Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita

    Kita adalah riak-riak air. Lahir dari sebuah mata air yang bening, bersih dan murni. Jutaan riak air lainnya juga lahir dari sana. Pada seratus meter pertamamu, kau jatuh dari air terjun dengan ketinggian fantastis. Terantuk batu pada dasar kubangannya, dan ada yang hilang dari bagianmu. Kau tak utuh lagi. Aku, hingga pada sekian kilometer, dengan perlahan dan diiringi suara gemericik bergembira melewati arus-arus ringan sungai-sungai kecil di lembah-lembah penuh bunga.

   Seiring waktu, masing-masing kita bertemu banyak percabangan, seringkali kita memilih untuk melewati sungai yang hampir kering dan dangkal, sehingga batu-batu kalinya melukai kita. Ada masanya kita bertemu dengan riak air lainnya, kemudian mengalir bersama pada arus yang sama. Merekalah sahabat, teman sepermainan, bahkan musuh kita sekalipun.

   Suatu hari, aku menemuimu pada sebuah aliran sungai kecil yang ada di dekat kaldera. Air kita hangat, penuh semangat jiwa muda. Sejak itu, kita selalu berada pada aliran yang sama. Terantuk batu, masuk ke comberan, berlomba untuk mencari kembali jalan yang tak menyakitkan, yaitu aliran sungai bening sebagaimana dulu kita lahir.

   Aku sering mengeluh sakit bila riak-riak air yang lain menyakitiku. Bila gelombang-gelombang yang lebih besar berusaha menghantamku. Tetapi kau, yang pernah tahu rasanya dilempar dari air terjun dengan ketinggian luar biasa, lebih paham menghadapi semua rasa sakit itu daripadaku. Aku yang selalu ada pada aliran air tenang tak pernah bisa paham harus bagaimana.

   Karena itulah, perlahan kau mengajariku menghindari batu, melompati ranting-ranting patah yang jatuh di tengah jalan kita, atau mengeraskan diri untuk menghadapi semua hal buruk yang tak mampu kita hindari.

   Saat ini, kita tengah mengarungi aliran yang menyempit, percabangan hanya tingga beberapa. Kita sama-sama tahu bahwa ada aliran sungai lebih besar yang akhirnya akan mengantarkan kita ke  sebuah muara, menuju lautan luas di ujung perjalanan.

   Kemudian kita sadar, bahwa sebentar lagi, harusnya, kau dan aku telah sama-sama menemukan riak-riak air lain yang sepaham, menuju pada satu aliran air yang sama, yang sejalan. Ketika kita menemukan mereka, disitulah kita berpisah pada percabangan terakhir, dimana alurnya lebih besar, lebih kuat, dan dalam.

   Riak air itu akan menemani kita melewati aliran yang besar tadi, dengan segala resikonya, dengan semua ketabahannya, meuju sebuah muara. Ya, muara yang akhirnya menghantarkan kita pada laut, lautan lepas tanpa batas, bergulung bersama ombak-ombak dari gabungan riak-riak air lain.


  Disanalah kita menuju keabadian, berserah sepasrah-pasrahnya pada sang pemilik mata air, laut, segala yang hidup daripada-Nya, pada sang pemilik seluruh skenario yang ada di semesta.



dari yang terinspirasi olehmu,

N
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Diantara kalian yang sedang membaca tulisan ini, pasti ada yang sedang dalam masa kuliah atau telah bekerja. Saya sendiri baru saja menyelesaikan kuliah s1 saya di sebuah perguruan tinggi swasta. Lalu selang satu bulan sejak kelulusan, saya mulai berfikir untuk mencari kerja. Awalnya tujuan kerja hanya satu : mencari uang. Beberapa dari kita pasti pernah berkata “ah mau cepet lulus. Kuliah tugas melulu, enakan kerja cari duit.” Saya pun demikian, kerap kali mengucapkan kalimat yang sama berulang-ulang bila kejenuhan mata kuliah melanda di tengah-tengah semester. Terlebih saat semester akhir, kepala serasa hampir meledak ketika coretan-coretan revisi mampir di lembaran bakal skripsi saya. Atau ketika masa-masa tahun kedua kuliah, ksaya dan teman-teman mulai malas-malasan beranjak dari kost untuk masuk ke kelas.

Sekarang, kelulusan itu telah berlalu lima bulan. Saat ini saya bekerja pada perusahaan swasta yang cukup besar, terbukti dari gelar ‘Tbk’ di belakang nama resminya. Hari-hari saya bisa dibilang sibuk, sebab pekerjaan saya membutuhkan perhatian penuh. Namun saya sadari bahwa rupanya kesibukan saya hanya terpaku pada satu hal : bekerja. Sebagai bagian dari tanggung jawab pekerjaan, pulang malam adalah hal yang sulit dielakkan. Lalu pada suatu malam di mana hampir seluruh pegawai sudah pulang dan saya masih duduk tenang menghadap layar komputer, tiba-tiba saya merindukan masa-masa saat kuliah. Saya memang bukan mahasiswa yang sangat aktif dalam organisasi, namun saya sempat mengambil dan menjadi bagian dalam organisasi kampus maupun luar kampus. Hmm… entahlah, waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya datang pada gedung universitas yang didominasi warna biru dan putih itu. Baru saja saya mengisi formulir dan menuliskan ‘hukum’ pada kolom pilihan jurusan.

Jika sekarang setiap pagi saya harus bergegas untuk tidak melewati angka 08:00 pada finger print guna absensi, dulu saya akan berfikir hari ini akan kemana, menemui siapa dan apa yang akan saya lakukan. Bila kuliah sedang libur karena mendadak dosen tidak masuk, saya akan memilih untuk pergi ke lantai dasar Blok M Square atau Pasar Senen untuk berburu buku-buku lawas yang mungkin panjualnya tidak tahu bahwa itu salah satu buku yang banyak orang cari-cari. Kuantar kau ke gerbang, Saman, Perawan Remaja dalam cengkraman militer dan banyak lagi buku-buku sejarah atau novel yang saya angkut dari etalase-etalase kusam para penjualnya.  Buku-buku yang saya dapatkan itu memang telah dicetak ulang dan kini siapapun dapat membelinya di toko buku ternama, namun entah mengapa ada kesenangan sendiri untuk mencari versi ‘jadul’ nya. Atau mungkin hanya karena saya yang suka mengubek-ubek sisi lain Jakarta. Pernah beberapa kali ketika tidak ada jadwal kuliah, saya pergi dari satu ke satu tempat lain di Jakarta menggunakan moda angkutan umum sendirian. Berbekal kamera SLR milik kakak, saya mengunjungi museum-museum yang pastinya sepi ketika hari kerja (sening hingga jumat). Setelahnya saya akan mampir di warung-warung sederhana untuk mengisi perut. Teman-teman saya bilang saya ini kurang kerjaan, galau atau membuang-buang tenaga saja. Tapi saya tidak ambil pusing, toh dari hal-hal kecil dan tempat-tempat sederhana yang saya kunjungi itu saya tetap mendapat ilmu-ilmu dan pengetahuan yang baru.

Saya bukan juga mahasiswa yang selalu rajin kuliah. Seringkali, ketika tengah berada di kost-an teman, saya malas untuk bangun dan hanya menitip absen bila dosen sedang dalam mood yang bagus. Kalau tidak, saya akan merelakan satu kali absensi saya alpha atau terpaksa ikut masuk ke kelas dengan wajah yang menunjukkan tidak minat sama sekali.

Pada tahun kedua duduk di bangku perkuliahan, saya bertemu lebih banyak orang. Mereka pun berbeda-beda latar belakang, suku dan profesi, namun rata-rata memiliki hobi yang sama. Entah dari mana awalnya, saya teracuni dengan kegiatan yang berbau alam bebas. Sejak kecil saya memang sangat sering diajak ayah ke tempat-tempat yang memiliki dataran tinggi, bersuhu dingin dan menyuguhkan pemandangan indah. Maka pada masa-masa peralihan ini, saya memanfaatkan waktu dan dana yang ada untuk melakukan sesuatu yang saya minati. Saya jelaskan dulu, masa peralihan yang saya maksud adalah saat dimana kita perlahan tidak lagi dianggap anak-anak yang artinya perlahan juga kebebasan yang bertanggung jawab itu dilimpahkan pada kita. Seiring masa itu, kita memang harus memikirkan secara teliti untuk setiap waktu , dana dan pengalaman yang kita dapatkan dari kegiatan-kegiatan yang kita lakukan.

Saya memang belum menginjakkan kaki ke tempat-tempat luar biasa yang orang lain bilang surga nya Indonesia. Atau melakukan hal-hal besar yang bernilai sejarah. Namun dari hal-hal kecil yang saya lakukan, saya berharap ada nilai-nilai yang bermafaat bagi saya dan orang lain. Saya sempat ikut mengajar di sebuah taman baca di pinggiran Kabupaten Tangerang, dekat dengan bibir pantai Samudera Hindia. Ditengah sawah itu dibangun pondok-pondok bambu yang di dalamnya terdapat buku-buku sumbangan dari banyak pihak. Atau bila sedang tidak bisa ikut andil karena sebab-sebab tertentu, bila ada penggalangan dana untuk korban bencana alam, paling tidak saya akan mengajak rekan-rekan saya yang lain untuk ikut berpartisipasi, meski hanya dari broadcast di media social maupun ajakan secara langsung saat ada kesempatan berkumpul. Mengajak orang-orang untuk menyumbangkan sedikit dari apa yang mereka miliki.

Kini ketika jam makan siang di kantor, kadang saya membayangkan betapa sibuknya dulu saat mempersiapkan acara-acara penting di kampus. Ingat ketika berjalan di bawah panas matahari menuju terminal kebon jeruk ketika pulang kuliah lebih awal. Naik bus tanpa AC bila sedang mengirit, atau sok naik bus AC yang harganya dua kali lipat dari bus biasa ketika awal bulan dimana uang jajan masih utuh.

Atau ketika sedang menggarap skripsi, seharian penuh berada di sebuah instansi pemerintah sembari berdebar-debar kira-kira pertanyaan apa yang akan dilontarkan dosen pemimbing dan salah satu peninggi instansi ini.  Mendengarkan wejangan dari sang dosen tentang banyak hal, dan keesokan harinya saya sibuk mengunjungi Perpustakaan Nasional. Membolak-balik buku-buku kusam yang barangkali dapat saya kutip isinya untuk dikembangkan lagi dalam lembaran  skripsi saya. Ah, ternyata sudah cukup lama kesibukan itu saya lalui.

Sekarang saya memiliki penghasilan dari jerih payah saya sendiri, sekaligus saya kehilangan waktu-waktu senggang untuk melakukan hal lain diluar pekerjaan. Beberapa kali saya berfikir dan merutuki diri sendiri, mengapa dulu saya tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Meski saya melakukan banyak kegiatan, tapi saya masih merasa seolah-olah apa yang telah saya lakukan tidak menghasilkan apa-apa. Saya merasa kecewa dengan waktu-waktu yang saya gunakan untuk tidur siang, menonton film di laptop seharian, memilih diam di kost ketimbang masuk kuliah Pajak atau hal-hal remeh lain yang membuat waktu terbuang sia-sia.

Namun seseorang mengingatkan saya bahwa semua yang telah saya lakukan di masa lalu, tak sepantasnya disesali. Kemalasan dan sifat bandel itu adalah bagian dari diri remaja yang beranjak menjadi dewasa muda. Setidaknya, pada hari-hari tertentu saya telah mencoba melakukan hal-hal dan kegiatan positif alih-alih melanjutkan kebiasaan tidur siang saya setiap hari.

Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mendamaikan diri sendiri dan membuka mata bahwa ini lah dunia saya sekarang. Saya boleh membawa serta dunia saya yang dulu, namun tidak semua. Yang boleh saya bawa adalah hal-hal yang sekiranya akan memberi dampak baik untuk kehidupan saya sekarang dan di masa depan. Masa lalu adalah bagian dari hidup kita, bahkan yang pahit sekalipun. Mereka adalah pelajaran, suatu gambaran bagaimana dan apa yang akan terjadi bila kita tidak merubah hal buruk dalam diri kita sama seperti dulu.

Semoga kita semua senantiasa sukses dalam jalan kita masing-masing, semoga dapat bertemu dalam lain kesempatan.

Salam,


N
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
foto oleh : Mas Bayu

Catper pendakian Gunung Lawu 3265mdpl (part 2)

    Rupanya cuaca tidak begitu bersahabat. Langit kembali mendung dan kabut mulai menyelimuti bukit-bukit serta lereng gunung Lawu sebelum maghrib tiba. Saya pun lantas pamit pada mas Bayu untuk duluan masuk tenda. Dingin mulai terasa seiring kabut yang datang.

    Saya hanya pesan, “Mas Bayu, nanti kalau sunset nya bagus panggil aku yak.. “
“Siap !” dan saya pun meringsek masuk ke tenda menyusul teman-teman yang lain.
Talang, Rian, Mustika dan Riska sudah berselimut sb dan menyisakan satu ruang untuk saya. Awalnya saya hanya menggunakan sleepingbag dan kemeja flannel serta bercelana pendek. Selang setengah jam, saya dengan mas Bayu masuk ke tenda sebelah. Saya bangun, mencari-cari sarung tangan dan kaus kaki. Setelah ketemu, segera dipakai dan kembali rebahan. Namun lagi-lagi dingin semakin bertambah. Maka saya pakai buff mulai dari leher hingga kempala dan hanya menyisakan celah di bagian mata. Belum cukup, saya pakai jaket untuk melapisi bagian terluar. Nah, sekarang lebih baik dan cukup hangat.  Jadi kira-kira begini lapisan kostum saya saat tidur : kaus dan celana pendek, kemeja flannel, kaus kaki dan tangan, buff, jaket, terakhir sleeping bag. Baru saya akui, Lawu memang benar-benar memiliki suhu yang amat dingin terlebih ketika malam datang.

        Semakin malam, teman-teman semakin tak nyenyak tidur. Riska yang di sebelah saya kadang menggigil. Maka saya dekap saja supaya lebih hangat. Rian dan Mustika sibuk mencari pakaian hangat mereka. Tak berapa lama, Talang bangun dan berpindah ke tenda mas Bayu. Mungkin di tenda ini sudah terlalu sempit atau saya yang kebanyakan tingkah sehingga mengganggu tidurnya. Jelang tengah malam, saya sudah terlalu mengantuk untuk ikut menimbrung pembicaraan Mustika dan Rian yang entah sibuk saling memasangkan pakaian hangat atau hanya bergumam tentang dingin yang amat sangat. Saya jatuh tertidur hingga subuh datang.

        Alarm handphone saya berdering pukul 04:30 WIB. Mau tak mau saya bangun mencari bodypack tempat saya menyimpan barang-barang penting itu. Alarm  hanya saya tunda-tunda saja agar tidak kesiangan. Setiap lima menit alarm itu berbunyi sampai pukul 05:30 WIB. Akhirnya saya benar-benar bangun karena ‘panggilan alam’. Saya melepas jaket, kaus tangan dan kaus kaki. Beranjak keluar tenda untuk melihat suasana.

    Pagi itu langit sangat cerah, pemandangan dari pos 3 sudah cukup bagus. Saya cukup berisik saat merapikan barang sehingga yang lain ikut bangun. Mustika protes karena saya tidak membangunkannya lebih awal. Kami segera merapikan barang, packing ulang dan membongkar tenda. Setelah semua rapi, barulah kami membuat sarapan. Di tenagh-tengah menyiapkan sarapan, kami saling bercerita betapa dinginnya semalam. kata mas Bayu, semalam suhunya mencapai nol derajad celcius. Pantas saja... kami menggumam.

        Menu sarapan kali ini adalah bubur dan bakso. Ah, kalau di gunung toh makan apa saja sudah bersyukur. Meski Talang terlalu banyak menuang air hingga bumbu tidak terasa, tapi kami makan dengan cukup lahap. Selesai sarapan, kami bersiap untuk memulai kembali perjalanan.

      Beberapa puluh meter dari pos, kami menemui sumber mata air. Ada genangan air yang terus terisi oleh aliran air dari celah batu. Kami mengambil dua botol untuk persediaan. Dari pos 3 menuju pos 4 jalanan masih sama, cukup landai dan ada jalur evakuasi. Kami kembali memilih jalur evakuasi untuk mengejar waktu, karena kami terlalu siang memulai perjalanan.

      Kami sampai di pos 4 pukul 14:00 WIB. Pos 4 cukup luas dan hanya ada rombongan kami di sana. Saya segera merebahkan diri di pelataran pos. Begitupun yang lain, bahkan ada yang langsung tidur-tiduran. Saya dan mas Bayu bergantian ambil foto. Talang dan Riska main entah apa, sembari duduk di rerumputan. Rian dan Mustika mengobrol di dekat edelweiss depan jalan setapak.

    Kami tidak berlama-lama di pos 4, sebab lapar sudah mendera. Sudah terbayang-bayang nasi pecel dan teh jumput hangat mbok Yem yang terkenal di antara para pendaki itu.  Maka kami bergegas menuju pos 5 yang dengan kata lain adalah puncak Hargo Dalem. Dari jalanan antara pos 4 menuju Hargo Dalem, kita dapat melihat puncak Hargo Dumilah. Puncak Hargo Dumilah adalah puncak yang paling tinggi di gunung lawu.

    Dengan jalur yang cukup melelahkan, kami sampai di puncak Hargo Dumilah. Di sana ada makam dan tempat untuk besemedi. Ada bangunan permanen dan semi permanen yang di jaga oleh penduduk gunung Lawu. Kami menyempatkan diri mampir, melihat petilasan. Tak lama, segera kami menuju warung mbok Yem. Kecewa, karena ternyata mbok Yem sedang mantu, yaitu menikahkan anaknya. Jadi sekarang ia sedang dalam perjalanan turun gunung.

    Harapan kami beralih pada warung yang ada di bawah puncak Hargo Dumilah, sekitar lima belas menit dari warung mbok Yem. Kalau tidak salah namanya warung mbok Nah. (koreksi ya kalau salah). Warung ini letaknya ada di samping sendang Drajad. Wah, siapa pendaki gunung Lawu yang tidak pernah dengar sendang ini.

    Begitu sampai di sendang Drajad sekaligus warung mbok Nah, kami segera meemsan nasi pecel. Namun kami harus menunggu karena nasinya belum matang. Sembari menunggu, kami merundingkan siapa saja yang akan ke puncak Hargo Dumilah. Saya tentu saja mau, karena penasaran dan merasa fisik masih mumpuni. Mustika dan Riska juga bersemangat untuk kesana. Karena Talang enggan ikut dan memilih menunggu di warung sekaligus menjaga keril kami yang summit, maka mas Bayu juga memutuskan untuk menunggu di warung saja bersama Talang.

    Selang beberapa menit setelah perundingan selesai, nasi pecel pesanan kami datang. Rasanya benar-benar makan enak setelah kemarin hanya makan seadanya. Kami makan dengan lahap tanpa banyak mengobrol.

    Saya, Mustika, Rian dan Riska siap naik ke puncak setelah kenyang dan membawa bekal yang cukup.  Jalur menuju puncak Hargo Dumilah cukup jelas, semakin mendekati puncak ada jalur bebatuannya. Begitu melihat bendera di ujung tugu puncak, saya menarik napas lega. Ternyata dari sendang Drajad menuju puncak Hargo Dumilah hanya membutuhkan waktu lima belas menit.

   Sayang sekali, kami sampai di sana hari sudah sore, dan kabut ada di mana-mana. Pemandangan di atas awan sangat sulit di dapat. Jadi kami harus berpuas diri dengan secercah cahaya di bagian barat. Kami sampai di puncak pukul 17:00 WIB. Wah, harus segera turun jika tak ingin kemalaman sampai di bawah.

    Setelah kami ber-empat kembali ke warung, Talang dan mas Bayu segera ikut bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan turun. Untuk menuruni gunung Lawu ini kami memilih jalur cemoro Sewu. Sebab hujan semalam pasti membuat kontur tanah di jalur cemoro Kandhang menjadi becek dan akan menyulitkan perjalanan turun kami.

    Sedangkan jalur cemoro Sewu di dominasi dengan jalur tangga dari bebatuan, tentunya akan lebih aman dan memudahkan langkah kami menuruni gunung. Maka kami mulai turun melalui jalur cemoro Sewu.

    Dari sendang Drajad menuju pos 5, pemandangannya sangat bagus. Lebih luas dari pada pemandangan di jalur cemoro Kandhang. Cuaca di sekitar gunung Lawu memang sulit di prediksi. Belum ada satu jam yang lalu kami menmui mendung di Puncak, kini sepanjang jalur turun langit cerah. Kami mulai bertemu dengan pendaki-pendaki yang naik melalui jalur ini.

    Langit mulai gelap ketika kami sampai di pos 4, saat itu sekitar pukul 18:30 WIB. Kami mengeluarkan senter dan headlamp masing-masing. Ketika langit benar-benar telah gelap pekat, kami mulai mengatur posisi. Berjalan paling depan adalah Talang, kemudian Mustika, Riska, Rian, saya dan mas Bayu sebagai sweeper.

    Gerimis turun sedikit-sedikit dan langit kelihatan mendung. Kami khawatir akan terkena hujan dalam situasi begini. Maka kami membatasi waktu istirahat untuk mengejar waktu. Awalnya, kami merasa baik-baik saja dan masih dalam kondisi cukup kuat. Namun rupanya Riska mulai kelelahan dan kaki-kaki saya serta Mustika mulai tidak stabil …


(bersambung)


Salam,

Naredita


#NulisRandom2015 #Day4
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Catper pendakian Gunung Lawu 3265mdpl (part 1)


foto oleh : Mas Bayu



    Setelah vakum dan menahan diri tidak naik gunung selama mengerjakan skripsi, seingat saya terakhir kali mendaki adalah bulan September 2014 lalu. Artinya, sudah enam bulan yang lalu saya menapaki gunung Gede via  jalur Putri sebelum mengerjakan skripsi yang katanya momok mahasiswa tingkat akhir itu. Setelah urusan skripsi, sidang, yudisium dan yang lainnya selesai, saya akhirnya bisa menikmati liburan tanpa embel-embel UAS atau hari raya dibelakangnya.

    Tiga hari setelah yudisium saya bertolak ke Solo, bersama dua rekan yang kebetulan tengah mengakhiri masa magang nya di Jakarta. Kereta Matarmaja tepat waktu sampai di Solo pukul 02:00 WIB, dengan kesan perjalanan yang cukup memuaskan mengingat harganya sedang naik dua kali lipat dari harga ber-subsidi.

    Karena ingin lebih banyak waktu bersantai dirumah dan sedang tidak ingin ada pengeluaran berlebih, maka saya pilih Lawu sebagai tujuan untuk menikmati hawa dingin pegunungan yang sudah sangat dirindukan. Gunung dengan ketinggian 3265mdpl ini terletak diantara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi kalangan pendaki yang saya kenal, sebagian besar dari mereka beranggapan bahwa Lawu adalah gunung yang memiliki suhu ter-dingin bila dibandingkan beberapa gunung di sekitarnya seperti Merapi, Merbabu, Prau dan sekitarnya.

     Awalnya kami hanya memiliki 4 personil, yaitu (lagi-lagi) saya, mas Bayu, Talang dan Rian. Tetapi kemudian Rian mengajak pacarnya, Mustika dan adiknya yang masih berusia 11 tahun (kelas 5 SD), Riska. Alhasil tim kami menjadi 6 orang dengan kesamaan jumlah gender yaitu 3 perempuan dan 3 laki-laki. Dan awalnya juga, kami berniat menuju basecamp menggunakan motor. Namun karena satu dan lain hal, maka Rian menawarkan untuk naik mobilnya saja.

   Kami berangkat sebelum maghrib dan bersyukur tidak jadi naik motor karena sampai di Tawangmangu, hujan turun serta kabut tebal menghalangi pandangan. Ngeri juga, karena jalanan Tawangmangu salah satu sisinya seringkali adalah mulut jurang. Waktu itu, kami belum menentukan apakah akan lewat jalur Cemoro Kandhang atau Cemoro Sewu (selanjutnya akan saya sebut ‘Kandhang’ dan ‘Sewu’ saja ya). Namun karena mobil terlanjur di parkir di pelataran basecamp Kandhang, maka kami putuskan mendaki via Kandhang saja. Baru jam 20:00 WIB ketika kami sampai dan mengobrol dengan mas-masnya AGL (Anak Gunung Lawu) yang sedang jaga di pos. Karena malas nanjak malam, kami menunggu pagi di basecamp yang kebetulan sedang kosong. Sebelum tidur, kami sempatkan makan malam di warung lesehan seberang jalan. Nasi goreng, sate kelinci, teh dan susu panas menjadi menu makan malam kami ditengah dinginnya udara kaki Lawu.

     Pagi datang, pukul 06:00 WIB kami bersiap-siap untuk mulai mendaki. Masing-masing keril sudah ter-packing ulang dengan bobot yang disesuaikan dengan kemampuan bahu si empunya. Termasuk si Riska, gadis kecil itu gondeli tas mungil biru mudanya yang berici makanan ringan dan mie instan. Anak satu ini benar-benar seperti tak kehabisan tenaga, dari semalam terus mengoceh dan mengajak bermain.
Dengan di awali doa, kami perlahan menapaki jalur-jalur tanah Cemoro Kandhang. Karena hari itu adalah hari Senin, jadi jalur pendakian cukup sepi. Kami tidak menemui pendaki lain baik yang turun maupun naik sampai pos 1.

    Sampai pos 1 yang ada di ketinggian 2300mdpl, kami sejenak meregangkan kaki dan pundak. Kabut tipis sesekali lewat, meyisakan hawa dingin. Sepatu dan sandal yang kami pakai kotor dengan segera, karena tanah yang semalam diguyur hujan masih belum kering. Cukup lama juga kami berhenti disitu, sekitar tiga puluh menit. Setelah di rasa cukup, kami melanjutkan perjalanan.

     Selang satu setengah jam, kami sampai di Taman Sari atas, yaitu pos 2. Pos ini berdekatan dengan kawah Chandradimuka dan berketinggian 2470mdpl. Sayang, untuk melihat kawah tersebut kami harus berjalan menembus semak dan pepohonan. Karena kabut yang mulai tebal kami hanya duduk saja di sekitar pos. Ada beberapa botol bekas air mineral yang digunting bagian tengahnya, kemudian ditadahkan di antara batang-batang kayu bangungan pos dengan harapan nantinya botol kosong itu akan terisi dengan air hujan.

     Di sinilah juga kami bertemu dengan jalak hitam, yang banyak orang bilang bahwa setiap pendaki gunung Lawu akan bertemu dengan burung ini. Si jalak bertengger anggun di ranting dekat atap pos. begitu di dekati, ia segera terbang menjauh, namun masih terpantau oleh kami. Bagi kami dan banyak pendaki lain, kedatangannya semacam ucapan selamat datang. Konon katanya, si jalak akan senantiasa menemani pendaki sampai menuju puncak.

    Dua puluh menit kami beristirahat, serombongan pendaki lain datang. Kami saling berkenalan dan mengobrol hingga rombongan saya kembali melanjutkan perjalanan lebih dulu. Rian sudah mengingatkan bahwa jarak antara pos 2 menuju pos 3 adalah jarak yang paling jauh diantara pos lainnya. Karena itulah di pos 2 tadi kami mengisi energi yang cukup dengan makan roti dan susu.

    Jalanan setelah pos 2 di dominasi oleh trek yang landai, sehingga tidak melelahkan. Namun karena jalanan yang landai itulah berarti jalur ini memutar dan membuat waktu perjalanan lebih lama. Sebenarnya, diantara jalur landai ini terdapat jalur menanjak yang biasa digunakan untuk evakuasi. Jalur yang menanjak ini lurus memotong jalur landai. Kami masih menggunakan jalur landai hingga tiba di pos bayangan. Pos bayangan ini terletak di antara pos 2 dan pos 3. Di sini kami bertemu dengan rombongan pendaki yang sedang dalam perjalanan turun. Tak lama juga disusul oleh rombongan yang bertemu dengan kami di pos 2 tadi.

    Kami tak berlama-lama di pos bayangan karena pos 3 masih lumayan jauh. Selama perjalanan, Riska senantiasa menyanyi. Entah itu lagu anak-anak, lagu nasional, atau hanya teriakan-teriakan penggugah semangat. Kami semua geleng-geleng kepala, heran dengan daya tahan fisik gadis kecil ini. Mustika yang kemarin tidak  persiapan fisik sama sekali, sedikit kaget dan merasakan pening di kepalanya meskipun ini adalah pendakiannya yang kesekian kali. Kalau saya, jujur saja ini adalah pendakian yang paling membuat saya sering merasa lapar. Mungkin karena hawa dingin yang lain dengan gunung-gunung sebelumnya atau karena sarapan sekadarnya tadi pagi.
Semenjak dari pos bayangan menuju pos 3, kami lebih sering menggunakan jalur menanjak atau jalur evakuasi untuk mempersingkat waktu. Antara saya, Mustika, Talang atau Mas Bayu, saling bergantian menemani Riska melalui jalur landai.

    Setelah melalui perjalanan kurang lebih dua jam, kami sampai di pos 3. Bangunan shelter yang terbuat dari semen dan seng menandai keberadaan pos tersebut. Pos 3 ini ada di ketinggian 2700mdpl dan memiliki dataran yang cukup untuk mendirikan tiga tenda di bagian pelataran shelternya dan dua tenda di bagian belakang shelter. Di sana kami kembali menemui rombongan yang sama, saat itu mereka sudah bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Mereka juga menyarankan kami untuk segera melanjutkan perjalanan karena kondisi di dalam shelter sangat kumuh, banyak sampah. Kami hanya mengiyakan dan memeriksa keadaan di dalam shelter.

    Saat saya melongok ke dalam, memang benar banyak sampah. Di pojokan menumpuk sampah plastik dan sisa-sisa makanan. Aduh… saya dan yang lain  hanya dapat membersihkan semampunya. Tak lama kemudian, hujan turun. Awalnya hanya hujan biasa, namun lama kelamaan makin deras dan di sertai angin kencang. Dengan pertimbangan kondisi cuaca, kami memutuskan untuk beristirahat di dalam shelter.  Kami menyisakan ‘lahan’ yang cukup untuk mendirikan satu tenda lagi selain dua tenda milik kami dan siap untuk membongkar tenda kami sewaktu-waktu bila ada pendaki lain yang datang untuk berteduh di dalam shelter. Namun hingga badai semakin memburuk dan akhirnya reda, tidak ada pendaki yang melintas.

    Pukul 17:00 WIB, hujan benar-benar sudah berhenti. Langit kembali cerah. Saya dan mas Bayu seperti biasa meluangkan waktu untuk mengobrol sembari menunggu matahari terbenam. Dari pos 3, kami dapat melihat gunung Merbabu dan Merapi. Nun jauh di bawah, kota Karanganyar terlihat kecil. Bukit-bukit Tawangmangu indah saling menyembul di antara satu dan lainnya.

   Talang dan Rian sudah meringkuk di dalam tenda sedangkan Mustika dan Riska sedang asyik ber-selfie ria dengan latar tebing di belakang shelter. Tak berapa lama mereka menyusul Rian dan Talang untuk beristirahat karena kami ada rencana untuk melanjutkan perjalanan malam hari bila fisik memadai.

   Sementara rekan-rekan yang lain sudah beristirahat di dalam tenda, saya dan mas Bayu masih sabar menunggu detik-detik matahari terbenam sembari berharap langit akan tetap cerah..


(bersambung)

Salam, 
Naredita

#NulisRandom2015 #Day3


Nb : foto-foto pendakian ini dapat di lihat >> di sini
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


    Kota-kota besar yang memiliki daya pikat dari berbagai sisi, tentunya tidak lepas dari para pendatang yang memiliki masing-masing tujuan untuk mendatangi si kota populer. Kita biasa menyebutnya perantau. Perantau sendiri ada yang telah lama berkecimpung di kota perantauan atau hanya sementara guna menyelesaikan kewajiban misalnya kuliah, dinas kantor atau sekedar mencari pengalaman.

     Istilah dari penulis sendiri, perantau ada dua macam. Perantau baru adalah mereka yang baru mulai merantau atau hanya sementara berpindah domisili untuk tujuan tertentu. Sedangkan si perantau lama, adalah mereka yang sudah memutuskan untuk menetap di kota barunya dan bahkan telah memiliki rumah, membangun keluarga dan memiliki status kependudukan di sana. Jadi istilah ‘perantau’ melekat padanya karena mereka masih memiliki sanak saudara di kampung yang secara rutin dikunjungi.

Nah, yuk kita lihat kira-kira apa saja yang dekat dengan kehidupan khas perantau :

·     >    Domisili sementara
    Para kawula remaja yang kuliah di luar kota umumnya menyewa kost atau patungan bersama teman-teman untuk mengontrak sebuah rumah di kota perantauan. Tak jarang, sebagian besar dari mereka seringkali memilih untuk tinggal di rumah sanak saudara yang kebetulan berada di kota tersebut. Begitu pula para dewasa muda yang mengadu nasib di kota lain, sedang cari kerja maupun baru-baru di terima bekerja, memiliki opsi yang sama dengan para mahasiswa tadi. Tapi jika mereka ‘betah’ , bukan tidak mungkin mereka akan mempertimbangkan untuk membeli rumah disana.
Bicara soal kost atau kontrakan, tentunya disesuaikan dengan kocek masing-masing. Mereka akan mempertimbangkan antara biaya kost, makan sehari-hari, transport dan utamanya biaya kuliah atau keperluan penunjang pekerjaan.

·        >  Waspada dengan kalender
     Berbeda dengan yang tidak merantau, para pendatang ini lebih jeli dengan kalender terutama yang berwarna merah. Kalau mereka yang penduduk tetap atau perantau lama bisa bilang “kok cepet ya udah hari senin lagi,” maka para perantau baru ini biasanya akan bilang “kok lama ya hari jumat? Udah nggak sabar mau pulang”.
Jangankan tanggal merah, weekend pun akan jadi sasaran mereka untuk curi-curi pulang kampung. Hari kerja senin sampai jumat tentunya bukan hambatan. Mereka punya hari sabtu dan minggu untuk sejenak pulang ke rumah.

·      >   Situs penjual tiket
     Para perantau baru akan sering memantau situs-situs penjual tiket secara online. Baik itu moda transportasi kereta, bus maupun pesawat. Bukan hanya penjual online, agen tiket ‘manual’ yang membuka lapak di tiap-tiap cabangnya pun tak luput dari sasaran rasa ingin tahu mereka. Apalagi sekarang yang namanya tiket bisa dipesan jauh-jauh hari. Wah, mereka pasti akan memastikan tidak kehabisan jatah kursi perjalanan.

·    >    Teman seperjuangan
    Entah sengaja atau tidak, seringkali para perantau bertemu dengan orang-orang yang berasal dari kota di mana mereka berasal. Bisa jadi memang janjian untuk mengadu nasib di kota yang sama, bisa juga bertemu di lingkungan kuliah, kerja atau kegiatan kesehariannya. Teman-teman ini di bilang seperjuangan karena ada rasa solidaritas atau kekeluargaan yang muncul lantaran kesamaan asal muasal. Umumnya hal ini akan memicu kecenderungan untuk saling membantu juga.

·    >     Oleh-oleh
     Ini adalah hal yang paling sering disebut-sebut baik oleh orang di pihak kota perantauan atau kota asal. Biasanya oleh-oleh dibeli karena memang sudah menjadi kebiasaan atau untuk menyenangkan/menghargai orang-orang yang mana akan mereka kunjungi kembali. Oleh-oleh juga kerap kali berjumlah lebih banyak bila perantau bertolak dari kampung dan kembali ke kota peraduan nasibnya. Selain memang sebagai ciri khas, mereka akan menyisihkan makanan khas kampungnya untuk dinikmati sendiri beberapa waktu ke depan, sekedar pengobat rindu yang belum usai.

·    >     Catatan keuangan
      Ini adalah salah satu yang paling penting. Para perantau harus seksama dan teliti dalam membuat catatan keuangan mereka. Jangan sampai pendapatan bulan A hanya cukup untuk bulan A saja. Siapa tahu kebutuhan yang ‘aneh-aneh’ akan datang tiba-tiba. Menyiapkan uang cadangan akan membuat mereka lebih merasa aman.

·      >   Sabar
    Sabar kalau bulan ini belum bisa pulang, sabar kalau belum bisa beli baju baru, sabar nggak bisa ikut temen kantor nge-trip, sabar akhir bulan makan mie instan aja dan sabar-sabar yang lainnya. Yah, namanya juga di kota orang :)

Itu tadi sekelumit hal-hal yang dekat dengan anak rantau . Kalau ada tambahan lain silakan cuap-cuap ya hehhehe …

Salam anak kampung,


-N-


#NulisRandom2015 #Day2 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



     Sekarang ini makin banyak orang yang memilih traveling sebagai hobinya. Untuk menjalankan hobi ini, ada yang memilih untuk bepergian seorang diri dan ada pula yang memilih untuk pergi bersama teman-teman.

   Lalu, bagaimana memilih teman yang cocok untuk berpetualang bersama ? eits, bukan berarti tulisan ini menganjurkan untuk memilih-milih teman hlo, tapi kenyamanan saat traveling itu penting, termasuk mengenai partner. Berikut penulis sampaikan beberapa tips untuk memilih partner traveling :

Ø  Memiliki hobi yang sama
Kamu tidak mungkin mengajak rekan yang tidak tertarik dengan kegiatan petualangan untuk menjelajahi destinasi impian. Kalaupun mungkin, orang yang tidak ber-hobi traveling akan memiliki satu dari dua reaksi setelah kamu ajak paksa berpetualang : jera atau ketagihan.
Mengajak orang yang memiliki hobi sama tentunya akan lebih memudahkan dan menyenangkan. Misalnya, dalam berpetualang kalian memiliki keahlian masing-masing. Kamu ahli menawar barang saat belanja oleh-oleh, dia ahli baca peta jadi tidak takut akan tersesat.

Ø  Memiliki hobi berbeda ? Bisa juga. Asal …
Calon partner traveling mu beda hobi? Jangan cepat-cepat kecewa. Buat kalian yang memiliki hobi berbeda, bisa tetap menikmati petualangan bersama bahkan berkolaborasi menjalakan hobi masing-masing asal tidak sangat bertolak belakang. Misalnya, kamu memiliki hobi menulis dan dia fotografi. Saat mengunjungi suatu destinasi, kamu bisa menulis dan dia memotret sebagai visualisasi tulisanmu. Keren kan ? :)

Ø  Mampu mengimbangi kemampuan partnernya
Kalau yang hobi traveling, umumnya juga ada dua cara dalam menjalankan kegiatan tersebut. Istilahnya, pakai cara ‘koper’ atau ‘ransel’. Cara koper, umumnya dipakai sebagai kiasan untuk mereka yang menjalankan hobi traveling dengan cara serba nyaman. Menginap di hotel, transportasi via udara, kelengkapan fasilitas yang bisa di dapatkan selama kegiatan dan tidak ada kesulitan financial yang berarti.
Cara ransel, dipakai sebagai kiasan untuk mereka yang melakukan traveling dengan cara lebih sederhana. Misalnya memilih tempat penginapan tanpa menghiraukan kelasnya asalkan layak, memilih alternative transportasi yang lebih terjangkau dan sebagainya.
Namun perlu diingat, bukan berarti cara koper dan ransel ini digunakan orang berdasarkan kemampuan finansialnya. Perbedaaan cara ini lebih dipicu oleh keinginan orang tersebut untuk memilih cara menikmati petualangannya.
Nah, kamu tipe yang mana? Pastikan parter kamu dapat mengimbangi kemampuan atau caramu dalam berpetualang. Atau, kamu yang mampu mengimbangi si dia. Bila kalian tidak sejalan dalam menentukan konsep perjalanan, tentu akan terasa sulit saat kalian harus bersama-sama dalan suatu perjalanan.

Ø  Pengertian dan bisa diandalkan
Ketika kamu mengharapkan partnermu pengertian dan diandalkan, kamu pun juga harus begitu. Dengan sama-sama pengertian dan dapat di andalkan, kalian akan jadi partner jalan-jalan yang klop dan saling melengkapi. Jangan sekali-kali hanya mengandalkan partnermu tanpa dapat menjadi parter yang bisa di andalkan. Hal ini akan membuatnya ilfeel dan kapok untuk mengajakmu berpetualang lagi.

Ø  Terbuka satu sama lain
Ini termasuk yang paling penting. Jangan sampai saling tidak jujur dengan partner jalan-jalan. Mintalah partnermu untuk terbuka tentang hal yang menyangkut kegiatan yang akan kalian lakukan bersama-sama. Jangan sampai, misalnya, saling memendam rasa kesal dalam hati ketika tidak setuju kuliner di sini atau menginap di hotel sana.

Ø  Berpegang teguh dengan komitmen perjalanan
Lagi-lagi, sikap ini di perlukan agar tidak membuat si partner kecewa. Pastikan dia menyetujui kesepakatan bersama mengenai destinasi, biaya, moda transportasi dan segala keperluan dalam perjalanan kalian. Jangan sampai di tengah perjalanan, dia atau kamu merubah rencana yang merugikan salah satu pihak. Tetapi hal ini dapat di toleransi apabila ada sebab yang lebih penting, misalnya menyangkut keluarga.



    Nah itu tadi beberapa tips untuk memilih partner perjalanan. Ingat, untuk mendapatkan partner yang menyenangkan dalam perjalanan, kalian juga harus menjadi seseorang yang menyenangkan untuk menjadi partner orang lain. Semoga bisa membantu untuk kalian yang sedang merencanakan petualangan seru :)

Salam,



Naredita

#NulisRandom2015 #Day1
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

    Jujur aja, setiap ada selentingan-selentingan diajak ke gunung Gede pasti gue rada mikir. Faktor utamanya sih satu : kapok sama bebatuannya jalur cibodas. Yang kedua : booking simaksi untuk naik via jalur putri di hari weekend itu ampun-ampunan ramenya. Pasti udah keduluan sama ratusan pendaki yang lain. Tapi karena temen-temen gereja udah memelas dan nggak bosen-bosennya nagih ditemenin naik gunung, yasudah… gue mau ke Gede lagi dengan catatan : lewat jalur putri dan bukan di musim ujan.

    Setelah debat sana debat sini pikir ini pikir itu, ditentuinlah tanggal mainnya ke Gede ini. Di total semuanya jadi enam orang. Cewe semua. Eh, mikir lagi . udah cewe semua, yang empat ini belum pernah naik sama sekali. Hmmm. Musti ngajak kaum lelaki kalo begini mah. Langsung cari kontak yang bisa dihubungi. Ya iya siapa lagi kalo bukan tim Bandung. Itu dua cowo yang ada di cerita Rakutak , emang kalo diajak jalan jawabannya ‘hayuk’ aja.

    Nah udahannya nge-lobby bang Ewin sama Sandi, sekarang ngajak untuk ‘umum’ alias siapa aja yang nganggur ditawarin. Dapetlah si Ustad sama Imam. Sekarang personel nya udah cukup yaaa sepuluh orang yaitu gue, kak Vina, kak Clara, Berlian, Anita, Feby, Bang Ewin, Sandi, Ustad dan Imam. Singkat cerita kelar deh tuh urusan simaksi dan lain-lainnya. Menjelang H-10 gue udah wanti-wanti terus sama yang empat orang ini buat rutin olah raga lari. Ngga mau kan kakinya kaget.

    Hari H nih yaa… Jumat malam di terminal Kampung Rambutan. Biasalah, kalo weekend gini pasti rame dengan orang-orang yang bawa keril. Bus-bus jurusan Garut dan Cianjur yang melewati kawasan puncak penuh dengan pendaki. Kami naik bus dengan tarif Rp 25.000,- untuk sampai ke cipanas. Ternyata bukan cuma gue yang pernah ketinggalan keril di bus. Kali ini, Sandi yang dengan pede turun dari bus begitu sampai di cipanas lupa kalau keril nya masih ada di dalam bagasi bus. Ngojek lah dia ngejar itu bus yang udah jalan sekitar lima menit setelah kami turun. Untung masih itu bus sempet berhenti di rest area untuk isi bensin. Slamet, slamet deh barang-barang penting di keril. Setelah di cipanas, oper lagi angkot untuk sampai ke jalan yang menuju basecamp pintu masuk jalur putri. Kami sampai di basecamp jam dua dini hari. Wiw, dingin banget, maklum musim kemarau. Pendaki-pendaki pada antri untuk cek simaksi sebelum mulai naik.

    Istirahat beberapa jam (meski gue ngga bisa tidur kayak cewe-cewe yang lain) kami habiskan untuk ngopi dan ngobrol. Subuh, gue bangunin temen-temen untuk siap-siap. Beberapa dari kami packing ulang karena ada yang tukeran peralatan kelompok. Jalur putri menurut gue pribadi jelas lebih ‘nyaman’ ketimbang jalur cibodas. Engga sakit di kaki karena di dominasi tanah, semen dan bukan berupa jalur tangga. Selain itu, jalur putri lebih deket untuk sampai ke puncak daripada lewat jalur cibodas.

    Ini bukan pertama kalinya gue sempet tidur di pinggir jalur. Karena rombongan kami terpisah 3 - 2- 5 orang (dengan masing-masing di dampingi orang yang tau jalur) gue sempet tidur di antara pos 3 dan pos 4. Kebetulan lagi barengan sama Imam. Udah deh, molor ada kali satu jam. Ahlasil kami semua sampai di Surya Kencana udah sore, sekitar jam tiga. Badan yang udah capek, emang bikin udara dingin lebih berasa. Sambil nungguin para cowo cari lapak nenda, yang cewe-cewe pada nyeduh susu anget.

    Setelah tenda berdiri, gue persilakan temen-temen cewe untuk ganti baju duluan. Sembari itu, gue sama kak Vina ambil air ke sumber mata air yang ada nggak jauh dari tempat nenda. Hmmm, tapi kecewa, karena air yang harusnya ngalir dari pipa sama sekali nggak keluar. Akhirnya ambil aja yang di sebelahnya, air yang menggenang dan nggak sejernih air dari pipa tadi. Tiga botol satu jerigen penuh, balik ke tenda. Kak Clara lagi motongin sayuran dan yang lain bikin minuman anget. Yang lain masih rebahan, mungkin kecapean. Menu kami malam ini adalah sayur sop, nugget goreng, buah pear dan pudding cokelat. Beuh gimana ngga kenyang?

    Telisik punya telisik, salah satu rekan kami ada juga yang sedang naik gunung Gede, yaitu Bang Taufik. Kami cuma saling tukar infomasi aja sebelum berangkat bahwa kami naik di hari yang sama. Tengah malam, kami keliling deh cari tenda nya bang Taufik. Tau lah yaaa gimana ramenya Surya Kencana. Belum lagi rombongan yang tendanya sama kayak bang Taufik. Jadi intinya malam itu kami nggak ketemu ama bang Taufik.

    Musim kemarau, kami sama sekali ngga dapet ujan sampai malam di Surya Kencana. Akibatnya, dingin pun menjadi-jadi. Daripada ingus meler terus gegara nyari tenda bang Taufik ngga ketemu-ketemu, balik deh ke tenda.

  Kebiasaan, ngga bisa tidur cepet klo lagi kemping. Bawaannya melek aja sambil ngemil pudding coklat yang tadi belum dijamah temen-temen. Pas buka tenda cewe … lah tidur nya pada anget bener itu sb nya tebel-tebel. Pas liat tempat kosong tinggal sisa beberapa senti dari pintu tenda. Bang Ewin akhirnya ngalah, doi tidur di antara tenda yang hadap-hadapan (tentu ada flysheet di atasnya). Gue ngungsi di tenda si Ustad dkk.

Dari awal udah yakin, summit jam empat pagi itu cuma wacana aja. Apalagi bang Ewin dari awal udah ngga mau ikut summit, lebih milih nyusul aja sambil beberes tenda. Meskipun sebenernya sekitar jam empat sampai subuh kami denger para pendaki yang summit lewat di depan tenda kami, tetap aja males buka mata. Pas melek, udah jam tujuh. Cerah banget pagi itu. Anita dan Berlian sekarang giliran ambil air. Imam nemenin mereka, takutnya nyasar. Gue nyusulin Ustad, Sandi dan bang Ewin yang nemuin bang Taufik. Ternyata, tenda kami ngga terpaut jauh. Ya namanya malem, wajar ngga keliatan (alesan).

Setelah ngobrol sama bang Taufik, kami balik ke tenda untuk sarapan. Ngga pake lama langsung packing dan lanjut muncak. Sampai di puncak udah tengah hari, panas terik nya ampun-ampunan. Rame banget, khas gunung Gede kalo lagi weekend.

Niatnya biar yang baru pertama kali naik tau jalur cibodas, jadi kami putuskan untuk turun via cibodas. Nah, kali ini kami sempet merendam kaki di air panas. Episode lalu gue ngga sempet dudu-duduk cantik sambil nikmatin sumber air panas karena di kejar waktu. Kali ini tergoda juga untuk sedikit ngerasain angetnya air sebelum lanjut perjalanan turun. Sekitar lima belas menit, kami lanjutkan perjalanan.

Gue, bang Ewin dan Ustad yang duluan sampai di Kandang Badak, mulai masak mie dan air. Jadi nanti yang belakangan bisa langsung makan supaya ngga buang-buang waktu. Menjelang jam lima sore, kami lanjutkan perjalanan turun. Sampai di pos satu (persimpangan air terjun cibereum) kami kembali sempatkan istirahat sebentar.

Kami sampai di basecamp cibodas jam tujuh. Gue lapor ke pos dan nyerahin simaksi selagi Imam buang sampah yang dibawa dari atas. Di gerbang masuk, ketemu lagi sama bang Taufik yang udah asik ngopi sama temen-temennya. Kami duluan ke warung langganan untuk santap malam.

Badan pada lengket, gue mandi aja sambil nunggu pesenan jadi. Sejak di jalur turun, emang udah ngebayangin nasi anget + tempe tahu goreng + sambel terasi. Pas banget selesai mandi pesenan jadi. Setelah semua selesai makan, langsung cari angkot buat turun ke pertigaan cibodas. Dari pertigaan, kami berpisah. Bang Ewin dan Sandi langsung cabut ke Bandung, sisanya ke Jakarta.

Ternyata Gede emang selalu sukses bikin kaki ngilu. Mau naik lewat putri, kalo turunnya lewat cibodas sama aja efeknya di kaki :D
Tapi ngga apa-apa, nostalgia ke Gede kali ini cukup menyenangkan. Makasih kalian kawan jalan ke Gede kemarin :) nggak kapok naik gunung kan ?

Rgrd,

-N-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
    Escape Surabaya & Madura (chapter 2)

     Akhirnya kami sampai di daratan ibu kota Jawa Timur lagi. Karena Tia (orang yang kost-annya kami tumpangi saat di Surabaya) masih berada di Sidoarjo, jadi saya dan Bena memutuskan ntuk berkeliling Surabaya saja dulu. Kami tidak tahu jalan, hanya mengikuti rambu lalu lintas yang ada. Kami berpanas-panas melewati kantor walikota, taman-taman dan stasiun Gubeng. 

    Karena haus, Bena menyarankan untuk berhenti pada seorang bapak penjual es cao. Kami juga tak tahu apa itu es cao. Tapi karena kami berdua memang gemar kuliner, jadi ya dicoba saja. Rupanya es cao ini minuman yang isinya hanya berupa cao. Ya, sejenis agar-agar berwarna hitam yang sering ada dalam semangkuk es buah, es campur atau minuman pembuka puasa. Tidak menggunakan sirup sama sekali, bahkan tidak berwarna. Tapi rasanya manis, asli menggunakan gula pasir. Satu gelas es cao dihargai Rp 2000,-. Setelah reda rasa hausnya, kami lanjutkan perjalanan sembari tengok kanan-kiri untuk menemukan tempat makan siang.

    Saat berbelok ke sebuah jembatan, rupanya di sisi kanan kami ada monumen kapal selam. Bena histeris, karena ia memang penasaran ingin kesana. Yasudah, saya belokkan motor menuju tempat parkir yang ada di trotoar depan monumen tersebut. Untuk masuk ke monumen kapal selam harga tiketnya sebesar Rp 8000/orang. Monumen kapal selam ini adalah museum yang ditampilkan di dalam kapal selam itu sendiri. 

    Kapal selam asli bernama KRI PAsopati yang digunakan oleh TNI AL dalam Operasi Trikora pada tahun 1962. Di dalamnya kita dapat meihat barak-barak para prajurit dan ruangan pengoperasian mesin kapal. Ada banyak foto-foto para awak kapal, kapten, dan kegiatan mereka saat menjalankan misi. Ruangan di dalam kapal ber-ac, sehingga tidak terlalu pengap. Dibagian luar, terdapat kolam renang dan taman denganbangku-bangku yang bisa digunakan pengunjung untuk beristirahat. Pada akhir pekan, biasanya juga ada pertunjukan reog Ponorogo. Sayang sekali, saat kami datang pertunjukan reog itu baru saja selesai.

    Begitu kami keluar dari kawasan monumen, rupanya Tia sudah sampai di Surabaya dan menyusul kami. Jadi kami memutuskan untuk singgah dulu ke tempat kost Tia untuk menaruh barang bawaan yang lumayan berat. Kost Tia tidak jauh dari kampus ITS, karena Tia berkuliah di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya. 

    Sampai di kos, kami bertiga rehat sejenak dan mengatur list tempat yang akan dikunjungi. Bahkan saya sempat mencuci baju-baju kotor yang dipakai saat perjalanan Jakarta-Surabaya-Madura kemarin. Lumayan, setidaknya dalam perjalanan ke Solo nanti saya tidak membawa baju kotor di dalam ransel.

    Dua jam berada di kost, kami segera bersiap-siap untuk pergi. Sekarang giliran saya yang memilih menu makan siang, dan saya memilih bakso. Maka kami berhenti di depan sebuah gerobak bakso keliling.

“Pakai penthol aja atau campur mbak?” tanya mas-mas penjual baksonya.
“Hah? Penthol?” saya segera melirik pada tulian di gerobak. Bacanya : Bakso Penthol. Saya sedikit bingung, sampai akhirnya Tia menjelaskan bahwa di Surabaya, bulatan daging dalam semangkuk bakso itulah yang disebut penthol. Ohh… begitu. Semangkuk bakso keliling ini dihargai dengan Rp 7000,-. (namun belakangan saya baru menyadari bahwa di berbagai daerah orang juga sering menyebutnya ‘penthol bakso’).

    Setelah selesai makan, kami bergegas menuju arah Kenjeran, yang mana sebenarnya itu adalah bibir kota Surabaya yang mendekati Laut Jawa, searah dengan datangnya kami dari Madura tadi pagi. Sasaran kami adalah Patung Buddha di daerah pantai Ria Kenjeran. Untuk masuk ke area ibadah sekaligus wisata ini, kita harus memasuki area Kenjeran Park yang berisi taman-taman dan wahana permainan. Harga tiket bervariasi antara pengunjung yang berjalan kaki, menggunakan motor maupun mobil.

    Setelah bertanya pada petugas, rupanya patung Buddha ada di ujung, dekat dengan pantai. Kami sampai di area parkir, tepatnya seberang pintu gerbang dimana terdapat patung Buddha tersebut. Wow, patung Buddha nya sangat besar, berwajah empat dan bertangan delapan. Patung itu berwarna emas, serta ada juga patung Ganesha yang berwarna emas pula. Setelah puas berkeliling, kami keluar dan bertemu dengan seorang bapak-bapak. 

“Mbak, dari mana?” sapa beliau.
“Jakarta pak,” Bena menyahut.
“Kalau mau view foto yang bagus, silahkan ke patung Dewi Kwan Im. Ada di seberang sana. Wah, pokoknya gini.” Kata si bapak sambil menyodorkan jempol meyakinkan kami bertiga.
“Oh ada patung Dewi Kwan Im juga pak? Disana ya? Hmmm.. motor bisa dititip sini kan?” saya memberondong pertanyaan.
“Bisa, bisa. Titip aja disini mbak.” Jawab si bapak sambil tersenyum.
“Terimakasih pak..” Tia menunduk sembari mengajak kami segera menuju ke arah patung karena mendung di langit Surabaya mulai pekat.

    Kami memasuki gerbang yang juga bernuansa merah. Kemudian kami sadar bahwa didalamnya adalah sebuah kelenteng. Semerbak harum keluar bersama asap dari dalam bangunan. Kami lewat samping, dan terus berjalan menuju pantai.

    Itulah dia, selat Madura dibalik patung Dewi Kwan Im dan dua naga di kanan kirinya. Saya sempat melongo sebentar, antara norak dan kagum. Kami menghampiri tepian daratan yang berbatasan langsung dengan selat Madura. Jembatan Suramadu terlihat kecil disebelah timur laut. Yang menyita perhatian saya bukan perairannya, namun patung yang begitu besar ini. Ekor naga menjulang ke arah utara dan selatan,sementara kepala mereka saling bertemu dibawah patung Dewi Kwan Im. Tak lama, hujan turun. Kami masih berteduh dibawah patung, sembari melihat perahu-perahu kecil yang berbalik arah menuju daratan. Pohon-pohon mangrove tumbuh disekitar pantai, dan burung-burung kecil terbang diatara ranting kecilnya.

    Setelah hujan reda, kami sempatkan minum es kelapa muda didepan gerbang. Di sini, banyak penjaja makanan. Mulai dari makanan berat hingga cemilan ringan. Ketika hujan benar-benar berhenti, barulah kami menuju sasaran kami selanjutnya, Museum Tugu Pahlawan.

    Waktu sudah pukul 5 sore ketika kami sampai di pelataran Tugu Pahlawan, dan sepertinya gerbang masuk sudah ditutup.
“Mau kemana mbak?” tanya salah satu penjaga.
“Mau masuk pak, lihat-lihat di dalam.”
“Darimana memang?”
“Jakarta.”
“Hmm… sebenarnya sudah tutup, tapi karena mbaknya sudah jauh-jauh kesini, yasudah saya bukain. Tapi jangan lama-lama ya…”
“Wah, makasih ya pak! Iya sebentar aja.”

    Kami pun masuk dan berkeliling pelataran Tugu Pahlawan. Museumnya sendiri sudah tutup, jadi kami akan mengunjunginya besok. Saya memandangi tembok yang sedikit rusak dan ada coretan disana-sini. Rupanya tembok ini adalah tembok asli yang ada sejak jaman penjajahan dulu, dimana Surabaya adalah salah satu latar dari perjuangan para pahlawan Indonesia. Maka berbagai coretan, ukiran dan bekas-bekas tanda semangat para pahlawan diabadikan dan diperthankan keasliannya.

    Setelah selesai dengan Tugu Pahlawan, kami bergegas mencari isi perut. Tia mengajak kami ke rumah makan Mie Akhirat. Wow, kok serem ya? Hehe. Ternyata, mene-menu di sana bertema ‘surga’ dan ‘neraka’. Surga untuk makanan yang tidak pedas dan Neraka untuk makanan yang pedasnya ampun-ampunan.

    Menu surga didominasi warna putih dan Neraka warna hitam. Untuk menu Neraka, ada tingkatan / level pedasnya. Misalnya cabai 1,2,3 dan seterusnya. Saya pesan nasi goreng surga dan Bena pesan mie neraka kuah. Untuk minumannya juga tersedia berbagai macam jus buah, milkshake, dan variasi minuman lainnya. Harga makanannya antara Rp 4.000 – Rp 20.000 serta minuman antara Rp 4.000 – Rp 12.000 . Bagaimana? Cukup bersahabat kan dengan kantong backpacker seperti kami J

    Setelah kenyang, kami mampir ke Mall Royal Plaza (asli, saya dan Bena tidak ada niat sama sekali ke mall) untuk membeli Pie 33 kesukaan Tia. Meskipun enggan masuk mall karena tampang yang sudah amburadul, toh kami tegiur juga dengan pie yang katanya memiliki banyak varian rasa itu.

    Pie 33 memiliki varian rasa keju, tuna, apel, kacang hijau dan masih banyak lagi. Selain pie, Pie 33 juga menjual pizza mini dan stik keju. Harganya berkisar antara Rp 3.500 – Rp 8.000 per potong. Hmm… lagi-lagi camilan menarik untuk bergadang nanti malam.

   Belum puas dengan pie, rupanya Bena masih mencari-cari brownies Libby. Tempatnya tidak jauh dari Stasiun Gubeng. Brownies nya juga banyak variasi misalnya keju, kismis, meises dan lain-lain. Ada yang awet hingga beberapa minggu, ada juga yang hanya beberapa hari. Selain brownies kotak, ada juga kue lain red velvet, cheese cake, soft cake dan banyak lagi. Brownies Libby cocok untuk oleh-oleh dari Surabaya.

   Tentengan kami sudah lumayan banyak, maka kami kembali ke kost-an Tia. Setelah mandi dan mencuci baju-baju kotor yang kira-kira akan kering besok sore, kami mengobrol sembari menikmati jajanan yang kami beli. Tak berapa lama Bena sibuk dengan pekerjaannya dan tenggelam di depan laptop. Tia asik menelepon pacarnya sembari berguling-guling di kasur. Saya, dengan kalem dan terkantuk-kantuk membaca novel dan meringkuk di dalam sleeping bag. Sedikit heran, Surabaya siang hari begitu panas namun saat malam di kost Tia cukup dingin meski tidak menggunakan AC.

    Memang dasar niat hanya sekedar niat, rencana untuk bangun pagi dan memulai jalan-jalan lebih awal hanya sekedar wacana ketika saya bangun paling awal jam tujuh pagi sementara mereka berdua masih meringkuk nyaman. Saya menunggu mereka bangun sembari mandi dan packing karena akan bertolak ke Solo nanti sore.

    Kami baru keluar kamar kost jam sebelas siang. artinya, kami bukan lagi cari sarapan namun makan siang.  Kami menuju warung makan yang menjual menu bebek item. Maksudnya adalah bebek yang diolah dengan bumbu rica-rica hitam. Setelah kenyang, kami bergegas menuju destinasi pertama hari ini : Museum Sampoerna.

    Museum Sampoerna memiliki Galeri yang unik, dimana ada juga ruangan tempat para pekerja membuat rokok dari label Sampoerna. Berbagai macam lukisan ditempel di dinding, karung-karung terbuka berisi berbagai jenis tembakau dari beberapa daerah menguapkan bau harum ke seluruh penjuru ruangan. Alat-alat untuk membuat rokok pada tempo dulu dipajang pada ruang belakang.\

     Di lantai dua, ada galeri shop yang menjual bermacam merchandise dari Sampoerna. Mulai dari kaos, topi, selendang, canting untuk membatik dan banyak lagi.dari lantai dua inilah kita dapat melihat melalui kaca besar (seukuran tembok dari ujung genting hingga alas bangunan) ke bawah, dimana ruangan para pekerja sedang memproduksi rokok. Hemmm cukup beredukasi ya J

    Berkunjung ke Museum Sampoerna sepenuhnya gratis kecuali jika kita ingin berbelanja di sana. Tiket masuk dan parkir kendaraan tidak dikenakan biaya. Pelayanan para penjaga nya juga ramah dan menyenangkan.

    Setelah puas dengan Museum Sampoerna, kami menuju Museum Tugu Pahlawan yang kemarin belum dapat kami kunjungi. Tiket masuk museum ini Rp 5.000,- per orang. Kami menyusuri lorong-lorong yang digantungi lukisan dan foto-foto pada masa perjuangan dahulu. Kemudian ada eskalator yang menuju ke lantai bawah. Rupanya di lantai dasar ini ada patung-patung dan benda peninggalan para pahlawa dan tokoh penting. Ada juga diorama (rekaman suara) pidato Bung Tomo. Saya rasa kita semua tahu mengenai pidato berapi-api ini saat membaca buku pelajaran IPS saat SD atau SMP.

    Bena memencet tombol yang ada di sudut dekat patung Bung Tomo, dan seketika terdengarlah pembacaan pidato beliau yang penuh semangat. Kami yang ada di situ diam, mendengarkan dengan seksama. Merinding sekaligus kagum, kami menganguk-angguk ringan saat pidatonya selesai.

    Naik lagi ke satu lantai di atas namun pada ruangan yang berbeda dari sebelumnya, kami mendapati lagi benda-benda peninggalan yang bernilai sejarah amat tinggi dan dua ruangan diorama. Di lantai ini suasana lebih ‘singup’ (semacam suasana sepi yang aneh) karena dua faktor : museum memang sedang sepi pengunjung dan benda-benda disana seperti menggambarkan pada kami bagaimana mereka dahulu dipakai.

Kami disapa oleh seorang bapak penjaga museum,
“Dari mana mbak?” sapa si Bapak ramah.
“Jakarta pak. Hehe..” Bena menjawab.
“Wah, lagi liburan atau bagaimana?”
“Iya pak kebetulan sedang libur, pengen main ke Surabaya.”
“Hemm.. jauh-jauh kesini, mau nonton film perjuangan ngga?”
“Wah, dimana tuh pak?”
“Ada di lantai bawah. Mari, saya antarkan”
Lagi-lagi bonus dari ramahnya penduduk Surabaya karena kesan ‘duh jauh-jauh ke Surabaya’ .

    Kami duduk di sebuah ruangan gelap, menatap layar yang memperlihatkan film serangan-serangan Belanda terhadap Indonesia khususnya di kota Surabaya. Tembakan-tembakan dan teriakan para prajurit terdengar diantara pembacaan narasi cerita.

    Karena film itu cukup lama, kami terpaksa meninggalkan ruangan lebih dulu karena sudah jam dua siang. kami harus bergegas ke satu tempat lagi sebelum saya pergi ke Solo.

    Sura dan Baya. Ikan Hiu dan Buaya. Itulah ikon ibukota Jawa Timur ini. Rasanya tak afdol jika tidak menenui patung nya secara langsung. Memang sedikit kekanakan, namun rupanya keinginan mengunjungi ikon kota tersebut tetap kami paksakan hari itu.

     Sebenarnya, untuk mengunjuni si Sura dan Baya ini ada setidaknya dua tempat. Namun Tia hanya tahu jalan ke salah satu tempat, yaitu kebun binatang Surabaya. Jadilah kami kesana walapun cukup jauh.

Kebun binatang Surabaya ramai dengan pengunjung dan pedagang makanan. Kami hanya berfoto sebentar kemudian melanjutkan perjlalanan untuk mengantar saya ke Terminal Purbaya.

Terminal Purbaya adalah terminal besar dan tempat singgah bus-bus antar kota dan provinsi. Bena menyarankan saya untuk menunggu di depan gerbang saja. Tak lama, bus jurusan Surabaya-Semarang itu keluar dari terminal. Saya buru-buru naik. Untuk ke Solo dari Surabaya membutuhkan waktu tujuh jam dan tiket seharga Rp 30.000,- .

Jabat tangan terimakasih saya untuk Tia dan Bena, adalah tanda lain dari ‘sampai bertemu lagi’.
Terimakasih Surabaya, Madura dan semua tempat-tempat luar biasa yang tersimpan di dalamnya.


Salam ,
Naredita.







Jalanan Madura menuju Suramadu

Pintu masuk Tol Suramadu


 Patung Budha
                            Patung Ganesha                                       Perairan Selat Madura


                                    Patung Dewi Kwan Im                       Tugu Pahlawan


                                         Mobil Bung Tomo




Monumen Proklamasi



Ruangan di dalam Museum Tugu Pahlawan




Ruangan dalam Muesum Sampoerna

Sura dan Baya


Meet :
Brownies Libby at >>  http://libbybrownies.com/home.php
Mie Akhirat at >>  http://mieakhirat.com/





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ►  2018 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ▼  2015 (14)
    • ▼  September (1)
      • Perjalanan Para Riak Air
    • ►  Agustus (1)
      • Curhatan pegawai baru - baru lulus, baru kerja
    • ►  Juni (5)
      • Catper pendakian Gunung Lawu 3265mdpl (part 2) #Nu...
      • Catper pendakian Gunung Lawu 3265mdpl (part 1) #Nu...
      • 7 Hal yang akrab dengan anak rantau #NulisRandom2015
      • memilih partner perjalanan #NulisRandom2015
      • Nostalgia Gede
    • ►  Mei (5)
      • Escape to Surabaya & Madura (Chapter 2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates