus saya mau ambil tapi nggak punya tiket, apa bisa?”
“Nanti mbaknya kan dapet bon, nah seharusnya bisa masuk dengan bon itu. tapi lebih baik tanya lagi ke petugas check in di depan ya mbak,”

Saya pun menghampiri loker yang dimaksud. Penjaganya saat itu adalah seorang ibu-ibu.
“Bu, saya mau titip barang.”
“Diambil jam berapa mbak? Disini biayanya 3 jam Rp30.000,-“ entah kenapa tidak menyebutkan tariff per jam namun langsung dirapel 3 jam begitu. Saya juga tidak terfikir untuk tanya sih saat itu, hehe.
“Jam 17.00  sepertinya Bu, tapi tiket saya nanti jam 18.00 dari Lempuyangan, gimana ya? keetanya Gajah Wong”
“Oh kalau Gajah Wong berhenti di sini juga kok mbak, mending mbak naik dari sini saja.”
“Wah kebetulan ya Bu. Yasudah nanti saya tanya lagi ke petugas di depan.”

Bon penitipan

Nah berakhirnya pembicaraan itu bersamaan juga dengan selesainya transaksi diantara kami.
Lokernya ada yang besar dan kecil. Yang besar di luar, yang kecil di dalam. Begitu mendapat bon, langsung masukkan sendiri barangnya ke dalam loker dan bawa kuncinya. Loker besar cukup menampung 2 koper sedang (atau mungkin yang besar juga). Loker kecil cukup untuk 1 koper sedang atau 2 sampai 3 ransel.

Setelah selesai urusan loker saya kembali bertanya ke petugas check in.
“Mbak, kalau tiket saya keberangkatan Lempuyangan kereta Gajah Wong, apa bisa check ini disini?”
“Bisa mbak. Karena keretanya berhenti di sini.”
Nah kalau yang ini mungkin saya yang kudet (kurang update). Jadi mau dari manapun keberangkatan awal asalkan keretanya berheti di sebuah stasiun, kita tetap bisa check in di stasiun tersebut. Karena Gajah Wong ini kereta ekonomi, saya tidak terpikir bahwa ia akan berhenti di stasiun Tugu yang notabene untuk pemberhentian kereta bisnis dan eksekutif.

Setelahnya saya langsung cetak tiket dan jalan-jalan sore di Malioboro. Seperti biasa, selalu ramai dan gerah. Tapi entah kenapa juga, tidak bosan-bosannya kita kesana tiap kali mampir ke Jogja. Begitu selesai belanja oleh-oleh tambahan, saya bergegas kembali ke stasiun. Masuk peron, dan mengambil koper. Kita bisa langsung buka lokernya sendiri, tanpa menyerahkan bon yang tadi.mungkin ibunya masih ingat hehe.

Jadwal Prameks

Jadi kalau kebetulan timing kalian kurang pas antara tiket keberangkatan dengan jadwal keluar hotel, loker ini bisa jadi penyelamat jika ingin jalan-jalan tanpa bawa beban. Tapi bagaimana jika kita tidak punya tiket kereta? Kalian bisa beli tiket kereta prameks yang hanya Rp8.000,- dan tersedia keberangkatan hampir setiap 2 jam sekali. Beli saja langsung 2 tiket yang mendekati jam mulai penitipan barang dan jam untuk mengambilnya kembali. Modal tambahan Rp16.000,- nggak apa-apa kan. Hehe.

Kereta Gajah Wong,
02 Juni 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 

Belakangan ini Yogyakarta gencar banget mempromosikan potensi wisatanya. Macam-macam ‘puncak’ dan ‘bukit’ bermunculan dengan properti penunjang untuk mereka yang ingin berfoto. Kebetulan kemarin saat pulang kampug ke Solo, saya (lagi-lagi) tidak jadi naik gunung. Karenanya, saya dan Sita mengambil plan B yaitu touring. Dari beberapa destinasi yang ada di Bantul, kami memilih puncak panguk , hutan pinus asri dan pantai goa cemara. Jadi judul utamanya adalah explore Bantul. Kami naik motor dari Sukoharjo dengan mengandalkan google maps meskipun Sita sudah lumayan sering ke Bantul.


Saran pertama dari saya adalah : jangan pernah mengandalkan google maps mentah-mentah jika tujuanmu adalah puncak panguk kediwung. Location yang ada di g-maps itu ada di seberang bukitnya, sementara dibawahnya ada sungai yang sudah pasti kalian nggak akan bisa lewat kalau mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh g-maps. Jadi ada baiknya cari dahulu air terjun Lepo, nah dekat dari Lepo kalian bisa langsung ganti destinasi nya ke puncak panguk. Atau yang paling mujarab ya pakai GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Jangan malu bertanya, karena tempat itu sudah cukup terkenal jadi penduduk Bantul pasti tahu.

Singkatnya setelah nyasar kamipun sampai di puncak panguk. Untuk retribusi masuk Rp7.000,- (2 oang + 1 motor). Yahh boleh lah nggak terlalu mahal. Kalau kalian datang tengah hari, sudah sangat jelas akan kepanasan. Tidak banyak pohon dan tanahnya batu kapur. Mungkin karena masih baru, jadi sambil proses dirapihkan juga. Disana terpampang list harga termasuk harga untuk camp ground yang bikin kaget, karena mahal. Yaitu Rp15.000,- per orang untuk semalam. Hiks. Naik gunung di Jawa Tengah aja nggak sampai segitu.


Oke setelah parkir kendaraan, kalian bisa langsung menyusuri spot-spot foto yang disediakan. Ada sekitar 5-7 spot dengan iconnya masing-masing. Rata-rata sekali foto diberi tariff Rp3.000 per orang dengan maksimal lama foto 3 menit. (lagi-lagi menurut saya kok mahal ya hehe). Bukan pelit sih, tapi ya kalau kalian ingin foto di 5 spot berarti dikali saja biayanya. Tapi jangan sedih, ada juga spot yang gratis kok dan latar belakang pemandangannya nggak kalah bagus.

Puncak panguk atau bukit panguk kediwung ini buka pukul 04.30 WIB sampai dengan adzan maghrib. Jadi kalian bisa ambil foto bagus saat sunrise atau sunset. Sayang sekali kami nggak kesampaian untuk ambil foto sunrise karena berangkat kesiangan plus nyasar. Jalanan menuju ke tkp lumayan layak, meskipun ada tanjakan yang berbatu. Jadi hati-hati ya yang bawa motor terutama manual. Akhir kata tempat ini bagus saat sunrise (karena ada kabut di lereng bukit) dan sunset (asal cuaca cerah).

Solo,
30 Juli 2017


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Siapa sih yang nggak suka dengan cake? Bukan hanya untuk sekedar peringatan ulang tahun, sekarang banyak banget cake shop yang menjual berbagai macam jenis cake dari yang imut sampai ukuran besar. Kalian pasti sudah nggak asing lagi deh dengan The Harvest, yaitu patisserie yang sudah terkenal banget dan outletnya ada dimana-mana.


Nah The Harvest rupanya juga mengadopsi Cheesecake Factory  yang menjual cake dengan konsep yang lebih unik, kini bernama Almond Tree Cakes & Pastries. Kemarin, kebetulan saya berkesempatan untuk menghadiri launching party dari outlet Almond Tree Cakes & Pastries yang ada di Mall Gandaria City.

Salah satu asiknya ada outlet Almond Tree Cakes & Pastries di mall adalah kita bisa duduk cantik sembari menikmati cake saat mama sedang asik belanja. Hehe. Dalam launching kali ini, Almond Tree Cakes & Pastries memperkenalkan tak kurang dari 5 menu baru. Ada apa saja sih? 

Inilah deretan menu baru tersebut :

Strawberry cheesecake
Klasik, tapi selalu jadi favorit banyak orang. Lembutnya juara dan nggak terlalu manis alias pas. Ditambah kepingan almond yang crunchy bikin kamu nggak berhenti ngunyah.


Red Velvet
Namanya sempat viral dan hits, nggak cuma untuk cake tapi juga minuman bertema latte. Sebagai salah satu yang suka banget sama red velvet, pastinya cake ini jadi favorit saya dong :)

Butterschotch Cake
Ini termasuk baru bagi saya, tapi lumayan juga dengan toping yang menyeimbangkan coklatnya.

Raspberry Chocolate
Nah kalau yang ini segar sekaligus manis yaa.

Tea Cake
Kebayang dong cake rasa minuman khas yang paling sering kita minum? Ya, klasik dan harum.

Setelah mencoba bermacam cake tadi, ternyata masih ada andalan yang dihantarkan langsung oleh sang brand ambassador, babang Reza Rahardian. Duh, cake nya manis terus brand ambassadornya cakep. Mwehehee.


Babang Reza dipandu oleh duo mc kondang Ronald dan Tike memperkenalkan Chocolate Spike. Dari namanya saja sudah menggambarkan betapa ‘cokelatnya’ dia. Dijamin para pecinta cokelat ataupun black forest suka deh.



Seelain cake, banyak juga cookies maupun kue-kue lain seperti croissant yang dapat kalian cicipi. Saya sempat melirik brand coffee shop ternama yang ada di pojok, yaitu Tanamera. Di sini, Tanamera menyediakan berbagai minuman dengan latte art yang cantik dan rasa ciamik. 
Sekarang kalian nggak perlu takut bête deh kalau nungguin emak, pacar atau gebetan yang asik sendiri belanja. Mau ngemil setelah nonton? Apalagi. Bisa banget.


Tangerang,
18 Juni 2017



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 pict by booking.com

Masih di Yogyakarta, setelah mencoba Tune Hotel saya menemukan satu hotel yang lumayan unik dengan harga terjangkau, yaitu Paku Mas Hotel. Usut punya usut, hotel ini kelas Melati yang di desain untuk liburan keluarga. Saya baru tahu waktu check in, dikiranya bintang 1 atau 2 hehe. Tapiiiii, jangan khawatir. Walaupun kelas melati hotel ini cukup menarik. Paku Mas Hotel ada di Jl. Nogopuro No.35, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kota Yogyakarta.

Untuk mencarinya gampang banget pakai map, tapi jangan kira akan menemukan hotel ini karena gedungnya yang tinggi atau lokasinya yang di tepi jalan raya. Secara umum iya, hotel ini dekat dengan mall Plaza Ambarukmo yang ada di tepi jalan besar Laksda Adisucipto (lurusan kea rah Solo). Tapi kalian harus jeli karena hotel ini masuk ke dalam gang. Untuk memudahkan pengunjung, di pintu masuk gang tertera papan “Paku Mas Hotel”.

pict by booking.com

Begitu masuk ke dalam kawasan hotel, suasananya asri dan tenang. Ada kolam renang outdoor di samping resto. Ruangan resepsionis ada di depan karena tidak jadi satu gedung dengan kamar-kamar hotel. Nah begitu kalian mendapat kuncinya, petugas hotel akan segera mengantar ke kamar, membukakan pintu, menyalakan AC dan tv. Karena tipe bangunannya bukan gedung modern, jadi tidak ada lift. Ya, kalian harus naik tangga. Jangan khawatir, karena hanya ada 3 lantai.

Oke, saatnya menilai plus minus. Nilai plusnya adalah, kamar hotel ini luas. Ya, luas banget untuk harga +- Rp 250.000,- . Ada kasur double bed, meja rias dan lemari (aksen kayu dengan ukiran khas jawa tengah), kursi kayu panjang dan wastafel. Dindingnya sengaja didesain batu bata, dengan lampu kuning remang (sedikit spooky untuk orang-orang yang parno dengan suasana jawa kental hehe). Karena aksen Jawanya sangat kental, jadi terkesan sedikit horror.

Nilai minusnya adalah, kunci pintu manual (maklum kelas melati), kamar mandi sempit dan…. Air panas / dinginnya manual :’) Apakah mungkin karena saya ada di standart room? haha. Karena ada di pict beberapa agen perjalanan yang menunjukkan shower. Balik lagi, jadi begini : ada satu bak mandi kecil, dengan 2 kran air diatasnya. Hehe. Jadi kalian harus pandai-pandai menakar komposisi air ya, kalau kepanasan harus rela menunggu sampai airnya dingin atau menguras sebagian dan isi ulang. Untuk peralatan mandi disediakan lengkap kok :)

 pict by booking.com

Selanjutnya fasilitas yang didapat adalah sarapan. Nahh untuk sarapan jika menginap disini usahakan jangan kesiangan. Karena, sepertinya, pihak hotel tidak terus-terusan me-refill menu walaupun jam breakfastnya masih panjang. Waktu itu saya turun ke resto sekitar jam 8 pagi, tapi nggak banyak yang tersisa. Padahal, menunya tradisional banget. Bahkan ada beberapa macam jamu hlo, yang bisa bikin badan segar sebelum kembali berkeliling :) menu makanannya juga nggak kebarat-baratan, lebih seperti gethuk, sayur tumisan, meski ada juga salad dan roti.

Di hotel ini banyak bule, mungkin karena situasinya juga yang tradisional banget dan beda dengan hotel modern lainnya. Paku Mas Hotel dapat rate 4 dari 5  dari saya, karena harga yang bersahabat dan suasana yang menyenangkan.

Tangerang,
17 Juni 2017


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Menulis itu bebas. Sebuah kalimat yang paling dekat dengan penulis bernama Seno Gumira Ajidarma (kerap disebut SGA dalam tulisan-tulisan pembacanya). Saya baru tahu bahwa menulis bisa begitu liar untuk sebuah objek : senja. Sebagai mahasiswa-bukan-jurusan-sastra, saya tidak tahu harus mengolongkan kumpulan cerpen ini dalam genre apa. Tapi saya rasa, ia lebih merapat pada surealis daripada realis. Tapi ada juga, yang menyebutnya realisme-magis. Ah, apasih, toh yang saya lakukan hanya membaca, menikmati kata-kata di dalamnya dan berimajinasi sebebas-bebasnya. Sebab, yang ditulis Pak Seno ini, sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang mengerat sebuah senja, yang merupakan bagian dari semesta, untuk masuk ke dalam saku dan dikirim pada perempuan yang dicintainya?

Dalam buku Sepotong senja untuk pacarku yang berisi 16 cerpen, ada sekiranya 3 tokoh penting : Sukab, Alina dan Tukang pos. Si Sukab ini, namanya sering dipakai oleh Pak Seno di tulisan-tulisannya. Sehingga, karakter  Sukab tidak pernah konsisten. Ia bisa menjadi remaja belasan tahun, pemuda tajir atau sekedar tokoh numpang lewat. Yang paling menarik, tentunya, Trilogi Alina. Di sinilah pendekatan sureal sungguh terasa. Waktu membacanya, akhirnya saya masa bodoh dengan kenyataan dan melepas akal sehat.  Untuk sampai ke titik tersebut, saya sudah membayangkan bagaimana senja yang digambarkan oleh Pak Seno dengan detail mulai dari langit keemasan, debur ombak, kepak burung dan matahari setengah terbenam. Sampai akhirnya, Sukab memotongnya pada empat sisi dan memasukkannya ke amplop untuk di kirim kepada Alina.

Surat itu baru sampai 10 tahun kemudian. Sebab, Tukang pos yang jahil tidak hanya mengintip, namun masuk ke dalamnya dan tinggal di sana selama 10 tahun. Coba jelaskan : bagaimana mungkin seseorang masuk ke dalam amplop, yang berisi senja, lengkap dengan daratan pasir dan langit jingganya, lalu keluar 10 tahun kemudian tanpa pernah menua. Rasanya, adegan seperti itu hanya ada di film-film Hollywood saja. Saya jadi penasaran, berapa lapis kehidupan ini ada? apakah kita juga tinggal di dalam sebuah potongan semesta? Ah sudahlah, toh kegilaan ini belum berakhir. Surat balasan Alina, ternyata lebih menggelikan lagi.

Surat itu sampai kepada Alina, dari seorang tukang pos yang wajahnya bahagia. Begitu surat itu terbuka, senja itu luber keluar, sehingga matahari di salamnya beradu dengan matahari yang sebenarnya. Tunggu. Memangnya kita tahu, mana matahari yang sebenarnya? Kata Alina, akibat laut dari sepotong senja itu luber, air bah Nuh terulang kembali. Maka ia mengumpat, menyumpahi Sukab yang menurutnya tidak punya otak itu sebab semua orang mati akibat air menggenangi seluruh bumi. Nah, sampai di sini, bukankah sudah dapat kalian duga seperti apa cerpen yang di tulis Pak Seno?

Terlepas dari imajinasi liar yang ada dalam cerita ini, perasaan Sukab terhadap Alina saya rasa perlu juga ditanggapi. Bagaimana tidak, coba kau baca kalimat terakhir dari Sukab dalam cerpen ini :

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. 

Atau yang ini :

Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina. Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. 

Yah pokoknya, begitulah. Kalian juga mungkin akan terbawa rasa kesal Alina ketika membaca makian dan keluhannya karena senja sialan yang dikirimkan Sukab.

Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.

Atau ini :

Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati.  Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku  sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta
dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. 

Waktu baca cerita ini, jangan maksa untuk mikir seperti membaca Supernova KPBJ yang penuh sains fiction-nya, kalau tidak ingin pusing sendiri. Atau jangan juga terlalu sentimentil seperti saat membaca Hujan bulan Juni milik Pak Sapardi Djoko Darmono. Ada sensasi mirip-mirip sih dengan tulisan Pak Djoko Pinurbo, terutama puisinya dalam buku “Selamat menunaikan ibadah puisi”. Tapi kan, semua penulis atau sastrawan punya ciri khas nya sendiri. Jadi tidak semestinya membanding-bandingkan.


Tapi ngomong-ngomong, kalau kalian mau tahu seperti apa senja di dalam amplop itu, bacalah cerita yang berjudul “Tukang pos dalam amplop”. Si bapak tukang pos itu, membeberkan seperti apa senja di dalamnya. Dan jangan kaget, bahwa ia kawin dengan lumba-lumba yang melahirkan spesies baru. Haha. Rumusnya satu saja : abaikan semua logikamu yang mungkin kau cari-cari kemungkinannya dalam cerita ini. Cukup duduk santai, sambil menyesap teh sore-mu ditemani sepotong senja paling tidak masuk akal dari Pak Seno.

Tangerang,
14 Juni 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sejak pendakian pertama hingga kesekian, saya selalu meninap di tenda. Nggak pernah tektok seperti teman-teman lainnya yang sudah pro. Dulu juga saya selalu berprinsip ingin menjajal gunung baru kalau ada plan naik gunung. Tapi seiring waktu, setelah lima faktor atau alasan tadi, saya nggak lagi mikirin gunung mana dan sesulit apa yang akan saya daki. Nggak juga mikirin seberapa terkenalnya gunung itu. Tapi lebih kepada proses dari naik gunung itu sendiri, hal-hal apa yang saya dapat, hal-hal apa juga yang bisa saya berikan dan cerita sebelum menutup pintu tenda. Karena gunung boleh sama, tapi cerita di setiap pendakiannya selalu baru. Ya, cerita yang selalu baru itulah faktor keenam saya suka naik gunung baik dengan teman baru atau lama sekalipun.

Akhirnya saya mencoba melakukan pendakian tektok ke Pangrango. Bener-bener nggak bawa tenda, hanya satu salin, kopi, roti, kompor dan ponco. Saat itulah saya kembali belajar apa itu persiapan. Apa itu skill, apa itu estimasi dan kemungkinan terburuk. Semua estimasi dan rencana saya meleset, dari target  10 jam nyatanya saya baru bisa menyelesaikan pendakian itu dalam waktu 17 jam. Dengan kondisi hujan di puncak dan kehabisan logistik di kandang badak saat perjalanan turun. Bener-bener nggak layak ditiru. Satu sisi saya merutuki kecerobohan diri sendiri, tapi satu sisi juga saya anggap ini adalah pelajaran agar saya nggak salah perhitungan lagi kalau mau mendaki tektok nantinya. 

Pelajaran nggak hanya saya temukan di pendakian Pangrango ini, tapi juga di semua pendakian yang saya lakukan sejak awal pertama. Menghitung-hitung kesalahan bisa jadi hal menarik ketika kita sampai dibawah. Dan itu harus kita ingat, agar tidak terulang lagi di pendakian berikutnya.

Setelah mendaki tektok di Pangrango, saya menjajal tektok di Merapi. Seperti biasa, start tengah malam. Dan hasilnya cukup memuaskan, nggak sepayah saat di Pangrango. Yang penting persiapan jangan sampai kurang, salah atau justru kelewat berlebihan. Untuk urusan ini jelas saya nggak lepas dari bantuan para master seperti Bang O, Mas Bay, Bang T, dan lain-lainnya. Bisa juga didapat dari rekan-rekan di komunitas yang lebih sering ketemu karena para master makin susah kumpul. Hehe.

Menungu pagi di Nglanggeran

Oiya saya hampir lupa, yang penting banget dan masuk juga dalam jajaran faktor ‘kenapa naik gunung’ adalah tegur sapa di ketinggian. Ya, yang tadinya nggak kenal jadi kenal. Yang tadinya temen bisa jadi pacar. Yang tadinya biasa bisa jadi sodara. Tapi jangan lupa, nggak semuanya berubah jadi positif. Yang tadinya setuju bisa jadi nggak setuju. Yang tadinya sahabat, bisa jadi bang*at. Kenapa? Karena (saya percaya) bahwa selama proses mendaki, dalam keadaan lelah fisik, mungkin juga batin karena puncak nggak kunjung kelihatan, jati diri kita akan terkuak. Setidaknya didepan teman-teman kita sendiri.

Dulu , saya pernah lebih memilih mengejar puncak saat temen nggak lagi mampu. Tapi saya sadar bahwa puncak bukan hal yang penting lagi ketika kita ada di gunung. Dulu, saya pernah jadi curhatan 2 temen yang saling sakit hati karena salah satunya bilang temennya itu lemah. Di gunung bukan cuma fisik yang kita jaga, tapi batin juga. Sabar. Musti banget sabar. Walaupun jengkel juga kalau ada temen yang bisa liat setan tapi justru berisik kalau setannya disebelah saya. *halah. Ya pokoknya begitu, teman-teman. Buat saya naik gunung itu lebih dari biar keren, biar keliatan kuat, biar punya pengalaman.

sunrise di lumutan Merapi

Naik gunung adalah media saya untuk kembali berinteraksi dengan alam, dengan sesama kita manusia, dengan semesta. Jangan ngomong begini juga kalau masih buang sampahnya dimana-mana. Selalu siapin kresek untuk sampah pribadi yang kecil, misalnya bungkus permen. Kalau sampah kelompok taruh aja di trashbag gantung di keril. Yhaa. Pokoknya kalian yang lebih expert daripada saya sih pasti ngerti. Dan kalian di luar sana, pasti punya alasan sendiri kenapa naik gunung. Kenapa selalu-ingin-naik-gunung. Meski, kadang, apa yang saya jelaskan dalam post ini nggak bisa begitu saja saya jadikan jawaban untuk setiap pertanyaan kalian ‘kenapa sih Dit naik gunung’.

Tangerang,
05 Juni 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ►  2018 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2017 (18)
    • ▼  Agustus (2)
      • Biaya main ke Anyer dan sekitarnya
      • Louis Doughnuts & Coffee Supermall Karawaci
    • ►  Juli (4)
      • Menikmati sore di Pantai Pandansari dan Goa Cemara
      • Wujudkan smart transportation, BPTJ manfaatkan kem...
      • Ibis Budget Jakarta Tanah Abang (review)
      • Loker Barang di Stasiun Tugu Yogyakarta
    • ►  Juni (6)
      • Puncak hits Panguk Kediwung
      • Cicip menu baru dari Almond Tree Cakes & Pastries
      • Paku Mas Hotel Yogyakarta (Review)
      • Surealisme dalam cerita paling tidak masuk akal : ...
      • Kenapa sih Dit naik gunung? (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates