Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita

foto oleh : Mas Bayu

Catper pendakian Gunung Lawu 3265mdpl (part 2)

    Rupanya cuaca tidak begitu bersahabat. Langit kembali mendung dan kabut mulai menyelimuti bukit-bukit serta lereng gunung Lawu sebelum maghrib tiba. Saya pun lantas pamit pada mas Bayu untuk duluan masuk tenda. Dingin mulai terasa seiring kabut yang datang.

    Saya hanya pesan, “Mas Bayu, nanti kalau sunset nya bagus panggil aku yak.. “
“Siap !” dan saya pun meringsek masuk ke tenda menyusul teman-teman yang lain.
Talang, Rian, Mustika dan Riska sudah berselimut sb dan menyisakan satu ruang untuk saya. Awalnya saya hanya menggunakan sleepingbag dan kemeja flannel serta bercelana pendek. Selang setengah jam, saya dengan mas Bayu masuk ke tenda sebelah. Saya bangun, mencari-cari sarung tangan dan kaus kaki. Setelah ketemu, segera dipakai dan kembali rebahan. Namun lagi-lagi dingin semakin bertambah. Maka saya pakai buff mulai dari leher hingga kempala dan hanya menyisakan celah di bagian mata. Belum cukup, saya pakai jaket untuk melapisi bagian terluar. Nah, sekarang lebih baik dan cukup hangat.  Jadi kira-kira begini lapisan kostum saya saat tidur : kaus dan celana pendek, kemeja flannel, kaus kaki dan tangan, buff, jaket, terakhir sleeping bag. Baru saya akui, Lawu memang benar-benar memiliki suhu yang amat dingin terlebih ketika malam datang.

        Semakin malam, teman-teman semakin tak nyenyak tidur. Riska yang di sebelah saya kadang menggigil. Maka saya dekap saja supaya lebih hangat. Rian dan Mustika sibuk mencari pakaian hangat mereka. Tak berapa lama, Talang bangun dan berpindah ke tenda mas Bayu. Mungkin di tenda ini sudah terlalu sempit atau saya yang kebanyakan tingkah sehingga mengganggu tidurnya. Jelang tengah malam, saya sudah terlalu mengantuk untuk ikut menimbrung pembicaraan Mustika dan Rian yang entah sibuk saling memasangkan pakaian hangat atau hanya bergumam tentang dingin yang amat sangat. Saya jatuh tertidur hingga subuh datang.

        Alarm handphone saya berdering pukul 04:30 WIB. Mau tak mau saya bangun mencari bodypack tempat saya menyimpan barang-barang penting itu. Alarm  hanya saya tunda-tunda saja agar tidak kesiangan. Setiap lima menit alarm itu berbunyi sampai pukul 05:30 WIB. Akhirnya saya benar-benar bangun karena ‘panggilan alam’. Saya melepas jaket, kaus tangan dan kaus kaki. Beranjak keluar tenda untuk melihat suasana.

    Pagi itu langit sangat cerah, pemandangan dari pos 3 sudah cukup bagus. Saya cukup berisik saat merapikan barang sehingga yang lain ikut bangun. Mustika protes karena saya tidak membangunkannya lebih awal. Kami segera merapikan barang, packing ulang dan membongkar tenda. Setelah semua rapi, barulah kami membuat sarapan. Di tenagh-tengah menyiapkan sarapan, kami saling bercerita betapa dinginnya semalam. kata mas Bayu, semalam suhunya mencapai nol derajad celcius. Pantas saja... kami menggumam.

        Menu sarapan kali ini adalah bubur dan bakso. Ah, kalau di gunung toh makan apa saja sudah bersyukur. Meski Talang terlalu banyak menuang air hingga bumbu tidak terasa, tapi kami makan dengan cukup lahap. Selesai sarapan, kami bersiap untuk memulai kembali perjalanan.

      Beberapa puluh meter dari pos, kami menemui sumber mata air. Ada genangan air yang terus terisi oleh aliran air dari celah batu. Kami mengambil dua botol untuk persediaan. Dari pos 3 menuju pos 4 jalanan masih sama, cukup landai dan ada jalur evakuasi. Kami kembali memilih jalur evakuasi untuk mengejar waktu, karena kami terlalu siang memulai perjalanan.

      Kami sampai di pos 4 pukul 14:00 WIB. Pos 4 cukup luas dan hanya ada rombongan kami di sana. Saya segera merebahkan diri di pelataran pos. Begitupun yang lain, bahkan ada yang langsung tidur-tiduran. Saya dan mas Bayu bergantian ambil foto. Talang dan Riska main entah apa, sembari duduk di rerumputan. Rian dan Mustika mengobrol di dekat edelweiss depan jalan setapak.

    Kami tidak berlama-lama di pos 4, sebab lapar sudah mendera. Sudah terbayang-bayang nasi pecel dan teh jumput hangat mbok Yem yang terkenal di antara para pendaki itu.  Maka kami bergegas menuju pos 5 yang dengan kata lain adalah puncak Hargo Dalem. Dari jalanan antara pos 4 menuju Hargo Dalem, kita dapat melihat puncak Hargo Dumilah. Puncak Hargo Dumilah adalah puncak yang paling tinggi di gunung lawu.

    Dengan jalur yang cukup melelahkan, kami sampai di puncak Hargo Dumilah. Di sana ada makam dan tempat untuk besemedi. Ada bangunan permanen dan semi permanen yang di jaga oleh penduduk gunung Lawu. Kami menyempatkan diri mampir, melihat petilasan. Tak lama, segera kami menuju warung mbok Yem. Kecewa, karena ternyata mbok Yem sedang mantu, yaitu menikahkan anaknya. Jadi sekarang ia sedang dalam perjalanan turun gunung.

    Harapan kami beralih pada warung yang ada di bawah puncak Hargo Dumilah, sekitar lima belas menit dari warung mbok Yem. Kalau tidak salah namanya warung mbok Nah. (koreksi ya kalau salah). Warung ini letaknya ada di samping sendang Drajad. Wah, siapa pendaki gunung Lawu yang tidak pernah dengar sendang ini.

    Begitu sampai di sendang Drajad sekaligus warung mbok Nah, kami segera meemsan nasi pecel. Namun kami harus menunggu karena nasinya belum matang. Sembari menunggu, kami merundingkan siapa saja yang akan ke puncak Hargo Dumilah. Saya tentu saja mau, karena penasaran dan merasa fisik masih mumpuni. Mustika dan Riska juga bersemangat untuk kesana. Karena Talang enggan ikut dan memilih menunggu di warung sekaligus menjaga keril kami yang summit, maka mas Bayu juga memutuskan untuk menunggu di warung saja bersama Talang.

    Selang beberapa menit setelah perundingan selesai, nasi pecel pesanan kami datang. Rasanya benar-benar makan enak setelah kemarin hanya makan seadanya. Kami makan dengan lahap tanpa banyak mengobrol.

    Saya, Mustika, Rian dan Riska siap naik ke puncak setelah kenyang dan membawa bekal yang cukup.  Jalur menuju puncak Hargo Dumilah cukup jelas, semakin mendekati puncak ada jalur bebatuannya. Begitu melihat bendera di ujung tugu puncak, saya menarik napas lega. Ternyata dari sendang Drajad menuju puncak Hargo Dumilah hanya membutuhkan waktu lima belas menit.

   Sayang sekali, kami sampai di sana hari sudah sore, dan kabut ada di mana-mana. Pemandangan di atas awan sangat sulit di dapat. Jadi kami harus berpuas diri dengan secercah cahaya di bagian barat. Kami sampai di puncak pukul 17:00 WIB. Wah, harus segera turun jika tak ingin kemalaman sampai di bawah.

    Setelah kami ber-empat kembali ke warung, Talang dan mas Bayu segera ikut bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan turun. Untuk menuruni gunung Lawu ini kami memilih jalur cemoro Sewu. Sebab hujan semalam pasti membuat kontur tanah di jalur cemoro Kandhang menjadi becek dan akan menyulitkan perjalanan turun kami.

    Sedangkan jalur cemoro Sewu di dominasi dengan jalur tangga dari bebatuan, tentunya akan lebih aman dan memudahkan langkah kami menuruni gunung. Maka kami mulai turun melalui jalur cemoro Sewu.

    Dari sendang Drajad menuju pos 5, pemandangannya sangat bagus. Lebih luas dari pada pemandangan di jalur cemoro Kandhang. Cuaca di sekitar gunung Lawu memang sulit di prediksi. Belum ada satu jam yang lalu kami menmui mendung di Puncak, kini sepanjang jalur turun langit cerah. Kami mulai bertemu dengan pendaki-pendaki yang naik melalui jalur ini.

    Langit mulai gelap ketika kami sampai di pos 4, saat itu sekitar pukul 18:30 WIB. Kami mengeluarkan senter dan headlamp masing-masing. Ketika langit benar-benar telah gelap pekat, kami mulai mengatur posisi. Berjalan paling depan adalah Talang, kemudian Mustika, Riska, Rian, saya dan mas Bayu sebagai sweeper.

    Gerimis turun sedikit-sedikit dan langit kelihatan mendung. Kami khawatir akan terkena hujan dalam situasi begini. Maka kami membatasi waktu istirahat untuk mengejar waktu. Awalnya, kami merasa baik-baik saja dan masih dalam kondisi cukup kuat. Namun rupanya Riska mulai kelelahan dan kaki-kaki saya serta Mustika mulai tidak stabil …


(bersambung)


Salam,

Naredita


#NulisRandom2015 #Day4
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Catper pendakian Gunung Lawu 3265mdpl (part 1)


foto oleh : Mas Bayu



    Setelah vakum dan menahan diri tidak naik gunung selama mengerjakan skripsi, seingat saya terakhir kali mendaki adalah bulan September 2014 lalu. Artinya, sudah enam bulan yang lalu saya menapaki gunung Gede via  jalur Putri sebelum mengerjakan skripsi yang katanya momok mahasiswa tingkat akhir itu. Setelah urusan skripsi, sidang, yudisium dan yang lainnya selesai, saya akhirnya bisa menikmati liburan tanpa embel-embel UAS atau hari raya dibelakangnya.

    Tiga hari setelah yudisium saya bertolak ke Solo, bersama dua rekan yang kebetulan tengah mengakhiri masa magang nya di Jakarta. Kereta Matarmaja tepat waktu sampai di Solo pukul 02:00 WIB, dengan kesan perjalanan yang cukup memuaskan mengingat harganya sedang naik dua kali lipat dari harga ber-subsidi.

    Karena ingin lebih banyak waktu bersantai dirumah dan sedang tidak ingin ada pengeluaran berlebih, maka saya pilih Lawu sebagai tujuan untuk menikmati hawa dingin pegunungan yang sudah sangat dirindukan. Gunung dengan ketinggian 3265mdpl ini terletak diantara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi kalangan pendaki yang saya kenal, sebagian besar dari mereka beranggapan bahwa Lawu adalah gunung yang memiliki suhu ter-dingin bila dibandingkan beberapa gunung di sekitarnya seperti Merapi, Merbabu, Prau dan sekitarnya.

     Awalnya kami hanya memiliki 4 personil, yaitu (lagi-lagi) saya, mas Bayu, Talang dan Rian. Tetapi kemudian Rian mengajak pacarnya, Mustika dan adiknya yang masih berusia 11 tahun (kelas 5 SD), Riska. Alhasil tim kami menjadi 6 orang dengan kesamaan jumlah gender yaitu 3 perempuan dan 3 laki-laki. Dan awalnya juga, kami berniat menuju basecamp menggunakan motor. Namun karena satu dan lain hal, maka Rian menawarkan untuk naik mobilnya saja.

   Kami berangkat sebelum maghrib dan bersyukur tidak jadi naik motor karena sampai di Tawangmangu, hujan turun serta kabut tebal menghalangi pandangan. Ngeri juga, karena jalanan Tawangmangu salah satu sisinya seringkali adalah mulut jurang. Waktu itu, kami belum menentukan apakah akan lewat jalur Cemoro Kandhang atau Cemoro Sewu (selanjutnya akan saya sebut ‘Kandhang’ dan ‘Sewu’ saja ya). Namun karena mobil terlanjur di parkir di pelataran basecamp Kandhang, maka kami putuskan mendaki via Kandhang saja. Baru jam 20:00 WIB ketika kami sampai dan mengobrol dengan mas-masnya AGL (Anak Gunung Lawu) yang sedang jaga di pos. Karena malas nanjak malam, kami menunggu pagi di basecamp yang kebetulan sedang kosong. Sebelum tidur, kami sempatkan makan malam di warung lesehan seberang jalan. Nasi goreng, sate kelinci, teh dan susu panas menjadi menu makan malam kami ditengah dinginnya udara kaki Lawu.

     Pagi datang, pukul 06:00 WIB kami bersiap-siap untuk mulai mendaki. Masing-masing keril sudah ter-packing ulang dengan bobot yang disesuaikan dengan kemampuan bahu si empunya. Termasuk si Riska, gadis kecil itu gondeli tas mungil biru mudanya yang berici makanan ringan dan mie instan. Anak satu ini benar-benar seperti tak kehabisan tenaga, dari semalam terus mengoceh dan mengajak bermain.
Dengan di awali doa, kami perlahan menapaki jalur-jalur tanah Cemoro Kandhang. Karena hari itu adalah hari Senin, jadi jalur pendakian cukup sepi. Kami tidak menemui pendaki lain baik yang turun maupun naik sampai pos 1.

    Sampai pos 1 yang ada di ketinggian 2300mdpl, kami sejenak meregangkan kaki dan pundak. Kabut tipis sesekali lewat, meyisakan hawa dingin. Sepatu dan sandal yang kami pakai kotor dengan segera, karena tanah yang semalam diguyur hujan masih belum kering. Cukup lama juga kami berhenti disitu, sekitar tiga puluh menit. Setelah di rasa cukup, kami melanjutkan perjalanan.

     Selang satu setengah jam, kami sampai di Taman Sari atas, yaitu pos 2. Pos ini berdekatan dengan kawah Chandradimuka dan berketinggian 2470mdpl. Sayang, untuk melihat kawah tersebut kami harus berjalan menembus semak dan pepohonan. Karena kabut yang mulai tebal kami hanya duduk saja di sekitar pos. Ada beberapa botol bekas air mineral yang digunting bagian tengahnya, kemudian ditadahkan di antara batang-batang kayu bangungan pos dengan harapan nantinya botol kosong itu akan terisi dengan air hujan.

     Di sinilah juga kami bertemu dengan jalak hitam, yang banyak orang bilang bahwa setiap pendaki gunung Lawu akan bertemu dengan burung ini. Si jalak bertengger anggun di ranting dekat atap pos. begitu di dekati, ia segera terbang menjauh, namun masih terpantau oleh kami. Bagi kami dan banyak pendaki lain, kedatangannya semacam ucapan selamat datang. Konon katanya, si jalak akan senantiasa menemani pendaki sampai menuju puncak.

    Dua puluh menit kami beristirahat, serombongan pendaki lain datang. Kami saling berkenalan dan mengobrol hingga rombongan saya kembali melanjutkan perjalanan lebih dulu. Rian sudah mengingatkan bahwa jarak antara pos 2 menuju pos 3 adalah jarak yang paling jauh diantara pos lainnya. Karena itulah di pos 2 tadi kami mengisi energi yang cukup dengan makan roti dan susu.

    Jalanan setelah pos 2 di dominasi oleh trek yang landai, sehingga tidak melelahkan. Namun karena jalanan yang landai itulah berarti jalur ini memutar dan membuat waktu perjalanan lebih lama. Sebenarnya, diantara jalur landai ini terdapat jalur menanjak yang biasa digunakan untuk evakuasi. Jalur yang menanjak ini lurus memotong jalur landai. Kami masih menggunakan jalur landai hingga tiba di pos bayangan. Pos bayangan ini terletak di antara pos 2 dan pos 3. Di sini kami bertemu dengan rombongan pendaki yang sedang dalam perjalanan turun. Tak lama juga disusul oleh rombongan yang bertemu dengan kami di pos 2 tadi.

    Kami tak berlama-lama di pos bayangan karena pos 3 masih lumayan jauh. Selama perjalanan, Riska senantiasa menyanyi. Entah itu lagu anak-anak, lagu nasional, atau hanya teriakan-teriakan penggugah semangat. Kami semua geleng-geleng kepala, heran dengan daya tahan fisik gadis kecil ini. Mustika yang kemarin tidak  persiapan fisik sama sekali, sedikit kaget dan merasakan pening di kepalanya meskipun ini adalah pendakiannya yang kesekian kali. Kalau saya, jujur saja ini adalah pendakian yang paling membuat saya sering merasa lapar. Mungkin karena hawa dingin yang lain dengan gunung-gunung sebelumnya atau karena sarapan sekadarnya tadi pagi.
Semenjak dari pos bayangan menuju pos 3, kami lebih sering menggunakan jalur menanjak atau jalur evakuasi untuk mempersingkat waktu. Antara saya, Mustika, Talang atau Mas Bayu, saling bergantian menemani Riska melalui jalur landai.

    Setelah melalui perjalanan kurang lebih dua jam, kami sampai di pos 3. Bangunan shelter yang terbuat dari semen dan seng menandai keberadaan pos tersebut. Pos 3 ini ada di ketinggian 2700mdpl dan memiliki dataran yang cukup untuk mendirikan tiga tenda di bagian pelataran shelternya dan dua tenda di bagian belakang shelter. Di sana kami kembali menemui rombongan yang sama, saat itu mereka sudah bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Mereka juga menyarankan kami untuk segera melanjutkan perjalanan karena kondisi di dalam shelter sangat kumuh, banyak sampah. Kami hanya mengiyakan dan memeriksa keadaan di dalam shelter.

    Saat saya melongok ke dalam, memang benar banyak sampah. Di pojokan menumpuk sampah plastik dan sisa-sisa makanan. Aduh… saya dan yang lain  hanya dapat membersihkan semampunya. Tak lama kemudian, hujan turun. Awalnya hanya hujan biasa, namun lama kelamaan makin deras dan di sertai angin kencang. Dengan pertimbangan kondisi cuaca, kami memutuskan untuk beristirahat di dalam shelter.  Kami menyisakan ‘lahan’ yang cukup untuk mendirikan satu tenda lagi selain dua tenda milik kami dan siap untuk membongkar tenda kami sewaktu-waktu bila ada pendaki lain yang datang untuk berteduh di dalam shelter. Namun hingga badai semakin memburuk dan akhirnya reda, tidak ada pendaki yang melintas.

    Pukul 17:00 WIB, hujan benar-benar sudah berhenti. Langit kembali cerah. Saya dan mas Bayu seperti biasa meluangkan waktu untuk mengobrol sembari menunggu matahari terbenam. Dari pos 3, kami dapat melihat gunung Merbabu dan Merapi. Nun jauh di bawah, kota Karanganyar terlihat kecil. Bukit-bukit Tawangmangu indah saling menyembul di antara satu dan lainnya.

   Talang dan Rian sudah meringkuk di dalam tenda sedangkan Mustika dan Riska sedang asyik ber-selfie ria dengan latar tebing di belakang shelter. Tak berapa lama mereka menyusul Rian dan Talang untuk beristirahat karena kami ada rencana untuk melanjutkan perjalanan malam hari bila fisik memadai.

   Sementara rekan-rekan yang lain sudah beristirahat di dalam tenda, saya dan mas Bayu masih sabar menunggu detik-detik matahari terbenam sembari berharap langit akan tetap cerah..


(bersambung)

Salam, 
Naredita

#NulisRandom2015 #Day3


Nb : foto-foto pendakian ini dapat di lihat >> di sini
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


    Kota-kota besar yang memiliki daya pikat dari berbagai sisi, tentunya tidak lepas dari para pendatang yang memiliki masing-masing tujuan untuk mendatangi si kota populer. Kita biasa menyebutnya perantau. Perantau sendiri ada yang telah lama berkecimpung di kota perantauan atau hanya sementara guna menyelesaikan kewajiban misalnya kuliah, dinas kantor atau sekedar mencari pengalaman.

     Istilah dari penulis sendiri, perantau ada dua macam. Perantau baru adalah mereka yang baru mulai merantau atau hanya sementara berpindah domisili untuk tujuan tertentu. Sedangkan si perantau lama, adalah mereka yang sudah memutuskan untuk menetap di kota barunya dan bahkan telah memiliki rumah, membangun keluarga dan memiliki status kependudukan di sana. Jadi istilah ‘perantau’ melekat padanya karena mereka masih memiliki sanak saudara di kampung yang secara rutin dikunjungi.

Nah, yuk kita lihat kira-kira apa saja yang dekat dengan kehidupan khas perantau :

·     >    Domisili sementara
    Para kawula remaja yang kuliah di luar kota umumnya menyewa kost atau patungan bersama teman-teman untuk mengontrak sebuah rumah di kota perantauan. Tak jarang, sebagian besar dari mereka seringkali memilih untuk tinggal di rumah sanak saudara yang kebetulan berada di kota tersebut. Begitu pula para dewasa muda yang mengadu nasib di kota lain, sedang cari kerja maupun baru-baru di terima bekerja, memiliki opsi yang sama dengan para mahasiswa tadi. Tapi jika mereka ‘betah’ , bukan tidak mungkin mereka akan mempertimbangkan untuk membeli rumah disana.
Bicara soal kost atau kontrakan, tentunya disesuaikan dengan kocek masing-masing. Mereka akan mempertimbangkan antara biaya kost, makan sehari-hari, transport dan utamanya biaya kuliah atau keperluan penunjang pekerjaan.

·        >  Waspada dengan kalender
     Berbeda dengan yang tidak merantau, para pendatang ini lebih jeli dengan kalender terutama yang berwarna merah. Kalau mereka yang penduduk tetap atau perantau lama bisa bilang “kok cepet ya udah hari senin lagi,” maka para perantau baru ini biasanya akan bilang “kok lama ya hari jumat? Udah nggak sabar mau pulang”.
Jangankan tanggal merah, weekend pun akan jadi sasaran mereka untuk curi-curi pulang kampung. Hari kerja senin sampai jumat tentunya bukan hambatan. Mereka punya hari sabtu dan minggu untuk sejenak pulang ke rumah.

·      >   Situs penjual tiket
     Para perantau baru akan sering memantau situs-situs penjual tiket secara online. Baik itu moda transportasi kereta, bus maupun pesawat. Bukan hanya penjual online, agen tiket ‘manual’ yang membuka lapak di tiap-tiap cabangnya pun tak luput dari sasaran rasa ingin tahu mereka. Apalagi sekarang yang namanya tiket bisa dipesan jauh-jauh hari. Wah, mereka pasti akan memastikan tidak kehabisan jatah kursi perjalanan.

·    >    Teman seperjuangan
    Entah sengaja atau tidak, seringkali para perantau bertemu dengan orang-orang yang berasal dari kota di mana mereka berasal. Bisa jadi memang janjian untuk mengadu nasib di kota yang sama, bisa juga bertemu di lingkungan kuliah, kerja atau kegiatan kesehariannya. Teman-teman ini di bilang seperjuangan karena ada rasa solidaritas atau kekeluargaan yang muncul lantaran kesamaan asal muasal. Umumnya hal ini akan memicu kecenderungan untuk saling membantu juga.

·    >     Oleh-oleh
     Ini adalah hal yang paling sering disebut-sebut baik oleh orang di pihak kota perantauan atau kota asal. Biasanya oleh-oleh dibeli karena memang sudah menjadi kebiasaan atau untuk menyenangkan/menghargai orang-orang yang mana akan mereka kunjungi kembali. Oleh-oleh juga kerap kali berjumlah lebih banyak bila perantau bertolak dari kampung dan kembali ke kota peraduan nasibnya. Selain memang sebagai ciri khas, mereka akan menyisihkan makanan khas kampungnya untuk dinikmati sendiri beberapa waktu ke depan, sekedar pengobat rindu yang belum usai.

·    >     Catatan keuangan
      Ini adalah salah satu yang paling penting. Para perantau harus seksama dan teliti dalam membuat catatan keuangan mereka. Jangan sampai pendapatan bulan A hanya cukup untuk bulan A saja. Siapa tahu kebutuhan yang ‘aneh-aneh’ akan datang tiba-tiba. Menyiapkan uang cadangan akan membuat mereka lebih merasa aman.

·      >   Sabar
    Sabar kalau bulan ini belum bisa pulang, sabar kalau belum bisa beli baju baru, sabar nggak bisa ikut temen kantor nge-trip, sabar akhir bulan makan mie instan aja dan sabar-sabar yang lainnya. Yah, namanya juga di kota orang :)

Itu tadi sekelumit hal-hal yang dekat dengan anak rantau . Kalau ada tambahan lain silakan cuap-cuap ya hehhehe …

Salam anak kampung,


-N-


#NulisRandom2015 #Day2 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates