Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita


Sebenernya ini perjalanan udah kelewat lama buat dibikin ceritanya. Tapi berhubung barusan iseng buka-buka galeri dan nemu foto nya, jadi tiba-tiba kangen . #tsaahh..


jadi kepengen ngulang kisahnya. Nggak lewat pendakian lagi sih, cuma catatan perjalanannya aja. Dan beginilah sepenggal cerita dari Rakutak dan Ciharus ..

Rakutak, gunung berketinggian 1922mdpl ini memang nggak setinggi gunung-gunung lain yang terkenal di Jawa Barat. Pun danau Ciharus, yang ada di kakinya, juga nggak sepopuler Ranukumbolo nya Semeru. Tapi keduanya layak dicoba, karena gunung ini memang kecil-kecil cabe rawit. Tinggi yang dibawah 2000mdpl,tapi jalurnya cukup bikin geleng-geleng kepala.

Terminal Leuwi panjang, Bandung, dini hari. Kira-kira waktu itu pukul empat. Pinggiran jalanan sekitar terminal tetap ramai. Pedagang buah, oleh-oleh, warung makan hingga tukang ojek yang ribut menawarkan tumpangan. Kami bersembilan jalan ke 'markas' yang bakal disinggahi untuk dua hari kedepan. Ya, perjalanan kali ini kami akan mendaki gunung Rakutak dari jalur desa Sukarame dan turun melalui jalur lain ke arah danau Ciharus, yang masih ada di kaki Rakutak disisi lain yang masuk kawasan kamojang.

"Mau mandi nggak sit ?" gue nawarin Sita yang masih bertampang setengah sadar. "Males ah, besok aja. Emang mau jalan sekarang apa? Hoaaammm.." Akhirnya hanya cuci muka, dan balik lagi ke tongkrongan. "Santai aja dulu.. tidur, atau ngopi kek," bang Ewin ngomong dengan gaya khas nya. "Nanggung ah. Ntar jam lima kita cari sarapan.." Bang Nasa nyaut.
(dan kemudian sampai jam 06:00 masih pada geletakan di teras)
Karena risih, akhirnya gue mandi duluan. Disusul Icha dan Sita. Nggak lama yang lain pada beberes juga. Kota Bandung pagi itu cerah, secerah hati gue *eaaa.  

Kami menyambangi beberapa warung makan. Setelah gelengan, anggukan, debat kecil dan bolak-balik, akhirnya warung makan khas sunda yang nyempil diantara bengkel dan rumah warga itu jadi pilihan. Makan dengan lahap, balik ke markas dan packing ulang. Udah mulai panas, sekarang jam 09:00. Keluar ke jalan raya dengan keril masing-masing. Sandi dan bang Ewin sibuk menawar angkot yang bakal ngebawa kita ke basecamp gunung Rakutak.  Nggak pake lama langsung cuss ke TKP. Dari terminal Leuwi panjang ke desa Sukarame memakan waktu sekitar dua jam. Lumayan buat merem sebentar.




Akhirnya sampai juga di desa Sukarame. Lapor ke basecamp, doa bersama dan... mulai lah kami nanjak. Dari basecamp  kami melewati ladang-ladang penduduk. Dan ini cukup lama, karena faktor tanah merah yang licin. Gue dan bang Nasa sempet jenuh karena udah jalan dua jam masih aja ketemu sama ladang. Hahaha... Azam masih kalem dan pasang tampang sok nyantai (meski badannya juga udah basah keringat).
Aldy, yang udah pernah mendaki Rakutak sebelumnya, berjalan paling depan. Eits, dia masih kelas dua SMA loh. Sedangkan bang Wisnu cuma memandangi gunung di seberang, gunung Malabar.
Setelah habis ladang penduduk, kami sampai di pos 1. Kira-kira jam 12:00. Kami bertemu rombongan lain yang jumlahnya lebih banyak. Sempet was-was, bakal kebagian lapak buat nenda atau enggak. Pos 1 ini cuma ditandai dengan gubuk kecil, dan dibawah nya ada sumber air. Kami nggak berlama-lama disitu. Karena mengejar waktu, yang sudah ditargetkan untuk sampai di puncak sebelum malam. Oh iya, Rakutak punya 2 puncak. Target untuk buka tenda setidaknya di puncak 2. Langkah-langkah kami pun mulai dipercepat. Selain mengerjar waktu, katanya di gunung ini hujan hampir setiap hari turun, biasanya sekitar pukul 17:00 atau sebelum maghrib. 


Hampir nggak ada bonus di jalur pendakian. Jalurnya sempit, rumput tinggi di kanan-kiri, dan ada beberapa tanaman berduri yang kalau salah pegang, bisa nusuk dan bikin pedih di kulit.
Berjalan tiga jam dari pos 1, kami sampai di tegal alun. Katanya sih ini dibilang juga sebagai pos 2. Tegal alun semacam tanah datar yang muat didirikan dua tenda. Sampai disini langit mendung dan sudah memasuki kawasan hutan yang cukup rapat. Hawa dingin mulai terasa. Semilir angin bercampur embun bikin badan merinding. Sandi dan Aldy turun ke bawah yang kabarnya ada sumber air disana. Sementara yang lain rehat dan mengatur posisi badan yang cukup nyaman untuk istirahat beberapa menit. Lima belas menit, Aldy dan Sandi balik dengan jirigen kosong. "Nggak ketemu," Aldy mengangkat bahu. "Yaudah nggak apa. Jangan boros air ya, sampai puncak nanti udah nggak nemu sumber air." Azam memperingatkan. Kembali teringat 'deadline', kami enggan berlama-lama di tegal alun. Selama fisik masih kuat dan nggak ada kendala berarti, kami akan terus melanjutkan perjalanan. Pukul 15:00 kami kembali menapaki tanjakan-tanjakan yang berupa tanah sempit itu. "Masih nanjak Dit?" teriak bang Wisnu yang jadi sweeper. "Masih ! ayo semangaaaat ..." gue teriak membangkitkan semangat teman-teman. "Sita? aman?" gue memastikan keadaan Sita yang baru perdana naik gunung. Sita mengacungkan jempolnya dan mengangguk.

Hujan turun. Cukup deras hingga kami merasa perlu pakai raincoat. Tapi hujan pun tak menurunkan semangat. Dengan hati-hati kami menapaki tanah licin itu. Sekarang jalur berganti dengan sedikit bebatuan, dan pohon-pohon semakin pendek. Tanda bahwa sebentar lagi akan sampai di puncak. Dan benar saja .. "Puncakkk....!!" teriak Aldy yang sudah lebih dulu di depan. Gue makin gigih meski hujan terus turun. Begitupun teman-teman yang lain, sudah nggak sabar duduk di tanah datar yang nggak lebih dari 10x5 meter berjulukan puncak 2 itu.

Akhirnya semua sampai di puncak. Rombongan yang kami temui di pos 1 tadi tak terdengar suaranya. Mungkin mereka camp di tegal alun. Kami bergegas mendirikan tenda ditengah guyuran hujan. Baju basah dan keril yang cuma berselimut coverbag tak dihiraukan. Satu tenda berdiri sempurna. Yang satu lagi masih proses, agak ribet dibagian pintu tenda nya. Memakan waktu sekitar 30menit, dua tenda berdiri. Satu berkapasitas 5orang untuk kaum adam, (yang sekarang ini jumlahnya 6 orang) dan satu lagi berkapasitas 2 orang untuk tenda kaum hawa (yang sekarang ada 3 orang). Tapi jangan khawatir, flysheet ukuran 3x4 meter dibentangkan diantara dua tenda. Jadi keril para cowok bisa ditaruh diluar tenda tanpa kehujanan. Tapi baru lima menit kami mengeringkan badan di dalam tenda, hujan berhenti. Tinggal kabut dan hawa yang nggak sedingin di tegal alun tadi. Mungkin karena barusan hujan.




Menikmati sore sambil ngobrol ringan dan ngopi di muka tenda. Gunung ini begitu sepi. Kami cekikikan saling lempar candaan. "Laper nih.. masak dong," celetuk bang Nasa. Gue dan Icha motongin sosis, nuget dan tempe. Sita membuat kopi, Sandi memasak nasi. Hari mulai gelap. Tapi sungguh bersyukur, hujan nggak datang lagi. Langit cerah dan ketika melongok ke bawah, citylight Bandung terlihat jelas. Kenyang makan malam, kami belum mau tidur. Masih jam 20:00 . Tiba-tiba bang Nasa menawarkan main game. Sederhana, dimulai dengan hompimpa. Yang kalah akan dapat pertanyaan dari semua orang, dan harus menjawab dengan jujur. Kalau tidak mau menjawab, dia boleh diam. Asal nggak menjawab dengan kebohongan. Yang sudah menjawab boleh menunjuk orang lain lagi dan bertanya. Begitu seterusnya. Sita mendapat giliran pertama. Kemudian Azam, Icha, bang Nasa, Gue sendiri, bang Ewin, Aldy dan Sandi. Sedangkan bang Wisnu sudah masuk tenda dari tadi. Ngakunya sih tidur, nggak tau deh kalau bohongan :p


Yang paling lucu adalah jawaban Aldy saat ditanya bang Ewin bagaimana kesannya mendaki bersama teman-teman yang baru ditemuinya pertama kali. "Aldy teh .. awalnya nerpes. Malu gitu.."
"Hahahaha..." kami semua sudah tertawa begitu mendengar kalimat pertama.
"Sampai salah sebut kak Dita jadi kak Novi, duh ... maap yak kak," ujarnya sambil nyengir. Lalu lanjutnya, "Kalian lucu-lucu orang nya, asik, semangat juga ... tapi sempet takut sih sama bang Wisnu. Soalnya jarang ngomong.. sekalinya ngomong kaku banget. Hehe.. "
"Aldy cerita dooonggg.. kok bisa kenal lama sama bang Ewin ? kenal dimana?" tanyaku ketika dapat giliran bertanya.
"Oh, Aldy mah sama Ewin udah sohib.. ya bro?" dan obrolan malam itu terus berlanjut, mengalir, jadi ajang curhat, sharing pengalaman, dan candaan diantara angin malam.

Kami baru memutuskan tidur ketika sudah jam 00:00 alias tengah malam. Dan gue bangun jam 05:00. Nggak mau melewatkan sunrise. "Pagii.. bangun dong.." dan terdengar sahutan dari dalam tenda. "Pagiiiii..." suara bang Ewin. Nggak lama Sita san Icha juga bangun. Memperhatikan langit yang bersemburat merah. Dan terus memandangi sampai sang surya muncul. Kami sibuk foto-foto. Beberapa balik tidur ke dalam tenda. Menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng berlauk tempe ditaburi boncabe. Hahaha. Nikmat nggak ada duanya. Sarapan selesai, langsung berbenah. Baju-baju yang kemarin basah kehujanan lumayan layak pakai lagi setelah dijemur semalaman. Sengaja nggak pakai baju bersih yang tinggal sepasang, karena masih akan camp semalam lagi di danau Ciharus.






Tepat jam 12:00 kami lanjutkan perjalanan. Dari puncak 2 ke puncak utama memakan waktu sekitar 30 menit. Nah, ini nih jalur menantang yang sudah kami tunggu-tunggu dari kemarin, banyak orang menyebutnya 'jembatan shiratal mustaqim'. Ini karena lebarnya hanya sekitar 40cm dan kanan kiri nya jurang yang curam. Belum lagi terpaan angin dan beban keril di punggung. Ekstra waspada. Gue pribadi nggak mau kebanyakan celingukan ke kanan kiri. Fokus di jalanan depan mata aja. 




Akhirnyaaaa... setelah melewati proses menegangkan tadi, kami semua satu persatu sampai di puncak utama. Rehat, keluarin kompor, ngopi, dan sedikit ngemil. Disini kami ketemu  beberapa pendaki lain. Satu jam berlalu, kita langsung cuss lanjutin perjalanan. Dari berbagai info, katanya dari puncak utama ini ke danau Ciharus memakan waktu sekitar empat jam. Kartanya juga, jalurnya cukup jelas. Dan kalau ketemu sungai, itu tandanya kita sudah dekat. Baiklah... mari bergegas. Setidaknya kami nggak mau masih jalan-jalan di jalur dengan kondisi langit gelap. Trek selanjutnya masih nanjak, jalur juga masih sempit. Tapi sepanjang jalan dari puncak utama tadi pemandangannya lebih bagus dan lebih luas. Naik turun beberapa bukit, yang nanan kiri nya masih jurang. Dua jam berlalu... "Eh liat deh! itu danau nya keliatan !" bang Ewin menunjuk lekukan air yang tampak kecil dari tempat kami berdiri. Dan memang iya itu danau. Tapi kok... masih keliatan jauh banget. Bisa dilihat untuk sampai kesitu, kami harus melewati bukit, hutan, dan sungai yang berlipat-lipat jumlahnya. Karena sudah jam 15:00, kami bergegas turun. 




Satu jam kemudian kami kembali memasuki kawasan hutan lebat. Gerimis kembali turun. Sampai akhirnya kami ketemu persimpangan. "Mau ambil yang mana?" tanya Icha. "Bentar gue cek dulu," Sandi melangkah ke jalur yang sebelah kanan. "Ada jalan sih... mau dicoba dulu aja?" katanya begitu balik lagi. Kami semua setuju dan mengambil jalur kanan. Berjalan sepuluh menit... "Mas..mas.." ada suara orang lain dibelakang kami. Ternyata pendaki lain. "Jangan ambil yang ini mas, tadi mustinya ambil yang kiri aja," katanya, mengingatkan. Kami berpandangan. "Tadi saya ada di depan rombongan kalian. Terus kok seperti dengar orang lewat jalan yang kanan. Jalan ini memang searah sama yang kiri, tapi dia (jalur itu) bakal nanjak lagi, dan mungkin melewati bukit meski akan ketemu jalur yang di depan. Saran saya mending ambil yang kiri aja," lanjutnya, panjang lebar.
"Ohhh.. gitu. Wah, makasih ya mas, untung disusulin.. hehe" Azam menepuk pundak mas-mas tadi. "Sama-sama mas, kan kita musti saling mengingatkan.. masa cuek, hehe.." jawabnya, sambil berbalik arah menyusul rombongannya sendiri. Kami pun berbalik arah, dan mengambil jalur yang kiri. Kami terus berljalan naik turun melewati bukit-bukit. Sampai akhirnya, kami sadar kalau sekarang sudah jam enam... ini berarti melewati perkiraan.


"Sungai !" Sita berteriak. Ingat kalau ketemu sungai berarti tandanya sudah dekat dengan danau. Sandi mendadak panik karena sudah lewat maghrib, tapi ternyata sungai  belum juga mengantarkan kami ke arah danau. Kami beberapa kali menyeberangi sungai dengan arus yang deras. Beberapa kali juga gue ketipu sama batuan yang ternyata pas diinjek ambrol. Celana kembali basah kuyup. Kami berpegangan tangan selama berjalan melawan arus sungai. Sita kewalahan. Akhirnya, keril Sita diambil alih oleh Azam. Kami nggak banyak bicara, terus berlajan dan berhenti sebentar untuk ngisi botol-botol kosong dengan air sungai. airnya cukup bersih dan layak diminum (kalau lagi di gunung ya hehe). Langit mulai gelap. Tapi kami lagi-lagi menemui tanjakan. "Sabar, dua bukit lagi," hibur azam. Sampai jam 19:00, kami masih belum menemui pendaki lain atau tanda-tanda dekat dengan danau. Kami berhenti sebentar untuk rehat dan berfikir.
"Kalau sampai jam sepuluh nanti kita nggak ketemu itu danau, kita harus nge-camp," kata bang Wisnu yang di amini kami semua. Kami berhenti di tengah jalur yang sepi, gelap dan sisi kannnya jurang dengan sungai deras didasarnya. Ngemil madu, roti, dan coklat. 30 menit, kami melanjutkan perjalanan. 

Sekarang sudah ada pohon pisang, berarti kami sudah di dataran yang cukup rendah. Jalanan juga mulai jelas, meski belum ketemu dengan pendaki lain. Satu jam berlalu.. kami melihat cahaya seperti api unggun dibawah sana. Seketika menarik napas lega. "Woy.. !" bang Ewin berteriak. "Woy... !" ada sahutan dari arah api unggun itu. Kami bergegas menapaki jalanan yang kanan kirinya kini rumput-rumput sepinggang. Sampai di tempat api unggun tadi, kami bertanya ke arah mana kalau mau ke danau. Mereka bilang tinggal ikuti jlan setapak itu saja. Kami pun lanjut berjalan. pukul 20:00, kami melihat genangan air tenang di sisi kiri. "Wah, ini sudah di danau?" pekik Icha. "Sepertinya ini sumber mata air. Mungkin danau nya di depan," kata bang Wisnu. Benar saja, nggak lama, kami ketemu danau itu, danau Ciharus. Betapa lega nya. Disini, kami bertemu beberapa rombongan. Ada juga beberapa tenda yang sudah berdiri. Segera kami mendirikan tenda. Badan kami bersembilan semuanya basah. Karena hujan, menerobos sungai, dan keringat. Saat dua tenda berdiri sempurna, kami antre untuk berganti baju. Setelah isi tenda rapi, kami sudah bersih dan kering, barulah masak makan malam. Kali ini menu nya adalah nasi, mie rebus dan (lagi-lagi) tempe goreng. Sebenernya mau bikin sayur yang di tumis, tapi harus kecewa karena sayur yang dibawa udah layu dan nggak layak makan. Kami ngopi, ngobrol dan bercanda sampai larut malam sebelum akhirnya tidur.


"Puagiiiiii.... ayo bangun, danau nya cakep lohh.." Gue teriak di depan tenda cowok. "Pagi Dita...." sahut beberapa orang di dalam. Azam, bang Nasa dan bang Wisnu keluar tenda. Sementara Icha dan Sita masih bersembungi dibalik sleepingbag. Danau ciharus pagi hari, astaga, indah dalam sunyi nya. Langit masih keunguan dan kabut berjalan-jalan diatas air (ini istilah dari bang Nasa). Sepi, tenang dan ... sayang pinggirannya  ada sampah. (kenapa ada sampahhhh :/ ) Kami cuma berdiri memandangi danau dan berfoto, sampai akhirnya langit benar-benar terang. Saatnya berkeliling.... hehe. Gue cuci muka di sekitar sumber air yang ada di pinggiran danau. "Dit.. mau mandi nggak?" tawar bng Nasa. "Nggak mau ah, lo mau mandi dimana bang? ntar tiba-tiba ada yang lewat lagi," gue geleng-geleng. "Kemaren gue liat ada sungai kecil tuh diatas sana. Naik dikit, tersembunyi kok. Kanan-kirinya ada pohon-pohon sama rumput tinggi. Ntar gantian jagainnya.." jelas bang Nasa, tapi akhirnya gue tetep nggak mau. Bang Nasa angkat bahu dan menghampiri sungai 'temuannya' yang tersembunyi itu. Setelah ambil air buat dimasak, gue balik ke tenda. Sekarang semuanya udah bener-bener bangun. Ngebilas celana dan coverbag yang penuh tanah semalem, Icha sibuk di pinggir danau. Gue mulai goreng kentang. Sandi, seperti biasa, masak nasi. Bang Ewin nyeduh teh anget. Sita, Azam dan yang lainnya ngayab kemana gue nggak tau. Sepertinya sih mereka melipir ke danau di sisi yang lain.




Sarapan... Diatas trashbag (yang baru dan bersih hlo) rame-rame. Duh, syahdu #halah. Kenyang, Kamimasih sempat santai sebelum berkemas dan packing. Siang jam 12:00, kami mulai turun. Nah, jalur turun yang dari danau ini rupanya sering dipakai para penghobi motor trail. Jadi jalanannya sudah kebentuk jalur-jalur kecil khas bekas dilewatin berkali-kali sama ban motor. Dari sini untuk sampai ke daerah kamojang kita ketemu jalanan aspal yang ada pipa-pipa besar PLTU nya. 



Jalan terus dan keluar dari kawasan PLTU, kami nyewa mobil bak untuk sampai ke jalan raya. Nah, dari jalan raya, kami sewa angkot lahi untuk kembali ke markas. Dan dengan badan yang dua hari nggak mandi, belum lagi baju yang kena tanah disana-sini, perjalanan dua jam ke arah bandung kota jelas kurang nyaman. Tapi dengan dibawa tidur jadi mendingan.. hehe. 


Sampai deh kita di markas. Ayo ayoo.. mandi, makan, dan malamnya kami siap untuk kembali ke Jakarta. Sekian deh cerita Rakutak-Ciharus nya, semoga menginspirasi kalian yang mau kesana dan obat rindu buat yang udah pernah kesana :)

regard,
Naredita
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan Indonesia yang namanya telah kerap kita dengar. Beliau lahir di Blora pada tahun 1925 dan hampir separuh hidupnya habis di balik terali penjara. Semasa ia berkarya, tulisan-tulisan Pram menyentuh tema interaksi antar budaya; yaitu antara Belanda, kerajaan Jawa, masyarakat Jawa secara umum, dan kaum Tionghoa. Dari sekian banyak karya Pramoedya, saya baru mengawalinya dengan membaca Bumi Manusia yang menjadi bagian pertama dari tetralogi Pulau Buru.

Bumi Manusia, sebuah novel roman berlatar kota Surabaya pada akhir abad ke-19. Menceritakan kisah Minke yang mengawali problema dalam hidup sekaligus bertemu bunga akhir abad-nya setelah datang ke Wonokromo. Minke, pemuda pribumi yang berkesempatan menjadi siswa H.B.S -sekolah kalangan bangsa Eropa. Dia pandai menulis dan, meski pribumi tulen, memiliki pola pikir se-modern bangsa Eropa. Bermacam kesulitan bahkan ancaman seolah tiada berhenti menerpa kehidupannya setelah ia datang ke Wonokromo, tepatnya tinggal di rumah Nyai Ontosoroh.

Yang membuat Minke enggan meninggalkan Wonokromo selain kekagumannya pada Nyai Ontosoroh, juga karena Annelies, gadis Eropa totok anak si-Nyai yang awalnya hanya menjadi bahan taruhan antara Minke dan kawannya. Siapa menyangka cinta itu bersambut dan terjalinlah hubungan antara anak Bupati (Minke) dan gadis Eropa yang lahir dari rahim seorang Nyai, menjadi buah bibir orang-orang. Peduli apa, Minke tetap menikahi gadis dengan predikat bunga akhir abad itu. Akibatnya, begabagai masalah bermunculan. Pendidikan Minke pun terbengkalai dan nyaris tak dapat diselamatkan lagi. Berbagai faktor -status sosial, norma, pandangan masyarakat, kedudukan, dan yang lainnya- membuatnya semakin dijauhi oleh teman-teman dan gurunya di HBS. Begitupula dengan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Semua itu dipicu keputusan Minke untuk 'bersarang' di rumah seorang Nyai dan terlibat hubungan asmara dengan putrinya.

Masalah kian pelik tatkala Robert Mellema, abang dari Annelies, kabur dari rumahnya yang disusul dengan kematian mengenaskan Tuan Mellema. Sejak kejadian itu, berbagai teror, ancaman pembunuhan, ancaman dikeluarkan dari sekolah, hingga surat-surat dari Ibunda datang menyerbu Minke habis-habisan. Namun cintanya, si Annelies dan Nyai Ontosoroh selalu mendukungnya. Tak hentinya ia tetap menulis, dan restu ibunda juga lah yang akhirnya membawa Minke dan Annelies ke dalam sebuah pernikahan.

Saya sangat kagum dengan cara Pram menuliskan perangai setiap tokohnya. Setiap tokoh memiliki karakter kuat meski yang menonjol adalah Minke sendiri dan Nyai Ontosoroh. Namun semua tokoh memiliki ciri khas masing-masing. Bahkan Darsam, yang hanya pesuruh sekaligus orang kepercayaan Nyai, ditulisnya sebagai orang yang cukup bijak dan dapat dipercaya.
Saya kira setiap orang yang membaca buku ini mampu memvisualisasikan cerita ke dalam imajinasinya masing-masing. Sebab Pram dengan detail menceritakan setiap kejadian dalam kisahnya. Tak terlalu kaku, sedikit humor, dan kalimat-kalimat puitis yang bertebaran disana-sini.

Mari kita kembali menjelajahi nusantara, tepatnya Pulau Jawa di pengujung abad 19. Masa di mana gagasan tentang negara Indonesia masih dalam proses pembenihan. Bumi Manusia adalah kendaraan yang cukup mengesankan untuk membawa kita ke sana.
Lewat Bumi Manusia kita disuguhi kondisi nusantara saat itu yang terbelah oleh perbedaan strata sosial antara Pribumi dan bangsa Eropa. Perbedaan bahkan terjadi antara sesama pribumi; antara ningrat dan melarat. Yang berkuasa dan dalam kepatuhan pada adat.

Tak ketinggalan, Pram juga menyingkap diskriminasi pemerintahan kolonial terhadap perempuan yang dibangum dari sistem yang memihak kepada laki-laki, khususnya laki-laki Eropa. Hal itu tersirat jelas ketika Nyai Ontosoroh yang seorang Pribumi, harus kehilangan hak asuhnya atas Annelies hanya karena statusnya sebagai gundik Tuan Mellema.

Lewat hukum yang meminggirkan perempuan pribumi dan memihak Eropa, semua hal yang berkaitan dengan hukum di masa itu, mampu menjungkir balikkan nasib seseorang hanya dengan selembar kertas. Dan lihat bagaimana orang Eropa mendandani bangsa pribumi sedemikian rupawan; bahkan dalam memantaskan pakaian adat pribumi itu sendiri dalam acara-acara penting. Meski demikian Pram juga menyisipkan banyak perlawanan terhadap kesewenangan pemerintah kolonial. Perlawanan yang terejawantah pada sosok Nyai Ontosoroh dalam hubungannya dengan suaminya, Tuan Mellema. Dalam hubungan itu Pram menggambarkan bagaimana Nyai, gundik yang dipandang remeh banyak orang itu; mampu menaklukkan Tuannya sendiri.

Bumi Manusia adalah novel kaya yang membahas banyak hal, dari persoalan sederhana hingga masalah pelik, mengolah rasa, pikiran, dan imajinasi. Semuanya menjadi suatu kombinasi yang mengesankan. Saya sendiri tidak tahan untuk berlama-lama membiarkan buku ini tergeletak dengan pembatas yang menyembul masih bukan di halaman terakhir. Selamat membaca ..

"Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima. " -Nyai Ontosoroh-

regard,
-N-


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hallo travelers.. sekarang aku mau share tentang bagaimana agar kita bisa tetep jalan-jalan asik tanpa keluar kocek banyak. (in case kamu lagi pengiritan tapi kepengen jalan atau lagi pengen nyoba backpackeran). Sebenernya aku juga belum lama sih suka bepergian ke luar kota, tapi untuk sekarang ini aku mau bagi-bagi tips yang udah pernah aku aplikasiin di perjalanan pribadi dan cukup berguna. Langsung aja ya, cekidot >>

1. Buat rencana perjalanan
Rencana perjalanan sangat penting supaya kita bisa sesuaikan budget, kemampuan, kondisi fisik dan waktu kita. Jangan sampai keluar dari plan kecuali ada kejadian mendadak. Kalau bisa jangan sampai kita jalan seenaknya tanpa pikir panjang. Bisa-bisa kena semprot bos nanti gara-gara telat mulai kerja karena kecapean traveling :p

2. Gabung di banyak komunitas jalan-jalan
Ini agar kita punya banyak kenalan di berbagai daerah. Biasanya di forum-forum tertentu member nya menyediakan rumah singgah. Nggak jarang juga mereka mau nemenin kita jalan-jalan di kota mereka. Misalnya, kita dari Jakarta mau ke Jogja. Kalau kita punya beberapa kenalan disana kita bisa contact mereka yang menyediakan rumah singgah atau sekedar minta info penginapan yang murah disana. Beruntung kalau mereka mau nemenin kita wisata di Jogja. Selain terhindar dari wasting tine gara-gara nyasar, kita juga bisa punya teman baru. Syarat untuk hal ini adalah : kita harus welcome juga sama para traveller dari luar kota kita. Nggak harus sediain rumah singgah, paling nggak kita bisa kasih saran tempat yang oke buat mereka datengin. Atau menjawab dengan sebaik-baiknya pertanyaan mereka tentang kota / daerah kita. Yaa.. semacam simbiosis mutualisme gitu lah. Hehe..

3. Rajin cek promo tiket dan tarif tiket yang up to date
Ini nih, buat yang sering bepergian pakai kendaraan umum. Yang biasa naik pesawat pasti nggak asing sama yang namanya promo tiket. Silahkan rajin-rajin cek situs web yang menyediakan info tentang promo tiket. Nggak jarang hlo yang dapat harga dibawah 100ribu untuk perjalanan pulang pergi.
Kemudian buat kalian yang sukanya naik kereta, ini lebih mudah. Situs resmi PT. KAI bisa diakses sewaktu-waktu (kecuali kalau server nya lagi eror :D) apalagi sekarang kita bisa pesen tiket H-90. Jadi bisa booking dan punya deposit tiket untuk perjalanan yang terencana :D Biasanya ada periode tertentu harga tiket naik dan turun. Call center nya juga mudah dihubungi. Nomornya saat ini adalah 121.
And then .. buat pecinta bus. Ada komunitas nya kok, misalnya busmania. Kalian bisa tanya-tanya sama mereka lama perjalanan, agen buas apa dan harga tiket sama mereka. Atau datangi langsung loket nya di agen resmi atau terminal. Jangan sampai ketipu sama calo.

4. Targetkan pengeluaran
Penting. Supaya kita nggak kebablasan belanja atau boros saat sedang bepergian. Biasanya ini sudah termasuk dalam rencana perjalanan. Ingat, kita sedang belajar bepergian secara irit :'D

5. Jangan gengsi
Jangan gengsi untuk makan di warteg emperan. Jangan gengsi untuk tanya-tanya orang sekitar biar nggak nyasar dan abisin duit ongkos buat nyari jalan balik. Jangan gengsi untuk masuk ke toko-toko souvenir yang gak menjual barang bermerek terkenal. Pilih segala sesuatunya yang pas di kantong. Biasanya pilihannya adalah mau makan enak atau tidur enak. Alias makan di restoran atau tidur di hotel. Sebisa mungkin cari tempat menginap yang cukup nyaman dan murah. Buat tidur doang, guys. Nggak perlu cari yang bintang lima kan :D Masalah makanan, walaupun murah tetep cari yang higienis ya. Biasanya makanan khas nggak sulit dicari kok.

6. Abadikan momen, catat perjalanan
Ini akan membantu sewaktu-waktu. Bisa saja kita pernah mengunjungi Dieng tahun kemarin dan ternyata dua tahun kemudian kita ingin kesana lagi? Memang sih perubahan harga bisa terjadi sewakti-waktu. Tapi paling tidak kita masih punya bekal info. Nggak harus bersusah cari info dari nol seperti dulu. Atau siapa tau kamu suatu saat akan buka jasa konsultan perjalanan? ;)


Nah gaes, sementara itu dulu tips dari aku. Maaf kalau cuma segini. Hihi.. Untuk kawan-kawan yang punya tips lain, silahken ditambahkan. Semoga bermanfaat ya :)

Salam ransel,
Naredita
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Consina Alpine 55+5 ltr

Lagi iseng dan nggak ada kerjaan, sekarang mau review tas keril yang saya pakai belakangan ini.
Buat yang baru-baru suka mendaki gunung, atau sekedar rajin backpackeran tapi masih anak sekolah, mahasiswa atau yang lagi ngirit. Menurut saya tas ransel yang satu ini cukup memuaskan.

Merk Consina seri Alpine, dengan ukuran 55+5 liter. Tas ransel (atau yang biasa disebut 'carrier' alias 'keril' sama anak gunung) ini menurut saya lebih cocok dipake sama kaum hawa. Warna nya merah kombinasi abu-abu, nggak norak dan nggak ribet diliatnya.
Saya beli tas ini sekitar setahun yang lalu dengan harga 360k, cukup bersahabat buat mahasiswa perantauan seperti saya. Buat cewek, tas ini nggak terlalu besar dan panjang, karena umumnya kalo cewek naik gunung dalam satu rombongan dia nggak akan bawa tenda di dalam tas nya. Alias tenda biasa jadi urusan kaum lelaki. Hahaha..

Saya pernah pakai tas ini untuk pergi one day trip, two day one night, bahkan perjalanan ngegembel satu minggu penuh. Dan oke-oke saja, cukup untuk barang bawaan termasuk sleeping bag saya yang segede gaban.

Ruang utama tas ini cukup diisi beberapa baju, dua celana, logistik selama empat hari, sleeping bag, jaket dan raincoat (itu yang biasa saya bawa dan muat di ruang utama). Ada penutup nya yang juga berfungsi untuk ruang tambahan berukuran 5liter.
Di bagian kanan kiri nya ada kantong jaring, bisa dipake buat naruh botol minum, frame tenda, matras, dan lain sebagainya asal muat. Di 'badan' nya sendiri, masih dibagian kanan kiri, ada resleting yang kalau dibuka juga menyediakan tempat meski kecil. Saya biasa naruh obat-obatan disini. Selain mudah pas ngambil nya, bagian ini juga nggak luas jadi cuma barang-barang kecil tapi penting yang bisa masuk.

Lalu beralih ke 'kepala' nya. Ada dua ruang disini, bagian dalam dan luar. Nah, bagian yang dalam ini saya paling suka. Bentuknya jaring-jaring dan ada resleting nya. Biasa saya pakai untuk naruh kaos kaki, sarung tangan, headlamp, senter, sunblock dan barang penting lainnya yang tentunya sudah dibungkus kantong plastik. Ruang ini seperti 'melar' karena saya isi barang-barang diatas tadi tapi pas ditutup nggak keliatan gemuk. Bagian luarnya, cukup untuk naruh jas hujan sekali pakai (yang plastik tipis itu), rokok (buat yang ngerokok), dan pernik-pernik penting lainnya.
Bagian belakang nya juga cukup nyaman di punggung. Bantalan tali samping nya juga empuk dan ini penting karena akan mengurangi beban di pundak kita.

Nah sekarang kelemahannya. Menurut saya pribadi sih nggak banyak, hanya saja bagian tengah keatas sepertinya tidak proporsional dengan yang bawah, sehingga kalau packingan dalam nya nggak dilapisi matras dasar tas ini kelihatan lebih kecil dan tas sulit berdiri. Atau kemungkinan besar saya sendiri yang nggak bisa ngatur packingan paling bawah supaya bagian atasnya nggak menggemuk. Lalu bagian kepala nya juga nggak bisa dilepas seperti beberapa tas keril seri lainnya.

Tapi over all, saya puas pakai tas ini karena nyaman dengan harga yang murah meriah. Nah buat kalian yang baru jajal hiking atau lagi nyari tas ransel buat sekedar gonta-ganti tas pas backpackeran, consina alpine cukup bersahabat. Tapi jangan dibandingin sama merk semacam deuter, osprey dan sebangsanya ya, harga dan kualitas memang beda. Hehe...

Salam ransel,
Naredita.
Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar
Suatu waktu di Jogja. Malam tampak manis, meski ramai lalu lalang manusia memenuhi Malioboro. Manis, karena ada kau disisiku. Dan hangat, karena kopi yang kau pesan masih mengepul uap nya. Kau bertanya apakah benar itu arang yang ada di gelas kopimu. Aku mengangguk, dan menjelaskan sedikit fungsi arang yang dicelupkan di kopi pesananmu. Sedangkan es susu pesananku semakin memudar rasanya. Es batu itu mulai mencair dan menyamarkan rasa manisnya. Badanku masih terasa lengket, karena sejak siang kita telah menghabiskan waktu untuk berpindah kota dari Solo ke Jogja.

Pengamen silih berganti datang. Ada yang memainkan lagu modern, kadang lagu campursari, tak jarang tembang-tembang lawas yang syahdu di telinga. Lalu kita bicara akan kemana besok. Tentu kau ingin berburu buku disini. Aku ingin ke Taman Sari. Kemudian setelah membayar kopi dan susu tadi, kau bertanya sedikit pada si penjual jalan untuk ke Taman Pintar, yang tak jauh dari shopping center; surga buku di Jogja. Aku merengek untuk segera balik ke penginapan. Risih dengan keringat yang diterpa asap-asap penjaja makanan.

Esoknya, ku ketuk kamarmu yang bersebelahan dengan kamarku. Rupanya kau sudah bangun. Masih bengkak matamu, dan kulihat baju yang menempel dibadanmu masih sama. Haha aku lupa, perjalanan ini seminggu lamanya, pasti ransel mu penuh dengan alat pendakian dan hanya sedikit baju yang terbawa. Kau mulai gelisah akan pakai baju apa hari ini. Rupanya kau sudah kehabisan baju bersih, tinggal satu-satunya untuk dipakai balik ke Jakarta nanti. Aku melirik pada jaket hitam mu, ah tidak. Mungkin sekarang sudah nampak abu-abu? Kusarankan kau memakainya. Tanpa perlu di dobeli kaos lagi di dalamnya. Dan meski sedikit tak nyaman, akhirnya kau turuti saja saranku.

Masih belum mandi, kita melangkah keluar untuk cari sarapan. Nah, suasana Jogja di hari Rabu pagi begini lebih nyaman. Tak terlalu ramai, orang-orang beraktivitas sewajarnya, dan sayangnya justru sedikit warung makan yang sudah buka. Aku menjatuhkan pilihan pada lontong sayur khas Sumatra, karena kau selalu bilang 'terserah' setiap kita akan makan. Lalu kita sarapan. Tak lama, karena aku mengingatkan sudah jam sembilan dan kita belum siap-siap. Kau membayar selagi aku menyelesaikan suapanku yang terakhir.

Bus ini begitu penuh. Trans Jogja yang kita tumpangi berhenti di halte beberapa meter dari taman pintar. Kita berjalan masuk dan terus melangkah lurus, sampai menemui kios-kios pedagang buku. Aku tersenyum tanpa kau tahu. Sudah kupikirkan, kau pasti akan belanja banyak disini. Lihat, buku-buku lawas itu. Kau menyambangi satu persatu kios dan menawar. Satu, dua, tiga buku.. dan aku masih tetap menungguimu menawar harga buku yang ketujuh. "Maaf," ucapmu segan karena membuatku menunggu lama. Hari telah beranjak siang dan kita masih berkutat di tempat itu saja. Bumi Manusia, kaya Pram, sastrawan kesayanganmu itu. Akhirnya terbeli untukku. Kau sangat ingin aku membacanya. Nah, setelah tumpukan buku di tangan kita terasa cukup berat, akhirnya perut ini mulai merengek untuk di isi ulang. Kau pilih rumah makan sederhana yang tak terang tempatnya, ada di sudut jalan. Kita makan dalam hening karena kau sibuk membolak balik halaman buku '100 tahun kesunyian' yang baru saja kau beli.
Lalu tanpa naik bus lagi, berjalanlah kita ke arah komplek Taman Sari. Tapi sayang, taman air nya sudah tutup. Kusadari sekarang pukul empat sore. Tak apalah, kita susuri saja tembok-tembok tua ini. Oh, ini saja aku sudah cukup puas. Senja di Jogja, diantara tembok tua berukir yang cantik, dan semilir angin yang menenangkan. Ketika jam ku menunjuk ke angka enam, kita telah sampai lagi di jalanan Malioboro. Aku begitu lelah, sehingga jalanan ini tampak seperti berkilo-kilo meter untuk sampai ke gang Sosrowijayan, tempat penginapan yang kita singgahi.

Dan malam kembali datang. Keramaian mulai merayapi jalanan Malioboro lagi. Hmm, lagi-lagi kita makan menu yang sama dengan malam kemarin. Bebek goreng di piringku begitu panas , berminyak dan sulit untuk dimakan. Dengan sabar kau ambil alih piringku. Kemudian membagi daging itu dalam beberapa bagian kecil agar aku mudah memakannya. Kuucap terimakasih dan kita makan dengan tenang. Baru saja kita akan beranjak, hujan turun cukup deras. Terpaksa kita menunggu. Saat hanya tinggal gerimis, aku memaksamu untuk keluar dari warung makan. Tadi kau bilang ingin wedang ronde, maka kita berjalan menembus gerimis untuk mendapati gerobak penjual wedang itu.
"Bagaimana rasanya? Jahe nya pedas?"  tanyaku, yang tak ikut memesan.
"Lumayan," jawabmu, sembari menyesap wedang yang masih tampak panas itu.
Sudah pukul setengah dua belas malam. Jalanan mulai sepi, para pedagang telah menutup lapaknya. Gerimis masih jatuh sedikit-sedikit. Lalu kita akhiri malam ini.

Pagi datang. Keril telah rapih dan kita siap untuk kembali ke Jakarta. Sebelumnya memang kita sempatkan mengunjungi Keraton. Hanya kita sempatkan dua kali foto bersama. Itupun terburu-buru, karena kita harus bergegas ke stasiun Lempuyangan. Kali ini tidak jalan kaki. Becak yang digenjot bapak tua itu berjalan pelan-pelan menuju stasiun. Kau mengobrol dengan si bapak tua. Aku mendengarkan sambil mengawasi jalanan. Dan lima belas menit berlalu, sampailah di stasiun.

Peron cukup ramai, dan sekarang pukul lima sore. Kita mengobrol di pinggiran peron tempat khusus merokok. Ya, kau kan perokok. Bercanda ringan sampai akhirnya kereta Jaka Tingkir itu datang. Perjalanan malam memang akan terasa lebih cepat. Sepanjang jalan, pada lenganmu aku bersandar. Kota demi kota terlewati. Meski tetap ramai penumpang bercengkrama, namun aku cuma diam. Memenjamkan mata disampingmu, sambil berharap bahwa Jakarta masih berjarak seribu kilometer lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ►  2018 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ▼  Agustus (5)
      • Rakutak yang bikin Rakuat (naik gunung berbonus da...
      • Jelajah Nusantara abad lalu dalam Bumi Manusia
      • Tips traveling irit ;)
      • Review tas Consina Alpine 55+5ltr
      • Secuil cerita dari Jogja
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates