Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita

Hallo ... mau berbagi cerita lagi nih. Kali ini gue mau ngajak kalian jalan-jalan ke Merapi. Jadi begini ceritanya :

Lebaran kemarin, gue memutuskan untuk pulang kampung pake keril. Dalam rangka jaga-jaga kalau mendadak mau naik gunung. Hari kedua setelah lebaran, mulai banyak tawaran mampir. Lawu, Merapi, Andhong, Prau, dan kawan-kawannya. Dan karena kemarin abis bermacet ria perjalanan dari Tangerang ke Solo, gue males pergi yang jauh-jauh dari rumah. Ting ! langsung bbm mas Bayu.
"Mas, Merapi yuk."
"Kapan?"
"Besok kamis."
"Yo boleh. sama siapa?"
"Ndak ada lagi. nyari temen gih mas. "
" -____- yowes tak nyoba ngajak Ikrom"

Kemudian bbm Rian dan Talang. fyi, dua orang ini adalah oknum yang sama di team pendakian Merbabu tahun kemarin. Singkat cerita, Rian langsung setuju dan Talang juga nggak mikir dua kali karena baru seminggu lalu dia juga ke Merapi, tapi gagal muncak gegara temennya ada yang sakit. Mas Ikrom katanya ndak bisa ngikut (ini versi dari mas Bay loh ya) jadi fix kami pergi berempat.

Kamis pagi, tanggal 31 Juli 2014. gue packing dengan logistik seadanya khas one day trip. Kemudian duduk manis nunggu Talang buat tebengan ke rumah Rian. Jam 21:00, yang seharusnya kami udah ngumpul di rumah mas Bayu di Boyolali, nyatanya gue masih duduk di teras rumah Rian, ngeliatin mereka berdua packing. Dan kami bertiga baru benaran jalan jam 22:00. Untungnya Boyolali nggak jauh-jauh amat, jadi jam 22:45 kami udah sampai di rumah mas Bay yang juga lagi packing. Nggak lama, kami berempat naik motor ke basecamp Merapi.

Kami sampai di basecamp tepat jam 00:00. Disini cuma ada satu basecamp, yang parkiran motornya membludak malam itu. Setelah urusan laporan selesai, kami mulai nanjak. Hawa dinginnya sama persis kayak waktu ke Merbabu. Jalanan awal dari basecamp ke tempat wisata New Selo beraspal, dan terus begitu sampai pos perhutani. Setengah jam rehat disana dan sedikit jengkel karena ada pendaki yang gelar tenda di pos -__- bikin nggak ada ruang buat istirahat pendaki lainnya. Nah setengah jam berlalu, kami mulai jalan lagi dan kira-kira ukul 02:00 sampai di pos 1. Disini ketemu banyak pendaki bule, rombongannya sekitar 10 sampai 15 orang dengan guide 2 orang. Nggak lama-lama langsung lanjut ke pos 2. Untuk sampai ke pos 2 kami butuh waktu 2 jam. Ini sebenernya gue oknum yang bikin lama. Hehe maap yak man teman..

Sampai di pos 2 jam 04:00. Kami sebenernya berniat camp di pasar bubrah. Tapi sebelum lanjut naik, kira-kira 30 meter setelah pos 2, gue minta break. Eh... merem sampe 15 menitan. 
"Dit .. ngantuk?" mas Bayu iseng nanya.
Gue spontan melek. Tapi karena seharian dirumah nggak berhasil tidur, mata nggak bisa bohong. "Iya ngantuk. Piye kalo buka tenda aja? Hehe... " Nyengir sambil nahan dingin. 
"Yaudah.. kita camp disini aja. Lagian tempatnya juga enak kok." Rian setuju. Talang sih ngikut aja.
Kami mendirikan tenda dan duduk sambil ngobrol plus ngemil. Aneh nya, pas tenda udah siap gue malah udah nggak ngantuk lagi. *kemudian ditoyor* jadilah Rian sama Talang yang tidur pules didalem tenda, Anget bener dobel jaket sama sb. Sementara gue sama mas Bayu ngobrol di deket batu besar di samping tenda, deket jalur. Sampe jam 05:00, pendaki udah jarang yang lewat. Gue nunjuk-nunjuk kearah puncak. Keliatan kerlip lampu headlamp para pendaki yang lagi summit. Duh, ini kaki kenapa mager banget diajak gerak..






Jam 06:00. Matahari masih malu-malu, ketutup awan. Gue udah berkali-kali bilang dingin. Mas Bayu cuma cengar-cengir. Orang ini nggak pake jaket , cuma kaos dan celana pendek. Jam 06:30, matahari baru keliatan. Langit cerah, pokoknya syahdu deh :p Gue buru-buru minta difotoin, karena udah kepengen ngelingker di dalem sb. Selesai foto, gue masuk tenda. sama kayak yang lain, rapet pake jaket dan sb. Mas Bayu masih duduk di pintu tenda. Krucuk.. krucukk... itu bunyi perut gue. Mas Bayu ngikik, entah karena lagi main hape atau denger perut gue yang kelaperan. Laper sih, tapi asli, males banget mau masak. Nggak lama mas Bayu pun ikut nyempil disambing Talang. Dan zzzzzz... kami pun tidur. 

Karena dingin nggak ilang-ilang juga, jam 09:00 akhirnya gue kebangun. Pas nengok kesamping, Talang sama Rian masih dengan posisi yang sama. Tidur pules. Entah ileran atau  nggak tuh berdua. Secara udah tidur paling lama -__- 
"Riaaann.. Talangg.... bangun. Ayo sarapan.." Akhirnya gue bangunin juga duo kebo. Rian duluan melek. "Ayo.. ayo." masih setengah sadar nyaut. Talang ikutan melek. "Jam berapa nih?" "Jam sembilan. Ayo mau muncak apa engga.." gue ngejawab sambil buka-buka plastik isi logistik. Rian masang gas ke kompor, Talang nyiapin gelas buat ngeteh. Akhirnya mas Bayu pun gabung di acara sarapan itu. Jam 10:00, gue masih males-malesan mau muncak. Bahkan kepikiran untuk nggak ikutan muncak. Tapi kok sayang bener, udah sampe sini. Yaudah akhirnya gue, Talang dan Rian berangkat muncak jam 11:00. Mas Bayu nggak ikut, jaga tenda dan dengan alasn besok harus kerja. Takutnya badan jadi nggak fit. 


cieee.. narsis

Jam 12:00 kami sampai pasar bubrah. Panaaaasss nya bukan main. (iyalah, tengah hari) . Di pasar bubrah nggak banyak yang nenda. Sepi, mungkin karena hari jumat siang. Kami lanjut dan dengan medan pasir yang nyaris bikin gue putus asa, akhirnya kami nyampe juga di puncak jam 14:30. Foto-foto, rehat bentar trus setengah jam kemudian mulai turun. 



 Talang
Rian

Nah dari pasar bubrah, ini kaki udah kacau rasanya. Cenut-cenut nggak keruan. Alhasil, jam 16:30 baru nyampe tenda lagi. Langsung masak lagi, makan, dan beberes. jam 17:30 kami mulai turun. Beruntung dari kemarin nggak keguyur hujan. Hawa mulai dingin lagi. Dan karena kondisi kaki gue yang makin sakit, perjalanan turun pun dua kali lebih lama. Rian dan mas Bayu berkali-kali nawarin mau bawain tas gue. Gue geleng-geleng kepala. Antara nggak mau ngrepotin dan ngerasa masih bisa bawa sendiri.Mas Bayu juga sempet ngecek kaki gue dan dengan sabarnya nawarin istirahat.

 Mas Bayu yang jarang banget foto
Ini Rian ngotot mau foto bareng

Tapi setelah nglewatin pos perhutani dan jalanan kembali beaspal,Gue nyerah. Keril gue beralih ke Rian. Maap ya yan... :/ dan langkah gue pendek-pendek sampe New Selo. Disana kami istirahat sebentar. Mas Bayu nawarin untuk nginep aja dirumahnya kalau kecapean. Tapi karena kami bertiga sepakat kalau Solo nggak jauh dari Boyolali, akhirnya kami tetap mau pulang aja. Jam 20:30 kami sampai di basecamp lagi. Langsung cusss ke Boyolali a.k.a rumah mas Bayu.

Jam 21:30 kami sampe di rumah mas Bayu. "Mau cari makan dulu nggak?" tawar mas Bayu.Kami bertiga saling pandang. Akhirnya kami kembali tancap gas, nyari warung nasi goreng terdekat. Nasi goreng kami pun datang dan disandingkan teh hangat. Gue selonjoran sambil main hape, para cowok ngobrolin entah apa sambil ngerokok. Nggak lama gue ikutan nimbrung juga di obrolan mereka. Ah, selalu asyik emang kalo ngobrol sama mereka. Jadi inget tahun lalu juga begini . Sayangnya kali ini nggak ada Novita, Mas ikrom dan mas Gilang. (maap Nov.... dadakan. hehe). Kenyang dan sadar udah larut malam, Kami pun pamit. 

Gue, Talang dan Rian kembali naik motor ke Solo. Jam 23:30 gue sampe rumah. Sepanjang perjalanan Talang diem aja. Ternyata tau kalo gue merem dibelakang. Hehehe..Nah, dua hari setelah itu, gue kembali bersiap-siap untuk balik ke perantauan. Yah.. life goes on kalo kata orang-orang. Sekian deh cerita gue tentang pendakian ke Merapi kemarin, makasih untuk para partner. semoga kita bisa jalan bareng-bareng lagi :)

Naredita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Sebenernya ini perjalanan udah kelewat lama buat dibikin ceritanya. Tapi berhubung barusan iseng buka-buka galeri dan nemu foto nya, jadi tiba-tiba kangen . #tsaahh..


jadi kepengen ngulang kisahnya. Nggak lewat pendakian lagi sih, cuma catatan perjalanannya aja. Dan beginilah sepenggal cerita dari Rakutak dan Ciharus ..

Rakutak, gunung berketinggian 1922mdpl ini memang nggak setinggi gunung-gunung lain yang terkenal di Jawa Barat. Pun danau Ciharus, yang ada di kakinya, juga nggak sepopuler Ranukumbolo nya Semeru. Tapi keduanya layak dicoba, karena gunung ini memang kecil-kecil cabe rawit. Tinggi yang dibawah 2000mdpl,tapi jalurnya cukup bikin geleng-geleng kepala.

Terminal Leuwi panjang, Bandung, dini hari. Kira-kira waktu itu pukul empat. Pinggiran jalanan sekitar terminal tetap ramai. Pedagang buah, oleh-oleh, warung makan hingga tukang ojek yang ribut menawarkan tumpangan. Kami bersembilan jalan ke 'markas' yang bakal disinggahi untuk dua hari kedepan. Ya, perjalanan kali ini kami akan mendaki gunung Rakutak dari jalur desa Sukarame dan turun melalui jalur lain ke arah danau Ciharus, yang masih ada di kaki Rakutak disisi lain yang masuk kawasan kamojang.

"Mau mandi nggak sit ?" gue nawarin Sita yang masih bertampang setengah sadar. "Males ah, besok aja. Emang mau jalan sekarang apa? Hoaaammm.." Akhirnya hanya cuci muka, dan balik lagi ke tongkrongan. "Santai aja dulu.. tidur, atau ngopi kek," bang Ewin ngomong dengan gaya khas nya. "Nanggung ah. Ntar jam lima kita cari sarapan.." Bang Nasa nyaut.
(dan kemudian sampai jam 06:00 masih pada geletakan di teras)
Karena risih, akhirnya gue mandi duluan. Disusul Icha dan Sita. Nggak lama yang lain pada beberes juga. Kota Bandung pagi itu cerah, secerah hati gue *eaaa.  

Kami menyambangi beberapa warung makan. Setelah gelengan, anggukan, debat kecil dan bolak-balik, akhirnya warung makan khas sunda yang nyempil diantara bengkel dan rumah warga itu jadi pilihan. Makan dengan lahap, balik ke markas dan packing ulang. Udah mulai panas, sekarang jam 09:00. Keluar ke jalan raya dengan keril masing-masing. Sandi dan bang Ewin sibuk menawar angkot yang bakal ngebawa kita ke basecamp gunung Rakutak.  Nggak pake lama langsung cuss ke TKP. Dari terminal Leuwi panjang ke desa Sukarame memakan waktu sekitar dua jam. Lumayan buat merem sebentar.




Akhirnya sampai juga di desa Sukarame. Lapor ke basecamp, doa bersama dan... mulai lah kami nanjak. Dari basecamp  kami melewati ladang-ladang penduduk. Dan ini cukup lama, karena faktor tanah merah yang licin. Gue dan bang Nasa sempet jenuh karena udah jalan dua jam masih aja ketemu sama ladang. Hahaha... Azam masih kalem dan pasang tampang sok nyantai (meski badannya juga udah basah keringat).
Aldy, yang udah pernah mendaki Rakutak sebelumnya, berjalan paling depan. Eits, dia masih kelas dua SMA loh. Sedangkan bang Wisnu cuma memandangi gunung di seberang, gunung Malabar.
Setelah habis ladang penduduk, kami sampai di pos 1. Kira-kira jam 12:00. Kami bertemu rombongan lain yang jumlahnya lebih banyak. Sempet was-was, bakal kebagian lapak buat nenda atau enggak. Pos 1 ini cuma ditandai dengan gubuk kecil, dan dibawah nya ada sumber air. Kami nggak berlama-lama disitu. Karena mengejar waktu, yang sudah ditargetkan untuk sampai di puncak sebelum malam. Oh iya, Rakutak punya 2 puncak. Target untuk buka tenda setidaknya di puncak 2. Langkah-langkah kami pun mulai dipercepat. Selain mengerjar waktu, katanya di gunung ini hujan hampir setiap hari turun, biasanya sekitar pukul 17:00 atau sebelum maghrib. 


Hampir nggak ada bonus di jalur pendakian. Jalurnya sempit, rumput tinggi di kanan-kiri, dan ada beberapa tanaman berduri yang kalau salah pegang, bisa nusuk dan bikin pedih di kulit.
Berjalan tiga jam dari pos 1, kami sampai di tegal alun. Katanya sih ini dibilang juga sebagai pos 2. Tegal alun semacam tanah datar yang muat didirikan dua tenda. Sampai disini langit mendung dan sudah memasuki kawasan hutan yang cukup rapat. Hawa dingin mulai terasa. Semilir angin bercampur embun bikin badan merinding. Sandi dan Aldy turun ke bawah yang kabarnya ada sumber air disana. Sementara yang lain rehat dan mengatur posisi badan yang cukup nyaman untuk istirahat beberapa menit. Lima belas menit, Aldy dan Sandi balik dengan jirigen kosong. "Nggak ketemu," Aldy mengangkat bahu. "Yaudah nggak apa. Jangan boros air ya, sampai puncak nanti udah nggak nemu sumber air." Azam memperingatkan. Kembali teringat 'deadline', kami enggan berlama-lama di tegal alun. Selama fisik masih kuat dan nggak ada kendala berarti, kami akan terus melanjutkan perjalanan. Pukul 15:00 kami kembali menapaki tanjakan-tanjakan yang berupa tanah sempit itu. "Masih nanjak Dit?" teriak bang Wisnu yang jadi sweeper. "Masih ! ayo semangaaaat ..." gue teriak membangkitkan semangat teman-teman. "Sita? aman?" gue memastikan keadaan Sita yang baru perdana naik gunung. Sita mengacungkan jempolnya dan mengangguk.

Hujan turun. Cukup deras hingga kami merasa perlu pakai raincoat. Tapi hujan pun tak menurunkan semangat. Dengan hati-hati kami menapaki tanah licin itu. Sekarang jalur berganti dengan sedikit bebatuan, dan pohon-pohon semakin pendek. Tanda bahwa sebentar lagi akan sampai di puncak. Dan benar saja .. "Puncakkk....!!" teriak Aldy yang sudah lebih dulu di depan. Gue makin gigih meski hujan terus turun. Begitupun teman-teman yang lain, sudah nggak sabar duduk di tanah datar yang nggak lebih dari 10x5 meter berjulukan puncak 2 itu.

Akhirnya semua sampai di puncak. Rombongan yang kami temui di pos 1 tadi tak terdengar suaranya. Mungkin mereka camp di tegal alun. Kami bergegas mendirikan tenda ditengah guyuran hujan. Baju basah dan keril yang cuma berselimut coverbag tak dihiraukan. Satu tenda berdiri sempurna. Yang satu lagi masih proses, agak ribet dibagian pintu tenda nya. Memakan waktu sekitar 30menit, dua tenda berdiri. Satu berkapasitas 5orang untuk kaum adam, (yang sekarang ini jumlahnya 6 orang) dan satu lagi berkapasitas 2 orang untuk tenda kaum hawa (yang sekarang ada 3 orang). Tapi jangan khawatir, flysheet ukuran 3x4 meter dibentangkan diantara dua tenda. Jadi keril para cowok bisa ditaruh diluar tenda tanpa kehujanan. Tapi baru lima menit kami mengeringkan badan di dalam tenda, hujan berhenti. Tinggal kabut dan hawa yang nggak sedingin di tegal alun tadi. Mungkin karena barusan hujan.




Menikmati sore sambil ngobrol ringan dan ngopi di muka tenda. Gunung ini begitu sepi. Kami cekikikan saling lempar candaan. "Laper nih.. masak dong," celetuk bang Nasa. Gue dan Icha motongin sosis, nuget dan tempe. Sita membuat kopi, Sandi memasak nasi. Hari mulai gelap. Tapi sungguh bersyukur, hujan nggak datang lagi. Langit cerah dan ketika melongok ke bawah, citylight Bandung terlihat jelas. Kenyang makan malam, kami belum mau tidur. Masih jam 20:00 . Tiba-tiba bang Nasa menawarkan main game. Sederhana, dimulai dengan hompimpa. Yang kalah akan dapat pertanyaan dari semua orang, dan harus menjawab dengan jujur. Kalau tidak mau menjawab, dia boleh diam. Asal nggak menjawab dengan kebohongan. Yang sudah menjawab boleh menunjuk orang lain lagi dan bertanya. Begitu seterusnya. Sita mendapat giliran pertama. Kemudian Azam, Icha, bang Nasa, Gue sendiri, bang Ewin, Aldy dan Sandi. Sedangkan bang Wisnu sudah masuk tenda dari tadi. Ngakunya sih tidur, nggak tau deh kalau bohongan :p


Yang paling lucu adalah jawaban Aldy saat ditanya bang Ewin bagaimana kesannya mendaki bersama teman-teman yang baru ditemuinya pertama kali. "Aldy teh .. awalnya nerpes. Malu gitu.."
"Hahahaha..." kami semua sudah tertawa begitu mendengar kalimat pertama.
"Sampai salah sebut kak Dita jadi kak Novi, duh ... maap yak kak," ujarnya sambil nyengir. Lalu lanjutnya, "Kalian lucu-lucu orang nya, asik, semangat juga ... tapi sempet takut sih sama bang Wisnu. Soalnya jarang ngomong.. sekalinya ngomong kaku banget. Hehe.. "
"Aldy cerita dooonggg.. kok bisa kenal lama sama bang Ewin ? kenal dimana?" tanyaku ketika dapat giliran bertanya.
"Oh, Aldy mah sama Ewin udah sohib.. ya bro?" dan obrolan malam itu terus berlanjut, mengalir, jadi ajang curhat, sharing pengalaman, dan candaan diantara angin malam.

Kami baru memutuskan tidur ketika sudah jam 00:00 alias tengah malam. Dan gue bangun jam 05:00. Nggak mau melewatkan sunrise. "Pagii.. bangun dong.." dan terdengar sahutan dari dalam tenda. "Pagiiiii..." suara bang Ewin. Nggak lama Sita san Icha juga bangun. Memperhatikan langit yang bersemburat merah. Dan terus memandangi sampai sang surya muncul. Kami sibuk foto-foto. Beberapa balik tidur ke dalam tenda. Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng berlauk tempe ditaburi boncabe. Hahaha. Nikmat nggak ada duanya. Sarapan selesai, langsung berbenah. Baju-baju yang kemarin basah kehujanan lumayan layak pakai lagi setelah dijemur semalaman. Sengaja nggak pakai baju bersih yang tinggal sepasang, karena masih akan camp semalam lagi di danau Ciharus.






Tepat jam 12:00 kami lanjutkan perjalanan. Dari puncak 2 ke puncak utama memakan waktu sekitar 30 menit. Nah, ini nih jalur menantang yang sudah kami tunggu-tunggu dari kemarin, banyak orang menyebutnya 'jembatan shiratal mustaqim'. Ini karena lebarnya hanya sekitar 40cm dan kanan kiri nya jurang yang curam. Belum lagi terpaan angin dan beban keril di punggung. Ekstra waspada. Gue pribadi nggak mau kebanyakan celingukan ke kanan kiri. Fokus di jalanan depan mata aja. 




Akhirnyaaaa... setelah melewati proses menegangkan tadi, kami semua satu persatu sampai di puncak utama. Rehat, keluarin kompor, ngopi, dan sedikit ngemil. Disini kami ketemu  beberapa pendaki lain. Satu jam berlalu, kita langsung cuss lanjutin perjalanan. Dari berbagai info, katanya dari puncak utama ini ke danau Ciharus memakan waktu sekitar empat jam. Kartanya juga, jalurnya cukup jelas. Dan kalau ketemu sungai, itu tandanya kita sudah dekat. Baiklah... mari bergegas. Setidaknya kami nggak mau masih jalan-jalan di jalur dengan kondisi langit gelap. Trek selanjutnya masih nanjak, jalur juga masih sempit. Tapi sepanjang jalan dari puncak utama tadi pemandangannya lebih bagus dan lebih luas. Naik turun beberapa bukit, yang nanan kiri nya masih jurang. Dua jam berlalu... "Eh liat deh! itu danau nya keliatan !" bang Ewin menunjuk lekukan air yang tampak kecil dari tempat kami berdiri. Dan memang iya itu danau. Tapi kok... masih keliatan jauh banget. Bisa dilihat untuk sampai kesitu, kami harus melewati bukit, hutan, dan sungai yang berlipat-lipat jumlahnya. Karena sudah jam 15:00, kami bergegas turun. 




Satu jam kemudian kami kembali memasuki kawasan hutan lebat. Gerimis kembali turun. Sampai akhirnya kami ketemu persimpangan. "Mau ambil yang mana?" tanya Icha. "Bentar gue cek dulu," Sandi melangkah ke jalur yang sebelah kanan. "Ada jalan sih... mau dicoba dulu aja?" katanya begitu balik lagi. Kami semua setuju dan mengambil jalur kanan. Berjalan sepuluh menit... "Mas..mas.." ada suara orang lain dibelakang kami. Ternyata pendaki lain. "Jangan ambil yang ini mas, tadi mustinya ambil yang kiri aja," katanya, mengingatkan. Kami berpandangan. "Tadi saya ada di depan rombongan kalian. Terus kok seperti dengar orang lewat jalan yang kanan. Jalan ini memang searah sama yang kiri, tapi dia (jalur itu) bakal nanjak lagi, dan mungkin melewati bukit meski akan ketemu jalur yang di depan. Saran saya mending ambil yang kiri aja," lanjutnya, panjang lebar.
"Ohhh.. gitu. Wah, makasih ya mas, untung disusulin.. hehe" Azam menepuk pundak mas-mas tadi. "Sama-sama mas, kan kita musti saling mengingatkan.. masa cuek, hehe.." jawabnya, sambil berbalik arah menyusul rombongannya sendiri. Kami pun berbalik arah, dan mengambil jalur yang kiri. Kami terus berljalan naik turun melewati bukit-bukit. Sampai akhirnya, kami sadar kalau sekarang sudah jam enam... ini berarti melewati perkiraan.


"Sungai !" Sita berteriak. Ingat kalau ketemu sungai berarti tandanya sudah dekat dengan danau. Sandi mendadak panik karena sudah lewat maghrib, tapi ternyata sungai  belum juga mengantarkan kami ke arah danau. Kami beberapa kali menyeberangi sungai dengan arus yang deras. Beberapa kali juga gue ketipu sama batuan yang ternyata pas diinjek ambrol. Celana kembali basah kuyup. Kami berpegangan tangan selama berjalan melawan arus sungai. Sita kewalahan. Akhirnya, keril Sita diambil alih oleh Azam. Kami nggak banyak bicara, terus berlajan dan berhenti sebentar untuk ngisi botol-botol kosong dengan air sungai. airnya cukup bersih dan layak diminum (kalau lagi di gunung ya hehe). Langit mulai gelap. Tapi kami lagi-lagi menemui tanjakan. "Sabar, dua bukit lagi," hibur azam. Sampai jam 19:00, kami masih belum menemui pendaki lain atau tanda-tanda dekat dengan danau. Kami berhenti sebentar untuk rehat dan berfikir.
"Kalau sampai jam sepuluh nanti kita nggak ketemu itu danau, kita harus nge-camp," kata bang Wisnu yang di amini kami semua. Kami berhenti di tengah jalur yang sepi, gelap dan sisi kannnya jurang dengan sungai deras didasarnya. Ngemil madu, roti, dan coklat. 30 menit, kami melanjutkan perjalanan. 

Sekarang sudah ada pohon pisang, berarti kami sudah di dataran yang cukup rendah. Jalanan juga mulai jelas, meski belum ketemu dengan pendaki lain. Satu jam berlalu.. kami melihat cahaya seperti api unggun dibawah sana. Seketika menarik napas lega. "Woy.. !" bang Ewin berteriak. "Woy... !" ada sahutan dari arah api unggun itu. Kami bergegas menapaki jalanan yang kanan kirinya kini rumput-rumput sepinggang. Sampai di tempat api unggun tadi, kami bertanya ke arah mana kalau mau ke danau. Mereka bilang tinggal ikuti jlan setapak itu saja. Kami pun lanjut berjalan. pukul 20:00, kami melihat genangan air tenang di sisi kiri. "Wah, ini sudah di danau?" pekik Icha. "Sepertinya ini sumber mata air. Mungkin danau nya di depan," kata bang Wisnu. Benar saja, nggak lama, kami ketemu danau itu, danau Ciharus. Betapa lega nya. Disini, kami bertemu beberapa rombongan. Ada juga beberapa tenda yang sudah berdiri. Segera kami mendirikan tenda. Badan kami bersembilan semuanya basah. Karena hujan, menerobos sungai, dan keringat. Saat dua tenda berdiri sempurna, kami antre untuk berganti baju. Setelah isi tenda rapi, kami sudah bersih dan kering, barulah masak makan malam. Kali ini menu nya adalah nasi, mie rebus dan (lagi-lagi) tempe goreng. Sebenernya mau bikin sayur yang di tumis, tapi harus kecewa karena sayur yang dibawa udah layu dan nggak layak makan. Kami ngopi, ngobrol dan bercanda sampai larut malam sebelum akhirnya tidur.


"Puagiiiiii.... ayo bangun, danau nya cakep lohh.." Gue teriak di depan tenda cowok. "Pagi Dita...." sahut beberapa orang di dalam. Azam, bang Nasa dan bang Wisnu keluar tenda. Sementara Icha dan Sita masih bersembungi dibalik sleepingbag. Danau ciharus pagi hari, astaga, indah dalam sunyi nya. Langit masih keunguan dan kabut berjalan-jalan diatas air (ini istilah dari bang Nasa). Sepi, tenang dan ... sayang pinggirannya  ada sampah. (kenapa ada sampahhhh :/ ) Kami cuma berdiri memandangi danau dan berfoto, sampai akhirnya langit benar-benar terang. Saatnya berkeliling.... hehe. Gue cuci muka di sekitar sumber air yang ada di pinggiran danau. "Dit.. mau mandi nggak?" tawar bng Nasa. "Nggak mau ah, lo mau mandi dimana bang? ntar tiba-tiba ada yang lewat lagi," gue geleng-geleng. "Kemaren gue liat ada sungai kecil tuh diatas sana. Naik dikit, tersembunyi kok. Kanan-kirinya ada pohon-pohon sama rumput tinggi. Ntar gantian jagainnya.." jelas bang Nasa, tapi akhirnya gue tetep nggak mau. Bang Nasa angkat bahu dan menghampiri sungai 'temuannya' yang tersembunyi itu. Setelah ambil air buat dimasak, gue balik ke tenda. Sekarang semuanya udah bener-bener bangun. Ngebilas celana dan coverbag yang penuh tanah semalem, Icha sibuk di pinggir danau. Gue mulai goreng kentang. Sandi, seperti biasa, masak nasi. Bang Ewin nyeduh teh anget. Sita, Azam dan yang lainnya ngayab kemana gue nggak tau. Sepertinya sih mereka melipir ke danau di sisi yang lain.




Sarapan... Diatas trashbag (yang baru dan bersih hlo) rame-rame. Duh, syahdu #halah. Kenyang, Kamimasih sempat santai sebelum berkemas dan packing. Siang jam 12:00, kami mulai turun. Nah, jalur turun yang dari danau ini rupanya sering dipakai para penghobi motor trail. Jadi jalanannya sudah kebentuk jalur-jalur kecil khas bekas dilewatin berkali-kali sama ban motor. Dari sini untuk sampai ke daerah kamojang kita ketemu jalanan aspal yang ada pipa-pipa besar PLTU nya. 



Jalan terus dan keluar dari kawasan PLTU, kami nyewa mobil bak untuk sampai ke jalan raya. Nah, dari jalan raya, kami sewa angkot lahi untuk kembali ke markas. Dan dengan badan yang dua hari nggak mandi, belum lagi baju yang kena tanah disana-sini, perjalanan dua jam ke arah bandung kota jelas kurang nyaman. Tapi dengan dibawa tidur jadi mendingan.. hehe. 


Sampai deh kita di markas. Ayo ayoo.. mandi, makan, dan malamnya kami siap untuk kembali ke Jakarta. Sekian deh cerita Rakutak-Ciharus nya, semoga menginspirasi kalian yang mau kesana dan obat rindu buat yang udah pernah kesana :)

regard,
Naredita
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan Indonesia yang namanya telah kerap kita dengar. Beliau lahir di Blora pada tahun 1925 dan hampir separuh hidupnya habis di balik terali penjara. Semasa ia berkarya, tulisan-tulisan Pram menyentuh tema interaksi antar budaya; yaitu antara Belanda, kerajaan Jawa, masyarakat Jawa secara umum, dan kaum Tionghoa. Dari sekian banyak karya Pramoedya, saya baru mengawalinya dengan membaca Bumi Manusia yang menjadi bagian pertama dari tetralogi Pulau Buru.

Bumi Manusia, sebuah novel roman berlatar kota Surabaya pada akhir abad ke-19. Menceritakan kisah Minke yang mengawali problema dalam hidup sekaligus bertemu bunga akhir abad-nya setelah datang ke Wonokromo. Minke, pemuda pribumi yang berkesempatan menjadi siswa H.B.S -sekolah kalangan bangsa Eropa. Dia pandai menulis dan, meski pribumi tulen, memiliki pola pikir se-modern bangsa Eropa. Bermacam kesulitan bahkan ancaman seolah tiada berhenti menerpa kehidupannya setelah ia datang ke Wonokromo, tepatnya tinggal di rumah Nyai Ontosoroh.

Yang membuat Minke enggan meninggalkan Wonokromo selain kekagumannya pada Nyai Ontosoroh, juga karena Annelies, gadis Eropa totok anak si-Nyai yang awalnya hanya menjadi bahan taruhan antara Minke dan kawannya. Siapa menyangka cinta itu bersambut dan terjalinlah hubungan antara anak Bupati (Minke) dan gadis Eropa yang lahir dari rahim seorang Nyai, menjadi buah bibir orang-orang. Peduli apa, Minke tetap menikahi gadis dengan predikat bunga akhir abad itu. Akibatnya, begabagai masalah bermunculan. Pendidikan Minke pun terbengkalai dan nyaris tak dapat diselamatkan lagi. Berbagai faktor -status sosial, norma, pandangan masyarakat, kedudukan, dan yang lainnya- membuatnya semakin dijauhi oleh teman-teman dan gurunya di HBS. Begitupula dengan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Semua itu dipicu keputusan Minke untuk 'bersarang' di rumah seorang Nyai dan terlibat hubungan asmara dengan putrinya.

Masalah kian pelik tatkala Robert Mellema, abang dari Annelies, kabur dari rumahnya yang disusul dengan kematian mengenaskan Tuan Mellema. Sejak kejadian itu, berbagai teror, ancaman pembunuhan, ancaman dikeluarkan dari sekolah, hingga surat-surat dari Ibunda datang menyerbu Minke habis-habisan. Namun cintanya, si Annelies dan Nyai Ontosoroh selalu mendukungnya. Tak hentinya ia tetap menulis, dan restu ibunda juga lah yang akhirnya membawa Minke dan Annelies ke dalam sebuah pernikahan.

Saya sangat kagum dengan cara Pram menuliskan perangai setiap tokohnya. Setiap tokoh memiliki karakter kuat meski yang menonjol adalah Minke sendiri dan Nyai Ontosoroh. Namun semua tokoh memiliki ciri khas masing-masing. Bahkan Darsam, yang hanya pesuruh sekaligus orang kepercayaan Nyai, ditulisnya sebagai orang yang cukup bijak dan dapat dipercaya.
Saya kira setiap orang yang membaca buku ini mampu memvisualisasikan cerita ke dalam imajinasinya masing-masing. Sebab Pram dengan detail menceritakan setiap kejadian dalam kisahnya. Tak terlalu kaku, sedikit humor, dan kalimat-kalimat puitis yang bertebaran disana-sini.

Mari kita kembali menjelajahi nusantara, tepatnya Pulau Jawa di pengujung abad 19. Masa di mana gagasan tentang negara Indonesia masih dalam proses pembenihan. Bumi Manusia adalah kendaraan yang cukup mengesankan untuk membawa kita ke sana.
Lewat Bumi Manusia kita disuguhi kondisi nusantara saat itu yang terbelah oleh perbedaan strata sosial antara Pribumi dan bangsa Eropa. Perbedaan bahkan terjadi antara sesama pribumi; antara ningrat dan melarat. Yang berkuasa dan dalam kepatuhan pada adat.

Tak ketinggalan, Pram juga menyingkap diskriminasi pemerintahan kolonial terhadap perempuan yang dibangum dari sistem yang memihak kepada laki-laki, khususnya laki-laki Eropa. Hal itu tersirat jelas ketika Nyai Ontosoroh yang seorang Pribumi, harus kehilangan hak asuhnya atas Annelies hanya karena statusnya sebagai gundik Tuan Mellema.

Lewat hukum yang meminggirkan perempuan pribumi dan memihak Eropa, semua hal yang berkaitan dengan hukum di masa itu, mampu menjungkir balikkan nasib seseorang hanya dengan selembar kertas. Dan lihat bagaimana orang Eropa mendandani bangsa pribumi sedemikian rupawan; bahkan dalam memantaskan pakaian adat pribumi itu sendiri dalam acara-acara penting. Meski demikian Pram juga menyisipkan banyak perlawanan terhadap kesewenangan pemerintah kolonial. Perlawanan yang terejawantah pada sosok Nyai Ontosoroh dalam hubungannya dengan suaminya, Tuan Mellema. Dalam hubungan itu Pram menggambarkan bagaimana Nyai, gundik yang dipandang remeh banyak orang itu; mampu menaklukkan Tuannya sendiri.

Bumi Manusia adalah novel kaya yang membahas banyak hal, dari persoalan sederhana hingga masalah pelik, mengolah rasa, pikiran, dan imajinasi. Semuanya menjadi suatu kombinasi yang mengesankan. Saya sendiri tidak tahan untuk berlama-lama membiarkan buku ini tergeletak dengan pembatas yang menyembul masih bukan di halaman terakhir. Selamat membaca ..

"Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima. " -Nyai Ontosoroh-

regard,
-N-


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates