Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita



Hari dimana ngga ada kelas itu emang bikin lega. Tapi bikin ciut dompet juga, apalagi kalo partner jajannya ngajakin ketemuan. Dari beberapa tempat yang ditawarkan Bena, gue memilih Lucky Cat Coffe & Kitchen. Tempatnya ada di dalam Plaza Festifal, tepatnya parkir selatan. Jadi ngga susah kok dicarinya. Karena kami berdua adalah pengguna transportasi umum yang budiman, maka kami sepakat untuk naik commuterline dan ketemuan di salah satu stasiun transit yang paling crowded se-Jakarta raya : Manggarai. Dari sana bisa lanjut naik ojek atau taksi berbasis online ke Plaza Festival supaya lebih mudah perjalanannya.

Tampilan luar café ini sedikit terkesan beda dari foto-fotonya di dunia maya, karena pengunjung bener-bener langsung dihadapkan dengan pintu masuk tanpa ada teras di muka. Tapi begitu masuk ke dalam, atmosfernya langsung berubah. Desain interior yang di dominasi dengan kayu dan pendingin udara yang berfungsi dengan baik membuat kita lupa panasnya udara Jakarta di luar sana. Begitu menoleh ke sebelah kanan, langsung ada kasir dimana kalian bisa langsung order dan bayar di situ. Tapi jangan khawatir kerepotan karena waiters yang akan mengantar pesanan kamu ke tempat dimana kamu duduk.


Ada 2 lantai, di mana untuk menuju lantai 2 bisa melalui tangga yang bercabang ke kanan dan ke kiri. Lantai 2 hanya ada di pinggiran dinding, sementara smooking room berada di balkon yang menghadap langsung ke jalanan dan memiliki banyak jendela yang sengaja dibuka. Lantai 1 nya sendiri memiliki tempat duduk bervariasi mulai dari sofa, bangku kayu untuk beramai-ramai ataupun berdua.



Satu hal yang membuat betah di sini adalah banyak tanaman hijau di dalam café, bahkan ada pohon juga! Tepat di sebelah tangga. Pot-pot kecil berisi tanaman mini dan daun menjuntai digantung pada balok kayu di atap. Lampu-lampu tang ada di atap bagian tengah juga tidak terlalu terang, karena sudah cukup banyak sinar matahari yang masuk dari jendela. Jangan lupa juga, wifinya lumayan kenceng.  Hehe. Untuk kopinya harga dan rasa ngga jauh beda dari coffee shop yang lain di Jakarta. Untuk makanannya bisa dibilang sedikit lebih mahal, tapi enak. Pokoknya worth it deh walaupun ngga bikin kenyang juga. Hehe. Saran gue kalau mau kesini lebih baik weekday atau tengah hari, di mana ngga banyak orang datang jadi ngga berisik juga. Kamu bisa sekalian nugas, ngobrol lama sama pacar atau quality  time sama temen.

Lucky Cat Coffee & Kitchen 
Plaza Festival Parkir Selatan, Jl. Haji R. Rasuna Said Kav. C 
Telepon: (021) 52961475




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar






Alohaaaa. Yawla. Lama banget banget banget nggak posting di mari. Yhaaa maap, kusibuk soalnya :/ sampe waktu untuk liburan pun tak adaaaa. Tapi berhubung kemarin baru banget selesai UAS, yang bikin puyeng dan cenat cenut itu, akhirnya untuk pertama kali dalam 3 bulan terakhir gue bisa keluar rumah dengan bebas hambatan.  Karena waktu yang terbatas dan setiap minggu di bulan Desember ini selalu ada acara Natal di gereja, jadi gue main ke tempat yang deket-deket aja. Lagi dan lagi … TNGGP. Kayaknya mah ngga perlu gue jelasin lagi itu ada di mana. Kebetulan tanggal 18 Desember kemarin lagi ada lomba kebut gunung gitu di Gede, tapi karena gue nyampenya juga udah rada siangan ya udah sepi juga di pintu masuk jalur Cibodas.


Karena kali ini gue ngajak Amen, jadi sebisa mungkin ya gue well prepare. Walopun memang cuma berujung di Cibereum haha. Sekalian ‘test drive’ si pacar, sengaja ngitung speed nya dari pintu masuk sampe ke Cibereum. Dan ternyata kami sampai kurang lebih 50menit (waktu bersih setelah dikurangi foto-foto). Yha. Berarti bisa diajak naik gunung kapan-kapan. Begitu sampai di Telaga Biru, kami mampir sebentar. Jarang lewat sini lagi sepi. Beberapa kali kesini biasanya Cuma asal lewat, ngintip juga engga. Yaudah sekarang mampir dulu bentar. Ternyata boleh juga walopun ya nyempil gitu. Di pinggir kanan ada space buat rehat atau sekedar foto-foto. Eh tapijangan kelamaan, antri sama yang lain.


Sampai di pos 1 yang percabangan jalur pendakian dan jalur ke Cibereum, sekarang udah ada bapak-bapak penjual gorengan dan kopi. Padahal, gue udah bawa kompor, nesting dan kopi. Hehe. Ngga enak sih sama si bapak, tapi suka kesel kalo udah bawa-bawa peralatan tapi ngga kepake di TKP. Yaudah jadinya kami tetep nyeduh kopi dan masak mie. Tapi tetep dong, beli dagangan si bapak. Katanya, dari subuh Gede udah diguyur ujan. Nggak heran, bahkan pas kami baru nyampe rawa gayonggong angin udah mobat mabit dan sedikit gerimis. Beberapa pendaki yang lewat juga udah bersiap pakai jas hujan.



Cibereum juga lagi nggak rame-rame amat, beberapa pengunjung nggak berlama-lama di sana dan langsung turun setelah foto-foto. Begitupun kami, lima belas menit cukuplah. Setelah itu kembali turun karena langitnya mendung terus. Yaudah gitu aja, mau ngapain lagi. Haha. Sampe di warung Cibodas kamu bebersih dan rehat sebentar sebelum otw pulang. Kawasan puncak pass juga kabutnya parah, jarak pandang ngga nyampe dua meter. Nah sekarang mah nunggu episode liburan tahun barunya aja. Sambil nunggu halaman SIAK keisi nilai juga…
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 pict by Booking.com

Bandung. Siapa coba warga Jakarta yang nggak pernah mampir ke kota kembang ini? Sebagai Ibukota Jawa Barat tentunya Bandung didatangi banyak wisatawan dan pasti banyak banget hotel yang bisa kalian singgahi jika mampir ke kota ini. kebetulan beberapa bulan lalu saya ke Bandung naik bus dari Jakarta, karena berangkat malam setelah pulang kerja. Otomatis, saya cari hotel yang cukup dekat dengan terminal Leuwi panjang. Beruntung, ada hotel yang hampir ada di banyak kota besar : POP! Hotel. Dijamin kalian para traveler udah nggak asing dengan hotel ini kan? Kali ini saya memilih POP! Hotel yang berada di dalam kawasan mall Festival Citylink. Naik uber car dari Leuwi panjang ke Festival Citylink sekitar Rp 15.000 sampai Rp 20.000, tergantung jam-jamnya.

FYI, hotel ini beneran ada di dalam kawasan Festival Citylink ya jadi jangan harap menemukannya di pinggir jalan, karena pintu masuknya pun dekat dengan parkiran mall :) sempat bingung waktu itu masuknya dari mana. Hehe. Nah saat check in di resepsionis, saya melihat brosus yang intinya “beli perlengkapan mandimu disini”. Karena baru sekali itu menajajal POP Hotel, saya baru tahu juga kalau hotel ini tidak menyediakan peralatan mandi secara free di kamar :( waktu itu saya pesan kamar POP room with breakfast.

pict by Booking.com

Baiklah, karena barang bawaan yang banyak akhirnya saya memutuskan naik dulu dan menaruh bawaan di kamar, selanjutnya turun ke mall untuk belanja ‘kebutuhan’ (untung keluar hotel langsung masuk mall). Suka sedih kalau sudah menginap di hotel tapi masih harus beli shampoo, sabun, pasta gigi sendiri. Kamarnya standar, nggak sempit dan nggak luas, ada jendela cukup lebar. (yaudah lah yaa harga Rp300.000,- saat weekend juga udah bagus kok kamarnya hehe). Waktu itu dapat kamar di lantai yang lumayan tinggi, jadi pemandangan dari luar kamar lumayan bagus. 

Mengenai kebersihan, ya standar saja. Desain hotelnya memang nge-pop banget dengan cat warna-warni dimana-mana hehe. Untuk sarapan, restonya itu ada di depan, ya, di tempat yang sama dimana kalian check in. Menunya tidak variatif, tapi masakan ala rumahan gitu sih jadi berasa sarapan di rumah. Tapi saya tetap lebih suka sarapan di hotel karena begitu keluar, bisa langsung jalan-jalan tanpa harus mikirin perut lagi. POP Citylink Hotel Bandung dapat rate 2 dalam skala 5 dari saya. Nilai plus nya adalah, hotel ini cukup dekat dengan pusat kota jadi tidak jauh dari jangkauan beberapa ikon penting kota Bandung :)

Tangerang,
12 Desember 2016

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pasar Bubrah dan Puncak Merapi

Tiada yang lebih dinanti daripada libur lebaran, salah satu momen dimana ajang saling mengunjungi seolah menjadi kewajiban. Tahun ini adalah kedua kali saya pulang ke Solo setelah lulus kuliah. Rencana Rinjani yang digadang-gadang akan kami tapaki selepas Idul Fitri ternyata urung dijalani. Ada banyak pertimbangan dan kurangnya persiapan membuat saya dan Sita pada hari-hari menjelang keberangkatan akhirnya memutuskan untuk tidak turut serta.

Sebagai gantinya, saya meluangkan lebih banyak waktu di rumah pada lebaran tahun ini. Namun karena dirasa tidak afdol bila tidak naik gunung, kembali saya menghubungi Mas Bayu (seperti biasanya) untuk menemani mendaki gunung Merapi. Kedua kalinya bagi saya dan pertma bagi Sita. Kondisi sedikit tidak fit membuat saya berkata pada Sita di awal :
“Sit kalau mau summit, sama Mas Bayu aja ya. Nanti gue nungguin di Pasar Bubrah aja.”

Akhirnya saya dan Sita sepakat untuk hanya membawa satu carrier dan satu tas lipat karena rencana kami bertiga adalah pendakian tektok. Saya dan Sita berboncengan menggunakan motor ke Boyolali, dimana rumah Mas Bayu berada. Tidak sampai satu jam kami telah tiba. Kami segera packing ulang sekaligus cek peralatan dan logistic. Flysheet, hammock, webbing, matras dan sejumlah bahan makanan telah siap. Mas bayu bahkan membawa telur kali ini, beserta wajan dan minyak gorengnya.

Bertiga kami menembus hawa dingin Boyolali tengah malam, menuju basecamp Barameru. Tidak ada hal lain selain mencoba mengalihkan rasa pegal di lutut dan paha karena menahan badan, sebab jalanan semakin menanjak. Kami sampai sekira pukul 23.30 dan segera mengurus simaksi. Pendakian  kami mulai pukul 00.30 setelah mengucap doa di pintu masuk New Selo.

Tas lipat yang sebenarnya berfungsi untuk sepatu ini terisi tiga liter air, kompor dan logistik. Carrier Sita berisi matras, jaket kami berdua,  sepasang baju ganti dan beberapa sachet kopi. Carrier Mas Bayu ? saya lupa apa saja isinya. Hehe. Yang jelas paling berat diantara kami bertiga. Saya berjalan di depan, SIta di tengah sedang Mas Bayu menjadi sweeper. Karena jarak lumayan jauh dan saya tidak tahu jika Mas Bayu berniat untuk mengambil jalur evakuasi. Sementara saya langsung mengaambil jalur Kartini karena memang jalur itulah yang lebih ramai. hingga ketika saya menunggu Mas Bayu dan kami bertemu di sebuah percabangan, Mas Bayu mengatakan bahwa sudah terlalu jauh untuk kembali ke awal jalur evakuasi, lanjutkan saja jalur Kartini ini baru besok saat turun kita menjajal jalur evakuasi.

Kami sampai di Pos 1 (Watu Belah), dimana ada sebuah bale yang sudah penuh dengan beberapa pendaki. Sindoro-Sumbing sudah dapat terlihat karena cuaca yang cerah. Kami duduk dibelakang batu, berharap tertutupi dari hembusan angin dini hari. Kami disana sekitar 30 menit, karena SIta ngantuk berat. Setelah istirahat dirasa cukup kami melanjutkan pendakian. Saat itu kira-kira pukul 03.00 pagi.

Tempat yang dinanti pun ada di depan mata, yaitu Lumutan. Disana banyak yang mendirikan tenda karena memang sudah berjarak lumayan dekat dari Pasar Bubrah dan lokasinya mendukung bila sengaja menunggu sunrise. Kami bertiga sepakat untuk stay di Lumutan hingga matahari menampakkan dirinya secara utuh. Hawa dingin tak dapat dipungkiri, karena saya mencoba untuk tidak menggunakan jaket kali ini. Menyaingi Mas Bayu yang selalu berkaus dan bercelana pendek.

Tahu kan, kenapa saya jatuh cinta dengan Lumutan?

Kami menanti datangnya matahari mulai pukul 05.30 hingga 06.40 , dan seperti sebelumnya, saya selalu terkesima dengan sunrise dari tempat ini. Pandangan yang luas tanpa terhalang pohon, dan bila kita memalingkan pandang ke selatan akan terlihat puncak Merapi disana. lampu-lampu senter para pendaki yang sedang summit gemerlapan merayap disepanjang jalur menuju puncak.

Setelah puas memandang matahari pagi yang telah membulat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Bubrah. Perut sudah mulai memberontak karena lapar. Kira-kira satu jam kemudian kami sampai di Pasar Bubrah dan segera mengeluarkan peralatan masak. Mas Bayu membawa kopi Flores yang belum pernah saya coba sebelumnya. Air mendidih dan kopi pun di seduh. Aroma telur dadar yang sedang digoreng Mas Bayu beredar, begitupun aroma mie rebus yang sedang diolah Sita.

 Mas Bayu masakkk

 Pasar Bubrah
 Merbabu dari atas Lumutan 

Setelah sarapan yang mengenyangkan, Mas Bayu mencoba-coba memasang hammock di antara dua batu yang ada di dekat kami. Beberapa kali mencoba, ada saja yang salah. Terlalu rendah, terlalu longgar, tali yang melorot. Namun Mas Bayu kekeuh untuk tetap memasangnya dan … tadaaaa. Hammocknya bisa ditumpangi meski tidak tinggi. Saya dan Sita yang paling ribut masalah foto. Di hammock maupun di atas batu.

Kami mengobrol dengan beberapa rombongan pendaki yang kebetulan mendirikan tenda di dekat tempat kami singgah. Canda tawa dan budaya tukar makanan berlangsung sepanjang siang sebelum mereka lebih dulu turun.



 “Sit, summit sonoh…” saya katakana pada Sita sembari mengarahkan dagu pada titik-titik kecil (orang) yang sedang merayapi pasri menuju puncak Merapi.
“Nggak ah Dit, kapan-kapan aja. Hahaha..”
Ya, sudah terlampau siang pula untuk menuju ke atas sana, selain karena badan yang sudah cukup lelah. Mata pun serasa minta dipejamkan. Maka saya menyempatkan diri untuk tidur sejenak, yang nyatanya pulas hingga satu jam lebih. Cuaca cerah dengan sinar matahari yang terik. Begitu terbangun, kami langsung packing ulang untuk segera turun. Angin membawa hawa dingin meski langit tidak mendung sedikitpun.

kiww


Dengan beban yang lebih ringan dan jalanan yang menurun, jelas mempercepat langkah kami. Ketika sampai di bawah lumutan, dekat tempat kami melihat sunrise tadi pagi, kami bertemu rombongan FKPGSR (Forum Komunitas Pendaki Gunung Solo Raya) yang mana Mas Bayu menjadi salah seorang anggotanya, juga Baro, yang memang saya kenal. Kami sempatkan mengobrol sebentar sebelum berpamitan untuk turun terlebih dulu.

Sesuai rencana, kami melewati jalur evakuasi kali ini. Memang benar, lebih landai dan posisinya memang sedikit dibawah jalur Kartini. Kedua jalur ini bertemu lagi di sebuah pertigaan sekitar Pos 1. Kami sempat istirahat cukup lama di bawah Pos 1, mengobrol ngalor-ngidul, tidak terlalu khawatir karena basecamp tidak jauh lagi.

Bersama rombongan FKPGSR

Pukul 16.00, kami sampai di gardu New Selo, dimana ada beberapa warung disana. sambil mengobrol dengan beberapa pendaki lain yang juga baru turun, kami mengistirahatkan kaki. Teh manis panas dan sepiring nasi goreng boleh juga. Tidak berlama-lama, kami turun sebelum maghrib untuk kembali lapor ke basecamp dan mengambil motor.

Kami berpisah dengan mas Bayu di Boyolali, tidak bisa mampir. Maaf ya Mas, nanti lain waktu. Ya begitulah, Merapi tak pernah ingkar janji, yang kerap dikatakan orang-orang tentang si kecil cabe rawit ini. Meski kaki-kaki pendaki tak henti menapaki punggungnya, meski dentuman para penggali pasir terdengar sepanjang hari. Seperti sebuah kalimat yang ada di lokasi sisa erupsi tahun 2010 lalu :

Pesan Merapi
“Aku ora ngalahan, tur yo ora pengen dikalahke.
Nanging mesti tekan janjine, mung nyuwun pangapuro nek ono seng
Ketabrak, keseret, kenter,  kebanjiran lan klelep.
Mergo ngalang-ngalangi dalan sing bakal tak liwati.”

Nanti, besok entah kapan, saya mau mampir lagi kesana. Kalau mau ikut bilang ya.


Salam,
ND
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


“Kepala Sekolah nampar dia, kubakar sekolah ini! Apalagi cuma Anhar”

Dari sekian quotes dan kata-kata romantis yang bertebaran dalam novel ini, ucapan Dilan diatas yang justru paling membuatku nge-fans pada Dilan. Dan maafkan jika tulisan ini tidak seperti tulisan di post-post sebelumnya, terutama pada gaya bahasa. Ya, sungguh terlambat membuat review tentang Dilan : Dia adalah Dilanku tahun 1990 disaat mana buku ketiganya bertajuk ‘Milea’ sudah beredar luas di toko-toko buku. Tapi, toh, Pidi Baiq menulis cerita yang terjadi 24 tahun lalu bukan?

Jujur, ini pertama kali kubaca novel dari Pidi Baiq. Kesannya? Banyak. Tapi nanti dulu ya, kuceritakan seperti apa novel yang telah membuat jutaan pembaca terutama wanita (apalagi angkatan 90’an saat SMA) ingin pindah ke Bandung hanya demi bertemu Dilan saat itu. Diambil dari sudut pandang Milea, bahkan hingga lembar terakhir, Dilan masih tergambar cukup misterius. Apa yang dilakukannya bisa tak terduga-duga. Pidi Baiq sendiri menulis novel ini seperti buku diary, tempat dimana Milea mengenangkan masa lalunya dengan Dilan.




   Mau cinta, mau enggak. Dengar, ya, hai, kamu yang namanya Dilan. Terseraaahh! Itu urusanmu! Emang gua pikiriiin!? (Milea)

Gaya bahasa yang santai membuat cerita mengalir dengan kesan menyenangkan untuk terus diikuti. Apalagi ada ilustrasi-ilustrasi sederhana yang menggambarkan beberapa adegan penting. Perihal karakter para tokoh, dapat kalian nilai bagaimana Akang Pidi membentuknya sembari membaca lembar demi lembar. Ada banyak sudut-sudut kota Bandung yang disebut di dalam novel, yang pasti kalau pembacanya orang Bandung asli akan jadi baper. Kemudian membuat kita membayangkan seperti apa syahdunya Bandung di 1990an itu.

Karena pembaca melihat dari sudut pandang Milea, ya … sudah. Kuceritakan seperti apa Dilan itu., di mata Milea dan di mataku sebagai pembaca. Disebut ganteng? Milea hampir tidak pernah mengatakannya. Puitis? Iya. Pandai melucu? Jelas. Dan seperti pelajar lain yang tergabung dalam geng motor, Dilan juga punya penampilan serupa, tempat nongkrong yang sama dan berkelakuan hampir sama dengan anak-anak nakal pada umumnya. Tapi bedanya, Dilan punya idealisme yang tinggi. Ya, Dilan yang mengagumi pahlawan revolusioner. Yang kamarnya mirip dengan perpustakaan saking banyaknya buku. Dilan yang punya seribu akal untuk mengistimewakan Milea. Yang sayang dengan keluarga. Ah, Dilan.

Yakin, mereka yang masa-masa SMA nya sudah terlewat, akan terbayang atau memaksa dirinya sendiri untuk mengingat bagaimana masa SMA miliknya dulu. Tidak perlu bicara soal pesan moral dalam novel ini, karena sepertinya sang penulis tidak memaksudkan untuk membuat pembaca menggali makna. Novel ini, murni menceritakan apa yang dirasakan Milea, dari Dilan dan untuk kita semua yang membacanya.
  
Kamu pernah nangis?
Waktu bayi, pengen minum.
Bukan, ih! Pas udah besar. Pernah nangis?
Kamu tau caranya supaya aku nangis?
Gimana?
Gampang.
Iya, gimana?
Menghilanglah kamu di bumi.

Oh ya, tadi kujanjikan apa? Kesan ya? Hmmm. Menyenangkan. Mengherankan. Membuatku cekikikan geli atau menenangkan diri (padahal yang sedang kalut itu si Milea). Pokoknya kau musti baca, musti kenal siapa mereka. Mungkin ini kisah klasik dari jaman dulu, tapi apa kau bisa menemukannya di masa kini? Itulah gunanya nostalgia.

Yasudah. Kamu, kalian, selamat jatuh cinta ya. Bukan sama pacar, tapi sama Dilan!

ND


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sedang menjalani kehidupan normal sebagai pekerja, tapi dapat kesempatan untuk kembali menimba ilmu? Tanpa pikir panjang jawaban saya adalah YA. Pasca deg-degan menunggu hasil test, jadilah saya salah satu pasukan yellow jacket. Masih di fakultas yang sama, Hukum. Kalau kalian dapat kesempatan yang sama, akan pilih yang mana? Bukan tidak mungkin untuk memilih keduanya. Tapi tapi tapi .. apa nggak capek? Apa nggak boros? Apa nggak pecah fokus? Hmmm…

Sudah bukan hal yang mengherankan lagi bila pekerja menjadi pelajar juga, apalagi sebaliknya. Kalau orang bilang hidup keras kayak batu ya kadang benar kadang tidak. Apalagi di ibukota, banyak yang multitalented. Ibu-ibu tidak hanya mengasuh anak di rumah, bapak-bapak tidak hanya kerja di kantor, apalagi anak-anak Sekolah Dasar maupun Menengah yang tidak sedikit pulang sekolah lekas ikut mencari nafkah. Ah sudahlah, kok jadi melebar kemana-mana. Jadi begini, post kali ini memang hanya sekedar berbagi tips untuk kalian semua yang akan atau sedang menjadi pekerja sekaligus pelajar (terutama mahasiswa).  Apa saja sih, yang perlu kita persiapkan dan diperhatikan?

Atur waktu dengan baik
Pola hidup sehari-hari, jelas akan berubah. Pola makan? Apalagi. Kadang pola ketemu pacar juga ikutan labil #eh.  Tapi semuanya memang tergantung pada waktu yang dinanti. Kalau kalian pandai membagi dan menyesuaikan waktu dengan kegiatan yang ada, kemungkinan besar tidak akan ada masalah baik kecukupan tidur, jam makan, produktivitas di tempat kerja maupun kampus. Kalau perlu buatlah jadwal dan pastikan untuk konsisten pada apa yang sudah kamu jadwalkan. Urusan kantor, buatlah list tentang apa saja yang akan kamu kerjakan dalam beberapa hari kedepan (bagi yang pekerjaannya bersifat sistematis atau terstruktur). Beri spare waktu untuk pekerjaan tak terduga, misalnya harus lembur. 

Untuk urusan kampus, maksimalkan waktu-waktu berharga di kelas (apalagi yang jarak kampusnya jauh). Jangan sampai datang hanya untuk mampir absensi. Tidak perlu mengerjakan tugas di luar (misal: kafe, rumah teman) kecuali tugas kelompok. Kerjakan tugasmu di rumah, sembari mengistirahatkan badan dan mendapat suasana yang lebih tenang. Kalau ketiduran kan nggak di depan umum juga. Sesekali ke perpustakaan boleh, mungkin kamu perlu mencari bahan atau referensi.


Manfaatkan sarana transportasi umum
Tangerang – Depok PP ? Dalam kasus saya ya lumayan juga. Kalau mau dibuat lebay  sudah seperti bus AKAP, antar kota antar provinsi. Setiap hari untuk kuliah saya memiliki rute pasti, yaitu Tangerang (Banten) – Jakarta (DKI) – Depok (Jawa Barat). Menyetir kendaraan pribadi cepat atau lambat pasti akan terasa menjemukan. Apalagi kalau bukan tentang macet yang merajalela. KRL atau Transjakarta bisa jadi solusi karena memiliki akses tersendiri. Biayanya juga murah hlo, dari ujung ke ujung kalian hanya perlu merogoh kocek 3K – 10K.  

Manfaatkan sosial media
Bukan untuk sekedar curhat, ngode gebetan atau ajang pamer kehidupan yang hits. Dewasa ini sosial media juga memiliki bermacam aplikasi sesuai kebutuhannya. NAH ! kalian bisa memanfaatkan aplikasi yang menunjang keperluan kalian dalam hal transportasi, misalnya. Ada berapa aplikasi yang sangat bermanfaat, antara lain KRL Acces (untuk mengetahui jadwal kereta dan seluk beluk lainnya tentang KRL), Nebengers (buat yang mau nebengin atau nebeng aja), Teman jalan (bukan biro jodoh ya, tapi disini kalian bisa dapat teman baru di sepanjang perjalanan) dan lain-lainnya. Buka Appstore aja ya.


Bawa bekal
Ya ampun. Kalian nggak perlu malu untuk bawa bekal hlo guys. Karena percaya atau tidak, kotak makan kalian akan menjadi penyelamat (baik perut maupun dompet) disaat-saat genting. Misalnya, kalian dikejar deadline kantor tapi jadwal kuliah selalu tepat waktu. Siapkan bekalmu di pagi hari, kalian bisa memakannya nanti sebelum masuk kelas atau saat akan beranjak dari kantor. Ingat, pengeluaranmu sekarang bukan hanya untuk ongkos kantor-rumah, tapi kampus juga. Gajimu harus cukup untuk segala keperluan dalam sebulan.


Jalin hubungan baik
Jangan cuma pacar aja dibaikin. Tapi teman kantor dan kampus juga. Bukan bermaksud ‘ada apanya’, tapi kalian akan sangat membutuhkan mereka ketika salah satu tanggung jawab harus di prioritaskan. Teman kantor mungkin akan dibutuhkan untuk backup pekerjaan dan teman kampus adalah mereka yang mungkin akan senantiasa memberikan info tentang perubahan jadwal yang  mendadak ketika kamu tak sempat buka web akademis. Bersikaplah simbiosis mutualisme , saling melengkapi karena sejatinya kita semua memiliki kesibukan masing-masing.

Hiburan
Temukan hiburanmu sesuai kapasitas. Bila sedang ada libur 1-2 hari, pergi ke tempat wisata terdekat atau makan bersama keluarga di luar (karena keluarga selalu jadi tempat berpulang). Tapi, apakah kamu tidak punya hari libur ? Jangan sedih. Download film, musik, game atau apapun itu di perangkat elektronikmu yang paling praktis (re: handphone). Kalian bisa merilekskan pikiran sebelum tidur atau ditengah-tengah perjalanan.

Ruang pribadi
Buatlah ruang pribadimu senyaman mungkin. Kamar yang bersih dan rapih akan menciptakan suasana nyaman untuk belajar atau melemburkan diri bersama tugas-tugas yang menumpuk. Selain itu, rasa lelah kalian ketika pulang tidak akan berubah menjadi stress hanya karena melihat tumpukan baju disana-sini. Kembalikan barang pada tempatnya begitu selesai digunakan. Jika perlu, ubah dekor kamar bila kalian memiliki cukup waktu luang.

Yak, kira-kira itulah hal-hal yang saya perhatikan dalam menjalani masa-masa tanggung jawab ganda ini. Mungkin diantara kalian punya tips dan trik lain yang lebih bermanfaat, saya akan sangat senang membacanya lewat comment atau by email. Semoga kelancaran demi kelancaran dapat kita lewati meski kadang ada macet-macetnya juga. Halah.


Tapi diantara itu semua, yang terpenting adalah enjoy. Jalani semua bukan sebagai beban, tapi sebagai tantangan. Ya, tantangan yang menjanjikan buah manis bila kita mampu menyelesaikannya. Semangat selalu yaaaaa ….

Salam,
ND

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


 Edelweis di Lembah Mandalawangi

 Jalur menuju puncak Pangrango cukup banyak percabangan, jadi mohon perhatikan string line yang dipasang di sepanjang jalur. Sepanjang jalan saya banyak berhenti untuk mengatur napas, karena sungguhlah ini cukup menguras tenaga. Bagi saya, ini adalah ‘Salak KW 2’ sedangkan bagi Eki ini adalah ‘anaknya Cikuray’. Seiring tenaga yang mulai menipis, kami berjalan lambat. Beberapa kali kami bertemu pendaki yang turun. Setiap ditanya, mereka selalu bilang masih jauh. Yasudah, lagipula tidak mungkin jika kami turun sekarang. Selain tanggung, kemungkinan bertemu pendaki lain di jalur summit lebih kecil ketimbang dapat bertemu pendaki di Mandalawangi.

Puncak Pangrango (sebelum pengecatan ulang)

Eki berjalan cukup jauh di depan saya, senantiasa memberi kabar akan jalur yang sepertinya mendekati puncak diselingi teriakan semangat. Akhirnya sekira pukul 15.00, kami sampai di puncak. Sepi. Puncak Pangrango ditandai dengan tugu berwarna biru (terakhir saya lihat di postingan orang sempat di cat berwarna merah dan entahlah seakarang apa rupanya), sebuah gubuk tua dan sebuah plakat besi bertuliskan Puncak Pangrango. Memang tak sebagus Gede yang puncaknya berada di bibir kawah dan lebih terbuka. Puncak Pangrango sempit, tertutup pepohonan dan … ya, sepi. Jadi tidak ada alasan lain untuk tidak mampir ke Mandalawangi.

Ternyata untuk mencapai Mandalawangi dari puncak, memang perlu sedikit turun menyusuri stringline. Hanya sekitar dua menit, kami sudah sampai di lembah Mandalawangi. Ya, lembah yang digadang-gadang menjadi kesayangan Soe Hok Gie. Nama yang dikenal nyaris seluruh pendaki baik junior hingga senior. Konon, abu Soe Hok Gie ditebar di pelataran Mandalawangi. Lembah yang juga dijuluki sebagai Lembah Kasih ini jauh lebih sepi dibandingkan Surya Kencana milik Gede. Selain memang tidak seluas Surya Kencana, Pangrango memang lebih jarang dikunjungi oleh para pendaki.

bisa dilihat sepinya Mandalawangi :')

Kami memilih duduk di dekat sebuah pohon edelweiss yang tengah berbunga. Saat itu hanya ada satu tenda dengan sekitar 3-5 orang. Tak lama, sampailah serombongan keluarga beserta porternya. Saat keluarga sedang asik memotret, si porter bergabung bersama kami.
“Bang ngopi bang,” tawar Eki.
“Iya makasih, gabung ya.” jawabnya seraya duduk di samping Eki.
“Dit, seduh Dit.”
“Iyaak.” saya menuang air panas ke sebuah gelas plastik yang berisi kopi bubuk.
“Darimana bang?” tanya Eki pada si porter.
“Depok … tuh nganter sekeluarga. Eh tadi ketmu temen gue nggak di bawah? Ada dua tuh.”
“Hmmm yang bawa keril gede? Tadi istirahat di bawah kayaknya bang.”
“Waduh… capek tuh mereka. Saya sama sih, gimana enggak, liat aja tuh keril isinya tenda dua sama perlengkapan lain. Tapi logistik mah ada di mereka semua..”
Suara-suara petir mulai terdengar siring mendung yang semakin menggelapkan sore itu. Dan tak lama …. Breesss. Hujan pun datang. Kami semua tergopoh menuju pepohonan edelweiss yang lebih tinggi, memasang flysheet dan mengamankan barang-barang. Kompor tetap dinyalakan untuk meminmalisir hawa dingin.
“Udah lo sama gue aja, nginep, ngapain langsung turun, capek hlo.. gue ada tenda, sleeping bag, hammock.. logistik juga banyak. Udah gak usah turun sekarang. Besok pagi aja …” tawar dan rayu Bang Tian (si porter tadi) dengan tulus.
“Gue sih terserah gimana Dita aja ..” Eki melirik ke arah saya.
Setelah berfikir beberapa menit, akhirnya saya bilang “Yaudah.”
Namun diam-diam, sebenarnya saya dan Eki memiliki fikiran yang sama. Kami tahu mereka hanya bawa dua tenda dan meskipun ada hammock, jelas tak membantu apapun jika huja turun. Akhirnya terjadilah kesepakatan ini ..
“Dit, kalo jam enam ujannya brenti, lo mau turun nggak?”
“Mau lah Ki.”
“Yaudah gitu ya?”
“Tapi ngga usah nunggu jam enam lah .. ini ujannya udah lumayan reda kok. Sekarang jam empat lewat dua puluh. Mudah-mudahan jam lima kurang udah  berhenti.”
“Yaudah pokoknya maksimal jam enam lewat lah yaa..”
“Iya.”
Syukurlah, sebelum jam 18.00 hujan mulai reda. Kami pun segera berpamitan pada Bang Tian dan keluarga yang dipandunya. Dengan tetap menggunakan mantel kami berdua mulai turun. Stringline yang dipasang sepanjang jalur sangat membantu karena memantulkan cahaya dari senter-senter kami. Pukul 19.30 diiringi gerimis kecil kami sampai di Kandang Badak. Disana sudah padat dengan tenda beserta aroma masakan makan malam. Kami berhenti sebentar untuk mengganjal perut dan mengistirahatkan kaki sembari bercengkerama dengan para pendaki lainnya yang tengah berkumpul di luar tenda.

Empat puluh menit berlalu, pukul 20.10 kami melanjutkan perjalanan. Perlahan namun pasti, kami berjalan dengan kecepatan normal. Hingga di Kandang Batu, kami bertemu rombongan pendaki dari Depok sejumlah lima orang. Setelah mengobrol sebentar, kami memutuskan untuk turun bersama-sama. Dengan tetap berada pada jarak yang dekat, kami melewati jalur air panas. Dari ketiga pendakian Gede-Pangrango, baru sekali ini saya melewati jalur air panas di malam hari. Harus ekstra hati-hati dan syukurlah gerimis tidak berangsur deras saat itu. Kami terus melanjutkan perjalanan tanpa berhenti meski hujan akhirnya semakin deras dan kami bertujuh harus menggunakan mantel beserta senter masing-masing. Jalur semakin becek dan air mengalir dibawah kaki kami, namun karena kami menemui banyak pendaki yang menanjak jalur Cibodas tak terasa sepi malam itu.

Sampailah kami di Pos Batu Kukus 1. Ketika itu sekira pukul 22.30. Lambat memang, karena hujan terus mengguyur memaksa kami untuk berjalan ekstra hati-hati. Di Batu Kukus 1 kami memilih untuk beristirahat sembari menunggu hujan reda. Saya bahkan sempat tertidur puals disana. baru ketika waktu menunjukkan pukul 23.30, rekan-rekan dari Depok membangunkan saya dan Eki untuk melanjutkan perjalanan. Hujan telah mereda dan perjalanan kami cukup lancar hingga pos pintu masuk Cibodas. Syukurlah.

Di pos masuk kami kembali beristirahat sambil bercengkrama. Sudah lewat tengah malam tentunya. Perut yang sedari tadi terabaikan mulai berontak. Akhirnya kami berpisah dengan rombongan Depok dan kembali ke Mang Idi. Mie rebus porsi double ludes seketika. Biasanya saya langsung mandi begitu menyelesaikan pendakian. Namun malam itu, cukup bilas secukupnya dan membersihkan bagian yang terkena lumpur. Badan sudah terlalu letih dan hawa semakin dingin. Kami ahrus tidur karena besok berencana berangkat pagi untuk kembali ke Jakarta.

Paginya, saya bagun lebih awal ketimbang Eki. Karena itu hari Minggu, Cibodas tampak ramai. ada pengunjung yang ingin ke curug, pendaki gunung atau yang hanya sekedar mencari hawa dingin pegunungan. Sembari menyerupu teh hangat, saya mengobrol dengan beberapa orang yang akan mendaki. Selang tiga puluh menit Eki menyusul. Hmmm, sarapan ditengah hawa dingin, udara sejuk dan ramah tamah sesama pendaki memang selalu menyenangkan. Saya akhiri liburan singkat ini bersama dengan habisnya menu sarapan pagi itu. Ya, Gede-Pangrango akan selalu menjadi opsi bila Jakarta terlalu sumpek, dan objek wisata lain dirasa terlalu jauh. Sampai jumpa lagi Mandalawangi …

 Salam,
-ND-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



Salak. Gunung yang sering disebut-sebut memiliki track kejam dan kental dengan cerita mistis ini seringkali menjadi opsi kedua setelah Gede-Pangrango bila ingin mendaki gunung yang tak jauh dari Jakarta. Agustus tahun lalu (eh sumpah udah setahun lebih?)  gue berkesempatan mendaki Salak bareng temen-temen dari PINUS. Kiww. Kali ini ada Bang Oo juga hlo. Wakaka. Setelah kemarin pendakian Cikuray gue gagal ikutan, terbalaskan juga sama si Salak pondoh ini. Oh ya, Bang Ewin juga dibela-belain datang dari Bandung untuk hlo untuk ikutan nanjak bareng.

Kalau biasanya kami sewa angkot dari stasiun Bogor, kali ini kami sewa pick up, yang membuat kami merasa lebih ‘lega’ di perjalanan dengan angin cepoi-cepoi. Meskipun sampai di jalur pendakian Cimelati udah tengah malem, kita tetep langsung naik. Eh nggak deng, nenda dulu tepat di kawasan masuk hutannya. Disana kami merasa perlu mendirikan tenda dan makan malam. Nggak pake masak, kebetulan kami menyempatkan beli nasi bungkus di deket stasiun Bogor. Tapi kalau kopi sama teh ya wajib lah ya hukumnya..

salam kompak~

ngaso dulu gan



Anyway, pendakian Salak ini dilakukan tiga hari dua malam  (jadi tiga malam kalau dihitung dari malam pertama nge-camp) karena kita lintas Cimelati- Pasir Reungit. Mantep. Agak sedih kalau inget h-7 masih jarang lari pagi (jangan dicontoh, haram hukumnya).  Kembali lagi ke malam pertama kami, hawanya masih anget agak gerah gitu. Mungkin karena gue dan sita nge-reyen tenda Bang Oo yang masih kinyis-kinyis haha. Pokoknya bobo nyenyak sampai paginya gue terpaksa bangun karena mules. Helaaaaww. Mules masih di start jalur pendakian itu agak menyebalkan, karena gue sering jadi buang air besar terus kalau di awal pendakian udah setor (apasih Dit, lo gak penting banget certain ini). Eh ya gak apa-apa, maksudnya gue mau nyaranin kalian kalau lagi naik gunung sebaiknya bawa obat sakit perut atau diare macem diapet,  neo entrostop atau semacamnya. In case kalau mules tak tertahankan di sepanjang jalur kalian  akan merasa tertolong.

kepo bener sik lu Bang?

syupuutt

Setelah sarapan dan packing ulang, kami cus memulai pendakian. Gue gak akan cerita detail untuk estimasi waktu dan pos-posnya, karena juju raja sudah lupa. Hehe. Intinya jalur agak menyedihkan kalau kedapatan ujan di jalanan. Thanks God, selama pendakian dari awal sampai turun kami nggak kedapetan ujan jadi nggak ngenes-ngenes amat.  Jalur di dominasi dengan tanah, terjal dan banyak akar. Enak sih bisa buat pijakan, tapi hati-hati ya takutnya kedapetan yang nggak kokoh. Pepohonannya cukup rindang, jadi temen-temen nggak perlu pakai lengan panjang atau manset karena takut item. Nanti malah lebih takut kegerahan…



Di Pos 4, hari udah agak sore yaa sekitar jam 15.00 gitulah. Kami rehat agak lama untuk ngopi, sementara team leader yaitu Bang Teguh dan Bang Ewin jalan duluan ke puncak untuk mencari lapak tenda. Dari intensitas ketemu pendaki lain yang nggak terlalu banyak, mudah-mudahan masih kebagian lapak mengingat hari gini peminat naik gunung semakin banyak saja. Disitu, tenaga gue masih bisa diajak temenan. Makan buah salak di gunung Salak seger juga. Kopi hitam mengepul seiring udara sore yang mulai semriwing. Kira-kira setelah 40 menit, kami lanjutkan perjalanan.

Di pos 5, team sudah berpencar. Sita, Agung, Imam, Azam, Bang Enung dan Ustad entah sampai dimana. Di pos 6 gue kacau. Tenaga rasanya udah kekuras habis. Bang Oo dan Bang Nasa masih setia nemenin gue, sambil ngeledek-ledekin muka gue yang udah gak karuan.
“Dit, muka lu udah bukan pucet kebiru-biruan lagi. Tapi ungu …” celetuk Bang Oo.
“Dit, mau ditarik pake webbing dari atas?” sindir Bang Nasa.
“Diem lu Bang.” Gue gak peduli lagi sama ocehan mereka, mata cuma ngeliat tanjakan di depan aja yang gatau ujungnya dimana. Udah hampir Maghrib, sekitar jam 17.20 an.
“Bang, gue lapeerrr…” akhirnya gue ngaku juga kalau perut ini yang dari tadi memaksa gue buat save tenaga.
“Ngomong dongggg.. udah makan dulu dah. Gue juga laper.” saran Bang Oo.
“Yahhhhh… lu Bang. Ayoklah.” timpal Bang Nasa.
Roti tawar dioles susu kental manis coklat nggak buruk-buruk amat. Plus tanah yang dikit-dikit nempel. Ah sebodo amat… gue laper.
Setelah lambung yang tadi berontak udah rada tenang, kami bertiga mulai nanjak lagi. Ternyata eh ternyata, si Bang Agung cuma duapuluh meter di depan. Doi juga udah gak jelas mukanya. Secara keril doi paling gede gitu hlo. Akhirnya sambil jalan kayak siput, kami menuju puncak gemilang cahaya.  Begitu sampai puncak, 3 (tigaaaa) tenda sudah berdiri kokoh beserta peralatan makan dan logistik di tengah. Rada-rada gontai gue segera melepas sepatu dan merasakan ‘kebebasan’ telapak dan jari-jemari kaki. Biskuit yang udah tersedia rasanya enak juga dicemil bareng teh anget. Oh ya, gue sampai pucak jam 17.45 gitu. Kebetulan team kami kebagian tempat camp yang pinggir jurang (atau lembah?). Dan u know what? tepat dibawah kami adalah tebing tempat dimana pesawat Sukhoi tahun 2012 silam.
“Dulu, puncak nggak seluas ini. Tapi karena dipake untuk evakuasi dan naroh jenazah para korban Sukhoi itu, makanya dibabat abis jadi bisa seluas ini..” cerita Bang Oo. Ziinggg… gue sih gak banyak komentar, karena tau sendiri lah yaaa gunung ini paling sering dibicarakan perihal mistisnya. Langit pun mulai gelap dan gue memutuskan segera ganti pakaian.

Kalau nanjak bareng team PINUS, jujur gue merasa kodrat gue sebagai perempuan tersaingi. Karena apa? MEREKA JAGO MASAK kalo di gunung. Gue? Masak nasi aja jadi gendar (kata Bang Teguh). Jadi yaaa… gue hanya goreng-goreng kentang dan sosis. Oh ya, sama bikin bala-bala (bakwan) yey! Akhirnya gue bikin bakwan di gunung. Tapi ya gitu, taulah.. udah pasti keasinan. Tapi pada doyan kok. Haha. Yang di wajan belom mateng yang di piring udah bersih.

masak yang bener Sit :/

Jam 21.00, udah pada masuk tenda dengan formasi masing-masing. Kali ini gue nebeng tenda Bang Ewin dan Ustad. Kita ngobrol ngalor ngidul sambil nyeruput kopi bebarengan. Wah, ternyata salak yang ‘segini’ punya hawa dingin yang nggak mau ditawar pake sleepingbag. Semua peralatan perang gue keluarin mulai kaos kaki, sarung tangan, buff dan jaket. Udah posisi wuenaaak, ada panggilan menggoda dari Bang Nasa.
“Dit, lo gak mau liat bintang? Cakep nihhh langitnya cerah…”
Mau gak mau kepala gue nongol di pintu tenda , “Lo mau keliling Bang?”
“Iya. Yuk?”
“Ikut !” dan gue pun mengabaikan hawa dingin sehingga sleepingbag gue campakkan.
Udah kebiasaan pakai celana pendek (re: selutut), yowis lah gue hanya mengandalkan jaket dan buff aja. Kami berdua jalan-jalan ke tengah puncak, dimana ada plang ‘Puncak Manik’ disitu. Wiw, rame juga ternyata. Nggak bohong, langit yang cerah bikin Bimasakti kelihatan. Gue dan Bang Nasa sibuk menebak-nebak dimana bintang timur, rasi ini dan rasi itu. Akhirnya setelah hampir setengah jam bolak balik memandangi langit, leher pegel juga. Gue memutuskan balik ke tenda dan menghabiskan malam dibalik sleepingbag kesayangan (btw, ini yang jadul, bahannya dakron cuy. Tebel :D) so, good night universe.

yeaayyy !!



“Diitt ! bangun woy. Gak mau liat sunrise lo?” entah suara siapa itu. Tapi karena gue denger udah berisik di luar, bangunlah gue dengan tergesa. Takut kecolongan.
“Mana? Kok masih gelap?”
“Bangun aja duluuu. Bentar lagi kok.” Sahut Azam.
“Huwwaaa. Dingin bet!” entah siapa yang teriak.
Kali ini gue nggak perlu susah payah bangunin Sita. Selang beberapa menit dia bangun karena keracunan yang komentar sunrise di luar tenda.
Singkatnya, sunrise pagi itu sempurna karena rupanya lapak kami punya spot bagus, yaitu di ujung sehingga tidak terhalang tenda maupun benda-benda lainnya. Selesai foto-foto dan matahari mulai meninggi, kami sarapan. Seperti biasa, makanan digelar diatas trashbag yang sudah dilapisi kertas nasi untuk dimakan beramai-ramai. sekitar jam 09.00 kami sudah mulai bersiap, packing selesai dalam waktu setengah jam dan langsung menuju jalur pasir reungit. Rencananya, kami akan camp di dekat jalur air (sudah di kaki gunung).


packing sebelum lanjutt

Disini, team kembali berpencar. Seperti biasa leader ada Bang Ewin dan Bang Teguh. Team middle ada Bang Nasa, Ustad, Imam dan gue. Sweeper (sebenernya bukan team sih, tapi ya yang kebetulan di belakang jadi gampangnya gue ssebut sweeper aja ya) ada Bang Oo, Azam, Bang Enung, Bang Agung dan Sita. Jarak antara tiga kelompok ini lumayan jauh, sekitar setengah hingga satu jam. Di pinggiran jalur yang lumayan sepi, team middle menyempatkan untuk mengisi perut. Kopi, bubur kacang ijo tadi pagi dan berbagai camilan tersedi. Maksudnya agar ketika para sweeper sampai disini mereka bisa langsung istirahat dan isi perut.



tiati jangan nyampah :(

Sambil dengerin Banda Neira, kita nungguin para sweeper datang. Begitu mereka sampai, kami angkat kaki menyusul para leader. Dan tadaaaaa… sampailah kami di kawah ratu. Pas siang bolong, matahari di ubun-ubun. Disana kami semua berkumpul. Sejujurnya gue rada lupa sih waktu itu muterin kawah apa gimana, pokoknya ya beginilah sikonnya :




full team :*



Nah setelah dari kawah, kami kembali berpencar seperti awal. Karena khawatir kondisi tidak memungkinkan camp di kawasan jalur air, Bang Teguh, Bang Ewin dan Azam berpesan akan menungu di Simpang Bajuri (termpat bertemunya beberapa jalur pendakian). Nah, di sepanjang perjalanan dari kawah ratu ke simpang bajuri inilah banyak cerita. Medan yang tetap terjal dengan tanah lembab bikin susah turun. Tapi nggak cuma turunan, ternyata masih juga ada beberapa tanjakan-tanjakan kecil. Gue sempat terpeleset di salah satu turunan yang hanya mengandalkan akar untuk berpegangan. Rada malu sama beberapa rombongan pendaki lain yang sedang istirahat, karena konyol banget posisi gue kepleset dan baju jadi penuh tanah basah. Disitu gue , Ustad dan Bang Nasa taruhan. Kami masing-masing mengisap satu permen.
“Pokoknya sampai permen ini abis, kita pasti udah sampai simpang bajuri.” Kata Ustad yakin.
“Awas ya kalo enggak.” gue menghela napas.
Satu permen? estimasi gue yaaa setengah jam lah. Tapi ternyata? Tidak. Sampai itu permen ganti dua kali, kita berempat masih belum bertemu team leader. Udah nglewatin beberapa kubangan babi, belum lagi gue yang selalu diikutin tawon (padahal nggak pakai parfum) akhirnya minta time up. Ancur-ancuran memang, gue memilih untuk selonjoron ups, bukan cuma selonjoran, tapi tiduran. Karena bukan cuma kaki yang pegel, pundak dan sekujur tubuh udah mulai ngambek. Sampai jam 16.00, para sweeper belum kelihatan batang hidungnya. Kami pun lanjut menuju simpang bajuri. Sesampainya disana, para leader udah asik tiduran di atas hammock. Gue langsung nyerbu dan cari peralatan masak. Pokoknya gue mau langsung bikin makanan. Bang Teguh dan Azam beranjak ambil air, sementara gue langsung ngrebus air yang masih ada sambil masang flysheet untuk bivak sederhana karena langit mendung dan sudah datang titik-titik air.

kelaperan semua . hiks

Selang lima belas menit, Bang Agung datang tergopoh-gopoh.
“Mpok lu tuhhhh..”
“Lah? Ngapa dia?”
“Tadi kakinya keseleo. Air dong air. Teh anget mana?” Bang Agung nampak panic, maklum doi korlap di pendakian kali ini. Jadi ada apa-apa ya merasa bertanggung jawab.
Gue yang belum sempet nyeduh teh juga rada bingung, akhirnya air yang tadinya buat masak mie langsung gue alihin buat nyeduh teh. Setelah siap, Bang Agung langsung cabut lagi nyusulin yang masih dibelakang backup Sita.
Para lelaki yang barusan balik dari ambil air langsung diriin tenda karena sudah bisa dipastikan kita gak akan camp di sekitar jalur air. Malam itu kami akan camp di simpang bajuri.
Sepanjang maghrib gue rada senewen gak tau kenapa, mungkin bawaan capek haha. Ngerasa sih pada sengaja godain biar gue makin jadi. Kalau yang tua-tua (eh maap :/) sih lebih pilih bodo amat haha.

hammocknya the best. punya EAS hammock nihh



Malam datang dan kali ini obrolan lebih ramai karena Bang Oo ikut masak. Gue angkat tangan, karena sore tadi udah bikin mie yang bejibun dan pas malamnya cuma masak nasi (yang akhirnya jadi gendar). Sementara Sita lebih banyak berkutat sama sayuran. Badan udah beneran remuk, gue gak mau ambil resiko dengan begadang. Akhirnya dengan badan penuh tempelan salonpas, gue tidur dengan formasi gak jelas karena akar pohon pada bejendol dimana-mana. Ditambah badan ustad yang panjang dari ujung tenda ke ujung pintu , juga Sita yang segera menyusul di sebelah gue.

Pagi pun menjelang. Nggak ada hawa-hawa dingin karena memang sudah di bawah. Gue, sita dan Bang Teguh jalan ke sumber air untuk ambil air dan sekedar bilas-bilas muka. Ternyata dari simpang bajuri ke sungai lumayan jauh (ya gak banget-banget sih) tapi jalanannya enak karena udah ada batu-batunya gitu. Hari udah agak siang ketika kami siap untuk melanjutkan perjalanan. Dari simpang bajuri menuju ke bawah memang banyak air dan sungai-sungai kecil. Adeeemmm banget rasanya main-main air di aliran sungai yang bening begini. Akhirnya gue memutuskan lepas sepatu dan berganti sandal karena mau nggak mau harus melewati beberapa kubangan.



Ke bawah lagi, mulai banyak orang yaitu pengunjung yang mau ke curug-curug kecil yang ada disana. Tadaa.. sampailah kami di pintu masuk pendakian salak via Pasir Reungit. Kami bergiliran mandi karena ada fasilitas toilet disana. Setelah bersih, wangi , kembali ganteng-ganteng dan catik-cantik, kami segera menuju warung yang ada di dekat area parkir. Teh nya sih kurang mantep :(  tapi pisang gorengnya lumayaaannn karena dari awal gue udah ngidam pisang goreng hanya saja kesampaiannya bakwan yasudahlah. Setelah itu semua, kami kembali ke Bogor dan kali ini naik angkot. Semua keril ada di atas mobil hehe. Sampai stasiun, gue adalah satu-satunya yang menuju ke Tangerang dan itu berartiii hanya gue yang harus naik kereta jurusan Jatinegara-Bogor. Tapiii karena mereka semua baikkkk jadi ya semua naik kereta yang jurusan tanah abang meskipun turun juga di Manggarai hehe.

Yaaah kira-kira begitulah pendakian Salak tahun lalu secara garis besarnya. Hehe maaf yaaa kalau cerita selalu udah kelewat lama :( sebenernya pas nulis ini juga gue keingetan utang chapter keberapa gitu lanjutan dari Lawu dan Pangrango. Dan masih ada utang perjalanan-perjalanan yang lain. Semoga masih diberi kesempatan untuk share disini yhaaa..

Kamsahamnida,
-ND-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ►  2018 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2016 (19)
    • ▼  Desember (3)
      • Betah duduk manis di Lucky Cat Coffee
      • Mampir lagi ke Cibereum
      • POP! Hotel Citylink Bandung (Review)
    • ►  September (3)
      • Satu hari di Merapi
      • Siapa Dilan ? Dia Dilanku tahun 1990
      • Pelajar atau pekerja? Keduanya.
    • ►  Agustus (2)
      • 17 Jam di tubuh Pangrango (chapter 2)
      • Menjajal manisnya Salak
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates