Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita


Pantai-pantai di kawasan Garut sudah mulai banyak dilirik masyarakat Jawa Barat. Dalam kesempatan liburan di Bandung beberapa waktu lalu, saya menyempatkan untuk mengunjungi salah satunya, yaitu pantai Rancabuaya. Karena tidak pernah ke Garut menggunakan kendaraan pribadi, jadilah saya dan partner mengandalkan google maps. Pengalaman perjalanan yang mengandalkan google maps inilah yang mendorong saya untuk bercerita bagaimana cara menuju dan pulang dari pantai Rancabuaya.

Kami berangkat dari Bandung cukup pagi, yakni pukul 07.30 WIB. Tanpa bertanya terlebih dahulu pada penduduk setempat, kami langsung membuka google maps yang memberi dua pilihan jalur menuju ke Garut dari pusat kota Bandung. Pada percabangan pertama, jelas sekali terlihat jalur yang satu jalannya sempit dan kurang bagus, sementara yang satu lagi meskipun tak lebar namun sudah beraspal. Akhirnya kami memilih jalur yang beraspal. Namun rupanya, disitulah letak kesalahan pertama yang berujung 6 jam perjalanan.

kawasan pinggir pantai

Jalur yang kami pilih memiliki rute Bandung kota –Majalaya – Kamojang – lereng Cikuray – lereng Papandayan – Kabupaten Garut – Pantai Rancabuaya. Sebenarnya saya cukup kaget saat kami melewati kawasan Geothermal Kamojang, karena saat mendaki gunung Rakutak tahun 2014 lalu, saya dan kawan-kawan memulai pendakian dari pintu masuk kawasan Geothermal Kawah Kamojang ini. rupanya sekarang kawasan ini lebih ramai karena banyak spot yang dijadikan kawasan wisata. Sehingga banyak masyarakat yang datang untuk rekreasi karena memang saat itu adalah hari Sabtu. Selain kawah dan PLTU, ada juga penangkaran elang. Tidak besar memang, tapi lumayan untuk sarana edukasi anak.

Jalanan dari Bandung sampai dengan Kamojang masih oke, beraspal, relatif sepi, tidak banyak mobil maupun motor. Namun haris ekstra hati-hati karena meliuk-liuk, lebih banyak truk pasir ketimbang kendaraan pribadi. Sebaiknya jangan melewati jalanan ini saat malam, sore pun jangan. Karena letaknya di dataran yang cukup tinggi, sehingga jika cuaca tdak cerah akan turun kabut. Tidak ada lampu jalan yang cukup memadai.

sayang ya, sedikit kotor.

Setelah melewati Kamojang, jalanan mulai kurang bagus. Kami melewati perkampungan, beberapa pasar bahkan jalanan kecil ditengah pemukiman. Beberapa kali bertanya penduduk setempat, memang benar jalannya begitu dan petunjuk yang mereka beri untuk sampai ke Pantai Rancabuaya memang seperti apa yang google maps tunjukkan. Dengan sedikit menyesal kami terus mengikuti jalan yang google maps tunjukkan.

saung yang bisa ditempati dengan memesan makanan

Setelah kurang lebih 6 jam perjalanan, akhirnya kami dapat melihat bibir pantai. Langsung kami mencari pintu masuk pantai Rancabuaya. Retribusinya menurut saya tidak mahal, karena kendaraan tidak dihitung. Satu orang dipatok tujuh ribu Rupiah. Setelah masuk kawasan pantai, tentunya banyak penjaja makanan dan saung-saung bambu yang bisa digunakan untuk bersantai dengan membeli makanan/minuman di warung seberangnya. Kebanyakan penjual ikan bakar menggunakan hitungan kilo, meskipun ada juga yang menjualnya per porsi.

Kita tidak bia berenang di pantai Rancabuaya, karena didominasi dengan karang yang cukup tajam. Sebaiknya jangan berjalan dengan kaki telanjang diatas karang-karangnya. Dan sayang sekali, saya menemukan beberapa pecahan botol kaca di bibir pantainya. Jadi harus was-was jika ingin berjalan di sepanjang pantai.

Semakin sore pemandangannya semakin bagus. Tentunya air yang semakin pasang berpadu dengan debur ombak yang pecah oleh karang. sayang kami tidak dapat menikmati sunset di Rancabuaya karena khawatir harus menempuh perjalanan ke Bandung terlalu malam. Kami pun meninggalkan Rancabuaya pukul 16.00 WIB. Dari informasi penjaja makanan disana, jika ingin ke Bandung lebih baik melalui Pangalengan. Akhirnya walaupun sempat kesal, kami tetap menggunakan google maps. Hanya saja kali ini tujuan utamanya adalah Pangalengan terlebih dahulu.



Benar saja, disepanjang jalan kami berbarengan dengan mobil-mobil ber-plat “D”. kemungkinan besar mobil-mobil tersebut juga akan kembali ke Bandung, jadi selain mengandalkan maps kami juga mengikuti mobil-mobil tersebut. Jalanan dari pantai ke Pangalengan (bahkan sampai ke Bandung) memang sudah aspal semua. Syukurlah, hari menuju malam kami tidak disuguhi jalanan terjal dan sempit  seperti saat berangkat.

Sampai di kawasan kebun teh Pangalengan, hingga jalan Situ Cileunca hari sudah gelap dan tidak ada lampu jalan. Ditambah kabut yang tebal, jarak pandang hanya +-2 meter kami harus ekstra hati-hati. Sayang sungguh sayang, kami melewati jalanan ini saat hari sudah gelap, padahal dari info di Instagram pemandangan sepanjang kebun teh Pangalengan sangat bagus. Apalagi saat melewati jalanSitu Cileunca, lagi-lagi kecewa karena Situ Cileunca sebenarnya masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi.

menjelang sunset

Setelah lepas dari jalan Situ Cileunca dan memasuki Bandung, kami melewati tol Soroja untuk kembali ke pusat kota. Nah setelah apa yang kami alami di atas, sebuah pelajaran berharga bahwa jangan hanya mengandalkan google maps meskipun tempat tujuannya cukup dikenal. alangkah baiknya bertanya pada penduduk lokal ! :D (padahal banyak teman di Bandung, tapi karena berfikir Garut itu tidak terlalu jauh dari Bandung jadi menyepelekan).

Baiklah jadi jika ingin ke Garut dari Bandung, saya sarankan lewat Pangalengan saja karena jalanan yang lebih aman dan nyaman baik bagi supir maupun kendaraannya. Kecuali jika memang ingin mampir ke kawasan wisata Kamojang, silakan. Namun jangan sampai terlalu sore ya, karena jalanan sempit dan dataran tinggi, berbahaya jika sudah mulai turun kabut. Hatur nuhun Bandung – Garut :)

jalur kiri : via Ciwidey (Kawah Putih)
jalur tengah : via Pangalengan (kebun teh / situ Cileunca)
jalur kanan : via Kamojang (PLTU / Rakutak / Papandayan / Cikuray)


Tangerang, 13 Januari 2018
ND
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sebagai penduduk Tangerang, adalah galau bila ingin main ke pantai. Opsinya adalah : kepulauan seribu (menyeberang dari Angke, Ancol atau Tanjung Pasir) atau pantai di kawasan Banten. Jika memang niat, bisa sekalian ke Sangiang atau menyeberang ke Lampung. Yang paling sering didengar? Jelas Anyer dan Carita, mungkin juga Karang Bolong yang memang satu garis pesisir. Karena saya hanya memiliki waktu satu malam, rasa-rasanya tidak akan puas bila main ke pulau. Pasti hanya akan capek di jalan. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Carita dan Karang Bolong.

Oh iya, mengapa judul dari post ini saya menggunakan kata ‘biaya’? Karena saya ingin membagikan pengalaman bagaimana jika kita jalan-jalan ke Anyer dkk tanpa rombongan (misal hanya berdua saja). Gimana sih, worth it nggak uang yang kita keluarkan dengan hiburan wisata yang kita nikmati? Saya akan mencoba menjelaskan sedetail mungkin untuk rincian biayanya.

Pertama adalah masalah transportasi. Dari Tangerang atau Jakarta adalah hampir nggak mungkin naik motor berdua saja sampai ke Anyer. Kecuali jika dalam rangka touring, itu lain lagi ya. untuk naik umum pun juga pastinya repot, kan kita mau main-main. Jadi saya dan parter jalan-jalan kali ini memilih untuk menggunakan mobil. Urusan mobil, sudah pasti bercabang lagi yaitu bensin dan biaya toll. Untuk bensin, saya rasa semua tipe mobil sudah dipastikan harus mengisi bensin (Pertamax) minimal 200ribu untuk PP. Mengenai uang toll, dari toll Tangerang  sampai ke pintu keluar Cilegon barat dikenakan 48ribu. Sekalian saja ya untuk toll pulang, karena kebetulan lewat Cilegon Timur, jadi toll pulang kena 38ribu. 

Kedua yaitu mengenai penginapan. Meskipun sepanjang bibir pantai hampir semuanya adalah penginapan, sulit untuk menemukan harga murah. Percaya deh L kondominium atau hotel-hotel yang bisa dibilang bagus harganya berkisar 350 sampai 650ribu (ini bicara kamar standar ya).  kalau yang di atas 700ribu saya yakin kamarnya memuaskan. Tapii… sangat sulit untuk kalian memesan hotel di sana melalui aplikasi seperti Traveloka atau pegipegi. Karena tidak mau ribet, saya memilih untuk tetap memesan lewat aplikasi.

Untuk hotel yang standar banget banget masih saja harga minimalnya 250ribu. Bukannya apa, kalau di hotel-hotel kota besar seperti Bandung saja 300ribu sudah dapat kamar bagus meskipun hotel budget. Kan nggak mungkin kalian mau datengin hotel satu-satu demi bandingkan harga karena memesan on the spot. Hehe. Jadi siapkan dana 300 sampai 450ribu untuk kamar standar.


Ketiga pastilah tentang tiket masuk wisata pantai (dan retribusi lainnya). Kabetulan hotel tempat saya menginap tidak memiliki akses pribadi ke pantai, jadi harus masuk melalui pintu resmi. Saya sengaja ingin pagi-pagi ke pantai demi menghindari ramai. pukul 7 pagi saya mendatangi pintu masuk kawasan pantai dan tidak menemukan siapapun berjaga di pos loket. Yasudah, masuk saja deh. Hehe. Fyi kalau sudah ada petugasnya kita dikenakan retribusi 10ribu ya.

Carita memang pantainya kadang bersih, kedang keruh. Sayang sekali saat itu sedang keruh meski tidak banyak sampah. Banyak tukang jajanan seperti kopi, bakso, gorengan dan juga tukang pijit. Oleh-oleh khas yang banyak ditawarkan adalah ikan kering dan pete. Bonus lagi jika ke pantai pagi-pagi, semua harga oleh-oleh dibanderol habis-habisan oleh pedagangnya, katanya untuk penglaris. Hehe. Serius, kalian bisa dapat setengah dari harga normal bila hari mulai siang.

Beranjak dari Carita, saya kembali ke hotel. Untunglah, meskipun kamar yang saya pesan standar, tetap mendapat sarapan. Lumayan kan jadi nggak perlu jajan lagi untuk sarapan. Selepas check out kami menuju ke pantai Karang Bolong. Pantai ini terletak kurang lebih hanya 8km dari Carita. Di seberang pintu masuk resminya ada parkiran mobil yang cukup luas dan penjaja oleh-oleh berjejer. Parkir mobil dikenakan 20ribu.


Namun sayangnya saya terjebak nostalgia untuk urusan tiket masuknya. Abang parkir langsung menuntun kami untuk masuk ke pantai (tidak melalui pintu resmi), kami diarahkan pada pintu cottage yang memiliki akses langsung ke pantai. Sempat ge-er akan digratisin, tapi malah kebenjut L jadi kami disuruh bayar 30ribu untuk 2 orang dengan 1 tiket seharga 15ribu. Saya langsung protes “30ribu dua orang tapi tiketnya satu?” trus kata mas-masnya “iya mbak sama aja tetep bisa masuk dua-duanya kok” sebenarnya saya ingin lebih bawel lagi, tapi karena tengah hari yang panas ini jadi saya memilih langsung masuk saja tanpa banyak komentar lagi.

Jadi maaf nih, untuk retribusi resmi masuk Karang Bolong saya tidak tahu pastinya, bisa di cek ke blog-blog sebelah ya. Estimasi saja sama yaitu 15ribu atau pahitnya deh 20ribu. Di dalam kawasan pantai pun saya tidak banyak jajan, karena kebetulan membawa bekal dari jajanan semalam yang masih ada. Hehe. Tapi tetap sih, wajib beli kelapa muda. Sempat sewot dan berpikir akan kena harga mahal lagi, tapi rupanya kelapa muda dibanderol hanya 10ribu saja. Jika kalian ingin menyewa tikar untuk duduk-duduk santai dipinggir pantai (cailahh), harganya 25ribu bisa sepuasnya. Mau berapa lama terserah deh.
Nah biaya intinya saya rasa 3 hal itu tadi saya, yaitu transport, hotel dan retribusi wisata. Mau itung-itungan nggak?
Bensin                200.000
Toll                      86.000
Hotel                  300.000
Retribusi Wisata  30.000
Jajan dkk            100.000
Total                   716.000

Itu sudah ngepres yaaa.. beneran nggak jajan banyak. Kesel nggak? Kesel lah haha biasanya modal 1jt udah bisa jalan ke Bandung 2 malam dan mengunjungi beberapa objek wisata L

Jadi inti dari post kali ini adalah, kalau kalian ingin main-main ke Anyer, Carita, Tanjung Lesung dkk sangat disarankan untuk rombongan, jangan cuma berdua atau bertiga apalagi sendiri. Supaya yang diajak patungan juga makin banyak. Hehe. Segitu dulu deh, nanti kalau ada yang baru di share lagi.

Tangerang,
22 Agustus 2017



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sepanjang bibir pulau Jawa bagian selatan memang identik dengan obyek wisata pantai. Setelah dari hutan pinus asri, saya dan Sita menuju bagian pesisir Bantul. Saat masuk kawasan wisata sudah ada yang berjada di gardu masuk dan membayar retribusi. Saat masuk sudah ada papan penunjuk arah dimana sebagian besar untuk menuju ke pantai adalah berbelok ke kanan. Jalanannya lebar kali panjang dan sepi, ditambah dengan angin laut yang kencang. Jadi hati-hati bila kalian naik motor terutama bagi yang kurus. Hehe.

Jalanan masuk kawasan pantai

Kami memutuskan mampir ke 2 pantai, yaitu Pandansari dan Goa Cemara. Yang membuat saya tertarik untuk ke Pandansari adalah adanya mercusurar sebelum kita mencapai bibir pantai. Pantai Pandanwanginya sendiri tidak terlalu ramai, tidak cukup besih juga namun kalian bisa duduk-duduk di dahan pohon cemara yang pendek. Tidak banyak pedagang dan toilet, singkatnya memang pantai ini kalah pamor dengan pantai Goa Cemara. Untuk masuk ke pantai ini dikenakan kembali tarif Rp 2.000,-. 

Aslinya sih, ketakutan

Setelah melihat pantai, kami menuju mecusuar. Tarif untuk masuk ke dalam adalah Rp5.000,- per orang. Ada kurang lebih 6 lantai dengan tangga memutar di dalam. Sangat tidak disarankan untuk kalian yang memiliki phobia ketinggian. Karena selain memang tinggi, angin laut dari puncak mercusuar sangat sangat besar. Terlebih lagi pada waktu musim kemarau. Pesan si bapak penjaga waktu itu adalah “Anginnya besar ya mbak, jangan nyender atau pegangan di besi.” Alhasil kamipun senantiasa menempel pada dinding. Hehe. Oh iya selain mercusuar, di pantai ini juga ada agrowisata kebun buah naga hlo. Cocok untuk ibu-ibu yang membawa serta anaknya. Bisa sekalian jalan-jalan ke kebun.

sumber

Jika mau pemandangan bagus, pilihlah waktu sore antara pukul 16.00 – 17.00 karena matahari sudah condong ke barat dan kalian masih sempat kembali ke bibir pantai untuk menikmati sunset. Di atas nggak perlu lama-lama ya. Bahaya karena memang tidak ada peralatan pelindung apapun dan besi pembatasnya hanya 2 garis saja.

Setelah dari mercusuar kami bergegas menuju ke pantai Goa Cemara. Lagi-lagi ada retribusi, yaitu Rp3.000,-. Goa Cemara tentu lebih ramai karena memang lebih terkenal. Ada banyak warung makan, toilet bahkan ada pos polisi juga. Banyak andhong dan perahu-perahu kecil.

setelah matahari terbenam

Meskipun di kawasan hutan cemaranya kotor, tapi di bibir pantai cukup bersih kok. Saran sih ambil yang bagian kanan ya dari pintu masuk, karena lebih sepi. Dan sunsetnya… tidak mengecewakan. Bagus kok (menghibur diri karena gagal liat lautan awan di Sumbing). Oke setelah sunsetnya habis dan matahari telah seluruhnya tenggelam, kami beranjak untuk kembali pulang.


Sangat penting jika kalian kesini, pastikan lampu kendaraan hidup (tidak bermasalah). Jalanan keluar pantai hingga kampung terdekat nggak ada lampu :( dengan angin yang gede pula, kalian harus ekstra hati-hati karena cenderung sepi. Kesimpulannya gelap dan berbahaya. Setelah keluar dari wilayah pesisir kami mulai kembali memasuki perkampungan dan menuju Jogja kota karena berencana lewat Prambanan untuk ke Solo. Perjalanan ke Solo kami tempuh kira-kira 2,5jam. Itu udah pakai ngebut sih ya. dengan sampainya di rumah, berakhir pula ngebolang seri lebaran tahun ini. ya, cuma segitu :’) mudah-mudahan bisa naik gunung yaaa nanti setelah masa vakumnya habis. Hehe.

Tangerang,

22 Juli 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 

Belakangan ini Yogyakarta gencar banget mempromosikan potensi wisatanya. Macam-macam ‘puncak’ dan ‘bukit’ bermunculan dengan properti penunjang untuk mereka yang ingin berfoto. Kebetulan kemarin saat pulang kampug ke Solo, saya (lagi-lagi) tidak jadi naik gunung. Karenanya, saya dan Sita mengambil plan B yaitu touring. Dari beberapa destinasi yang ada di Bantul, kami memilih puncak panguk , hutan pinus asri dan pantai goa cemara. Jadi judul utamanya adalah explore Bantul. Kami naik motor dari Sukoharjo dengan mengandalkan google maps meskipun Sita sudah lumayan sering ke Bantul.


Saran pertama dari saya adalah : jangan pernah mengandalkan google maps mentah-mentah jika tujuanmu adalah puncak panguk kediwung. Location yang ada di g-maps itu ada di seberang bukitnya, sementara dibawahnya ada sungai yang sudah pasti kalian nggak akan bisa lewat kalau mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh g-maps. Jadi ada baiknya cari dahulu air terjun Lepo, nah dekat dari Lepo kalian bisa langsung ganti destinasi nya ke puncak panguk. Atau yang paling mujarab ya pakai GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Jangan malu bertanya, karena tempat itu sudah cukup terkenal jadi penduduk Bantul pasti tahu.

Singkatnya setelah nyasar kamipun sampai di puncak panguk. Untuk retribusi masuk Rp7.000,- (2 oang + 1 motor). Yahh boleh lah nggak terlalu mahal. Kalau kalian datang tengah hari, sudah sangat jelas akan kepanasan. Tidak banyak pohon dan tanahnya batu kapur. Mungkin karena masih baru, jadi sambil proses dirapihkan juga. Disana terpampang list harga termasuk harga untuk camp ground yang bikin kaget, karena mahal. Yaitu Rp15.000,- per orang untuk semalam. Hiks. Naik gunung di Jawa Tengah aja nggak sampai segitu.


Oke setelah parkir kendaraan, kalian bisa langsung menyusuri spot-spot foto yang disediakan. Ada sekitar 5-7 spot dengan iconnya masing-masing. Rata-rata sekali foto diberi tariff Rp3.000 per orang dengan maksimal lama foto 3 menit. (lagi-lagi menurut saya kok mahal ya hehe). Bukan pelit sih, tapi ya kalau kalian ingin foto di 5 spot berarti dikali saja biayanya. Tapi jangan sedih, ada juga spot yang gratis kok dan latar belakang pemandangannya nggak kalah bagus.

Puncak panguk atau bukit panguk kediwung ini buka pukul 04.30 WIB sampai dengan adzan maghrib. Jadi kalian bisa ambil foto bagus saat sunrise atau sunset. Sayang sekali kami nggak kesampaian untuk ambil foto sunrise karena berangkat kesiangan plus nyasar. Jalanan menuju ke tkp lumayan layak, meskipun ada tanjakan yang berbatu. Jadi hati-hati ya yang bawa motor terutama manual. Akhir kata tempat ini bagus saat sunrise (karena ada kabut di lereng bukit) dan sunset (asal cuaca cerah).

Solo,
30 Juli 2017


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sejak pendakian pertama hingga kesekian, saya selalu meninap di tenda. Nggak pernah tektok seperti teman-teman lainnya yang sudah pro. Dulu juga saya selalu berprinsip ingin menjajal gunung baru kalau ada plan naik gunung. Tapi seiring waktu, setelah lima faktor atau alasan tadi, saya nggak lagi mikirin gunung mana dan sesulit apa yang akan saya daki. Nggak juga mikirin seberapa terkenalnya gunung itu. Tapi lebih kepada proses dari naik gunung itu sendiri, hal-hal apa yang saya dapat, hal-hal apa juga yang bisa saya berikan dan cerita sebelum menutup pintu tenda. Karena gunung boleh sama, tapi cerita di setiap pendakiannya selalu baru. Ya, cerita yang selalu baru itulah faktor keenam saya suka naik gunung baik dengan teman baru atau lama sekalipun.

Akhirnya saya mencoba melakukan pendakian tektok ke Pangrango. Bener-bener nggak bawa tenda, hanya satu salin, kopi, roti, kompor dan ponco. Saat itulah saya kembali belajar apa itu persiapan. Apa itu skill, apa itu estimasi dan kemungkinan terburuk. Semua estimasi dan rencana saya meleset, dari target  10 jam nyatanya saya baru bisa menyelesaikan pendakian itu dalam waktu 17 jam. Dengan kondisi hujan di puncak dan kehabisan logistik di kandang badak saat perjalanan turun. Bener-bener nggak layak ditiru. Satu sisi saya merutuki kecerobohan diri sendiri, tapi satu sisi juga saya anggap ini adalah pelajaran agar saya nggak salah perhitungan lagi kalau mau mendaki tektok nantinya. 

Pelajaran nggak hanya saya temukan di pendakian Pangrango ini, tapi juga di semua pendakian yang saya lakukan sejak awal pertama. Menghitung-hitung kesalahan bisa jadi hal menarik ketika kita sampai dibawah. Dan itu harus kita ingat, agar tidak terulang lagi di pendakian berikutnya.

Setelah mendaki tektok di Pangrango, saya menjajal tektok di Merapi. Seperti biasa, start tengah malam. Dan hasilnya cukup memuaskan, nggak sepayah saat di Pangrango. Yang penting persiapan jangan sampai kurang, salah atau justru kelewat berlebihan. Untuk urusan ini jelas saya nggak lepas dari bantuan para master seperti Bang O, Mas Bay, Bang T, dan lain-lainnya. Bisa juga didapat dari rekan-rekan di komunitas yang lebih sering ketemu karena para master makin susah kumpul. Hehe.

Menungu pagi di Nglanggeran

Oiya saya hampir lupa, yang penting banget dan masuk juga dalam jajaran faktor ‘kenapa naik gunung’ adalah tegur sapa di ketinggian. Ya, yang tadinya nggak kenal jadi kenal. Yang tadinya temen bisa jadi pacar. Yang tadinya biasa bisa jadi sodara. Tapi jangan lupa, nggak semuanya berubah jadi positif. Yang tadinya setuju bisa jadi nggak setuju. Yang tadinya sahabat, bisa jadi bang*at. Kenapa? Karena (saya percaya) bahwa selama proses mendaki, dalam keadaan lelah fisik, mungkin juga batin karena puncak nggak kunjung kelihatan, jati diri kita akan terkuak. Setidaknya didepan teman-teman kita sendiri.

Dulu , saya pernah lebih memilih mengejar puncak saat temen nggak lagi mampu. Tapi saya sadar bahwa puncak bukan hal yang penting lagi ketika kita ada di gunung. Dulu, saya pernah jadi curhatan 2 temen yang saling sakit hati karena salah satunya bilang temennya itu lemah. Di gunung bukan cuma fisik yang kita jaga, tapi batin juga. Sabar. Musti banget sabar. Walaupun jengkel juga kalau ada temen yang bisa liat setan tapi justru berisik kalau setannya disebelah saya. *halah. Ya pokoknya begitu, teman-teman. Buat saya naik gunung itu lebih dari biar keren, biar keliatan kuat, biar punya pengalaman.

sunrise di lumutan Merapi

Naik gunung adalah media saya untuk kembali berinteraksi dengan alam, dengan sesama kita manusia, dengan semesta. Jangan ngomong begini juga kalau masih buang sampahnya dimana-mana. Selalu siapin kresek untuk sampah pribadi yang kecil, misalnya bungkus permen. Kalau sampah kelompok taruh aja di trashbag gantung di keril. Yhaa. Pokoknya kalian yang lebih expert daripada saya sih pasti ngerti. Dan kalian di luar sana, pasti punya alasan sendiri kenapa naik gunung. Kenapa selalu-ingin-naik-gunung. Meski, kadang, apa yang saya jelaskan dalam post ini nggak bisa begitu saja saya jadikan jawaban untuk setiap pertanyaan kalian ‘kenapa sih Dit naik gunung’.

Tangerang,
05 Juni 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sampai sekarang saya nggak bisa jawab kalau ada yang tanya begitu. Karena pemandangan? Kepuasan diri mencapai puncak? Biar keren? Biar kelihatan kuat? Nggak yakin juga. Kalau ditanya juga ‘capek nggak?’ ya capeklah, wong naik gunung pakai kaki bukan gondola. Mwehehe. Dibanding temen-temen yang lain, mungkin saya masih cupu. Seven summits Indonesia belum satupun saya jamah. Jadi opsi biar keren tadi bisa dicoret. Terus kenapa dong Dit?

Awal mula saya naik gunung adalah gunung Gede, yang ada di Jawa Barat. Sepulang dari Gede itu, karena untuk pertama kalinya naik, seluruh badan rasanya sakit. Terutama kaki, yang bikin repot kalau harus ke toilet karena begitu ditekuk dikit hhhhmmm ampun deh. Tapi seru, nggak tahu kenapa sakitnya habis naik gunung itu beda. Nah setelah itu saya menjajal Merbabu. Kalau di Gede belajar basic mendaki, di Merbabu saya dikasih pemandangan yang bagus banget karena memang banyak sabana dan jarak pandangnya luas. Disinilah kenikmatan kedua yang saya dapat dari naik gunung, sekaligus faktor kedua kenapa saya naik gunung setelah rasa remuk di badan tadi (aneh ya lo Dit, badan remuk abis naik gunung kok bisa dinikmatin).

di Salak bersama teman-teman PINUS

Pendakian ketiga saya adalah Gunung Rakutak. Pada waktu itu saya sudah kenal dengan yang namanya komunitas. Dimana saya ketemu dengan orang-orang yang minat hobinya sama dengan saya. Ini adalah faktor ketiga kenapa saya demen naik gunung. Jalinan pertemanan di lintas komunitas itu bisa asik banget apalagi dibarengi kegiatan sosial. Nah balik lagi ke Rakutak, di sinilah saya mengenal hal baru lagi dalam mendaki gunung. Di gunung yang relatif pendek ini saya dan teman-teman bertemu banyak sungai, hutan yang masih lebat dan cuaca yang kurang bersahabat waktu itu. tapi karena kita ramean, jadi medan-medan sulit itu bisa kita lalui dengan lancar. Dari sini saya mulai mencari ilmu-ilmu baru seputar naik gunung. Rasa ingin tahu itulah faktor ketiga semenjak pendakian ini. Dan tentang komunitas, sungguh sangat amat membantu. Mulai dari teman baru, kegiatan baru, ilmu baru dan juga tentunya pengalaman pertemanan yang baru karena kami smeua berasal dari latar belakang industri yang berbeda.

Karena waktu itu masih anak kuliahan, saya bisa naik gunung 2-3 bulan sekali. Pendakian keempat adalah Ungaran. Disana bisa dibilang biasa aja, walaupun tetap punya cerita. Kelima adalah Merapi. Gunung ini bisa dibilang salah satu idaman sejak remaja. Haha. Karena kisahnya yang terkenal, atau juga karena siklus meletusnya yang konstan. Puncak Merapi adalah salah satu puncak yang membuat saya nyaris menyerah. Sejak dari pasar bubrah sampai ke puncak, kita nggak akan dikasih ampun. Tapi itu adalah momen dimana saya akhirnya tahu begaimana wujud kawah gunung aktif. Hayo, penasaran nggak? Tapi sekarang pendakian Merapi dibatasi sampai pasar bubrah karena banyak faktor terutama mengenai keselamatan pendaki. Merapi adalah pendukung faktor keempat yaitu keinginan menjajal tipe gunung yang berbeda.

sore hari di Merapi

Setelah Merapi, saya bersama teman-teman Pinus menjajal Gunung Salak. Hehehe. Pastinya sudah terkenal banget keangkeran dan keganasan 7 puncaknya. Tapi jelas dong, kami hanya menjajal 1 puncak karena itupun memakan waktu 2 malam. Salak buat saya adalah ‘kakaknya’ Rakutak. Medannya hampir sama, tingkat kesulitannya hampir sama. Tapi karena lebih tinggi dan luas, tinggal dikali 3 aja rasa capeknya. Pada waktu pendakian Salak inilah saya menyadari kalau seringkali saya masih kekanak-kanakan waktu mendaki bareng teman-teman. 

Saya sering baper, sering kesal sendiri kalau capek, sering yang lain-lain yang mungkin bikin teman saya nggak nyaman. Nah disinilah saya belajar untuk mengontrol emosi disaat situasi apapun. Namanya juga naik gunung, sama-sama capek jadi jangan asal senggol bacok dong. Nah sampai sekarang saya berusaha untuk sesantai mungkin saat naik gunung, biar tenaga dan emosi terjaga. Ini adalah faktor kelima kenapa saya masih demen naik gunung saat sibuk, yaitu media mengontrol diri.

Tangerang,
05 Juni 2017
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates