Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita





Seperti buku-buku sebelumnya, Dee kembali membuat saya kagum lewat Aroma Karsa. Novel fiksi ini memikat saya dengan tiga unsur utamanya : tokoh, cerita dan pengetahuan baru yang terselip didalamnya. Alasan Dee menulis cerita dengan latar belakang indra penciuman ini adalah karena sejak kecil kita pada umumnya lebih terbiasa dengan hal-hal yang bersifat visual, padahal indra manusia yang paling peka sesungguhnya adalah penciuman.

Dee selalu punya tokoh yang ‘tidak biasa’ layaknya tokoh-tokoh pada sekuel Supernova. Kali ini tokoh utamanya yang bernama Jati Wesi, adalah seorang pemuda dengan kemampuan indra penciuman yang jauh diatas rata-rata manusia pada umumnya. Dibalik kemampuan luar biasanya itu, ada cerita panjang yang akan mengantarkan kita pada teka-teki di dalam 696 halaman Aroma Karsa. Tokoh keduanya adalah Tanaya Suma, gadis yang memiliki kemampuan penciuman seperti Jati. Ketiga adalah Raras Prayagung, cucu dari Janirah Prayagung yang merupakan sumber dari sebuah perjalanan panjang mencari satu bunga bernama Puspa Karsa.

Selain ceritanya yang seru, seperti judulnya yaitu ‘aroma’ , kita diajak melongok ke pemukiman kumuh di gunung sampah TPA Bantar Gebang hingga belajar membuat parfum ke  Grasse, Perancis. Saya tidak pernah mencari tahu bagaimana para pekerja di Bantar Gebang menjalani kehidupannya sehari-hari. Juga, saya tidak pernah mencari tahu bagaimana cara meracik parfum, nama-nama aroma yang beraneka rupa dan bagaimana perusahaan kosmetik menjalankan bisnisnya. Saya tidak tahu apa nama Jawa Kuno dari Gunung Lawu. Semua itu, ada dalam Aroma Karsa.

Selain pengetahuan baru tentang aroma, kita juga akan diajak menggali sejarah Jawa kuno, khususnya mengenai kerajaannya. Mungkin sedikit banyak Dee menciptakan cerita baru atau fiksi tentang kerajaan kuno tersebut (entahlah, saya belum menggali lebih dalam tentang ini. Tapi, nama kerajaan yang ditulis oleh Dee memang benar pernah ada), namun tetap saja istilah-istilah Jawa kuno yang disebut-sebut dalam Aroma Karsa menggelitik saya untuk mencari tahu lebih lanjut dan itu menyenangkan sekali karena secara tidak langsung kita jadi belajar sejarah.

Bagi yang belum membaca Aroma Karsa, saya akan ceritakan sinopsis singkatnya (tentunya tanpa spoiler) sebagai berikut:
Jati Wesi, pemuda yang hidup di kawasan tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, memiliki indra penciuman yang luar biasa. Ia mendapat kepopulerannya di kawasan itu karena pernah membantu polisi menemukan mayat korban pembunuhan yang tertimbun gunung sampah. Itulah sebabnya, ia dijuluki si hidung tikus. Selain bekerja di TPA, Jati juga bekerja di toko parfum refill Attarwalla milik Khalil. Disana ia menjadi peracik parfum, yang menghasilkan aroma-aroma sangat mirip dengan parfum-parfum mewah, dengan kata lain meniru aroma tersebut. Suatu hari, Jati meniru aroma sebuah parfum milik perusahaan kosmetik nomor satu di Indonesia, Kemara, dan itu ketahuan oleh polisi. Maka ia dihadapkan pada pilihan : dipenjara bersama Khalil atau bekerja seumur hidup di perusahaan Kemara sehingga Khalil bisa bebas. Karena tidak tega dengan Khalil, Jati menerima tawaran bekerja seumur hidup di perudahaan kosmetik itu.

Pemilik Kemara, Raras, bukan tidak memiliki tujuan terselubung mempekerjakan Jati. Ia tahu kemampuan yang dimiliki pemuda itu. Raras memiliki anak perempuan bernama Suma, yang belakangan Jati tahu bahwa mereka berdua ‘sama’. Raras terobsesi pada cerita neneknya, Janirah Prayagung, yang merupakan pencuri-bukan-sembarang-pencuri. Janirah kecil telah mencuri sebuah lontar penting dari dalam Keraton Yogyakarta. Lontar itu menyimpan secuil cerita beserta tiga tube berisi cairan, yang belakangan diketahui bahwa kedua jenis benda itu berkaitan dengan lontar milik seorang arkeolog ternama. Janirah menggunakan satu tube cairan itu dan entah kekuatan apa yang membuatnya mampu membangun Kemara menjadi perusahaan kosmetik yang sedemikian besar. Sepeninggal Janirah, Raras bertekad untuk menemukan Puspa Karsa, bunga yang disebut-sebut dalam kedua lontar yang memiliki kisah mirip itu. Jati adalah alat utamanya.

Dalam proses perkenalan dan perjalanan asmara Jati dengan Suma, misteri ayah kandung Jati ternyata adalah kunci dari bagaimana Suma dan Jati ada di sini, di Bekasi. Raras tidak pernah menikah, dan semua orang tutup mulut bagaimana Suma hadir dalam kehidupan Raras. Misteri demi misteri muncul dan terpecahkan, sampai akhirnya kita jadi tahu siapa sebenarnya Jati, Suma, Anung dan siapa itu Puspa Karsa yang merupakan bagian dari sejarah Jawa Kuno khususnya di kawasan Gunung Lawu.

Tentu sangat banyak yang tidak saya selipkan dalam sinopsis singkat diatas, semata-mata agar post ini tidak terlalu panjang. Bagi yang suka dengan novel fiksi atau sci-fi, novel ini sangat saya rekomendasikan. Nah, semoga review ini bisa ‘meracuni’ kalian yang belum membaca Aroma Karsa, ya. Hehehe..



Tangerang, 25 Desember 2018
-ND-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 

Bosan dengan hotel budget yang begitu-begitu saja, kali ini saya menjajal salah satu hotel di Bandung yang punya konsep unik dengan harga yang tidak jauh beda dengan hotel-hotel budget. Masih dekat dengan pusat kota yakni di jalan Pajajaran, saya menginap di Triple Seven bed & breakfast. Awalnya sempat bingung mencari alamatnya karena terletak masuk di dalam kawasan perumahan (tidak berada di pinggir jalan raya). Namun justru letaknya yang tidak di pinggir jalan raya inilah yang saya sukai. Tidak bising dan tetap mudah ditemukan karena pada setiap gang masuk dari jalan Padjajaran ada petunjuk arah menuju Triple Seven.

ruang tunggu samping resepsionis

Triple Seven memiliki basement yang tidak luas, namun cukup untuk menampung 4 sampai 5 mobil. Saat hampir tengah malam saya sempat keluar hotel lagi, pak satpamnya memberi info bahwa setiap jam 00.30 pintu basement ditutup. Ya walaupun begitu tidak perlu khawatir karena jika kita datang tetap akan dibukakan pintu. Mungkin karena tidak pakai security parking jadi pihak hotel memilih menutup pintu basement agar lebih aman meskipun satpam berjaga 24jam.

double king

Saat check in akan diminta deposito Rp50.000 , jumlah yang wajar. Disamping meja resepsionis, ruang runggu ditata dengan manis (mungkin juga karena masih suasana natal), membuat kita betah duduk-duduk santai jika bosan di kamar. Hotel ini merangkap kafe juga, ada meja-meja kafe di bagian teras depan dan bagian samping di dalam bangunan. Sayang karena saat itu sudah lewat jam 11 malam, saya tidak bisa order karena last ordernya jam 10 malam. Alhasil itulah mengapa saya harus kembali keluar hotel, untuk cari makan malam.


Triple Seven menyediakan cukup banyak tipe kamar : retro single, retro queen, pop art queen, pop art king dan vintage twin. Saya memesan kamar  pop art king dengan harga Rp545.000,- semalam. Mahal? Tidak, karena memang saya memesan di tanggal 30 Desember, nyaris pergantian tahun. Wajar jika harga-harga hotel melonjak. Walaupun tidak memiliki bangunan tinggi seperti hotel-hotel lainnya, pintu kamar di Triple Seven sudah menggunakan kartu (tidak lagi kunci manual).

Begitu masuk ke dalam kamar, kesan pertama yang saya dapat adalah : clean. Tidak banyak ornamen, warna yang soft dan terang. Membuat badan yang lelah beraktivitas seharian ingin segera merebahkan diri. hehe. Ada satu lemari yang cukup besar, tv lcd 21”, seperangkat alat minum yaitu gelas, 2 botol air mineral, pemanas air berikut teh kopi serta gula. Kaca jendela kamar tidak tembus pandang dan dilapisi tirai warna krem. Comfy banget.

teras lantai satu

Kamar mandi tidak luas namun cukup, dengan shower air panas lengkap beserta peralatan mandi. Selalu suka jika hotel menyediakan sabun + shampoo dalam botol kecil terpisah, bukan sabun padat bulat pipih atau shampoo yang bisa sekaligus digunakan sebagai sabun mandi. Oh iya, channel tv nya juga lengkap lho.

meja kafe bagian luar

Karena saya memesan kamar tanpa breakfast, jadi ya harus rela tidak mencicipi makanan hotel karena lebih memilih untuk makan di luar sembari menikmati Bandung di pagi hari. Pada hari-hari biasa, kita dapat bermalam di Triple Seven dengan harga sekitar 300 hingga 400ribu-an. Sedikit lebih mahal dibandingkan hotel budget, tapi worth it kok jika hanya selisih 30ribu-an saja J .






Tangerang, 05 Januari 2018
ND

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 

Mencari hotel budget di Jakarta tidak sulit sama sekali. Meskipun ditaburi hotel berbintang, masih banyak hotel bintang 2-3 yang menawarkan harga murah meriah. Kemarin saya berkesempatan untuk menjajal Ibis budget Tanah Abang, Jakarta Pusat. Nilai plus yang langsung terasa adalah hotel ini cukup dekat dengan stasiun besar Gambir. Pas banget untuk kalian yang sedang singgah di Jakarta dan menggunakan moda transportasi kereta api. Lokasinya pun tidak sulit di cari, dengan gedung tinggi yang menonjol diantara bangunan lain di sekelilingnya. kalau naik grab car dari Gambir kira-kira Rp10.000,- ya.


Untuk ukuran kamar bisa dibilang sempit, namun worth it dengan harganya. Namanya juga hotel budget kan? Hehe. Kamar mandi dan toiletnya terpisah dengan ukuran yang benar-benar pas. Tidak tersedia peralatan mandi ya, hanya ada shampoo yang difungsikan juga sebagai sabun mandi (tulisannya sih shampoo & bodywash) :D jadi beli dulu di luar ya untuk pasta giginya. Nah wastafel ada di samping kasur, dengan sebuah kaca minimalis. Mmmm bisa becek sih lantainya kalau kalian banyak gerak saat cuci muka atau gosok gigi di wastafel.


Buat yang nggak bisa tidur tanpa guling, tanang. Di hotel ini disediakan guling. Kebetulan saya pesan king bed, jadi ada dua bantal dan dua guling. Hehe berasa penuh deh kasurnya. Tidak ada lemari, jika ingin gantung baju disediakan hanger tepat di depan kamar mandi dan ada sebuah kaca panjang vertikal disampingnya. Jadi kalian bisa ngaca-ngaca genit sebelum keluar kamar. Ngomong-ngomong, kemarin saya pesan lewat traveloka dan kamarnya tidak free sarapan. Lalu saat check in langsung ditawarin apakah mau tambah fasilitas sarapan dengan charge Rp40.000,- per orang. (cmiiw ya, seingat saya segitu).


Resepsionisnya ramah, tidak pakai uang jaminan ataupun meninggalkan KTP. Jadi saat check in tinggal tunjukkan kartu identitas, bayar, dan bisa langsung dapat kunci kamar. Oiya, kamarnya free wifi juga. Tapi waktu itu saya lupa mencoba, jadi nggak tahu deh seberapa kencang wifinya :D ratenya 4 dari 5 yah, nggak sampai Rp300.000,- kalian bisa menginap di pusat kota Jakarta dengan nyaman :)


Tangerang,
05 Juli 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 pict by booking.com

Masih di Yogyakarta, setelah mencoba Tune Hotel saya menemukan satu hotel yang lumayan unik dengan harga terjangkau, yaitu Paku Mas Hotel. Usut punya usut, hotel ini kelas Melati yang di desain untuk liburan keluarga. Saya baru tahu waktu check in, dikiranya bintang 1 atau 2 hehe. Tapiiiii, jangan khawatir. Walaupun kelas melati hotel ini cukup menarik. Paku Mas Hotel ada di Jl. Nogopuro No.35, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kota Yogyakarta.

Untuk mencarinya gampang banget pakai map, tapi jangan kira akan menemukan hotel ini karena gedungnya yang tinggi atau lokasinya yang di tepi jalan raya. Secara umum iya, hotel ini dekat dengan mall Plaza Ambarukmo yang ada di tepi jalan besar Laksda Adisucipto (lurusan kea rah Solo). Tapi kalian harus jeli karena hotel ini masuk ke dalam gang. Untuk memudahkan pengunjung, di pintu masuk gang tertera papan “Paku Mas Hotel”.

pict by booking.com

Begitu masuk ke dalam kawasan hotel, suasananya asri dan tenang. Ada kolam renang outdoor di samping resto. Ruangan resepsionis ada di depan karena tidak jadi satu gedung dengan kamar-kamar hotel. Nah begitu kalian mendapat kuncinya, petugas hotel akan segera mengantar ke kamar, membukakan pintu, menyalakan AC dan tv. Karena tipe bangunannya bukan gedung modern, jadi tidak ada lift. Ya, kalian harus naik tangga. Jangan khawatir, karena hanya ada 3 lantai.

Oke, saatnya menilai plus minus. Nilai plusnya adalah, kamar hotel ini luas. Ya, luas banget untuk harga +- Rp 250.000,- . Ada kasur double bed, meja rias dan lemari (aksen kayu dengan ukiran khas jawa tengah), kursi kayu panjang dan wastafel. Dindingnya sengaja didesain batu bata, dengan lampu kuning remang (sedikit spooky untuk orang-orang yang parno dengan suasana jawa kental hehe). Karena aksen Jawanya sangat kental, jadi terkesan sedikit horror.

Nilai minusnya adalah, kunci pintu manual (maklum kelas melati), kamar mandi sempit dan…. Air panas / dinginnya manual :’) Apakah mungkin karena saya ada di standart room? haha. Karena ada di pict beberapa agen perjalanan yang menunjukkan shower. Balik lagi, jadi begini : ada satu bak mandi kecil, dengan 2 kran air diatasnya. Hehe. Jadi kalian harus pandai-pandai menakar komposisi air ya, kalau kepanasan harus rela menunggu sampai airnya dingin atau menguras sebagian dan isi ulang. Untuk peralatan mandi disediakan lengkap kok :)

 pict by booking.com

Selanjutnya fasilitas yang didapat adalah sarapan. Nahh untuk sarapan jika menginap disini usahakan jangan kesiangan. Karena, sepertinya, pihak hotel tidak terus-terusan me-refill menu walaupun jam breakfastnya masih panjang. Waktu itu saya turun ke resto sekitar jam 8 pagi, tapi nggak banyak yang tersisa. Padahal, menunya tradisional banget. Bahkan ada beberapa macam jamu hlo, yang bisa bikin badan segar sebelum kembali berkeliling :) menu makanannya juga nggak kebarat-baratan, lebih seperti gethuk, sayur tumisan, meski ada juga salad dan roti.

Di hotel ini banyak bule, mungkin karena situasinya juga yang tradisional banget dan beda dengan hotel modern lainnya. Paku Mas Hotel dapat rate 4 dari 5  dari saya, karena harga yang bersahabat dan suasana yang menyenangkan.

Tangerang,
17 Juni 2017


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Menulis itu bebas. Sebuah kalimat yang paling dekat dengan penulis bernama Seno Gumira Ajidarma (kerap disebut SGA dalam tulisan-tulisan pembacanya). Saya baru tahu bahwa menulis bisa begitu liar untuk sebuah objek : senja. Sebagai mahasiswa-bukan-jurusan-sastra, saya tidak tahu harus mengolongkan kumpulan cerpen ini dalam genre apa. Tapi saya rasa, ia lebih merapat pada surealis daripada realis. Tapi ada juga, yang menyebutnya realisme-magis. Ah, apasih, toh yang saya lakukan hanya membaca, menikmati kata-kata di dalamnya dan berimajinasi sebebas-bebasnya. Sebab, yang ditulis Pak Seno ini, sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang mengerat sebuah senja, yang merupakan bagian dari semesta, untuk masuk ke dalam saku dan dikirim pada perempuan yang dicintainya?

Dalam buku Sepotong senja untuk pacarku yang berisi 16 cerpen, ada sekiranya 3 tokoh penting : Sukab, Alina dan Tukang pos. Si Sukab ini, namanya sering dipakai oleh Pak Seno di tulisan-tulisannya. Sehingga, karakter  Sukab tidak pernah konsisten. Ia bisa menjadi remaja belasan tahun, pemuda tajir atau sekedar tokoh numpang lewat. Yang paling menarik, tentunya, Trilogi Alina. Di sinilah pendekatan sureal sungguh terasa. Waktu membacanya, akhirnya saya masa bodoh dengan kenyataan dan melepas akal sehat.  Untuk sampai ke titik tersebut, saya sudah membayangkan bagaimana senja yang digambarkan oleh Pak Seno dengan detail mulai dari langit keemasan, debur ombak, kepak burung dan matahari setengah terbenam. Sampai akhirnya, Sukab memotongnya pada empat sisi dan memasukkannya ke amplop untuk di kirim kepada Alina.

Surat itu baru sampai 10 tahun kemudian. Sebab, Tukang pos yang jahil tidak hanya mengintip, namun masuk ke dalamnya dan tinggal di sana selama 10 tahun. Coba jelaskan : bagaimana mungkin seseorang masuk ke dalam amplop, yang berisi senja, lengkap dengan daratan pasir dan langit jingganya, lalu keluar 10 tahun kemudian tanpa pernah menua. Rasanya, adegan seperti itu hanya ada di film-film Hollywood saja. Saya jadi penasaran, berapa lapis kehidupan ini ada? apakah kita juga tinggal di dalam sebuah potongan semesta? Ah sudahlah, toh kegilaan ini belum berakhir. Surat balasan Alina, ternyata lebih menggelikan lagi.

Surat itu sampai kepada Alina, dari seorang tukang pos yang wajahnya bahagia. Begitu surat itu terbuka, senja itu luber keluar, sehingga matahari di salamnya beradu dengan matahari yang sebenarnya. Tunggu. Memangnya kita tahu, mana matahari yang sebenarnya? Kata Alina, akibat laut dari sepotong senja itu luber, air bah Nuh terulang kembali. Maka ia mengumpat, menyumpahi Sukab yang menurutnya tidak punya otak itu sebab semua orang mati akibat air menggenangi seluruh bumi. Nah, sampai di sini, bukankah sudah dapat kalian duga seperti apa cerpen yang di tulis Pak Seno?

Terlepas dari imajinasi liar yang ada dalam cerita ini, perasaan Sukab terhadap Alina saya rasa perlu juga ditanggapi. Bagaimana tidak, coba kau baca kalimat terakhir dari Sukab dalam cerpen ini :

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. 

Atau yang ini :

Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina. Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. 

Yah pokoknya, begitulah. Kalian juga mungkin akan terbawa rasa kesal Alina ketika membaca makian dan keluhannya karena senja sialan yang dikirimkan Sukab.

Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.

Atau ini :

Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati.  Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku  sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta
dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. 

Waktu baca cerita ini, jangan maksa untuk mikir seperti membaca Supernova KPBJ yang penuh sains fiction-nya, kalau tidak ingin pusing sendiri. Atau jangan juga terlalu sentimentil seperti saat membaca Hujan bulan Juni milik Pak Sapardi Djoko Darmono. Ada sensasi mirip-mirip sih dengan tulisan Pak Djoko Pinurbo, terutama puisinya dalam buku “Selamat menunaikan ibadah puisi”. Tapi kan, semua penulis atau sastrawan punya ciri khas nya sendiri. Jadi tidak semestinya membanding-bandingkan.


Tapi ngomong-ngomong, kalau kalian mau tahu seperti apa senja di dalam amplop itu, bacalah cerita yang berjudul “Tukang pos dalam amplop”. Si bapak tukang pos itu, membeberkan seperti apa senja di dalamnya. Dan jangan kaget, bahwa ia kawin dengan lumba-lumba yang melahirkan spesies baru. Haha. Rumusnya satu saja : abaikan semua logikamu yang mungkin kau cari-cari kemungkinannya dalam cerita ini. Cukup duduk santai, sambil menyesap teh sore-mu ditemani sepotong senja paling tidak masuk akal dari Pak Seno.

Tangerang,
14 Juni 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pict by Agoda.com

Lagi-lagi Bandung, karena tujuan kali ini Lembang maka saya pun mencari hotel yang ada di Lembang untuk beristirahat. Setelah mencari-cari hotel yang harganya bersahabat, saya memilih T Hotel Lembang. Lokasinya ada di Jalan Raya Lembang No.136A Batu Reok, Gudangkahuripan, Lembang. Gampang banget ditemukan karena ada di jalan raya yang pasti kalian lewati kalau habis berkunjung ke Farm House dan menuju Bandung Kota. T Hotel berada tepat di pinggir jalan yang berbelok ke kanan, jadi eye catching banget :D  Kalau kalian cari di google bisa ketemu T Hotel, tapi kalau di Traveloka ada nama lainnya yaitu Qiara Hotel Lembang. Sepertinya sempat ganti nama, entah yang mana yang terbaru tapi yang jelas saat saya kesana jelas terpampang “T Hotel”.

Lobby hotelnya cukup bagus, kalian bisa iseng duduk disana kalau bosen di kamar dan nggak ada niatan keluar hotel. Di samping hotel yang pintunya nyambung juga, ada kafe, yang menjual kopi dan beberapa macam minuman lainnya. Dengan range harga +- Rp 240.000,- kalian sudah dapat menikmati kamar superior. Di dalamnya ada double bed, sofa, wastafel, dan kamar mandi shower. Lumayan luas, tapi sayang pintunya masih manual :( Waktu kesana, saya lihat banyak yang mampir untuk dalam rangka liburan keluarga.

Air panas, kopi dan the tersedia di resto. Kalian bisa ambil sewaktu-waktu. Hotel ini cukup ramai hlo, terbukti samapi malam banyak yang duduk-duduk ngobrol di lobby dan resto (mungkin karena saat itu juga lagi musim tanding bola jadi pada nobar). Untuk peralatan mandi, saya sedikit lupa tapi sepertinya semua tersedia. Gantungan bajunya juga pakai yang model tiang jadi tidak ada hanger ya.

Kebersihannya lumayan, yah sesuai dengan harganya. Menu sarapan standar, seperti hotel-hotel budget lainnya. Jangan kesiangan juga ya, karena seperti yang saya alami di Paku Mas Hotel Jogja, bisa kehabisan hehe. T Hotel ada di rate 2 dari 5, nilai plus nya adalah dekat dengan beberapa objek wisata di Lembang seperti D’Ranch, Farm House, Floating Market dan beberapa yang lain. Minusnya hanya di kunci kamar yang manual dan sempat susah di kunci, tapi petugas hotel sering banget terlihat jadi jangan sungkan minta bantuan ya :)

Tangerang,
01 Mei 2017


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

pict by booking.com

Bicara tentang hotel, pasti kita ingin yang lokasinya strategis dan dekat dari pusat kota atau kawasan wisata. Tapi hotel yang memenuhi kriterian seperti itu sudah dipastikan mahal, kecuali homestay atau guest house yang cocok untuk backpacker. Nah, kemarin saat ke Yogyakarta, saya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam tepatnya saat akhir tahun. Saya ini tipe orang yang walaupun dalam beebrapa hari ada di satu kota, nggak mau stay di satu hotel. Suka banget untuk nyoba-nyoba hotel yang belum pernah disinggahi.

Yak, yang pertama adalah Tune Hotel. Letaknya (sangat disayangkan) tidak terlalu strategis. Hotel ini berada di  Jl. Gedongkuning Selatan No.118, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta. Untuk sampai ke Malioboro, alun-alun atau beberapa ikon kota lainnya membutuhkan waktu sekiranya 30 sampai 40 menit (dengan motor). Bisa dibayangkan kalau musim liburan dan kalian berkeliling menggunakan mobil. Sangat tidak dianjurkan. Hehe.

Dari beberapa situs, hotel ini termasuk hotel bintang 3. Dengan harga kurang lebih Rp 250.000,- kita sudah bisa menginap semalam disana dengan tipe kamar standar. Untuk kamarnya menurut saya tidak terlalu sempit, tapi kalian bisa saja tidak kebagian kasur tipe double bed (king size). Pengalaman saya kemarin, waktu check in sempat ditanya mau kasur yang single (2 kasur) atau double (1 kasur). Saya jawab double, namun sayangs ekali sudah tidak ada. Saya pribadi merasa kasur queen size iturena saya banyak gerak waktu tidur hehe :D Yasudah apa boleh buat, karena sudah terlanjur pesan lewat Traveloka.

pict by booking.com

Sampai di kamar, yang pasti saya langsung melihat kamar mandi. Lumayan luas, closet dan shower dalam satu ruangan hanya saja tetap disekat pintu kaca. Peralatan mandinya lengkap. Untuk pemandangan di luar jendela, kebetulan saya dapat yang langsung berbatasan dengan gedung sebelah. Hehe. Jadi nggak bisa cerita banyak. Kalau kalian punya banyak waktu gabut di hotel, ada kolam renang di bawah. Ngak luas sih, tapi yah lumayan buat seger-segeran.

Free breakfast, restonya ada di belakang lobby tampat check in. Waktu itu saya turun dari kamar sudah di atas jam 8, tapi masih ada beebrapa maenu yang belum keluar. Sayangnya, sarapan disini nggak menonjolkan menu tradisional setempat. Jadi ya seperti pada umumnya, seputar roti, nasi goreng, begitu. Untuk parkir, kendaraan roda 2 dan 4 bisa parkir di basement. Tidak terlalu luas juga sih. Kesimpulannya menginap di Tune Hotel Yogyakarta mendapat rate 3 dari 5 dari saya. Kebersihan hotel jadi nilai tambah hlo :)

Tangerang,
17 Februari 2017


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hari dimana ngga ada kelas itu emang bikin lega. Tapi bikin ciut dompet juga, apalagi kalo partner jajannya ngajakin ketemuan. Dari beberapa tempat yang ditawarkan Bena, gue memilih Lucky Cat Coffe & Kitchen. Tempatnya ada di dalam Plaza Festifal, tepatnya parkir selatan. Jadi ngga susah kok dicarinya. Karena kami berdua adalah pengguna transportasi umum yang budiman, maka kami sepakat untuk naik commuterline dan ketemuan di salah satu stasiun transit yang paling crowded se-Jakarta raya : Manggarai. Dari sana bisa lanjut naik ojek atau taksi berbasis online ke Plaza Festival supaya lebih mudah perjalanannya.

Tampilan luar café ini sedikit terkesan beda dari foto-fotonya di dunia maya, karena pengunjung bener-bener langsung dihadapkan dengan pintu masuk tanpa ada teras di muka. Tapi begitu masuk ke dalam, atmosfernya langsung berubah. Desain interior yang di dominasi dengan kayu dan pendingin udara yang berfungsi dengan baik membuat kita lupa panasnya udara Jakarta di luar sana. Begitu menoleh ke sebelah kanan, langsung ada kasir dimana kalian bisa langsung order dan bayar di situ. Tapi jangan khawatir kerepotan karena waiters yang akan mengantar pesanan kamu ke tempat dimana kamu duduk.


Ada 2 lantai, di mana untuk menuju lantai 2 bisa melalui tangga yang bercabang ke kanan dan ke kiri. Lantai 2 hanya ada di pinggiran dinding, sementara smooking room berada di balkon yang menghadap langsung ke jalanan dan memiliki banyak jendela yang sengaja dibuka. Lantai 1 nya sendiri memiliki tempat duduk bervariasi mulai dari sofa, bangku kayu untuk beramai-ramai ataupun berdua.



Satu hal yang membuat betah di sini adalah banyak tanaman hijau di dalam café, bahkan ada pohon juga! Tepat di sebelah tangga. Pot-pot kecil berisi tanaman mini dan daun menjuntai digantung pada balok kayu di atap. Lampu-lampu tang ada di atap bagian tengah juga tidak terlalu terang, karena sudah cukup banyak sinar matahari yang masuk dari jendela. Jangan lupa juga, wifinya lumayan kenceng.  Hehe. Untuk kopinya harga dan rasa ngga jauh beda dari coffee shop yang lain di Jakarta. Untuk makanannya bisa dibilang sedikit lebih mahal, tapi enak. Pokoknya worth it deh walaupun ngga bikin kenyang juga. Hehe. Saran gue kalau mau kesini lebih baik weekday atau tengah hari, di mana ngga banyak orang datang jadi ngga berisik juga. Kamu bisa sekalian nugas, ngobrol lama sama pacar atau quality  time sama temen.

Lucky Cat Coffee & Kitchen 
Plaza Festival Parkir Selatan, Jl. Haji R. Rasuna Said Kav. C 
Telepon: (021) 52961475




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 pict by Booking.com

Bandung. Siapa coba warga Jakarta yang nggak pernah mampir ke kota kembang ini? Sebagai Ibukota Jawa Barat tentunya Bandung didatangi banyak wisatawan dan pasti banyak banget hotel yang bisa kalian singgahi jika mampir ke kota ini. kebetulan beberapa bulan lalu saya ke Bandung naik bus dari Jakarta, karena berangkat malam setelah pulang kerja. Otomatis, saya cari hotel yang cukup dekat dengan terminal Leuwi panjang. Beruntung, ada hotel yang hampir ada di banyak kota besar : POP! Hotel. Dijamin kalian para traveler udah nggak asing dengan hotel ini kan? Kali ini saya memilih POP! Hotel yang berada di dalam kawasan mall Festival Citylink. Naik uber car dari Leuwi panjang ke Festival Citylink sekitar Rp 15.000 sampai Rp 20.000, tergantung jam-jamnya.

FYI, hotel ini beneran ada di dalam kawasan Festival Citylink ya jadi jangan harap menemukannya di pinggir jalan, karena pintu masuknya pun dekat dengan parkiran mall :) sempat bingung waktu itu masuknya dari mana. Hehe. Nah saat check in di resepsionis, saya melihat brosus yang intinya “beli perlengkapan mandimu disini”. Karena baru sekali itu menajajal POP Hotel, saya baru tahu juga kalau hotel ini tidak menyediakan peralatan mandi secara free di kamar :( waktu itu saya pesan kamar POP room with breakfast.

pict by Booking.com

Baiklah, karena barang bawaan yang banyak akhirnya saya memutuskan naik dulu dan menaruh bawaan di kamar, selanjutnya turun ke mall untuk belanja ‘kebutuhan’ (untung keluar hotel langsung masuk mall). Suka sedih kalau sudah menginap di hotel tapi masih harus beli shampoo, sabun, pasta gigi sendiri. Kamarnya standar, nggak sempit dan nggak luas, ada jendela cukup lebar. (yaudah lah yaa harga Rp300.000,- saat weekend juga udah bagus kok kamarnya hehe). Waktu itu dapat kamar di lantai yang lumayan tinggi, jadi pemandangan dari luar kamar lumayan bagus. 

Mengenai kebersihan, ya standar saja. Desain hotelnya memang nge-pop banget dengan cat warna-warni dimana-mana hehe. Untuk sarapan, restonya itu ada di depan, ya, di tempat yang sama dimana kalian check in. Menunya tidak variatif, tapi masakan ala rumahan gitu sih jadi berasa sarapan di rumah. Tapi saya tetap lebih suka sarapan di hotel karena begitu keluar, bisa langsung jalan-jalan tanpa harus mikirin perut lagi. POP Citylink Hotel Bandung dapat rate 2 dalam skala 5 dari saya. Nilai plus nya adalah, hotel ini cukup dekat dengan pusat kota jadi tidak jauh dari jangkauan beberapa ikon penting kota Bandung :)

Tangerang,
12 Desember 2016

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


“Kepala Sekolah nampar dia, kubakar sekolah ini! Apalagi cuma Anhar”

Dari sekian quotes dan kata-kata romantis yang bertebaran dalam novel ini, ucapan Dilan diatas yang justru paling membuatku nge-fans pada Dilan. Dan maafkan jika tulisan ini tidak seperti tulisan di post-post sebelumnya, terutama pada gaya bahasa. Ya, sungguh terlambat membuat review tentang Dilan : Dia adalah Dilanku tahun 1990 disaat mana buku ketiganya bertajuk ‘Milea’ sudah beredar luas di toko-toko buku. Tapi, toh, Pidi Baiq menulis cerita yang terjadi 24 tahun lalu bukan?

Jujur, ini pertama kali kubaca novel dari Pidi Baiq. Kesannya? Banyak. Tapi nanti dulu ya, kuceritakan seperti apa novel yang telah membuat jutaan pembaca terutama wanita (apalagi angkatan 90’an saat SMA) ingin pindah ke Bandung hanya demi bertemu Dilan saat itu. Diambil dari sudut pandang Milea, bahkan hingga lembar terakhir, Dilan masih tergambar cukup misterius. Apa yang dilakukannya bisa tak terduga-duga. Pidi Baiq sendiri menulis novel ini seperti buku diary, tempat dimana Milea mengenangkan masa lalunya dengan Dilan.




   Mau cinta, mau enggak. Dengar, ya, hai, kamu yang namanya Dilan. Terseraaahh! Itu urusanmu! Emang gua pikiriiin!? (Milea)

Gaya bahasa yang santai membuat cerita mengalir dengan kesan menyenangkan untuk terus diikuti. Apalagi ada ilustrasi-ilustrasi sederhana yang menggambarkan beberapa adegan penting. Perihal karakter para tokoh, dapat kalian nilai bagaimana Akang Pidi membentuknya sembari membaca lembar demi lembar. Ada banyak sudut-sudut kota Bandung yang disebut di dalam novel, yang pasti kalau pembacanya orang Bandung asli akan jadi baper. Kemudian membuat kita membayangkan seperti apa syahdunya Bandung di 1990an itu.

Karena pembaca melihat dari sudut pandang Milea, ya … sudah. Kuceritakan seperti apa Dilan itu., di mata Milea dan di mataku sebagai pembaca. Disebut ganteng? Milea hampir tidak pernah mengatakannya. Puitis? Iya. Pandai melucu? Jelas. Dan seperti pelajar lain yang tergabung dalam geng motor, Dilan juga punya penampilan serupa, tempat nongkrong yang sama dan berkelakuan hampir sama dengan anak-anak nakal pada umumnya. Tapi bedanya, Dilan punya idealisme yang tinggi. Ya, Dilan yang mengagumi pahlawan revolusioner. Yang kamarnya mirip dengan perpustakaan saking banyaknya buku. Dilan yang punya seribu akal untuk mengistimewakan Milea. Yang sayang dengan keluarga. Ah, Dilan.

Yakin, mereka yang masa-masa SMA nya sudah terlewat, akan terbayang atau memaksa dirinya sendiri untuk mengingat bagaimana masa SMA miliknya dulu. Tidak perlu bicara soal pesan moral dalam novel ini, karena sepertinya sang penulis tidak memaksudkan untuk membuat pembaca menggali makna. Novel ini, murni menceritakan apa yang dirasakan Milea, dari Dilan dan untuk kita semua yang membacanya.
  
Kamu pernah nangis?
Waktu bayi, pengen minum.
Bukan, ih! Pas udah besar. Pernah nangis?
Kamu tau caranya supaya aku nangis?
Gimana?
Gampang.
Iya, gimana?
Menghilanglah kamu di bumi.

Oh ya, tadi kujanjikan apa? Kesan ya? Hmmm. Menyenangkan. Mengherankan. Membuatku cekikikan geli atau menenangkan diri (padahal yang sedang kalut itu si Milea). Pokoknya kau musti baca, musti kenal siapa mereka. Mungkin ini kisah klasik dari jaman dulu, tapi apa kau bisa menemukannya di masa kini? Itulah gunanya nostalgia.

Yasudah. Kamu, kalian, selamat jatuh cinta ya. Bukan sama pacar, tapi sama Dilan!

ND


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



 Gading Serpong yang tak jauh dari BSD memang tengah mengalami kemajuan yang pesat. Kawasan ini dalam waktu singkat sudah ‘ditumbuhi’ komplek perumahan dan gedung-gedung perkantoran. Ruko-ruko baru juga berderet rapi di sepanjang jalan. Salah satu ruko yang ada di jalan BSD Raya Utama bernama ruko Mendrisio, menyimpan beberapa coffe shop. Salah satunya adalah Algorithm Coffee & Dessert.  Seperti coffe shop lain yang saya kunjungi, referensi tempat ini saya dapatkan dari @eatintangerang.


Untuk desain café nya standar, dinding bata ber-cat putih polos dipadu cermin disepanjang bangunan dari depan hingga belakang. Ukurannya juga tidak cukup luas alias terasa sempit, karena standar satu slot ruko dan masih harus dibagi dengan meja kasir plus barista. Kursinya ada perpaduan sofa dan kayu namun cukup berdekatan satu sama lainnya sehingga bila pengunjung sedang ramai, tentu suasana langsung terasa crowded.  Algorithm memiliki dua ruangan, yaitu non smoking dan smoking room. Sayangnya, smoking room yang tidak luas itu terasa pengap. Spot foto yang bagus ada di depan kasir, dimana ada sofa dan dinding bertuliskan “Algorithm” didukung pencahayaan yang oke.

maafkan foto yang buruk ini :/

Namun yang membuat saya terkesan adalah harga yang ada di menu dan service para waiters nya. Mulai dari sapaan selamat datang, pemesanan hingga penyajian penuh dengan keramahan. Untuk cara memesannya sama dengan coffe shop lain, kamu bisa langsung pesan di kasir dan ini yang berbeda : kamu boleh bayar langsung atau nanti, ketika akan meninggalkan café. Nah setelah memesan, silahkan duduk di tempat yang kamu pilih dan waiters akan mengantarkan pesanan kamu. Jika di beberapa coffee shop menyediakan air putih yang mana pengunjung mengambilnya sendiri, di Algorithm segelas air putih dingin akan segera datang begitu kopi maupun cake yang kamu pesan tersaji.

beberapa harga pada menu

Harga minuman coffee dan non coffe nya ramah sekali. Semuanya (menu standar) di bawah Rp 30.000,- waww banget kan. Hehe. Kemarin saya memesan hot hazelnut dan rekan saya memesan con panna. Untuk hazelnutnya terasa sama dengan coffee shop lain, untuk con panna nya (karena saya baru sekali icip) jujur saya merasa tidak bisa membedakannya dengan affogato :D maafkan saya yang amatiran ini haha. Selain dua minuman itu, kami juga memesan sepotong carrot cake. Nah yang satu ini saya suka. Manisnya pas, legit dan rasa jahe nya juga ada. Pokoknya klop dicemil bersama hazelnut (jangan ditambah gula).



Well, kalau mengunjungi Algorithm di hari kerja (senin-kamis) café ini recommended, karena harga nya yang bersahabat dan pelayanannya yang menyenangkan. Tapi kurang cocok untuk kalian yang mau mengerjakan tugas atau meeting bersama rekan kerja. Cukup ngopi dan ngobrol santai saja, ya. Baiklah sekian dulu. Nanti kita mampir ke coffee shop yang lain. Sampai jumpaaaa~



Algorithm Coffee & Dessert
Ruko Mendrisio 3, Blok B No. 19, Jl. BSD Raya Utama, Gading Serpong, Serpong Utara, Tangerang
IG  : @algorithmcoffeeshop
Mon-Thu : 10:00-21:00 Fri-Sun : 10:00-22:00
Telp : 021 22223263
Price : < Rp 50.000
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

6 Degrees Coffee Drinkers

cozyyyyy

Ceritanya abis kondangan. Kapan ngondangin Dit? Ntar hari minggu. Minggu kapan? Ya pokoknya minggu pemberkatannya di Greja. Gatau tahun kapan. *ditabok*

Karena hujan, gue dan beberapa temen yang abis kondangan mampir ke Mall @Alam Sutera. Uhuk. Padahal lagi tanggal tua. Selain nganterin dua cewek hits se-sangiang raya, kita mau nyobain kafe yang namanya six degrees. Kafe kekinian nggak Cuma ada di deretan ruko-ruko hits di Gading Serpong, tapi di Mall nya juga. Dari pertama masuk, yang mengesankan adalah dekornya. Langit-lagit ruangan kafe ini unik dengan susunan kayu berlapis dipadu lampu gantung yang menyala syahdu gimana gitu. Spot ngopi nya ada dua, indoor dan outdoor. Yang outdoor itu ada di balkon mall, bagus deh. Sayang ngga sempet foto karena hujan. 

kesayangan

Kalau indoornya, suasana cozy emang cocok untuk ngumpul atau quality time sama kesayangan. Jangan baper buat yang jomblo. Kesayangan bukan cuma pacar. Oke skip. Jadiiii… kalau di Six Degrees kamu hanya perlu duduk manis dan waiters akan membawakan buku menu nya. Bukan langsung pesan di kasir seperti coffe shop pada umumnya. Cara bayarnya pun tinggal minta bill dan bayar di tempat duduk.

flat white
Lanjut ke menu, varian yang disediakan di Six Degrees buanyak dan lucu-lucu. Boneka kali ah lucu. Rada lupa tapi gue memilih flat white, Albert dengan affogato nya, Ina tertarik dengan macchiato, terus yang lain mesen apa gue lupa. Untuk side dish nya kita pilih Chicken Quisadilla. Nyuummm ….

fix tangan gue kaya laki -_-

Karena di Mall @Alam Sutera banyak kafe, sepertinya kalian nggak perlu khawatir kehabisan bangku di six degrees. Tapi kalau cuaca cerah ya mungkin yang di outdoor jadi rebutan. Untuk masalah harga, karena ini di dalam mall dan service nya juga oke, jadi nggak heran kalau harganya sedikit lebih mahal di banding tempat ngopi yang ada di ruko-ruko. Tapi tenang, masih dibawah Rp 50.000,- kok per orang. Untuk side dish nya kan rame-rame jadi bisa patungan ! hehe. Udah ah, mau review yang lain dulu. Daaaaaaaaa~

Salam,
Naredita

6 Degrees Coffee Drinkers
Mall@Alam Sutera, East Alfresco Walk #G-88 
IG : @6degreescoffeedrinkers
Harga : < Rp 50.000 / org







Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Tanamera Coffee & Roastery  

 red velvet latte dan apple crumble

Anak Thamrin mana suaranyaaa ... *apasik Dit*
Pastinya udah nggak asing lagi sama kedai kopi yang satu ini : TANAMERA. Yups, coffee shop yang ada di Thamrin City Office Park ini sudah ada sejak tahun 2013. Tapi kali ini gue ngga akan bahas Tanamera yang ada di Thamrin, melainkan cabang nya yang baru-baru ini buka di Gading Serpong. Lebih tepatnya, ada di dalam kawasan Summarecon Digital Center(SDC) dan bersebelahan dengan Scientia Square Park.

ruangan lantai 2

Untuk sampai ke Tanamera Gading Serpong, kalian cuma perlu masuk ke kawasan SDC dan parkir di basement. Tanamera langsung terlihat begitu kalian akan memasuki basement, dia berada tepat di depan tulisan Scientia Square Park. Begitu kalian selesai parkir, tinggal jalan kaki deh ke kafe nya.

Menurut gue, kafe nya sendiri cukup luas. Memiliki dua lantai, dengan spot ngopi indoor dan outdoor. tapi yang outdoor hanya terdiri dari beberapa meja dan bangku di dekat pintu masuk. Lantai satu di dominasi dengan meja panjang dan bangku yang berjejer. Cocok buat yang kepengin meeting dengan banyak orang. Sementara lantai dua memiliki tempat duduk yang lebih variatif. Ada meja rendah dengan sofa dan bangku kayu, ada juga meja memanjang yang menempel dengan dinding (atau lebih tepatnya jendela kaca?) . Hmm, semuanya asyik dipakai nongkrong berlama-lama.

yang dekat jendela kaca

Selain menjual kopi dalam bentuk minuman, Tanamera juga menjual beans atau biji kopinya. Nggak cuma kopi-kopi biasa hlo, tapi ada bermacam-macam biji kopi seperti Toraja, Aceh Gayo, Mandheling dan banyak lagi. Kemarin, gue memesan red velvet latte dan sepotong apple crumble. Oh ya, akhirnya gue menemukan latte art yang nggak biasa macam love atau tulip hehehe … jadi instagramable gitu lah. Tapi berhubung bukan penikmat cake, jadi ya rasanya apple crumble nya biasa-biasa aja hehe. Katanya, yang enak itu banana dan lemon cake nya (telat searching jadi gak tau).

Tentang harga? Yaaaa gimana yaaa. Sama dengan harga coffee shop rata-rata. Pokoknya bawa Rp 115.000,- udah bisa ngopi berdua plus sepotong cake. Oh ya, disana kalau udah mulai malam, banyak yang ngopi sambil kerja. Jadi pemandangan orang ketak-ketik laptop nggak asing banget deh terutama di lantai satu. Oke sekian yaa review nya. Maaf nggak pernah banyakin foto, nggak bisa ambil foto bagus seringnya langsung seruput aja kalo pesenan datang. Bhayy coffe lovers ~


Tanamera Coffee
Thamrin City Office Park AA07 , Jakarta
SSqP - SDC Serpong , Ahmad Dahlan No 16, Tangerang
official website : www.tanameracoffee.com
IG : @tanameracoffee
harga : < Rp 50.000 / org


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sajiva Coffe & Ceramics



Hello … warga Karawaci Tangerang sepertinya sudah familiar dengan komplek ruko Pinangsia. Ya khan? Itu hlo, yang ada di dekat pintu masuk tol Islamic. Tahun lalu, saya masih bekerja pada satu perusahaan yang berkantor di sana. Waktu nge-stalk­ instagramnya @eatintangerang, saya menemukan sebuah Coffe Shop di dalam komplek Pinangsia. Namanya adalah Sajiva Coffe & Ceramics. Hmm, hampir nggak percaya ada kedai ngopi yang cozy di dalam sana karena kebanyakan tempat makan khas Korea dan sebangsanya.  Namun telisik punya telisik, rupanya Sajiva ini memang masih tergolong baru di komplek Pinangsia.

Kedai ngopi yang satu ini rupanya satu grup dengan Dim Sum Inc. Pada tahu dong? Apalagi yang nge-gaul nya di Benton Junction. Hehe. Jadi selain kopi, snack di Sajiva hanya menyediakan dim sum. Nggak ada cake atau yang lain-lainnya. Tempatnya cozy­ banget, baik di lantai satu maupun dua. Ada meja yang khusus untuk berdua, berempat atau ramai-ramai. cocok buat kalian yang mau santai setelah kerja atau sekedar coffee break sebelum lanjut lembur asal ada uang lemburannya.


piccolo dan flat white

Nah, bicara harga, Sajiva menawarkan harga yang cukup bersahabat. Kebetulan waktu itu saya datang saat mereka sedang promo 50% dari harga aslinya. Duh bukan lumayan lagi, tapi jadi murah banget. Piccolo yang tersaji dalam gelas mungil itu saya bayar dengan harga Rp 12.500 dari harga aslinya, Rp 25.000,-  sedangkan partner ngopi saya kali ini, Hendra memesan Flat White dengan harga asli Rp 30.000,- . Untuk harga dim sum nya sendiri sama dengan resto aslinya. Dan seperti di kedai kopi lainnya, ada free infused water alias air putih yang dikasih irisan lemon. Kamu tinggal ambil saja, ada di dekat meja kasir.

Jadi fix ya, kedai kopi kekinian nggak hanya ada di wilayah Gading Serpong. Di Islamic, Perum, dan sekitarnya kini banyak bermunculan kedai baru. Jadi, selamat berburu coffee lovers !

Salam,
Naredita

Sajiva Coffe & Ceramics
The Excelis Blok E No. 21 (Karawaci Office Park / Pinangsia) Lippo Karawaci, Tangerang 
Senin - Minggu 08.00 - 22.00
IG  : @sajivacoffeeandceramics
T : 021 55760683
harga : < Rp 50.000 / org




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates