Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita

    Escape Surabaya & Madura (chapter 2)

     Akhirnya kami sampai di daratan ibu kota Jawa Timur lagi. Karena Tia (orang yang kost-annya kami tumpangi saat di Surabaya) masih berada di Sidoarjo, jadi saya dan Bena memutuskan ntuk berkeliling Surabaya saja dulu. Kami tidak tahu jalan, hanya mengikuti rambu lalu lintas yang ada. Kami berpanas-panas melewati kantor walikota, taman-taman dan stasiun Gubeng. 

    Karena haus, Bena menyarankan untuk berhenti pada seorang bapak penjual es cao. Kami juga tak tahu apa itu es cao. Tapi karena kami berdua memang gemar kuliner, jadi ya dicoba saja. Rupanya es cao ini minuman yang isinya hanya berupa cao. Ya, sejenis agar-agar berwarna hitam yang sering ada dalam semangkuk es buah, es campur atau minuman pembuka puasa. Tidak menggunakan sirup sama sekali, bahkan tidak berwarna. Tapi rasanya manis, asli menggunakan gula pasir. Satu gelas es cao dihargai Rp 2000,-. Setelah reda rasa hausnya, kami lanjutkan perjalanan sembari tengok kanan-kiri untuk menemukan tempat makan siang.

    Saat berbelok ke sebuah jembatan, rupanya di sisi kanan kami ada monumen kapal selam. Bena histeris, karena ia memang penasaran ingin kesana. Yasudah, saya belokkan motor menuju tempat parkir yang ada di trotoar depan monumen tersebut. Untuk masuk ke monumen kapal selam harga tiketnya sebesar Rp 8000/orang. Monumen kapal selam ini adalah museum yang ditampilkan di dalam kapal selam itu sendiri. 

    Kapal selam asli bernama KRI PAsopati yang digunakan oleh TNI AL dalam Operasi Trikora pada tahun 1962. Di dalamnya kita dapat meihat barak-barak para prajurit dan ruangan pengoperasian mesin kapal. Ada banyak foto-foto para awak kapal, kapten, dan kegiatan mereka saat menjalankan misi. Ruangan di dalam kapal ber-ac, sehingga tidak terlalu pengap. Dibagian luar, terdapat kolam renang dan taman denganbangku-bangku yang bisa digunakan pengunjung untuk beristirahat. Pada akhir pekan, biasanya juga ada pertunjukan reog Ponorogo. Sayang sekali, saat kami datang pertunjukan reog itu baru saja selesai.

    Begitu kami keluar dari kawasan monumen, rupanya Tia sudah sampai di Surabaya dan menyusul kami. Jadi kami memutuskan untuk singgah dulu ke tempat kost Tia untuk menaruh barang bawaan yang lumayan berat. Kost Tia tidak jauh dari kampus ITS, karena Tia berkuliah di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya. 

    Sampai di kos, kami bertiga rehat sejenak dan mengatur list tempat yang akan dikunjungi. Bahkan saya sempat mencuci baju-baju kotor yang dipakai saat perjalanan Jakarta-Surabaya-Madura kemarin. Lumayan, setidaknya dalam perjalanan ke Solo nanti saya tidak membawa baju kotor di dalam ransel.

    Dua jam berada di kost, kami segera bersiap-siap untuk pergi. Sekarang giliran saya yang memilih menu makan siang, dan saya memilih bakso. Maka kami berhenti di depan sebuah gerobak bakso keliling.

“Pakai penthol aja atau campur mbak?” tanya mas-mas penjual baksonya.
“Hah? Penthol?” saya segera melirik pada tulian di gerobak. Bacanya : Bakso Penthol. Saya sedikit bingung, sampai akhirnya Tia menjelaskan bahwa di Surabaya, bulatan daging dalam semangkuk bakso itulah yang disebut penthol. Ohh… begitu. Semangkuk bakso keliling ini dihargai dengan Rp 7000,-. (namun belakangan saya baru menyadari bahwa di berbagai daerah orang juga sering menyebutnya ‘penthol bakso’).

    Setelah selesai makan, kami bergegas menuju arah Kenjeran, yang mana sebenarnya itu adalah bibir kota Surabaya yang mendekati Laut Jawa, searah dengan datangnya kami dari Madura tadi pagi. Sasaran kami adalah Patung Buddha di daerah pantai Ria Kenjeran. Untuk masuk ke area ibadah sekaligus wisata ini, kita harus memasuki area Kenjeran Park yang berisi taman-taman dan wahana permainan. Harga tiket bervariasi antara pengunjung yang berjalan kaki, menggunakan motor maupun mobil.

    Setelah bertanya pada petugas, rupanya patung Buddha ada di ujung, dekat dengan pantai. Kami sampai di area parkir, tepatnya seberang pintu gerbang dimana terdapat patung Buddha tersebut. Wow, patung Buddha nya sangat besar, berwajah empat dan bertangan delapan. Patung itu berwarna emas, serta ada juga patung Ganesha yang berwarna emas pula. Setelah puas berkeliling, kami keluar dan bertemu dengan seorang bapak-bapak. 

“Mbak, dari mana?” sapa beliau.
“Jakarta pak,” Bena menyahut.
“Kalau mau view foto yang bagus, silahkan ke patung Dewi Kwan Im. Ada di seberang sana. Wah, pokoknya gini.” Kata si bapak sambil menyodorkan jempol meyakinkan kami bertiga.
“Oh ada patung Dewi Kwan Im juga pak? Disana ya? Hmmm.. motor bisa dititip sini kan?” saya memberondong pertanyaan.
“Bisa, bisa. Titip aja disini mbak.” Jawab si bapak sambil tersenyum.
“Terimakasih pak..” Tia menunduk sembari mengajak kami segera menuju ke arah patung karena mendung di langit Surabaya mulai pekat.

    Kami memasuki gerbang yang juga bernuansa merah. Kemudian kami sadar bahwa didalamnya adalah sebuah kelenteng. Semerbak harum keluar bersama asap dari dalam bangunan. Kami lewat samping, dan terus berjalan menuju pantai.

    Itulah dia, selat Madura dibalik patung Dewi Kwan Im dan dua naga di kanan kirinya. Saya sempat melongo sebentar, antara norak dan kagum. Kami menghampiri tepian daratan yang berbatasan langsung dengan selat Madura. Jembatan Suramadu terlihat kecil disebelah timur laut. Yang menyita perhatian saya bukan perairannya, namun patung yang begitu besar ini. Ekor naga menjulang ke arah utara dan selatan,sementara kepala mereka saling bertemu dibawah patung Dewi Kwan Im. Tak lama, hujan turun. Kami masih berteduh dibawah patung, sembari melihat perahu-perahu kecil yang berbalik arah menuju daratan. Pohon-pohon mangrove tumbuh disekitar pantai, dan burung-burung kecil terbang diatara ranting kecilnya.

    Setelah hujan reda, kami sempatkan minum es kelapa muda didepan gerbang. Di sini, banyak penjaja makanan. Mulai dari makanan berat hingga cemilan ringan. Ketika hujan benar-benar berhenti, barulah kami menuju sasaran kami selanjutnya, Museum Tugu Pahlawan.

    Waktu sudah pukul 5 sore ketika kami sampai di pelataran Tugu Pahlawan, dan sepertinya gerbang masuk sudah ditutup.
“Mau kemana mbak?” tanya salah satu penjaga.
“Mau masuk pak, lihat-lihat di dalam.”
“Darimana memang?”
“Jakarta.”
“Hmm… sebenarnya sudah tutup, tapi karena mbaknya sudah jauh-jauh kesini, yasudah saya bukain. Tapi jangan lama-lama ya…”
“Wah, makasih ya pak! Iya sebentar aja.”

    Kami pun masuk dan berkeliling pelataran Tugu Pahlawan. Museumnya sendiri sudah tutup, jadi kami akan mengunjunginya besok. Saya memandangi tembok yang sedikit rusak dan ada coretan disana-sini. Rupanya tembok ini adalah tembok asli yang ada sejak jaman penjajahan dulu, dimana Surabaya adalah salah satu latar dari perjuangan para pahlawan Indonesia. Maka berbagai coretan, ukiran dan bekas-bekas tanda semangat para pahlawan diabadikan dan diperthankan keasliannya.

    Setelah selesai dengan Tugu Pahlawan, kami bergegas mencari isi perut. Tia mengajak kami ke rumah makan Mie Akhirat. Wow, kok serem ya? Hehe. Ternyata, mene-menu di sana bertema ‘surga’ dan ‘neraka’. Surga untuk makanan yang tidak pedas dan Neraka untuk makanan yang pedasnya ampun-ampunan.

    Menu surga didominasi warna putih dan Neraka warna hitam. Untuk menu Neraka, ada tingkatan / level pedasnya. Misalnya cabai 1,2,3 dan seterusnya. Saya pesan nasi goreng surga dan Bena pesan mie neraka kuah. Untuk minumannya juga tersedia berbagai macam jus buah, milkshake, dan variasi minuman lainnya. Harga makanannya antara Rp 4.000 – Rp 20.000 serta minuman antara Rp 4.000 – Rp 12.000 . Bagaimana? Cukup bersahabat kan dengan kantong backpacker seperti kami J

    Setelah kenyang, kami mampir ke Mall Royal Plaza (asli, saya dan Bena tidak ada niat sama sekali ke mall) untuk membeli Pie 33 kesukaan Tia. Meskipun enggan masuk mall karena tampang yang sudah amburadul, toh kami tegiur juga dengan pie yang katanya memiliki banyak varian rasa itu.

    Pie 33 memiliki varian rasa keju, tuna, apel, kacang hijau dan masih banyak lagi. Selain pie, Pie 33 juga menjual pizza mini dan stik keju. Harganya berkisar antara Rp 3.500 – Rp 8.000 per potong. Hmm… lagi-lagi camilan menarik untuk bergadang nanti malam.

   Belum puas dengan pie, rupanya Bena masih mencari-cari brownies Libby. Tempatnya tidak jauh dari Stasiun Gubeng. Brownies nya juga banyak variasi misalnya keju, kismis, meises dan lain-lain. Ada yang awet hingga beberapa minggu, ada juga yang hanya beberapa hari. Selain brownies kotak, ada juga kue lain red velvet, cheese cake, soft cake dan banyak lagi. Brownies Libby cocok untuk oleh-oleh dari Surabaya.

   Tentengan kami sudah lumayan banyak, maka kami kembali ke kost-an Tia. Setelah mandi dan mencuci baju-baju kotor yang kira-kira akan kering besok sore, kami mengobrol sembari menikmati jajanan yang kami beli. Tak berapa lama Bena sibuk dengan pekerjaannya dan tenggelam di depan laptop. Tia asik menelepon pacarnya sembari berguling-guling di kasur. Saya, dengan kalem dan terkantuk-kantuk membaca novel dan meringkuk di dalam sleeping bag. Sedikit heran, Surabaya siang hari begitu panas namun saat malam di kost Tia cukup dingin meski tidak menggunakan AC.

    Memang dasar niat hanya sekedar niat, rencana untuk bangun pagi dan memulai jalan-jalan lebih awal hanya sekedar wacana ketika saya bangun paling awal jam tujuh pagi sementara mereka berdua masih meringkuk nyaman. Saya menunggu mereka bangun sembari mandi dan packing karena akan bertolak ke Solo nanti sore.

    Kami baru keluar kamar kost jam sebelas siang. artinya, kami bukan lagi cari sarapan namun makan siang.  Kami menuju warung makan yang menjual menu bebek item. Maksudnya adalah bebek yang diolah dengan bumbu rica-rica hitam. Setelah kenyang, kami bergegas menuju destinasi pertama hari ini : Museum Sampoerna.

    Museum Sampoerna memiliki Galeri yang unik, dimana ada juga ruangan tempat para pekerja membuat rokok dari label Sampoerna. Berbagai macam lukisan ditempel di dinding, karung-karung terbuka berisi berbagai jenis tembakau dari beberapa daerah menguapkan bau harum ke seluruh penjuru ruangan. Alat-alat untuk membuat rokok pada tempo dulu dipajang pada ruang belakang.\

     Di lantai dua, ada galeri shop yang menjual bermacam merchandise dari Sampoerna. Mulai dari kaos, topi, selendang, canting untuk membatik dan banyak lagi.dari lantai dua inilah kita dapat melihat melalui kaca besar (seukuran tembok dari ujung genting hingga alas bangunan) ke bawah, dimana ruangan para pekerja sedang memproduksi rokok. Hemmm cukup beredukasi ya J

    Berkunjung ke Museum Sampoerna sepenuhnya gratis kecuali jika kita ingin berbelanja di sana. Tiket masuk dan parkir kendaraan tidak dikenakan biaya. Pelayanan para penjaga nya juga ramah dan menyenangkan.

    Setelah puas dengan Museum Sampoerna, kami menuju Museum Tugu Pahlawan yang kemarin belum dapat kami kunjungi. Tiket masuk museum ini Rp 5.000,- per orang. Kami menyusuri lorong-lorong yang digantungi lukisan dan foto-foto pada masa perjuangan dahulu. Kemudian ada eskalator yang menuju ke lantai bawah. Rupanya di lantai dasar ini ada patung-patung dan benda peninggalan para pahlawa dan tokoh penting. Ada juga diorama (rekaman suara) pidato Bung Tomo. Saya rasa kita semua tahu mengenai pidato berapi-api ini saat membaca buku pelajaran IPS saat SD atau SMP.

    Bena memencet tombol yang ada di sudut dekat patung Bung Tomo, dan seketika terdengarlah pembacaan pidato beliau yang penuh semangat. Kami yang ada di situ diam, mendengarkan dengan seksama. Merinding sekaligus kagum, kami menganguk-angguk ringan saat pidatonya selesai.

    Naik lagi ke satu lantai di atas namun pada ruangan yang berbeda dari sebelumnya, kami mendapati lagi benda-benda peninggalan yang bernilai sejarah amat tinggi dan dua ruangan diorama. Di lantai ini suasana lebih ‘singup’ (semacam suasana sepi yang aneh) karena dua faktor : museum memang sedang sepi pengunjung dan benda-benda disana seperti menggambarkan pada kami bagaimana mereka dahulu dipakai.

Kami disapa oleh seorang bapak penjaga museum,
“Dari mana mbak?” sapa si Bapak ramah.
“Jakarta pak. Hehe..” Bena menjawab.
“Wah, lagi liburan atau bagaimana?”
“Iya pak kebetulan sedang libur, pengen main ke Surabaya.”
“Hemm.. jauh-jauh kesini, mau nonton film perjuangan ngga?”
“Wah, dimana tuh pak?”
“Ada di lantai bawah. Mari, saya antarkan”
Lagi-lagi bonus dari ramahnya penduduk Surabaya karena kesan ‘duh jauh-jauh ke Surabaya’ .

    Kami duduk di sebuah ruangan gelap, menatap layar yang memperlihatkan film serangan-serangan Belanda terhadap Indonesia khususnya di kota Surabaya. Tembakan-tembakan dan teriakan para prajurit terdengar diantara pembacaan narasi cerita.

    Karena film itu cukup lama, kami terpaksa meninggalkan ruangan lebih dulu karena sudah jam dua siang. kami harus bergegas ke satu tempat lagi sebelum saya pergi ke Solo.

    Sura dan Baya. Ikan Hiu dan Buaya. Itulah ikon ibukota Jawa Timur ini. Rasanya tak afdol jika tidak menenui patung nya secara langsung. Memang sedikit kekanakan, namun rupanya keinginan mengunjungi ikon kota tersebut tetap kami paksakan hari itu.

     Sebenarnya, untuk mengunjuni si Sura dan Baya ini ada setidaknya dua tempat. Namun Tia hanya tahu jalan ke salah satu tempat, yaitu kebun binatang Surabaya. Jadilah kami kesana walapun cukup jauh.

Kebun binatang Surabaya ramai dengan pengunjung dan pedagang makanan. Kami hanya berfoto sebentar kemudian melanjutkan perjlalanan untuk mengantar saya ke Terminal Purbaya.

Terminal Purbaya adalah terminal besar dan tempat singgah bus-bus antar kota dan provinsi. Bena menyarankan saya untuk menunggu di depan gerbang saja. Tak lama, bus jurusan Surabaya-Semarang itu keluar dari terminal. Saya buru-buru naik. Untuk ke Solo dari Surabaya membutuhkan waktu tujuh jam dan tiket seharga Rp 30.000,- .

Jabat tangan terimakasih saya untuk Tia dan Bena, adalah tanda lain dari ‘sampai bertemu lagi’.
Terimakasih Surabaya, Madura dan semua tempat-tempat luar biasa yang tersimpan di dalamnya.


Salam ,
Naredita.







Jalanan Madura menuju Suramadu

Pintu masuk Tol Suramadu


 Patung Budha
                            Patung Ganesha                                       Perairan Selat Madura


                                    Patung Dewi Kwan Im                       Tugu Pahlawan


                                         Mobil Bung Tomo




Monumen Proklamasi



Ruangan di dalam Museum Tugu Pahlawan




Ruangan dalam Muesum Sampoerna

Sura dan Baya


Meet :
Brownies Libby at >>  http://libbybrownies.com/home.php
Mie Akhirat at >>  http://mieakhirat.com/





Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
SURAT KUASA KHUSUS 25/SK/XI/Pdt/HAPSL/PMH/2014

 -Yang bertanda tangan di bawah ini, nama RENI SIWIYAH, S.E  pekerjaan Swasta bertempat tinggal di Jalan Linggarjati No.67 RT02/RW11 Kelurahan Rusun Timur kecamatan Dukuh Asih Kota Semarang dengan ini memberi kuasa kepada nama HERI FIRDAUSY , S.H  pekerjaan Advokat berkantor di  HERI AND PARTNERS ASSOSIATION LAW  beralamat di Jalan Teuku Umar No.72 Semarang 35441.
KHUSUS

Untuk mewakili pemberi kuasa sepenuhnya sebagai PENGGUGAT dalam perkara perdata Perbuatan Melawan Hukum melawan PT Lunar Jaya yang diwakili oleh ADITYA SUHERMAN S.E, perusahaan yang bergerak di bidang industry properti, yang berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta dan berkantor cabang di Semarang di  Jalan  Ken Dedes No.51 RT.10/RW.03 kelurahan Guwari kecamatan Dukuh Asih, Kota Semarang sebagai TERGUGAT.

 - Untuk itu menerima kuasa membela hak-hak dan mengurus kepentingan-kepentingan pemberi kuasa, melakukan dan menerima segala pembayaran, membuat, dan menerima kuitansi pembayaran;
 - Penerima kuasa boleh bertindak dalam hal hukum terhadap setiap orang dan dalam segala persoalan yang berhubungan dengan perkara ini, memiliki tempat kediaman hukum (domicilie), menghadap hakim dan pembesar instansi pemerintah;
 -  Penerima kuasa boleh berperkara ke muka Pengadilan Negeri mengajukan gugatan, memberikan jawaban, mengajukan dan menolak saksi-saksi, menerima dan menolak perdamaian, memohon keputusan dan turunan keputusan Pengadilan negeri, memohon supaya keputusan Pengadilan Negeri dijalankan ;
-  Penerima kuasa boleh membuat dan menandatangani surat dan melakukan segala apa yang perlu dan berguna untuk kepentingan pemberi kuasa, asal tidak dilarang atau bertentangan atau melanggar undang-undang dan bila perlu penerima kuasa dapat memindahtangankan kekuasaannya itu sebagian atau sepenuhnya kepada orang lain (hal substitusi) dengan hak untuk menarik kembali pemindahan kuasa yang telah diberikan itu;
 -  Penerima kuasa boleh melakukan upaya hukum dari pengadilan tingkat pertama sampai dengan tingkat kasasi.     

Semarang, 14 Januari 2014        

    Penerima Kuasa                                                                                    Pemberi Kuasa       



(HERI FIRDAUSY, S.H)                                                                      (RENI SIWIYAH, S.E)     




(Note: setiap nama dan alamat diatas hanya contoh dan bukan berdasarkan perkara yang nyata)   




-N-

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kisah Mahabharata dalam kacamata Ratu Dropadi : Review buku "The Palace of Illusions”

Judul            : The Palace of Illusions (Istana Khayalan)
Penulis         : Chitra Banerjee Divakaruni
Alih Bahasa : Gita Yuliani .K.
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman      : 496 lembar


    Apa yang terfikir ketika mendengar kisah Mahabharata? Mungkin ada yang langsung tertuju pada tokoh-tokoh pewayangan atau serial drama di salah satu televisi swasta. Saya sendiri tidak terlalu mengerti mengenai kisah ini, yang mana terakhir kali saya mendengar nama-nama tokohnya adalah sewaktu belajar bahasa daerah yaitu bahasa Jawa sewaktu SD hingga SMP.

    Tetapi beberapa waktu lalu seorang teman menyarankan saya untuk membaca buku ini : The Palace of Illusions (Istana Khayalan) karya Chitra Banerjee Divakaruni. Karena dari sinopsis buku ini menyatakan bahwa kisah di dalamnya akan diceritakan dari sudut pandang perempuan yaitu Ratu Dropadi, maka jadilah saya tertarik untuk membacanya.

    Enggan yang pertama muncul karena saya berfikir, betapa malas menghafalkan nama-nama para tokoh yang rumit dan unik satu sama lain dalam novel setebal 496 halaman ini. Tetapi rupanya Chitra memperkenalkan para tokoh dengan cara yang ringan dan penjelasan yang memadai sehingga perlahan-lahan kita dapat mengenal mereka dengan baik seiring lembar demi lembar kisah yang kita baca.

   Seperti pada bukunya, sebagai awalan dari tulisan ini saya akan perlihatkan silsilah dalam kisah Mahabharata. Semoga ini dapat membantu kalian yang akan membaca novel ini di kemudian hari.

Silsilah dalam kisah Mahabharata
sumber gambar : aumamen.com

    
     Dari yang telah saya baca, novel ini adalah keseluruhan kisah Dropadi dalam menjalani takdirnya; yang mana telah diramalkan oleh Byasa si orang suci sekaligus penulis kisah Mahabharata. Menjelaskan watak masing-masing tokoh, seberapa besar kekuatan mereka dan apa hubungan mereka satu sama lain. Tentu dengan sudut pandang Dropadi sebagai si ‘pendongeng’. 

   Kita juga akan disuguhi pengetahuan-pengetahuan dalam legenda ini, yang diantaranya adalah mengenai : reinkarnasi, nama-nama dewa dan dewi serta kekuatan utama mereka, senjata-senjata suci dari khayangan yang diberikan oleh para dewa / dewi berkat usaha yang keras, nama-nama kerajaan yang bereksistensi pada masa itu, serta undang-undang yang digunakan dalam berbagai macam situasi dan banyak hal lain mengenai tradisi kerajaan pada masa itu. Saya rasa lebih mudah menyerap informasi seperti yang saya sebutkan tadi bila terkandung dalam sebuah novel yang menarik tanpa pembaca merasa dijejali ilmu pengetahuan ketimbang ceritanya sendiri.


Kisah Dropadi :

    Cerita dimulai ketika Dropadi lahir tepat setelah Drestadyumna yang mana mereka keluar dari nyala api sesuai permintaan ayah mereka, Drupada. Meski pada awal Drupada hanya menghendaki Drestadyumna, namun toh ia tetap menyayangi Dropadi sama seperti kakaknya. Dropadi tidak lantas diperkenalkan ke muka umum, ia tinggal dalam kamarnya dan penuh dengan kemewahan seorang putri. Kulitnya hitam dan bukannya putih atau kuning langsat, namun tak menyembunyikan pesona dalam dirinya. Dropadi memiliki sifat ingin tahu yang sangat besar, serta ambisi yang tak mudah padam. Ia selalu mencoba untuk ikut dalam setiap pelajaran-pelajaran kakaknya, meski telah diperingatkan berkali-kali bahwa perempuan tak pantas mempelajari bahkan mendengarkan tentang ilmu bela diri, kenegaraan atau menggunakan senjata-senjata berbahaya. Bertolak belakang dari hal tersebut, Dropadi dijejali dengan pelajaran dan kegiatan yang memaksanya lebih ‘wanita’ seperti menari, berkebun, berdandan dan lain sebagainya.

    Hasrat Dropadi adalah meninggalkan jejaknya dalam suatu kisah yang besar dan mengubah sejarah. Maka ia berjuang mati-matian untuk tahu lebih banyak hal ketimbang duduk santai di taman bersama dayang-dayangnya.

    Suatu hari ia nekad menemui Byasa si orang suci, untuk tahu kisah masa depannya. Dan yang didengarnya adalah hal diluar dugaan dan ekspetasinya, meski sama-sama tetap menorehkan sejarah. Beginilah bunyi ramalan itu :

Kau akan mengawini lima pahlawan terbesar pada masamu. Kau akan menjadi ratu segala ratu, dicemburui  semua dewi. Kau akan menjadi pelayan. Kau akan menjadi penguasa istana paling hebat, lalu kehilangan itu.
Kau akan diingat karena menyebabkan perang terbesar pada masamu.
Kau akan menyebabkan kematian raja-raja jahat dan anak-anakmu, dan kakakmu. Sejuta perempuan akan menjadi janda gara-gara kau. Ya, memang, kau akan meninggalkan jejak pada sejarah.
Kau akan dicintai, meskipun kau tidak tahu siapa yang mencintaimu. Meskipun kau mempunyai lima suami, kau akan mati sendirian, ditinggalkan pada akhirnya – sekaligus tidak ditinggalkan.

    Dan ramalan itu menjalani takdirnya semenjak sayembara pencarian suami untuk Dropadi dimenangkan oleh Arjuna, salah satu dari kelima pangeran Pandhawa. Lebih parah lagi setelah ia bertemu Kunti, ibu mertuanya. Kunti menyuruh kelima anaknya untuk menikahi Dropadi (meski itu melanggar norma). Namun dikemudian hari, Dropadi menyadari bahwa ia adalah benang emas untuk merangkai kelima mutiara yang mana adalah pada Pandhawa; dan menciptakan sebuah kekuatan tak tertandingi.

     Perlahan-lahan Dropadi menjalani takdirnya, sesuai ramalan Byasa. Ia ditinggikan sebagai ratu dari wilayah Kandawa dan terkenal sebagai istri dari para Pandhawa sekaligus menerima banyak cibiran dari hal itu. Ia menemau istana mereka sebagai istana Khayalan, yang begitu indah dan megah.

    Dropadi dikenal angkuh dan pencemburu, sebab ia tak mampu ‘menguasai’ dan menahan kelima suaminya untuk tidak mengambil istri-istri yang lain. Ia mempertahankan posisinya untuk tetap menjadi yang paling dihormati, tempat pada Pandhawa mencari jalan keluar dari setiap permasalahan kerajaan dan perlahan mengimbangi Kunti sebagai tempat bergantung para Pandhawa. Ia menjadi bagian terpenting dalam kerajaannya.

    Walaupun ia memiliki lima suami, namun hanya satu yang mencintainya dan tak satupun dari mereka dicintainya. Sepanjang hidupnya, ia mencari ketentraman dari Krishna (sahabatnya yang tak jarang ia pun merasakan getaran lain), Drestayumna (kakak yang selalu melindunginya) dan harapan-harapan tertentu pada Karna (raja tak ber-ayah dan ber-ibu yang merupakan sahabat Duryodana, harga dirinya telah berulang kali dijatuhkan oleh keluarga Pandhawa dan Dropadi sendiri).
Menjadi yang terutama,adalah bagian hidup yang menyenangkan bagi Dropadi. Namun ia lekas waspada, ketika Korawa melakukan kunjungan ke istananya. Bisa jadi ini merupakan awal dari kehancurannya seperti dikatakan ramalan Byasa.

    Dropadi dihempaskan dari kekuasaannya saat kejayaan Yudhistira sebagai raja hangus ketika ia berhasil diperdaya oleh Duryodana, sehingga seluruh harta benda dan miliknya yang berharga (keempat saudara dan istrinya) sukses ia jadikan bahan taruhan pada permainan dadu melawan Sangkuni. Dropadi yang begitu marah atas hinaan tersebut, mengutuk seluruh penghuni kerajaan Hastinapura dan bersumpah tak akan menyisir rambutnya sampai dibasahi oleh darah para pangeran Korawa. Setelah itu ia dan kelima suaminya menjalani pengasingan selama dua belas tahun di hutan.
Dalam keterpurukan mereka itu, Dropadi kukuh tak mau ikut dengan Drestayumna ke Panchala maupun dengan Kunti ke Hastinapura. Bahkan hubungannya dengan anak-anak kandungnya sendiri meregang, dikalahkan ego dan pendiriannya dalam menjalankan tugas istri bagi kelima suaminya.
Kehancuran dan hinaan ini bukanlah sebuah akhir dari kisah Dropadi. Ia menunggu waktu, dimana keadaan akan kembali berbalik; entah mahkotanya akan kembali atau justru eksistensinya hilang sama sekali …

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

    Saya kagum pada sosok Dropadi, meski ada sifat-sifatnya yang tidak saya sukai. Dalam kisah ini, Dropadi tergambar begitu kuat mengingat nasibnya yang senantiasa berubah haluan. Ia memegang teguh ambisinya untuk menjadi perubah sejarah dan sementara itu, ia menjalankan tugasnya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Ia belajar banyak sejak kecil, apapun yang seharusnya tak ia pelajari. Namun justru kelancangannya waktu itu membantunya untuk menjalani lembar demi lembar nasib sial yang menimpanya. Ilmu-ilmu yang ia pelajari juga membantunya untuk tetap mempertahankan kedudukannya ketika ia berada ‘di atas’.

   Dropadi mematuhi aturan mengenai pernikahannya dengan kelima Pandhawa mesti aturan itu perlahan-lahan hilang dimakan waktu. Dan meski tak mencintai satupun dari suaminya, ia tetap tak rela suaminya mengambil istri-istri lain. Ia juga iri kepada Subadra, istri Arjuna yang memang sempurna dan dicintai dengan sangat oleh Arjuna. Bagaimanapun, Arjuna-lah yang memenangkan sayembara pernikahannya dulu. Karna musuh dari para suaminya, justru adalah sosok yang membuatnya penasaran dan berdebar-debar tiap mereka berdua bertemu. Hal-hal ini seolah ‘mengingatkan’ bahwa sosok Dropadi adalah perempuan tulen, yang bukannya tidak memiliki perasaan sentimentil sama sekali.

    Penulisan novel ini sangat detail dan ‘perubahan nasib’ dapat terjadi sewaktu-waktu bahkan hanya dalam satu bab. Apa yang saya ceritakan di atas hanyalah seperempat dan garis besar isi novel, belum temasuk sentilan-sentilan kecil yang terjadi di kehidupan Dropadi. Chitra akan menjelaskan lebih banyak kepada pembaca mengenai seluk-beluk tradisi dan kehidupan dalam kisah Mahabharata. Alur ceritanya mungkin akan sedikit maju-mundur, namun cukup mudah dimengerti. Kalian yang suka dengan sejarah atau sastra, akan lebih tertarik dengan novel ini sebab The Palace of Illusion akan menghanyutkan kalian dalam pelukan Dropadi beserta kisahnya.


 salam,
Naredita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Review Columbia walla walla (mid, 37 1/3, grey)

Setelah review rensel (yang kalo pendaki bilang keril) yang saya pakai yaitu consina alpine, kali ini saya mau review sepatu yang saya pakai yaitu Columbia seri walla walla. Buat cewek-cewek yang hobi mendaki dan sedang cari sepatu, pasti kerap menemukan nama Columbia walla walla di situs-situs jual beli online. Karena, sepatu ini tersedia dari size 36-45. Untuk yang belum tahu, sepatu trekking umumnya ada 3 tingkatan yaitu : low, mid dan high. Saya pakai yang mid, yaitu tingkatan dimana sepatu tingginya sampai ke menutupi mata kaki. Size yang saya pakai adalah 37 1/3 dengan warna abu-abu.

Secara sederhana, saya pilih sepatu yang mid karena meminimalisir kemungkinan kerikil masuk ke dalam sepatu. Columbia walla walla yang saya pakai ini made in Indonesia, jadi masalah harga masih dibawah Rp 500.000,- yaa… cincai laah. Ohya, sekedar informasi, jika saya pakai sepatu biasa / umum menggunakan ukuran 37. Nah, untuk mendaki gunung umumnya kita perlu sepatu yang lebih besar 1 nomor dari ukuran kaki kita. Misalnya saya 37, jadi baiknya ukuran sepatu trekking 38. Namun karena ukuran 38 nya sulit dicari (waktu itu karena dadakan), jadi saya ambil saja yang 37 1/3. Dan ternyata tidak terlalu buruk.

Ketika dipakai, sepatu ini cukup ringan, sehingga tidak memberatkan ketika harus melangkah terus alias dikejar waktu. Pada awal-awal pemakaian, tentu kalian masih dapat menikmati ‘fasilitas’ waterproof sepatu ini. Namun bila pemakaian sudah terlalu sering, ya jangan banyak berharap :’)

Nah, saran saya saat pakai sepatu ini, gunakan kaus kaki yang panjang melebili tinggi sepatu. Karena kalau tidak, kulit kalian bisa lecet karena gesekan antara sepatu dengan kulit kaki tepatnya di atas mata kaki selama pemakaian. Ini memang saya alami sendiri karena persiapan yang kurang matang waktu itu, jadi hanya pakai kaus kaki pendek.

Lalu.. oh ya, Columbia walla walla ini memiliki variasi wana yang cukup banyak, misalnya pink, biru, beage, dan lainnya. Jangan terpancing dengan warna yang unyu ya, ladies, karena toh nanti akan kotor juga waktu dipakai :’( saya sendiri lebih suka warna yang dark brown karena kalau kotor nggak terlalu kelihatan. Hehehe…

Nah satu lagi yang penting, saya juga menyarankan bahwa kalian baiknya benar-benar membeli 1 nomor lebih besar dari ukuran kaki kalian yang sebenarnya. Karena ternyata embel-embel 1/3 di sepatu saya tidak berpengaruh pada pemakaian saat turun gunung. Perih juga kepentok-pentok :’) alternative lain kalau kalian terlanjur beli sepatu dengan ukuran yang pas, gantungkan sepatu kalian saat turun. Pakai sandal gunung yang nyaman dan tidak licin. Jadi ujung-ujung jari kalian tidak tersiksa.

Minus dari sepatu ini adalah sol di bagian ujung sepatu mudah terkelupas :( selebihnya oke.

Sekian dulu review kecil-kecilan dari saya, salam petualang :)


-Naredita-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Dunia Milik Berdua (flash fiction)
Oleh : Nared Aji


Payung bening itu menaungi si gadis dengan tabah. Begitupun hati si gadis, menunggu sembari mengayunkan kakinya yang  mungil dan beralas sepatu merah muda. Rambutnya hitam samar-samar cokelat tua , sedikit berombak  jatuh ke bahu.

Hari telah melewati siang, dimana matahari tak lagi tepat diatas ubun-ubun. Kini ia condong ke barat, semakin gelap karena awan pekat menghalangi hangat sinarnya. Pun begitu, bayangan yang muncul dari belakang si gadis tetaplah terlihat. Ia menoleh, tersenyum hampir-hampir menampakkan giginya. Pria itu kini berjalan memutar, bukannya melompati bangku itu untuk bersebelahan dengan gadisnya.

“Kau kemana saja? Hujan hampir berhenti dan kau baru datang.”
“Maaf, aku terlalu sibuk tadi, pekerjaanku banyak sekali.” Si pria tersenyum menyiratkan maaf.
Membuang nafas, “Sudahlah. Kau mau makan dimana?” si gadis menutup payungnya karena gerimis nyaris hilang.
“Aku sedang tak ingin makan. Kau saja yang memilih..”
“Aku juga tak lapar, bagaimana kalau kita ke café yang di ujung jalan sana itu?”
“Yang mana?”
“Yang waktu kau merayakan pekerjaan barumu.”
“Oh.. ya. Disana boleh juga. Kita bisa bercakap-cakap sambil minum cappuccino dengan krim melimpah. Oh .. chesse cake nya juga kuridukan” si pria bersemangat menggandeng gadisnya.

Udara menjadi dingin karena setengah hari tadi hujan mengguyur tanpa henti.
Kaca di café itu berembun  dan dua sejoli ini begitu menikmati obrolan sembari berusaha mencerna permainan akustik yang lamat-lamat dimainkan oleh perempuan setengah baya di sudut ruangan, dengan pencahayaan lampu kuning lima belas watt.

Orang-orang yang hilir mudik dibalik kaca tempat mereka berdua duduk sesekali memandang, kadang satu detik dan ada yang memandang lebih dari tiga detik. Sejoli ini tetap tak menghiraukan, meski café bertambah ramai karena hujan kembali turun. Mereka tetap menikmati obrolan, sesekali saling mencubit lengan atau mengacak-acak rambut lawan bicaranya.

Gerakan-gerakan tangan mereka senantiasa lincah, tak lelah. Yang terekspresi dari bibir mereka hanyalah senyum, tawa, dan mimik wajah lainnya. Mata keduanya berbinar, seolah udara dingin tak mengusik sama sekali.

Obrolan itu berlangsung tanpa suara, tanpa latar musik akustik, tanpa terganggu ramainya pengunjung, dan tak diselingi gelak tawa. Bibir mereka terkatup rapat meski kadang tersenyum. Mereka haya berekspresi secukupnya, bicara dari tangan ke tangan, mata ke mata, hati ke hati.


Dengan takdir kelu itulah mereka percaya yang orang bilang : kalau cinta, dunia milik berdua.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ►  2018 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ▼  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ▼  Mei (5)
      • Escape to Surabaya & Madura (Chapter 2)
      • CONTOH SURAT KUASA KHUSUS PERDATA
      • Kisah Mahabharata dalam kacamata Ratu Dropadi : Re...
      • Columbia walla walla mid (review)
      • Dunia Milik Berdua (flash fiction)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates