Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita


 Menghadapi jam check in dan check out hotel memang kadang membuat kita jadi serba salah. Datang siang, angkat kaki juga siang. meskipun, saya lebih sering meninggalkan hotel pagi-pagi karena ingin segera mendatangi destinasi yang sudah ada di list liburan. Saat pulang lebaran kemarin, saya kehabisan tiket dari Solo dan alhasil harus pulang ke Jakarta dari Jogja. Enggan merepotkan orang rumah, saya berniat naik prameks dari Solo menuju Jogja.

Tiket prameks yang kini sudah dapat dipesan H-7 sangat rawan habis sebelum hari keberangkatan, terutama di jam-jam pagi dan sore. Tiket kereta Gajah Wong yang akan membawa saya kembali ke perantauan dijadwalkan berangkat pukul 18.00 WIB. Sementara, saya sudah tiba di Jogja pukul 13.30 WIB karena kebagian kereta prameks di jam 12.00 WIB.

Daripada bosan menunggu, saya berniat untuk jalan-jalan dahulu ke Malioboro mengingat stasiun Tugu berjarak sangat dekat dari ikon kota Jogja tersebut. Lalu bagaimana ya dengan koper dan barang bawaan saya yang lain? Saat masih di Solo saya memang sudah mencari tahu tentang adanya loker di stasiun Tugu, dan begitu turun dari kereta prameks saya langsung menghampiri petugas stasiun.
Loker barang bagian luar

“Mbak, di sini ada loker barang ya?”
“Oh ada bu, itu tinggal lurus ke depan.”
Nah, loker ini berada persis di tengah-tengah stasiun, cari saja lorong yang memisahkan peron 2,3 dan 4,5,6. Iseng saya bertanya lagi karena tiket saya sebenarnya berangkat dari stasiun Lempuyangan:
“Mbak kalau saya titip barang, terus saya mau ambil tapi nggak punya tiket, apa bisa?”
“Nanti mbaknya kan dapet bon, nah seharusnya bisa masuk dengan bon itu. tapi lebih baik tanya lagi ke petugas check in di depan ya mbak,”

Saya pun menghampiri loker yang dimaksud. Penjaganya saat itu adalah seorang ibu-ibu.
“Bu, saya mau titip barang.”
“Diambil jam berapa mbak? Disini biayanya 3 jam Rp30.000,-“ entah kenapa tidak menyebutkan tariff per jam namun langsung dirapel 3 jam begitu. Saya juga tidak terfikir untuk tanya sih saat itu, hehe.
“Jam 17.00  sepertinya Bu, tapi tiket saya nanti jam 18.00 dari Lempuyangan, gimana ya? keetanya Gajah Wong”
“Oh kalau Gajah Wong berhenti di sini juga kok mbak, mending mbak naik dari sini saja.”
“Wah kebetulan ya Bu. Yasudah nanti saya tanya lagi ke petugas di depan.”

Bon penitipan

Nah berakhirnya pembicaraan itu bersamaan juga dengan selesainya transaksi diantara kami.
Lokernya ada yang besar dan kecil. Yang besar di luar, yang kecil di dalam. Begitu mendapat bon, langsung masukkan sendiri barangnya ke dalam loker dan bawa kuncinya. Loker besar cukup menampung 2 koper sedang (atau mungkin yang besar juga). Loker kecil cukup untuk 1 koper sedang atau 2 sampai 3 ransel.

Setelah selesai urusan loker saya kembali bertanya ke petugas check in.
“Mbak, kalau tiket saya keberangkatan Lempuyangan kereta Gajah Wong, apa bisa check ini disini?”
“Bisa mbak. Karena keretanya berhenti di sini.”
Nah kalau yang ini mungkin saya yang kudet (kurang update). Jadi mau dari manapun keberangkatan awal asalkan keretanya berheti di sebuah stasiun, kita tetap bisa check in di stasiun tersebut. Karena Gajah Wong ini kereta ekonomi, saya tidak terpikir bahwa ia akan berhenti di stasiun Tugu yang notabene untuk pemberhentian kereta bisnis dan eksekutif.

Setelahnya saya langsung cetak tiket dan jalan-jalan sore di Malioboro. Seperti biasa, selalu ramai dan gerah. Tapi entah kenapa juga, tidak bosan-bosannya kita kesana tiap kali mampir ke Jogja. Begitu selesai belanja oleh-oleh tambahan, saya bergegas kembali ke stasiun. Masuk peron, dan mengambil koper. Kita bisa langsung buka lokernya sendiri, tanpa menyerahkan bon yang tadi.mungkin ibunya masih ingat hehe.

Jadwal Prameks

Jadi kalau kebetulan timing kalian kurang pas antara tiket keberangkatan dengan jadwal keluar hotel, loker ini bisa jadi penyelamat jika ingin jalan-jalan tanpa bawa beban. Tapi bagaimana jika kita tidak punya tiket kereta? Kalian bisa beli tiket kereta prameks yang hanya Rp8.000,- dan tersedia keberangkatan hampir setiap 2 jam sekali. Beli saja langsung 2 tiket yang mendekati jam mulai penitipan barang dan jam untuk mengambilnya kembali. Modal tambahan Rp16.000,- nggak apa-apa kan. Hehe.

Kereta Gajah Wong,
02 Juni 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sejak pendakian pertama hingga kesekian, saya selalu meninap di tenda. Nggak pernah tektok seperti teman-teman lainnya yang sudah pro. Dulu juga saya selalu berprinsip ingin menjajal gunung baru kalau ada plan naik gunung. Tapi seiring waktu, setelah lima faktor atau alasan tadi, saya nggak lagi mikirin gunung mana dan sesulit apa yang akan saya daki. Nggak juga mikirin seberapa terkenalnya gunung itu. Tapi lebih kepada proses dari naik gunung itu sendiri, hal-hal apa yang saya dapat, hal-hal apa juga yang bisa saya berikan dan cerita sebelum menutup pintu tenda. Karena gunung boleh sama, tapi cerita di setiap pendakiannya selalu baru. Ya, cerita yang selalu baru itulah faktor keenam saya suka naik gunung baik dengan teman baru atau lama sekalipun.

Akhirnya saya mencoba melakukan pendakian tektok ke Pangrango. Bener-bener nggak bawa tenda, hanya satu salin, kopi, roti, kompor dan ponco. Saat itulah saya kembali belajar apa itu persiapan. Apa itu skill, apa itu estimasi dan kemungkinan terburuk. Semua estimasi dan rencana saya meleset, dari target  10 jam nyatanya saya baru bisa menyelesaikan pendakian itu dalam waktu 17 jam. Dengan kondisi hujan di puncak dan kehabisan logistik di kandang badak saat perjalanan turun. Bener-bener nggak layak ditiru. Satu sisi saya merutuki kecerobohan diri sendiri, tapi satu sisi juga saya anggap ini adalah pelajaran agar saya nggak salah perhitungan lagi kalau mau mendaki tektok nantinya. 

Pelajaran nggak hanya saya temukan di pendakian Pangrango ini, tapi juga di semua pendakian yang saya lakukan sejak awal pertama. Menghitung-hitung kesalahan bisa jadi hal menarik ketika kita sampai dibawah. Dan itu harus kita ingat, agar tidak terulang lagi di pendakian berikutnya.

Setelah mendaki tektok di Pangrango, saya menjajal tektok di Merapi. Seperti biasa, start tengah malam. Dan hasilnya cukup memuaskan, nggak sepayah saat di Pangrango. Yang penting persiapan jangan sampai kurang, salah atau justru kelewat berlebihan. Untuk urusan ini jelas saya nggak lepas dari bantuan para master seperti Bang O, Mas Bay, Bang T, dan lain-lainnya. Bisa juga didapat dari rekan-rekan di komunitas yang lebih sering ketemu karena para master makin susah kumpul. Hehe.

Menungu pagi di Nglanggeran

Oiya saya hampir lupa, yang penting banget dan masuk juga dalam jajaran faktor ‘kenapa naik gunung’ adalah tegur sapa di ketinggian. Ya, yang tadinya nggak kenal jadi kenal. Yang tadinya temen bisa jadi pacar. Yang tadinya biasa bisa jadi sodara. Tapi jangan lupa, nggak semuanya berubah jadi positif. Yang tadinya setuju bisa jadi nggak setuju. Yang tadinya sahabat, bisa jadi bang*at. Kenapa? Karena (saya percaya) bahwa selama proses mendaki, dalam keadaan lelah fisik, mungkin juga batin karena puncak nggak kunjung kelihatan, jati diri kita akan terkuak. Setidaknya didepan teman-teman kita sendiri.

Dulu , saya pernah lebih memilih mengejar puncak saat temen nggak lagi mampu. Tapi saya sadar bahwa puncak bukan hal yang penting lagi ketika kita ada di gunung. Dulu, saya pernah jadi curhatan 2 temen yang saling sakit hati karena salah satunya bilang temennya itu lemah. Di gunung bukan cuma fisik yang kita jaga, tapi batin juga. Sabar. Musti banget sabar. Walaupun jengkel juga kalau ada temen yang bisa liat setan tapi justru berisik kalau setannya disebelah saya. *halah. Ya pokoknya begitu, teman-teman. Buat saya naik gunung itu lebih dari biar keren, biar keliatan kuat, biar punya pengalaman.

sunrise di lumutan Merapi

Naik gunung adalah media saya untuk kembali berinteraksi dengan alam, dengan sesama kita manusia, dengan semesta. Jangan ngomong begini juga kalau masih buang sampahnya dimana-mana. Selalu siapin kresek untuk sampah pribadi yang kecil, misalnya bungkus permen. Kalau sampah kelompok taruh aja di trashbag gantung di keril. Yhaa. Pokoknya kalian yang lebih expert daripada saya sih pasti ngerti. Dan kalian di luar sana, pasti punya alasan sendiri kenapa naik gunung. Kenapa selalu-ingin-naik-gunung. Meski, kadang, apa yang saya jelaskan dalam post ini nggak bisa begitu saja saya jadikan jawaban untuk setiap pertanyaan kalian ‘kenapa sih Dit naik gunung’.

Tangerang,
05 Juni 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sampai sekarang saya nggak bisa jawab kalau ada yang tanya begitu. Karena pemandangan? Kepuasan diri mencapai puncak? Biar keren? Biar kelihatan kuat? Nggak yakin juga. Kalau ditanya juga ‘capek nggak?’ ya capeklah, wong naik gunung pakai kaki bukan gondola. Mwehehe. Dibanding temen-temen yang lain, mungkin saya masih cupu. Seven summits Indonesia belum satupun saya jamah. Jadi opsi biar keren tadi bisa dicoret. Terus kenapa dong Dit?

Awal mula saya naik gunung adalah gunung Gede, yang ada di Jawa Barat. Sepulang dari Gede itu, karena untuk pertama kalinya naik, seluruh badan rasanya sakit. Terutama kaki, yang bikin repot kalau harus ke toilet karena begitu ditekuk dikit hhhhmmm ampun deh. Tapi seru, nggak tahu kenapa sakitnya habis naik gunung itu beda. Nah setelah itu saya menjajal Merbabu. Kalau di Gede belajar basic mendaki, di Merbabu saya dikasih pemandangan yang bagus banget karena memang banyak sabana dan jarak pandangnya luas. Disinilah kenikmatan kedua yang saya dapat dari naik gunung, sekaligus faktor kedua kenapa saya naik gunung setelah rasa remuk di badan tadi (aneh ya lo Dit, badan remuk abis naik gunung kok bisa dinikmatin).

di Salak bersama teman-teman PINUS

Pendakian ketiga saya adalah Gunung Rakutak. Pada waktu itu saya sudah kenal dengan yang namanya komunitas. Dimana saya ketemu dengan orang-orang yang minat hobinya sama dengan saya. Ini adalah faktor ketiga kenapa saya demen naik gunung. Jalinan pertemanan di lintas komunitas itu bisa asik banget apalagi dibarengi kegiatan sosial. Nah balik lagi ke Rakutak, di sinilah saya mengenal hal baru lagi dalam mendaki gunung. Di gunung yang relatif pendek ini saya dan teman-teman bertemu banyak sungai, hutan yang masih lebat dan cuaca yang kurang bersahabat waktu itu. tapi karena kita ramean, jadi medan-medan sulit itu bisa kita lalui dengan lancar. Dari sini saya mulai mencari ilmu-ilmu baru seputar naik gunung. Rasa ingin tahu itulah faktor ketiga semenjak pendakian ini. Dan tentang komunitas, sungguh sangat amat membantu. Mulai dari teman baru, kegiatan baru, ilmu baru dan juga tentunya pengalaman pertemanan yang baru karena kami smeua berasal dari latar belakang industri yang berbeda.

Karena waktu itu masih anak kuliahan, saya bisa naik gunung 2-3 bulan sekali. Pendakian keempat adalah Ungaran. Disana bisa dibilang biasa aja, walaupun tetap punya cerita. Kelima adalah Merapi. Gunung ini bisa dibilang salah satu idaman sejak remaja. Haha. Karena kisahnya yang terkenal, atau juga karena siklus meletusnya yang konstan. Puncak Merapi adalah salah satu puncak yang membuat saya nyaris menyerah. Sejak dari pasar bubrah sampai ke puncak, kita nggak akan dikasih ampun. Tapi itu adalah momen dimana saya akhirnya tahu begaimana wujud kawah gunung aktif. Hayo, penasaran nggak? Tapi sekarang pendakian Merapi dibatasi sampai pasar bubrah karena banyak faktor terutama mengenai keselamatan pendaki. Merapi adalah pendukung faktor keempat yaitu keinginan menjajal tipe gunung yang berbeda.

sore hari di Merapi

Setelah Merapi, saya bersama teman-teman Pinus menjajal Gunung Salak. Hehehe. Pastinya sudah terkenal banget keangkeran dan keganasan 7 puncaknya. Tapi jelas dong, kami hanya menjajal 1 puncak karena itupun memakan waktu 2 malam. Salak buat saya adalah ‘kakaknya’ Rakutak. Medannya hampir sama, tingkat kesulitannya hampir sama. Tapi karena lebih tinggi dan luas, tinggal dikali 3 aja rasa capeknya. Pada waktu pendakian Salak inilah saya menyadari kalau seringkali saya masih kekanak-kanakan waktu mendaki bareng teman-teman. 

Saya sering baper, sering kesal sendiri kalau capek, sering yang lain-lain yang mungkin bikin teman saya nggak nyaman. Nah disinilah saya belajar untuk mengontrol emosi disaat situasi apapun. Namanya juga naik gunung, sama-sama capek jadi jangan asal senggol bacok dong. Nah sampai sekarang saya berusaha untuk sesantai mungkin saat naik gunung, biar tenaga dan emosi terjaga. Ini adalah faktor kelima kenapa saya masih demen naik gunung saat sibuk, yaitu media mengontrol diri.

Tangerang,
05 Juni 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sedang menjalani kehidupan normal sebagai pekerja, tapi dapat kesempatan untuk kembali menimba ilmu? Tanpa pikir panjang jawaban saya adalah YA. Pasca deg-degan menunggu hasil test, jadilah saya salah satu pasukan yellow jacket. Masih di fakultas yang sama, Hukum. Kalau kalian dapat kesempatan yang sama, akan pilih yang mana? Bukan tidak mungkin untuk memilih keduanya. Tapi tapi tapi .. apa nggak capek? Apa nggak boros? Apa nggak pecah fokus? Hmmm…

Sudah bukan hal yang mengherankan lagi bila pekerja menjadi pelajar juga, apalagi sebaliknya. Kalau orang bilang hidup keras kayak batu ya kadang benar kadang tidak. Apalagi di ibukota, banyak yang multitalented. Ibu-ibu tidak hanya mengasuh anak di rumah, bapak-bapak tidak hanya kerja di kantor, apalagi anak-anak Sekolah Dasar maupun Menengah yang tidak sedikit pulang sekolah lekas ikut mencari nafkah. Ah sudahlah, kok jadi melebar kemana-mana. Jadi begini, post kali ini memang hanya sekedar berbagi tips untuk kalian semua yang akan atau sedang menjadi pekerja sekaligus pelajar (terutama mahasiswa).  Apa saja sih, yang perlu kita persiapkan dan diperhatikan?

Atur waktu dengan baik
Pola hidup sehari-hari, jelas akan berubah. Pola makan? Apalagi. Kadang pola ketemu pacar juga ikutan labil #eh.  Tapi semuanya memang tergantung pada waktu yang dinanti. Kalau kalian pandai membagi dan menyesuaikan waktu dengan kegiatan yang ada, kemungkinan besar tidak akan ada masalah baik kecukupan tidur, jam makan, produktivitas di tempat kerja maupun kampus. Kalau perlu buatlah jadwal dan pastikan untuk konsisten pada apa yang sudah kamu jadwalkan. Urusan kantor, buatlah list tentang apa saja yang akan kamu kerjakan dalam beberapa hari kedepan (bagi yang pekerjaannya bersifat sistematis atau terstruktur). Beri spare waktu untuk pekerjaan tak terduga, misalnya harus lembur. 

Untuk urusan kampus, maksimalkan waktu-waktu berharga di kelas (apalagi yang jarak kampusnya jauh). Jangan sampai datang hanya untuk mampir absensi. Tidak perlu mengerjakan tugas di luar (misal: kafe, rumah teman) kecuali tugas kelompok. Kerjakan tugasmu di rumah, sembari mengistirahatkan badan dan mendapat suasana yang lebih tenang. Kalau ketiduran kan nggak di depan umum juga. Sesekali ke perpustakaan boleh, mungkin kamu perlu mencari bahan atau referensi.


Manfaatkan sarana transportasi umum
Tangerang – Depok PP ? Dalam kasus saya ya lumayan juga. Kalau mau dibuat lebay  sudah seperti bus AKAP, antar kota antar provinsi. Setiap hari untuk kuliah saya memiliki rute pasti, yaitu Tangerang (Banten) – Jakarta (DKI) – Depok (Jawa Barat). Menyetir kendaraan pribadi cepat atau lambat pasti akan terasa menjemukan. Apalagi kalau bukan tentang macet yang merajalela. KRL atau Transjakarta bisa jadi solusi karena memiliki akses tersendiri. Biayanya juga murah hlo, dari ujung ke ujung kalian hanya perlu merogoh kocek 3K – 10K.  

Manfaatkan sosial media
Bukan untuk sekedar curhat, ngode gebetan atau ajang pamer kehidupan yang hits. Dewasa ini sosial media juga memiliki bermacam aplikasi sesuai kebutuhannya. NAH ! kalian bisa memanfaatkan aplikasi yang menunjang keperluan kalian dalam hal transportasi, misalnya. Ada berapa aplikasi yang sangat bermanfaat, antara lain KRL Acces (untuk mengetahui jadwal kereta dan seluk beluk lainnya tentang KRL), Nebengers (buat yang mau nebengin atau nebeng aja), Teman jalan (bukan biro jodoh ya, tapi disini kalian bisa dapat teman baru di sepanjang perjalanan) dan lain-lainnya. Buka Appstore aja ya.


Bawa bekal
Ya ampun. Kalian nggak perlu malu untuk bawa bekal hlo guys. Karena percaya atau tidak, kotak makan kalian akan menjadi penyelamat (baik perut maupun dompet) disaat-saat genting. Misalnya, kalian dikejar deadline kantor tapi jadwal kuliah selalu tepat waktu. Siapkan bekalmu di pagi hari, kalian bisa memakannya nanti sebelum masuk kelas atau saat akan beranjak dari kantor. Ingat, pengeluaranmu sekarang bukan hanya untuk ongkos kantor-rumah, tapi kampus juga. Gajimu harus cukup untuk segala keperluan dalam sebulan.


Jalin hubungan baik
Jangan cuma pacar aja dibaikin. Tapi teman kantor dan kampus juga. Bukan bermaksud ‘ada apanya’, tapi kalian akan sangat membutuhkan mereka ketika salah satu tanggung jawab harus di prioritaskan. Teman kantor mungkin akan dibutuhkan untuk backup pekerjaan dan teman kampus adalah mereka yang mungkin akan senantiasa memberikan info tentang perubahan jadwal yang  mendadak ketika kamu tak sempat buka web akademis. Bersikaplah simbiosis mutualisme , saling melengkapi karena sejatinya kita semua memiliki kesibukan masing-masing.

Hiburan
Temukan hiburanmu sesuai kapasitas. Bila sedang ada libur 1-2 hari, pergi ke tempat wisata terdekat atau makan bersama keluarga di luar (karena keluarga selalu jadi tempat berpulang). Tapi, apakah kamu tidak punya hari libur ? Jangan sedih. Download film, musik, game atau apapun itu di perangkat elektronikmu yang paling praktis (re: handphone). Kalian bisa merilekskan pikiran sebelum tidur atau ditengah-tengah perjalanan.

Ruang pribadi
Buatlah ruang pribadimu senyaman mungkin. Kamar yang bersih dan rapih akan menciptakan suasana nyaman untuk belajar atau melemburkan diri bersama tugas-tugas yang menumpuk. Selain itu, rasa lelah kalian ketika pulang tidak akan berubah menjadi stress hanya karena melihat tumpukan baju disana-sini. Kembalikan barang pada tempatnya begitu selesai digunakan. Jika perlu, ubah dekor kamar bila kalian memiliki cukup waktu luang.

Yak, kira-kira itulah hal-hal yang saya perhatikan dalam menjalani masa-masa tanggung jawab ganda ini. Mungkin diantara kalian punya tips dan trik lain yang lebih bermanfaat, saya akan sangat senang membacanya lewat comment atau by email. Semoga kelancaran demi kelancaran dapat kita lewati meski kadang ada macet-macetnya juga. Halah.


Tapi diantara itu semua, yang terpenting adalah enjoy. Jalani semua bukan sebagai beban, tapi sebagai tantangan. Ya, tantangan yang menjanjikan buah manis bila kita mampu menyelesaikannya. Semangat selalu yaaaaa ….

Salam,
ND

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




Tidak semua orang  mampu bangun pagi setiap hari. Dan di antara yang mampu, tak jarang beberapa dari mereka melakukannya karena terpaksa. Ya, mungkin karena tuntutan pekerjaan, menjadi ibu rumah tangga yang harus selalu menyediakan keperluan keluarga, para pebisnis yang harus melakukan perjalanan bisnis dengan penerbangan paling pagi dan bermacam alasan lainnya.

Jam ‘bangun pagi’ bagi setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang menganggap jam 08:00 masih pagi, namun ada juga yang merasa bahwa ia sudah kesiangan jika bangun pada jam 08:00. Tidak setiap kita yang diharuskan bangun pagi merasa bersemangat untuk beraktifitas. “Ah, masih mengantuk” , “Kenapa pagi datang cepat sekali?” dan keluhan-keluhan lainnya yang membuat mood kita tidak bagus.

Lalu, bagaimana agar kita dapat merasa lebih bersemangat dalam mengawali hari? Berikut beberapa tips agar pagimu lebih bersemangat :
1.      Jangan begadang
Penuhi kecukupan jam tidur kamu. Karena bila kamu begadang hingga dini hari dan memaksakan untuk bangun pagi, hal ini sama saja memaksakan tubuh kamu untuk bekerja ekstra dan mengurangi good mood saat bangun esok harinya. Belum lagi, bermacam penyakit yang siap menanti untuk masuk ke tubuh bila kebiasaan begadang  ini terus berlanjut.
2.      Siapkan segala keperluan sejak semalam
Sebaiknya, sipakan segala keperluan kamu untuk keesokan hari sebelum beranjak tidur. Ini agar kamu tidak tergesa-gesa dalam persiapan memulai aktifitas. Siapkan baju, tas kerja, sepatu dan segala keperluan lain pada tempatnya. Sehingga, ketika kamu bangun keesokan harinya, kamu tak perlu lagi repot dan hal ini tentunya juga akan menghemat waktu.
3.      Jangan tunda alarm
Kebanyakan orang membuat penunda pada alarm mereka, rata-rata 5 menit. Nah, usahakan pada kali pertama kamu mendengar alarm, langsung matikan dan berusahalah untuk ‘sadar’ dari sensasi mengantuk. Jangan biarkan mata kamu tertutup lagi, salah-salah kamu bisa kembali  tertidur dan malah jadi kesiangan.
4.      Buka jendela kamar
Biarkan udara pagi masuk ke dalam ruangan kamu. Sinar matahari juga akan membuat atmosfer kamar menjadi lebih hangat. Kamu bisa menikmati dua hal tersebut sembari meregangkan tubuh. Lakukan beberapa gerakan pemanasan hingga tubuh kamu merasa siap beraktifitas.
5.      Dengarkan musik
Buatlah playlist di handphone atau perangkat elektronik kamu yang lain. Isilah playlist tersebut dengan lagu-lagu favorit yang mengundang semangat. Jangan dengarkan lagu-lagu bertema sedih  yang berpotensi membuat kamu galau. Kamu bisa mendengarkan lagu-lagu tersebut sembari berdkamun, mandi atau sarapan.
6.      Sarapan favorit
Jangan sampai kamu bosan dengan menu sarapan sehari-hari. Jika perlu dan memungkinkan, buatlah list untuk menu sarapan seminggu kedepan. Jika menu nya rumit, kamu bisa memasaknya pada malam hari dan esoknya, kamu tinggal menghangatkannya untuk santap pagi.  Namun tidak ada yang salah juga dengan menu instan selama menyehatkan. Misalnya kamu bisa sarapan sereal, oat, roti panggang dan lainnya.
7.      Gunakan busana yang membuat kamu percaya diri
Dalam berbusana, tetap perhatikan kenyamanan diri kamu. Busana yang bagus dan sesuai dengan trend masa kini belum tentu membuat kamu senantiasa nyaman saat beraktifitas. Ketika kamu nyaman dengan penampilan diri sendiri,  kamu akan lebih bebas dalam menjalani hari.

Bagaimana? Beberapa cara di atas mungkin akan membantu bagi kamu yang masih kesulitan untuk memulai aktifitas setiap pagi. Dan, konsekuen dalam melakukan kiat tersebut akan membawa kamu pada keadaan dimana bagun pagi merupakan rutinitas yang sudah biasa dilakukan setiap hari, sehingga tidak ada rasa enggan atau malas lagi. Selamat mencoba !
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
“Dit, buang sial ya?”
“Nah gitu dong, kelihatan lebih fresh.”
“Kok pendek gini sih Dit? Ngga sayang udah panjang gitu kayak kemarin?”

Keputusan kadang-kadang emang nggak perlu pikir panjang untuk diputuskan. Baik yang sederhana maupun terpenting sekalipun. Misalnya … potong rambut. Ganti model. Ganti gaya. Untuk yang udah kenal gue sejak SMA, jelas tau banget gimana rambut gue yang cepak kayak anak lelaki dulu. Sampai akhirnya gue memutuskan untuk manjangin rambut saat masuk kuliah. Bahkan gue sempat melurus paksakan alias smoothing saat rambut gue masih sebahu. Dan kata bokap gue kayak orang penyakitan :’( soalnya rambut tipis terus dilurusin gitu. Wakaka.

Walhasil, gue berhasil memanjangkan rambut sampai bekas smoothing bener-bener hilang. Panjangnya kira-kira se-punggung. Sebenernya gue suka tipe rambut asli gue ini setelah panjang, karena bagian atasnya sedikit lurus dan ikal di bagian bawah. Jadi kesannya kayak sengaja di curly gitu. Rambut panjang ini masih terus menjadi icon di foto-foto gue sampai setahun setelah lulus kuliah. Baru dua minggu lalu, gue tiba-tiba kepengeeen banget potong rambut. Entah ya, pas gue lihat-lihat galeri semua model rambut gue sama. Nggak berubah kecuali diiket (sialnya kalo diiket gue merasa kurang oke).

Akhirnya, sore sepulang kerja gue dengan niat penuh menuju ke salon langganan. Yah … mbaknya nggak ada. Gue muterin Kelapa Dua dan berhenti di 4 salon yang mana semuanya lagi nggak bisa melayani potong rambut dengan alasan bermacam-macam. Nggak putus asa, gue menyambangi salon ke-5. Daaaaannn… pucuk dicinta ulampun tiba. Mbaknya meladeni gue yang kepengen potong rambut. Hari itu, gue potong sebahu lebih sedikit. Kata si mbak, muka gue kelihatan ‘seksi dan dewasa’ (mau muntah nggak? Wkwk) dan gue Cuma cengar cengir aja dengernya walaupun kesan lebih dewasa itu emang gue akui adanya. Akhirnya gue merasa puas dan pulang ke rumah.

Esoknya dan esoknya dan esoknya lagi … yang menyebalkan adalah dimana orang-orang nggak ada yang sadar kalau gue potong rambut. Kata salah satu temen gue, memang nggak terlalu kelihatan kalau gue potong rambut. Yaaah, bête. Sebenernya pun modelnya gue kurang sreg tapi kata mbaknya bagus, yaudah gue percaya aja. Tapi karena kata hati gue yang nggak nyampe ke hatinya dia merasa memang perlu potong rambut lagi, akhirnya seminggu kemudian gue menyambangi salon yang sama untuk potong ramput lagi.

“Mau segimana lagi dek? Itu udah bagus hlo.”
“Ya pokoknya pendekin dikit lagi mbak, yaaaa… se bahu deh.”
“Yaudah.”
Dan terjadilah tawar menawar hingga akhirnya rambut gue final nggak sampai sebahu. Berhenti di leher. Tapi gue suka … hihi. Kepala rasanya enteng dan muka gue kelihatan ‘bersih’. Gue nggak menyesal udah potong sampai sependek ini.

Pertama orang rumah yang sudah pasti langsung sadar. Tapi reaksinya datar,”Kamu ganti model rambut ya?” udah segitu aja.
Kemudian orang kantor : “Widiiihh potong rambut niihh”
Dua hari kemudian gue ganti profil picture bbm . dan berdentang denting lah notif bbm gue.
“Dit, potong?”
“Beb, kamu potong rambut?”
“Lu bondol Dit?”
“Waaahhh Dita. Kok jadi pendek gitu?”
Naaahh… sekarang abru kelihatan beneran potong rambut. Wuehehheehe..
Selanjutnya temen gereja.
“Ci, kok rambutnya jadi pendek sih…”
“Wah cetar nih rambut.”
“Kece kece.”
Puji Tuhan Halleluyaaa. Nggak ada komen-komen nyakitin. Wkwk jadi nggak berasa nyesel samasekali udah potong segini pendek.
Benefit lainnya dari potong rambut ini adalah, ketika naik gunung gue ga perlu lagi repot-repot benerin kunciran rambut atau masang buff di keseluruhan kepala hanya karena risih sama rambut yang menjuntai-juntai. Hihi.

Intinyaaa …jangan takut nyoba hal baru, karena seburuk apapun hasilnya, kita masih bisa memperbaiki. Atau di poles-poles dikit biar sempurna lagi. Kayak rambut. Salah model pas dipotong, ya potong lagi sampai memuaskan. Kalau tetep nggak memuaskan tapi udah terlalu pendek, ya kasih sentuhan warna biar tetep kece. Sama kayak beberapa pilihan di hidup kita. Nggak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki atau berjalan memutar demi sampai ke tujuan utama. Stay blessed ya !



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Diantara kalian yang sedang membaca tulisan ini, pasti ada yang sedang dalam masa kuliah atau telah bekerja. Saya sendiri baru saja menyelesaikan kuliah s1 saya di sebuah perguruan tinggi swasta. Lalu selang satu bulan sejak kelulusan, saya mulai berfikir untuk mencari kerja. Awalnya tujuan kerja hanya satu : mencari uang. Beberapa dari kita pasti pernah berkata “ah mau cepet lulus. Kuliah tugas melulu, enakan kerja cari duit.” Saya pun demikian, kerap kali mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang bila kejenuhan mata kuliah melanda di tengah-tengah semester. Terlebih saat semester akhir, kepala serasa hampir meledak ketika coretan-coretan revisi mampir di lembaran bakal skripsi saya. Atau ketika masa-masa tahun kedua kuliah, ksaya dan teman-teman mulai malas-malasan beranjak dari kost untuk masuk ke kelas.

Sekarang, kelulusan itu telah berlalu lima bulan. Saat ini saya bekerja pada perusahaan swasta yang cukup besar, terbukti dari gelar ‘Tbk’ di belakang nama resminya. Hari-hari saya bisa dibilang sibuk, sebab pekerjaan saya membutuhkan perhatian penuh. Namun saya sadari bahwa rupanya kesibukan saya hanya terpaku pada satu hal : bekerja. Sebagai bagian dari tanggung jawab pekerjaan, pulang malam adalah hal yang sulit dielakkan. Lalu pada suatu malam di mana hampir seluruh pegawai sudah pulang dan saya masih duduk tenang menghadap layar komputer, tiba-tiba saya merindukan masa-masa saat kuliah. Saya memang bukan mahasiswa yang sangat aktif dalam organisasi, namun saya sempat mengambil dan menjadi bagian dalam organisasi kampus maupun luar kampus. Hmm… entahlah, waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya datang pada gedung universitas yang didominasi warna biru dan putih itu. Baru saja saya mengisi formulir dan menuliskan ‘hukum’ pada kolom pilihan jurusan.

Jika sekarang setiap pagi saya harus bergegas untuk tidak melewati angka 08:00 pada finger print guna absensi, dulu saya akan berfikir hari ini akan kemana, menemui siapa dan apa yang akan saya lakukan. Bila kuliah sedang libur karena mendadak dosen tidak masuk, saya akan memilih untuk pergi ke lantai dasar Blok M Square atau Pasar Senen untuk berburu buku-buku lawas yang mungkin panjualnya tidak tahu bahwa itu salah satu buku yang banyak orang cari-cari. Kuantar kau ke gerbang, Saman, Perawan Remaja dalam cengkraman militer dan banyak lagi buku-buku sejarah atau novel yang saya angkut dari etalase-etalase kusam para penjualnya.  Buku-buku yang saya dapatkan itu memang telah dicetak ulang dan kini siapapun dapat membelinya di toko buku ternama, namun entah mengapa ada kesenangan sendiri untuk mencari versi ‘jadul’ nya. Atau mungkin hanya karena saya yang suka mengubek-ubek sisi lain Jakarta. Pernah beberapa kali ketika tidak ada jadwal kuliah, saya pergi dari satu ke satu tempat lain di Jakarta menggunakan moda angkutan umum sendirian. Berbekal kamera SLR milik kakak, saya mengunjungi museum-museum yang pastinya sepi ketika hari kerja (sening hingga jumat). Setelahnya saya akan mampir di warung-warung sederhana untuk mengisi perut. Teman-teman saya bilang saya ini kurang kerjaan, galau atau membuang-buang tenaga saja. Tapi saya tidak ambil pusing, toh dari hal-hal kecil dan tempat-tempat sederhana yang saya kunjungi itu saya tetap mendapat ilmu-ilmu dan pengetahuan yang baru.

Saya bukan juga mahasiswa yang selalu rajin kuliah. Seringkali, ketika tengah berada di kost-an teman, saya malas untuk bangun dan hanya menitip absen bila dosen sedang dalam mood yang bagus. Kalau tidak, saya akan merelakan satu kali absensi saya alpha atau terpaksa ikut masuk ke kelas dengan wajah yang menunjukkan tidak minat sama sekali.

Pada tahun kedua duduk di bangku perkuliahan, saya bertemu lebih banyak orang. Mereka pun berbeda-beda latar belakang, suku dan profesi, namun rata-rata memiliki hobi yang sama. Entah dari mana awalnya, saya teracuni dengan kegiatan yang berbau alam bebas. Sejak kecil saya memang sangat sering diajak ayah ke tempat-tempat yang memiliki dataran tinggi, bersuhu dingin dan menyuguhkan pemandangan indah. Maka pada masa-masa peralihan ini, saya memanfaatkan waktu dan dana yang ada untuk melakukan sesuatu yang saya minati. Saya jelaskan dulu, masa peralihan yang saya maksud adalah saat dimana kita perlahan tidak lagi dianggap anak-anak yang artinya perlahan juga kebebasan yang bertanggung jawab itu dilimpahkan pada kita. Seiring masa itu, kita memang harus memikirkan secara teliti untuk setiap waktu , dana dan pengalaman yang kita dapatkan dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan.

Saya memang belum menginjakkan kaki ke tempat-tempat luar biasa yang orang lain bilang surga nya Indonesia. Atau melakukan hal-hal besar yang bernilai sejarah. Namun dari hal-hal kecil yang saya lakukan, saya berharap ada nilai-nilai yang bermafaat bagi saya dan orang lain. Saya sempat ikut mengajar di sebuah taman baca di pinggiran Kabupaten Tangerang, dekat dengan bibir pantai Samudera Hindia. Ditengah sawah itu dibangun pondok-pondok bambu yang di dalamnya terdapat buku-buku sumbangan dari banyak pihak. Atau bila sedang tidak bisa ikut andil karena sebab-sebab tertentu, bila ada penggalangan dana untuk korban bencana alam, paling tidak saya akan mengajak rekan-rekan saya yang lain untuk ikut berpartisipasi, meski hanya dari broadcast di media social maupun ajakan secara langsung saat ada kesempatan berkumpul. Mengajak orang-orang untuk menyumbangkan sedikit dari apa yang mereka miliki.

Kini ketika jam makan siang di kantor, kadang saya membayangkan betapa sibuknya dulu saat mempersiapkan acara-acara penting di kampus. Ingat ketika berjalan di bawah panas matahari menuju terminal kebon jeruk ketika pulang kuliah lebih awal. Naik bus tanpa AC bila sedang mengirit, atau sok naik bus AC yang harganya dua kali lipat dari bus biasa ketika awal bulan dimana uang jajan masih utuh.

Atau ketika sedang menggarap skripsi, seharian penuh berada di sebuah instansi pemerintah sembari berdebar-debar kira-kira pertanyaan apa yang akan dilontarkan dosen pemimbing dan salah satu peninggi instansi ini.  Mendengarkan wejangan dari sang dosen tentang banyak hal, dan keesokan harinya saya sibuk mengunjungi Perpustakaan Nasional. Membolak-balik buku-buku kusam yang barangkali dapat saya kutip isinya untuk dikembangkan lagi dalam lembaran  skripsi saya. Ah, ternyata sudah cukup lama kesibukan itu saya lalui.

Sekarang saya memiliki penghasilan dari jerih payah saya sendiri, sekaligus saya kehilangan waktu-waktu senggang untuk melakukan hal lain diluar pekerjaan. Beberapa kali saya berfikir dan merutuki diri sendiri, mengapa dulu saya tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Meski saya melakukan banyak kegiatan, tapi saya masih merasa seolah-olah apa yang telah saya lakukan tidak menghasilkan apa-apa. Saya merasa kecewa dengan waktu-waktu yang saya gunakan untuk tidur siang, menonton film di laptop seharian, memilih diam di kost ketimbang masuk kuliah Pajak atau hal-hal remeh lain yang membuat waktu terbuang sia-sia.

Namun seseorang mengingatkan saya bahwa semua yang telah saya lakukan di masa lalu, tak sepantasnya disesali. Kemalasan dan sifat bandel itu adalah bagian dari diri remaja yang beranjak menjadi dewasa muda. Setidaknya, pada hari-hari tertentu saya telah mencoba melakukan hal-hal dan kegiatan positif alih-alih melanjutkan kebiasaan tidur siang saya setiap hari.

Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mendamaikan diri sendiri dan membuka mata bahwa ini lah dunia saya sekarang. Saya boleh membawa serta dunia saya yang dulu, namun tidak semua. Yang boleh saya bawa adalah hal-hal yang sekiranya akan memberi dampak baik untuk kehidupan saya sekarang dan di masa depan. Masa lalu adalah bagian dari hidup kita, bahkan yang pahit sekalipun. Mereka adalah pelajaran, suatu gambaran bagaimana dan apa yang akan terjadi bila kita tidak merubah hal buruk dalam diri kita sama seperti dulu.

Semoga kita semua senantiasa sukses dalam jalan kita masing-masing, semoga dapat bertemu dalam lain kesempatan.

Salam,


N
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


    Kota-kota besar yang memiliki daya pikat dari berbagai sisi, tentunya tidak lepas dari para pendatang yang memiliki masing-masing tujuan untuk mendatangi si kota populer. Kita biasa menyebutnya perantau. Perantau sendiri ada yang telah lama berkecimpung di kota perantauan atau hanya sementara guna menyelesaikan kewajiban misalnya kuliah, dinas kantor atau sekedar mencari pengalaman.

     Istilah dari penulis sendiri, perantau ada dua macam. Perantau baru adalah mereka yang baru mulai merantau atau hanya sementara berpindah domisili untuk tujuan tertentu. Sedangkan si perantau lama, adalah mereka yang sudah memutuskan untuk menetap di kota barunya dan bahkan telah memiliki rumah, membangun keluarga dan memiliki status kependudukan di sana. Jadi istilah ‘perantau’ melekat padanya karena mereka masih memiliki sanak saudara di kampung yang secara rutin dikunjungi.

Nah, yuk kita lihat kira-kira apa saja yang dekat dengan kehidupan khas perantau :

·     >    Domisili sementara
    Para kawula remaja yang kuliah di luar kota umumnya menyewa kost atau patungan bersama teman-teman untuk mengontrak sebuah rumah di kota perantauan. Tak jarang, sebagian besar dari mereka seringkali memilih untuk tinggal di rumah sanak saudara yang kebetulan berada di kota tersebut. Begitu pula para dewasa muda yang mengadu nasib di kota lain, sedang cari kerja maupun baru-baru di terima bekerja, memiliki opsi yang sama dengan para mahasiswa tadi. Tapi jika mereka ‘betah’ , bukan tidak mungkin mereka akan mempertimbangkan untuk membeli rumah disana.
Bicara soal kost atau kontrakan, tentunya disesuaikan dengan kocek masing-masing. Mereka akan mempertimbangkan antara biaya kost, makan sehari-hari, transport dan utamanya biaya kuliah atau keperluan penunjang pekerjaan.

·        >  Waspada dengan kalender
     Berbeda dengan yang tidak merantau, para pendatang ini lebih jeli dengan kalender terutama yang berwarna merah. Kalau mereka yang penduduk tetap atau perantau lama bisa bilang “kok cepet ya udah hari senin lagi,” maka para perantau baru ini biasanya akan bilang “kok lama ya hari jumat? Udah nggak sabar mau pulang”.
Jangankan tanggal merah, weekend pun akan jadi sasaran mereka untuk curi-curi pulang kampung. Hari kerja senin sampai jumat tentunya bukan hambatan. Mereka punya hari sabtu dan minggu untuk sejenak pulang ke rumah.

·      >   Situs penjual tiket
     Para perantau baru akan sering memantau situs-situs penjual tiket secara online. Baik itu moda transportasi kereta, bus maupun pesawat. Bukan hanya penjual online, agen tiket ‘manual’ yang membuka lapak di tiap-tiap cabangnya pun tak luput dari sasaran rasa ingin tahu mereka. Apalagi sekarang yang namanya tiket bisa dipesan jauh-jauh hari. Wah, mereka pasti akan memastikan tidak kehabisan jatah kursi perjalanan.

·    >    Teman seperjuangan
    Entah sengaja atau tidak, seringkali para perantau bertemu dengan orang-orang yang berasal dari kota di mana mereka berasal. Bisa jadi memang janjian untuk mengadu nasib di kota yang sama, bisa juga bertemu di lingkungan kuliah, kerja atau kegiatan kesehariannya. Teman-teman ini di bilang seperjuangan karena ada rasa solidaritas atau kekeluargaan yang muncul lantaran kesamaan asal muasal. Umumnya hal ini akan memicu kecenderungan untuk saling membantu juga.

·    >     Oleh-oleh
     Ini adalah hal yang paling sering disebut-sebut baik oleh orang di pihak kota perantauan atau kota asal. Biasanya oleh-oleh dibeli karena memang sudah menjadi kebiasaan atau untuk menyenangkan/menghargai orang-orang yang mana akan mereka kunjungi kembali. Oleh-oleh juga kerap kali berjumlah lebih banyak bila perantau bertolak dari kampung dan kembali ke kota peraduan nasibnya. Selain memang sebagai ciri khas, mereka akan menyisihkan makanan khas kampungnya untuk dinikmati sendiri beberapa waktu ke depan, sekedar pengobat rindu yang belum usai.

·    >     Catatan keuangan
      Ini adalah salah satu yang paling penting. Para perantau harus seksama dan teliti dalam membuat catatan keuangan mereka. Jangan sampai pendapatan bulan A hanya cukup untuk bulan A saja. Siapa tahu kebutuhan yang ‘aneh-aneh’ akan datang tiba-tiba. Menyiapkan uang cadangan akan membuat mereka lebih merasa aman.

·      >   Sabar
    Sabar kalau bulan ini belum bisa pulang, sabar kalau belum bisa beli baju baru, sabar nggak bisa ikut temen kantor nge-trip, sabar akhir bulan makan mie instan aja dan sabar-sabar yang lainnya. Yah, namanya juga di kota orang :)

Itu tadi sekelumit hal-hal yang dekat dengan anak rantau . Kalau ada tambahan lain silakan cuap-cuap ya hehhehe …

Salam anak kampung,


-N-


#NulisRandom2015 #Day2 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



     Sekarang ini makin banyak orang yang memilih traveling sebagai hobinya. Untuk menjalankan hobi ini, ada yang memilih untuk bepergian seorang diri dan ada pula yang memilih untuk pergi bersama teman-teman.

   Lalu, bagaimana memilih teman yang cocok untuk berpetualang bersama ? eits, bukan berarti tulisan ini menganjurkan untuk memilih-milih teman hlo, tapi kenyamanan saat traveling itu penting, termasuk mengenai partner. Berikut penulis sampaikan beberapa tips untuk memilih partner traveling :

Ø  Memiliki hobi yang sama
Kamu tidak mungkin mengajak rekan yang tidak tertarik dengan kegiatan petualangan untuk menjelajahi destinasi impian. Kalaupun mungkin, orang yang tidak ber-hobi traveling akan memiliki satu dari dua reaksi setelah kamu ajak paksa berpetualang : jera atau ketagihan.
Mengajak orang yang memiliki hobi sama tentunya akan lebih memudahkan dan menyenangkan. Misalnya, dalam berpetualang kalian memiliki keahlian masing-masing. Kamu ahli menawar barang saat belanja oleh-oleh, dia ahli baca peta jadi tidak takut akan tersesat.

Ø  Memiliki hobi berbeda ? Bisa juga. Asal …
Calon partner traveling mu beda hobi? Jangan cepat-cepat kecewa. Buat kalian yang memiliki hobi berbeda, bisa tetap menikmati petualangan bersama bahkan berkolaborasi menjalakan hobi masing-masing asal tidak sangat bertolak belakang. Misalnya, kamu memiliki hobi menulis dan dia fotografi. Saat mengunjungi suatu destinasi, kamu bisa menulis dan dia memotret sebagai visualisasi tulisanmu. Keren kan ? :)

Ø  Mampu mengimbangi kemampuan partnernya
Kalau yang hobi traveling, umumnya juga ada dua cara dalam menjalankan kegiatan tersebut. Istilahnya, pakai cara ‘koper’ atau ‘ransel’. Cara koper, umumnya dipakai sebagai kiasan untuk mereka yang menjalankan hobi traveling dengan cara serba nyaman. Menginap di hotel, transportasi via udara, kelengkapan fasilitas yang bisa di dapatkan selama kegiatan dan tidak ada kesulitan financial yang berarti.
Cara ransel, dipakai sebagai kiasan untuk mereka yang melakukan traveling dengan cara lebih sederhana. Misalnya memilih tempat penginapan tanpa menghiraukan kelasnya asalkan layak, memilih alternative transportasi yang lebih terjangkau dan sebagainya.
Namun perlu diingat, bukan berarti cara koper dan ransel ini digunakan orang berdasarkan kemampuan finansialnya. Perbedaaan cara ini lebih dipicu oleh keinginan orang tersebut untuk memilih cara menikmati petualangannya.
Nah, kamu tipe yang mana? Pastikan parter kamu dapat mengimbangi kemampuan atau caramu dalam berpetualang. Atau, kamu yang mampu mengimbangi si dia. Bila kalian tidak sejalan dalam menentukan konsep perjalanan, tentu akan terasa sulit saat kalian harus bersama-sama dalan suatu perjalanan.

Ø  Pengertian dan bisa diandalkan
Ketika kamu mengharapkan partnermu pengertian dan diandalkan, kamu pun juga harus begitu. Dengan sama-sama pengertian dan dapat di andalkan, kalian akan jadi partner jalan-jalan yang klop dan saling melengkapi. Jangan sekali-kali hanya mengandalkan partnermu tanpa dapat menjadi parter yang bisa di andalkan. Hal ini akan membuatnya ilfeel dan kapok untuk mengajakmu berpetualang lagi.

Ø  Terbuka satu sama lain
Ini termasuk yang paling penting. Jangan sampai saling tidak jujur dengan partner jalan-jalan. Mintalah partnermu untuk terbuka tentang hal yang menyangkut kegiatan yang akan kalian lakukan bersama-sama. Jangan sampai, misalnya, saling memendam rasa kesal dalam hati ketika tidak setuju kuliner di sini atau menginap di hotel sana.

Ø  Berpegang teguh dengan komitmen perjalanan
Lagi-lagi, sikap ini di perlukan agar tidak membuat si partner kecewa. Pastikan dia menyetujui kesepakatan bersama mengenai destinasi, biaya, moda transportasi dan segala keperluan dalam perjalanan kalian. Jangan sampai di tengah perjalanan, dia atau kamu merubah rencana yang merugikan salah satu pihak. Tetapi hal ini dapat di toleransi apabila ada sebab yang lebih penting, misalnya menyangkut keluarga.



    Nah itu tadi beberapa tips untuk memilih partner perjalanan. Ingat, untuk mendapatkan partner yang menyenangkan dalam perjalanan, kalian juga harus menjadi seseorang yang menyenangkan untuk menjadi partner orang lain. Semoga bisa membantu untuk kalian yang sedang merencanakan petualangan seru :)

Salam,



Naredita

#NulisRandom2015 #Day1
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates