Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita



Ironi memang terjadi dimana-mana. Dan seperti yang bayak orang bilang bahwa bahagia itu sederhana, saya juga mengalaminya. Namun untuk kali ini, sepertinya lebih tepat dikatakan sebagai perasaan lega. Lega karena banyak kerinduan-kepenatan yang akhirnya dapat dilepaskan. Lepas ke langit Jakarta, menguap bersama udara lembab bercampur asap-asap dan suara klakson riuh rendah. Bagi saya, Jakarta tak pernah kehabisan cerita. Meski pemeran dan pemain di dalamnya tak banyak berubah. Skenario beraneka rupa terjadi setiap hari. Orang-orang sukses, pengemis yang kelaparan, kisah pembunuhan pada tengah malam di bawah kolong jembatan, anak-anak kumal membaca buku di dekat tumpukan sampah, para bos makan malam di restoran mewah dan sederet kisah lainnya.

Saya tak terkecuali. Diantara sibuknya ibu kota, saya bertemu seseorang yang sekira nyaris tiga tahun saya kenal. Dia adalah kawan dan abang, serta beberapa peran lain yang dimainkannya dalam sejarah perkenalan kami hingga detik ini. Dia menyebalkan, sungguh. Dan saya masih bertanya-tanya mengapa sudi menemui laki-laki yang satu ini meski mendekatkan saya pada penyakit darah tinggi setiap kali membuat janji. Namun diam-diam, sebenarnya saya telah mengetahui jawabannya. Sebuah jawaban panjang yang sulit dituangkan dalam bait-bait kata dan selihai apapun saya menuliskannya.

Sebagian besar pertemuan kami hanya untuk mengobrol. Mungkin bila di filmkan bakal mirip dengan trilogi before sunrise, before sunset dan before midnight yang berisi obrolan ngalor-ngidul antara pemuda dan wanita yang bertemu di sebuah kereta.  Akhir pekan adalah waktu yang pas untuk mewujudkan film lawas itu menjadi nyata.

 Hari Sabtu membuat commuter line Tangerang-Jakarta dipenuhi penumpang berbagai usia. Berdiri sambil melempar pandang keluar jendela dengan telinga tersumpal headset menjadi momen dengan citarasa tersendiri. Lihat, wajah-wajah lelah dan ceria yang random di dalam gerbong kereta. Lagu yang mengalun ke dalam gendang telinga saya seolah menjadi soundtrack untuk sandiwara yang kami perankan didepan satu sama lain.

Sejak dulu, saya tahu bahwa ia akan terlambat. Dia selalu terlambat. Dan membuat saya menunggu. Dibalik kedua alis yang mengerut dan wajah yang memberengut, saya menyesali mengapa tak berbohong saja bahwa telah tiba tigapuluh menit lalu. Lihat ya, akan kulakukan pada pertemuan berikutnya. Biar saja kau menunggu sampai bosan. Itu dia. Datang dengan wajah tanpa rasa bersalah, membuat suasana Manggarai yang gerah semakin gerah. Tapi sudahlah, marahpun tak akan mengembalikan waktu tiga puluh menit menunggu.

Jalanan Jakarta sabtu sore itu benar-benar keterlaluan, ditambah kecepatan motor yang tak pernah lebih dari rata-rata membuat perjanalan menuju UNAS (Universitas Nasional) yang berada di Pasar MInggu itu terasa lama. Belum lagi gerimis yang mulai turun dan entah untuk alasan apa saya harus menunggu di sebuah mini market tikungan jalan. Namun lagi-lagi, kami melanjutkan perjalanan tanpa saya mengatakan rasa sebal dan lebih memilih berkata dalam hati, ya sudahlah.

Hujan turun semakin deras seiring perjalanan kami menuju daerah Kalibata. Terpaksalah kami menepi untuk berteduh. Ya, berteduh dimanapun yang paling dekat. Sebuah tempat produksi mebel memperbolehkan kami menumpang barang sebentar sampai hujan reda. Dan disanalah kami duduk, berbincang tentang banyak persoalan. Tentang si A dan pekerjaannya, si B dan hubungan percintaannya, si C yang hilang tanpa kabar, si D E F dan deretan nama lainnya.

Bukan, kami bukan bergosip. Namun mengambil makna dari cerita-cerita mereka. Atau hanya sekedar obrolan pembuka? Disela pembicaraan yang semakin menghangat, beberapa kali saya menengadah ke langit. Mendung senantiasa menggantung disana, menyisa warna abu karena hari yang menyore dan asap kendaraan lalu-lalang. Beberapa kali juga kaki ini meringsek masuk, mengindari kebasahan karena atap asbes yang bocor dan cipratan air hujan di dekat gerbang. Lalu sembari terus mengobrol, saya merasa heran sendiri. Alih-alih menikmati makanan atau suasana kafe bernuansa tenang, obrolan kami tetap terasa menyenangkan meski dalam situasi yang demikian.

Hujan pun reda. Tinggal gerimis yang tak bakal terlalu membasahi baju kami bila berjalan dibawahnya. Saya kenal sweater abu-abu itu. Spontan dipinjamkannya karena saya tak pakai jaket atau pelindung lainnya. Dibwah gerimis, kamipun melaju ke Kalibata. Di sepanjang jalanan yang berlubang dan menampung air hujan, warung-warung makan sedang membersiapkan tenda-tendanya. Meja-meja ditata. Alat panggang dipanaskan. Dan di seberang sana, taman Makam Pahlawan Kalibata hening dalam aura yang tak dapat dijelaskan.

Usai perut lapar ini terisi, kami kembali menyusuri Jakarta. Dan kembali menyusuri daftar pertanyaan yang dilemparkan pada satu sama lain. Mengomentari jawaban-jawaban yang sulit dipahami. Menambahi pendapat ini dan itu. Bicara penulis-penulis handal yang bukunya mendunia, karakter Dee Lestari yang semakin nge-pop dan Pramoedya yang karyanya menjadi bacaan wajib penggemar sastra. Membicarakan buku kesukaan, membicarakan tulisan-tulisan orang.


Membicarakan si laki-laki ini, wanita itu. Menerka-nerka harga rumah di Jakarta, menghitung-hitung pendapatan orang lain dan susunan kredit debit rumah tangga mereka. Menceritakan pengalaman pribadi baru-baru ini. Menebak-nebak perasaan orang lain yang jatuh cinta. Menembus Jakarta tengah malam. Melewati anak-anak muda kekinian yang nongkrong dipinggir jalan. Menikmati obrolan versi kami sendiri, sambil berharap gerimis berhenti dalam kegiatannya membasahai Jakarta. Sebab bila tidak, kami benar-benar akan masuk angin. Cukuplah rintik sore tadi menjadi latar sebuah versi lain dari film jadul kesukaannya. Malam ini di perjalanan pulang, kami ingin tetap kering sampai tujuan.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
 sore di Lembah Mandalawangi

Terakhir saya naik gunung sebelum pendakian Pangrango ini adalah Agustus 2015 lalu (ya, cukup lama juga) yaitu ke gunung salak bersama kawan-kawan Pinus. Pada akhir April 2016 lalu, saya sudah tidak tahan lagi ingin kembali menapaki dataran ribuan meter di atas permukaan laut. Namun karena waktu yang terbatas, akhirnya saya merelakan diri dan hati untuk kembali menyambangi TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Kali ini partner nanjak saya adalah Eki. Kurang lebih seminggu sebelum hari-H, kami sepakat untuk mendaki ke Pangrango asal pendakian ini dilakukan secara ‘tektok’ karena di hari Minggu Eki harus tiba di Jakarta untuk interview kerja.

Untuk kalian yang kerap naik gunung pasti sudah tidak asing dengan istilah yang satu ini. Namun bagi yang belum tahu, yang dimaksud tektok adalah naik gunung tanpa camp, alias mendaki sampai puncak (ataupun tidak sampai puncak) dan langsung turun lagi. Sejujurnya selama ini saya selalu naik gunung dengan cara normal, bahkan yang terakhir itu dilakukan selama 3 hari 2 malam. Tapi toh saya setuju dengan ide Eki. Meskipun kami memilih untuk tektok, Eki tetap sedia flysheet, kompor, nesting dan baju hangat. Saya pun membawa ponco (mantel plastik) dua buah dan logistik secukupnya, yaitu roti sobek dan kopi. Dari awal kami sudah sepakat bahwa bila cuaca tidak memungkinkan, sampai di pos berapapun kami siap untuk kembali turun. Intinya tidak ingin memaksakan.

Jumat 29 April, sepulang kerja saya langsung pulang untuk packing. Ya, namanya juga dadakan jadi packing pun di hari-H. Saya membawa daypack 20liter yang memang tidak muat terlalu banyak barang. Karena kebiasaan, saya juga membawa mini bag untuk menyimpan barang penting sebagaimana biasanya jika naik gunung. Jam 20.00 WIB saya menuju stasiun Tangerang untuk ke Bekasi, karena Eki menunggu di sana. perjalanan dengan krl itu memakan waktu sekitar dua setengah jam hingga akhirnya saya bertemu dengan Eki untuk pertama kali. Hlo, kok pertama? Iya nanti ceritanya di post terpisah ya hehe. Begitu ketemu, kami langsung tancap gas ke Cibodas, kira-kira perjalanan dimulai pukul 23.00 WIB.

Mandalawangi yang sepi

Cuaca memang sedikit mendung, kami berhenti sebentar di puncak pass untuk ngopi. Eki sudah gelisah karena mendung tak juga pergi, malah membawa serta gerimisnya turun. Tak lama kami kembali melanjutkan perjalanan ke Cibodas. Sesampainya disana, kami menuju warung Mang Idi untuk segera beristirahat. Waktu itu kira-kira pukul 02.00 dini hari. Karena ruangan yang disediakan untuk beristirahat sudah dipastikan ramai, kami hanya nyempil di bawah tangga. Baru dua jam terlelap, saya sudah gelisah karena udara cukup dingin. Alhasil sebelum alarm berbunyi saya sudah melek duluan. Baru ketika jam 05.30 saya bisa kembali tertidur dan dibangunkan Eki jam 06.30  untuk bersiap-siap.

Cuaca sedikit mendung membuat kami sedikit pesimis bahkan untuk sekedar sampai di kandang badak. Setelah sarapan roti, kami menuju jalur pendakian Cibodas.
“Dit, target tiga jam ya sampe kandang badak. Hehe …”  
“Yaa… semoga. Gue mah apa atuh, lelet.”
“Haha… santai kok dit. Liat aja nanti sikonnya.”
Kami memulai pendakian jam 07.30 dengan keadaan cukup ramai. Namun disepanjang jalur hingga Pos Rawa Panyancangan nyatanya kami tidak terlalu banyak bertemu dengan pendaki lain. Disitu saya sudah engap dan Eki juga mulai menawarkan “Mau lenggang nggak Dit?”
Tentu saja tidak. Antara masih merasa mampu dan gengsi, saya menolak tawaran Eki.
“Nggak, gue masih bisa Ki. Enak aja lo … hehehe…”
Akhirnya setelah berhenti lima belas menit kami melanjutkan perjalanan. Oh ya, lama perjalanan dari pos hingga Rawa Panyancangan adalah 45menit. Yaaaa lumayan, biasanya jika membawa keril saya menempuhnya selama satu jam lima belas menit.

 Jalur Cibodas sedang banjir waktu itu, karena kemarin Gede Pangrango diguyur hujan. Walhasil, ada beberapa tanjakan yang kami harus berbecek-becek ria. Belum sampai air panas sepatu sudah direlakan basah. Rawa Denok 1, Rawa Denok 2 dan Batu Kukus 1 tidak kami singgahi. Eki senantiasa bawel jika langit kembali mendung. Saya hanya harap-harap cemas, maklum belum pernah tektok.
Sampailah kami di Batu Kukus 2 dan saya meminta Eki untuk berhenti. Kira-kira waktu itu jam 10.10. Eki merokok sebatang sedang saya hanya duduk menyender sembari mengumpulkan tenaga. Tidak ingin berhenti terlalu lama, kami melanjutkan pendakian ke Air Panas. Disana, kami akan mengganjal perut untuk persiapan summit.

Kami sampai Air Panas sekira pukul 11.00 dan disana mulai terlihat banyak pendaki lain yang sedang beristirahat. Disana pula, saya kembali menemukan tegur sapa di ketinggian ribuan mdpl.
“Dari mana mas?” tanya seseorang dari tiga laki-laki di depan kami berdua.
“Bekasi mas. Kalo dia mah Tangerang.”
“Wah, lumayan. Hehe. Ini tektok apa gimana?”
“Iya mas, ya Insyaallah sampe atas. Hehe. Target sih jam satu. Ini mas nya tekok juga?” Tanya Eki, karena melihat mereka bertiga juga tidak membawa carrier.
“Iya mas, hehe.. Gede sih. Kalo mas nya mau ke Gede juga?”
“Enggak mas, mau nyoba Pangrango.”
Selang beberapa menit, ada beberapa pendaki yang turun dan mampir ke pos Air Panas juga.
“Turun bang? Di atas hujan nggak?” tanya Eki pada salah satu yang duluan duduk di depan kami.
“Enggak sih bang, tapi ya jaga-jaga aja. Tektok nih?” tanya balik, karena tidak melihat kami membawa carrier.
“Iya, hehe.”
“Bawa jas ujan nggak? Nih pake punya gue. Bawa aja bang..”
“Udah bawa kok bang. Lo bawa kan Dita?” Eki menoleh kepada saya, memastikan.
“Bawa kok, dua.” Saya mengangguk.
“Bener? Nggak apa-apa kalo mau pake mah.. apa mau bawa tenda?” Tawar abang yang lainnya.
“Makasih bang, nanti kalau hujan langsung turun kok..”
“Emang target jam berapa sampe puncak?”
“Jam satu bang.”
“Wah … nguber itu mah ya …”
“Yaa.. iya. Saya sih tergantung yang cewe aja .” Eki kembali menoleh ke saya.
“Heem,” gumam saya pelan, bingung mau berkomentar apa.
“Yaudah lanjut yok Dit,” ajak Ekii sembari bersiap-siap. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Akhirnyaaaa… satu goal di siang ini yaitu Kandang Badak ada di depan mata. Kami sampai di pertigaan pemisah Gede dan Pangrango itu sekira pukul 12.00 WIB. Saya mencari spot untuk rehat sembari Eki mengisi air. Kami segera memasak air untuk membuat kopi. Yang saya lihat, Kandang Badak sedikit lebih rapi dan bersih dibanding tahun lalu saat saya terakhir kali kesini. Atau mungkin karena masih siang dan belum banyak pendaki yang tiba? Lagit kembali cerah meskipun Pangrango tertutup kabut lebal. Sambil harap-harap cemas, kami beristirahat selama tiga puluh menit. Setelah dirasa cukup, kami kembali melangkah dan mengambil jalur ke kanan dimana Pangrango berada.

Antara penasaran dan khawatir akan hujan, karena yang saya lihat jalur Pangrango sangat berbeda dengan Gede. Jalurnya didominasi tanah, banyak pohon tumbang yang malang-melintang dan sangat lembab. Sepi, kami tak menemui satupun pendaki setelah berjalan selama lima belas menit. Tidak sempat untuk mengambil foto karena langit yang menggelap karena mendung dirasa mengkhawatirkan. Jadilah saya hanya menahan-nahan keinginan untuk mengabadikan momen dan pemandangan. Akhirnyapun saya musti puas dengan menikmati pemandangan ini : jalur sepi, diselingi kabut tipis, pepohonan penuh lumut tebal, beberapa jalanan basah dan suara serangga-serangga gunung.

Satu setengah jam berjalan barulah kami bertemu dengan beberapa orang yang turun dari puncak. Sepertinya sedang ada event lari, karena mereka hanya membawa air minum dan turun dengan cepat serta menggunakan baju yang seragam. Setelah itu, kami juga bertemu dengan salah satu teman Eki. Memang sejak dari pos satu tadi hingga nyaris sampai puncak kami bertemu dengan beberapa teman dari partner saya ini. Dari informasi teman Eki, puncak sekira dua jam lagi. Antara percaya dan tidak percaya, saya memilih untuk percaya karena jalur semakin menanjak dengan dominasi akar dan tanah yang licin. 

-bersambung-


Salam,
-ND-
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar




Tidak semua orang  mampu bangun pagi setiap hari. Dan di antara yang mampu, tak jarang beberapa dari mereka melakukannya karena terpaksa. Ya, mungkin karena tuntutan pekerjaan, menjadi ibu rumah tangga yang harus selalu menyediakan keperluan keluarga, para pebisnis yang harus melakukan perjalanan bisnis dengan penerbangan paling pagi dan bermacam alasan lainnya.

Jam ‘bangun pagi’ bagi setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang menganggap jam 08:00 masih pagi, namun ada juga yang merasa bahwa ia sudah kesiangan jika bangun pada jam 08:00. Tidak setiap kita yang diharuskan bangun pagi merasa bersemangat untuk beraktifitas. “Ah, masih mengantuk” , “Kenapa pagi datang cepat sekali?” dan keluhan-keluhan lainnya yang membuat mood kita tidak bagus.

Lalu, bagaimana agar kita dapat merasa lebih bersemangat dalam mengawali hari? Berikut beberapa tips agar pagimu lebih bersemangat :
1.      Jangan begadang
Penuhi kecukupan jam tidur kamu. Karena bila kamu begadang hingga dini hari dan memaksakan untuk bangun pagi, hal ini sama saja memaksakan tubuh kamu untuk bekerja ekstra dan mengurangi good mood saat bangun esok harinya. Belum lagi, bermacam penyakit yang siap menanti untuk masuk ke tubuh bila kebiasaan begadang  ini terus berlanjut.
2.      Siapkan segala keperluan sejak semalam
Sebaiknya, sipakan segala keperluan kamu untuk keesokan hari sebelum beranjak tidur. Ini agar kamu tidak tergesa-gesa dalam persiapan memulai aktifitas. Siapkan baju, tas kerja, sepatu dan segala keperluan lain pada tempatnya. Sehingga, ketika kamu bangun keesokan harinya, kamu tak perlu lagi repot dan hal ini tentunya juga akan menghemat waktu.
3.      Jangan tunda alarm
Kebanyakan orang membuat penunda pada alarm mereka, rata-rata 5 menit. Nah, usahakan pada kali pertama kamu mendengar alarm, langsung matikan dan berusahalah untuk ‘sadar’ dari sensasi mengantuk. Jangan biarkan mata kamu tertutup lagi, salah-salah kamu bisa kembali  tertidur dan malah jadi kesiangan.
4.      Buka jendela kamar
Biarkan udara pagi masuk ke dalam ruangan kamu. Sinar matahari juga akan membuat atmosfer kamar menjadi lebih hangat. Kamu bisa menikmati dua hal tersebut sembari meregangkan tubuh. Lakukan beberapa gerakan pemanasan hingga tubuh kamu merasa siap beraktifitas.
5.      Dengarkan musik
Buatlah playlist di handphone atau perangkat elektronik kamu yang lain. Isilah playlist tersebut dengan lagu-lagu favorit yang mengundang semangat. Jangan dengarkan lagu-lagu bertema sedih  yang berpotensi membuat kamu galau. Kamu bisa mendengarkan lagu-lagu tersebut sembari berdkamun, mandi atau sarapan.
6.      Sarapan favorit
Jangan sampai kamu bosan dengan menu sarapan sehari-hari. Jika perlu dan memungkinkan, buatlah list untuk menu sarapan seminggu kedepan. Jika menu nya rumit, kamu bisa memasaknya pada malam hari dan esoknya, kamu tinggal menghangatkannya untuk santap pagi.  Namun tidak ada yang salah juga dengan menu instan selama menyehatkan. Misalnya kamu bisa sarapan sereal, oat, roti panggang dan lainnya.
7.      Gunakan busana yang membuat kamu percaya diri
Dalam berbusana, tetap perhatikan kenyamanan diri kamu. Busana yang bagus dan sesuai dengan trend masa kini belum tentu membuat kamu senantiasa nyaman saat beraktifitas. Ketika kamu nyaman dengan penampilan diri sendiri,  kamu akan lebih bebas dalam menjalani hari.

Bagaimana? Beberapa cara di atas mungkin akan membantu bagi kamu yang masih kesulitan untuk memulai aktifitas setiap pagi. Dan, konsekuen dalam melakukan kiat tersebut akan membawa kamu pada keadaan dimana bagun pagi merupakan rutinitas yang sudah biasa dilakukan setiap hari, sehingga tidak ada rasa enggan atau malas lagi. Selamat mencoba !
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
“Dit, buang sial ya?”
“Nah gitu dong, kelihatan lebih fresh.”
“Kok pendek gini sih Dit? Ngga sayang udah panjang gitu kayak kemarin?”

Keputusan kadang-kadang emang nggak perlu pikir panjang untuk diputuskan. Baik yang sederhana maupun terpenting sekalipun. Misalnya … potong rambut. Ganti model. Ganti gaya. Untuk yang udah kenal gue sejak SMA, jelas tau banget gimana rambut gue yang cepak kayak anak lelaki dulu. Sampai akhirnya gue memutuskan untuk manjangin rambut saat masuk kuliah. Bahkan gue sempat melurus paksakan alias smoothing saat rambut gue masih sebahu. Dan kata bokap gue kayak orang penyakitan :’( soalnya rambut tipis terus dilurusin gitu. Wakaka.

Walhasil, gue berhasil memanjangkan rambut sampai bekas smoothing bener-bener hilang. Panjangnya kira-kira se-punggung. Sebenernya gue suka tipe rambut asli gue ini setelah panjang, karena bagian atasnya sedikit lurus dan ikal di bagian bawah. Jadi kesannya kayak sengaja di curly gitu. Rambut panjang ini masih terus menjadi icon di foto-foto gue sampai setahun setelah lulus kuliah. Baru dua minggu lalu, gue tiba-tiba kepengeeen banget potong rambut. Entah ya, pas gue lihat-lihat galeri semua model rambut gue sama. Nggak berubah kecuali diiket (sialnya kalo diiket gue merasa kurang oke).

Akhirnya, sore sepulang kerja gue dengan niat penuh menuju ke salon langganan. Yah … mbaknya nggak ada. Gue muterin Kelapa Dua dan berhenti di 4 salon yang mana semuanya lagi nggak bisa melayani potong rambut dengan alasan bermacam-macam. Nggak putus asa, gue menyambangi salon ke-5. Daaaaannn… pucuk dicinta ulampun tiba. Mbaknya meladeni gue yang kepengen potong rambut. Hari itu, gue potong sebahu lebih sedikit. Kata si mbak, muka gue kelihatan ‘seksi dan dewasa’ (mau muntah nggak? Wkwk) dan gue Cuma cengar cengir aja dengernya walaupun kesan lebih dewasa itu emang gue akui adanya. Akhirnya gue merasa puas dan pulang ke rumah.

Esoknya dan esoknya dan esoknya lagi … yang menyebalkan adalah dimana orang-orang nggak ada yang sadar kalau gue potong rambut. Kata salah satu temen gue, memang nggak terlalu kelihatan kalau gue potong rambut. Yaaah, bête. Sebenernya pun modelnya gue kurang sreg tapi kata mbaknya bagus, yaudah gue percaya aja. Tapi karena kata hati gue yang nggak nyampe ke hatinya dia merasa memang perlu potong rambut lagi, akhirnya seminggu kemudian gue menyambangi salon yang sama untuk potong ramput lagi.

“Mau segimana lagi dek? Itu udah bagus hlo.”
“Ya pokoknya pendekin dikit lagi mbak, yaaaa… se bahu deh.”
“Yaudah.”
Dan terjadilah tawar menawar hingga akhirnya rambut gue final nggak sampai sebahu. Berhenti di leher. Tapi gue suka … hihi. Kepala rasanya enteng dan muka gue kelihatan ‘bersih’. Gue nggak menyesal udah potong sampai sependek ini.

Pertama orang rumah yang sudah pasti langsung sadar. Tapi reaksinya datar,”Kamu ganti model rambut ya?” udah segitu aja.
Kemudian orang kantor : “Widiiihh potong rambut niihh”
Dua hari kemudian gue ganti profil picture bbm . dan berdentang denting lah notif bbm gue.
“Dit, potong?”
“Beb, kamu potong rambut?”
“Lu bondol Dit?”
“Waaahhh Dita. Kok jadi pendek gitu?”
Naaahh… sekarang abru kelihatan beneran potong rambut. Wuehehheehe..
Selanjutnya temen gereja.
“Ci, kok rambutnya jadi pendek sih…”
“Wah cetar nih rambut.”
“Kece kece.”
Puji Tuhan Halleluyaaa. Nggak ada komen-komen nyakitin. Wkwk jadi nggak berasa nyesel samasekali udah potong segini pendek.
Benefit lainnya dari potong rambut ini adalah, ketika naik gunung gue ga perlu lagi repot-repot benerin kunciran rambut atau masang buff di keseluruhan kepala hanya karena risih sama rambut yang menjuntai-juntai. Hihi.

Intinyaaa …jangan takut nyoba hal baru, karena seburuk apapun hasilnya, kita masih bisa memperbaiki. Atau di poles-poles dikit biar sempurna lagi. Kayak rambut. Salah model pas dipotong, ya potong lagi sampai memuaskan. Kalau tetep nggak memuaskan tapi udah terlalu pendek, ya kasih sentuhan warna biar tetep kece. Sama kayak beberapa pilihan di hidup kita. Nggak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki atau berjalan memutar demi sampai ke tujuan utama. Stay blessed ya !



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



 Gading Serpong yang tak jauh dari BSD memang tengah mengalami kemajuan yang pesat. Kawasan ini dalam waktu singkat sudah ‘ditumbuhi’ komplek perumahan dan gedung-gedung perkantoran. Ruko-ruko baru juga berderet rapi di sepanjang jalan. Salah satu ruko yang ada di jalan BSD Raya Utama bernama ruko Mendrisio, menyimpan beberapa coffe shop. Salah satunya adalah Algorithm Coffee & Dessert.  Seperti coffe shop lain yang saya kunjungi, referensi tempat ini saya dapatkan dari @eatintangerang.


Untuk desain café nya standar, dinding bata ber-cat putih polos dipadu cermin disepanjang bangunan dari depan hingga belakang. Ukurannya juga tidak cukup luas alias terasa sempit, karena standar satu slot ruko dan masih harus dibagi dengan meja kasir plus barista. Kursinya ada perpaduan sofa dan kayu namun cukup berdekatan satu sama lainnya sehingga bila pengunjung sedang ramai, tentu suasana langsung terasa crowded.  Algorithm memiliki dua ruangan, yaitu non smoking dan smoking room. Sayangnya, smoking room yang tidak luas itu terasa pengap. Spot foto yang bagus ada di depan kasir, dimana ada sofa dan dinding bertuliskan “Algorithm” didukung pencahayaan yang oke.

maafkan foto yang buruk ini :/

Namun yang membuat saya terkesan adalah harga yang ada di menu dan service para waiters nya. Mulai dari sapaan selamat datang, pemesanan hingga penyajian penuh dengan keramahan. Untuk cara memesannya sama dengan coffe shop lain, kamu bisa langsung pesan di kasir dan ini yang berbeda : kamu boleh bayar langsung atau nanti, ketika akan meninggalkan café. Nah setelah memesan, silahkan duduk di tempat yang kamu pilih dan waiters akan mengantarkan pesanan kamu. Jika di beberapa coffee shop menyediakan air putih yang mana pengunjung mengambilnya sendiri, di Algorithm segelas air putih dingin akan segera datang begitu kopi maupun cake yang kamu pesan tersaji.

beberapa harga pada menu

Harga minuman coffee dan non coffe nya ramah sekali. Semuanya (menu standar) di bawah Rp 30.000,- waww banget kan. Hehe. Kemarin saya memesan hot hazelnut dan rekan saya memesan con panna. Untuk hazelnutnya terasa sama dengan coffee shop lain, untuk con panna nya (karena saya baru sekali icip) jujur saya merasa tidak bisa membedakannya dengan affogato :D maafkan saya yang amatiran ini haha. Selain dua minuman itu, kami juga memesan sepotong carrot cake. Nah yang satu ini saya suka. Manisnya pas, legit dan rasa jahe nya juga ada. Pokoknya klop dicemil bersama hazelnut (jangan ditambah gula).



Well, kalau mengunjungi Algorithm di hari kerja (senin-kamis) café ini recommended, karena harga nya yang bersahabat dan pelayanannya yang menyenangkan. Tapi kurang cocok untuk kalian yang mau mengerjakan tugas atau meeting bersama rekan kerja. Cukup ngopi dan ngobrol santai saja, ya. Baiklah sekian dulu. Nanti kita mampir ke coffee shop yang lain. Sampai jumpaaaa~



Algorithm Coffee & Dessert
Ruko Mendrisio 3, Blok B No. 19, Jl. BSD Raya Utama, Gading Serpong, Serpong Utara, Tangerang
IG  : @algorithmcoffeeshop
Mon-Thu : 10:00-21:00 Fri-Sun : 10:00-22:00
Telp : 021 22223263
Price : < Rp 50.000
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ►  2018 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ▼  Mei (5)
      • Gerimis di Jakarta
      • 17 jam di tubuh Pangrango (chapter 1)
      • Agar Pagimu Lebih Bersemangat
      • Potong rambut ? Siapa takut
      • Algorithm : coffee shop ramah buat yang menengah
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates