Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita


Siapa sih yang nggak suka dengan cake? Bukan hanya untuk sekedar peringatan ulang tahun, sekarang banyak banget cake shop yang menjual berbagai macam jenis cake dari yang imut sampai ukuran besar. Kalian pasti sudah nggak asing lagi deh dengan The Harvest, yaitu patisserie yang sudah terkenal banget dan outletnya ada dimana-mana.


Nah The Harvest rupanya juga mengadopsi Cheesecake Factory  yang menjual cake dengan konsep yang lebih unik, kini bernama Almond Tree Cakes & Pastries. Kemarin, kebetulan saya berkesempatan untuk menghadiri launching party dari outlet Almond Tree Cakes & Pastries yang ada di Mall Gandaria City.

Salah satu asiknya ada outlet Almond Tree Cakes & Pastries di mall adalah kita bisa duduk cantik sembari menikmati cake saat mama sedang asik belanja. Hehe. Dalam launching kali ini, Almond Tree Cakes & Pastries memperkenalkan tak kurang dari 5 menu baru. Ada apa saja sih? 

Inilah deretan menu baru tersebut :

Strawberry cheesecake
Klasik, tapi selalu jadi favorit banyak orang. Lembutnya juara dan nggak terlalu manis alias pas. Ditambah kepingan almond yang crunchy bikin kamu nggak berhenti ngunyah.


Red Velvet
Namanya sempat viral dan hits, nggak cuma untuk cake tapi juga minuman bertema latte. Sebagai salah satu yang suka banget sama red velvet, pastinya cake ini jadi favorit saya dong :)

Butterschotch Cake
Ini termasuk baru bagi saya, tapi lumayan juga dengan toping yang menyeimbangkan coklatnya.

Raspberry Chocolate
Nah kalau yang ini segar sekaligus manis yaa.

Tea Cake
Kebayang dong cake rasa minuman khas yang paling sering kita minum? Ya, klasik dan harum.

Setelah mencoba bermacam cake tadi, ternyata masih ada andalan yang dihantarkan langsung oleh sang brand ambassador, babang Reza Rahardian. Duh, cake nya manis terus brand ambassadornya cakep. Mwehehee.


Babang Reza dipandu oleh duo mc kondang Ronald dan Tike memperkenalkan Chocolate Spike. Dari namanya saja sudah menggambarkan betapa ‘cokelatnya’ dia. Dijamin para pecinta cokelat ataupun black forest suka deh.



Seelain cake, banyak juga cookies maupun kue-kue lain seperti croissant yang dapat kalian cicipi. Saya sempat melirik brand coffee shop ternama yang ada di pojok, yaitu Tanamera. Di sini, Tanamera menyediakan berbagai minuman dengan latte art yang cantik dan rasa ciamik. 
Sekarang kalian nggak perlu takut bête deh kalau nungguin emak, pacar atau gebetan yang asik sendiri belanja. Mau ngemil setelah nonton? Apalagi. Bisa banget.


Tangerang,
18 Juni 2017



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
 pict by booking.com

Masih di Yogyakarta, setelah mencoba Tune Hotel saya menemukan satu hotel yang lumayan unik dengan harga terjangkau, yaitu Paku Mas Hotel. Usut punya usut, hotel ini kelas Melati yang di desain untuk liburan keluarga. Saya baru tahu waktu check in, dikiranya bintang 1 atau 2 hehe. Tapiiiii, jangan khawatir. Walaupun kelas melati hotel ini cukup menarik. Paku Mas Hotel ada di Jl. Nogopuro No.35, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kota Yogyakarta.

Untuk mencarinya gampang banget pakai map, tapi jangan kira akan menemukan hotel ini karena gedungnya yang tinggi atau lokasinya yang di tepi jalan raya. Secara umum iya, hotel ini dekat dengan mall Plaza Ambarukmo yang ada di tepi jalan besar Laksda Adisucipto (lurusan kea rah Solo). Tapi kalian harus jeli karena hotel ini masuk ke dalam gang. Untuk memudahkan pengunjung, di pintu masuk gang tertera papan “Paku Mas Hotel”.

pict by booking.com

Begitu masuk ke dalam kawasan hotel, suasananya asri dan tenang. Ada kolam renang outdoor di samping resto. Ruangan resepsionis ada di depan karena tidak jadi satu gedung dengan kamar-kamar hotel. Nah begitu kalian mendapat kuncinya, petugas hotel akan segera mengantar ke kamar, membukakan pintu, menyalakan AC dan tv. Karena tipe bangunannya bukan gedung modern, jadi tidak ada lift. Ya, kalian harus naik tangga. Jangan khawatir, karena hanya ada 3 lantai.

Oke, saatnya menilai plus minus. Nilai plusnya adalah, kamar hotel ini luas. Ya, luas banget untuk harga +- Rp 250.000,- . Ada kasur double bed, meja rias dan lemari (aksen kayu dengan ukiran khas jawa tengah), kursi kayu panjang dan wastafel. Dindingnya sengaja didesain batu bata, dengan lampu kuning remang (sedikit spooky untuk orang-orang yang parno dengan suasana jawa kental hehe). Karena aksen Jawanya sangat kental, jadi terkesan sedikit horror.

Nilai minusnya adalah, kunci pintu manual (maklum kelas melati), kamar mandi sempit dan…. Air panas / dinginnya manual :’) Apakah mungkin karena saya ada di standart room? haha. Karena ada di pict beberapa agen perjalanan yang menunjukkan shower. Balik lagi, jadi begini : ada satu bak mandi kecil, dengan 2 kran air diatasnya. Hehe. Jadi kalian harus pandai-pandai menakar komposisi air ya, kalau kepanasan harus rela menunggu sampai airnya dingin atau menguras sebagian dan isi ulang. Untuk peralatan mandi disediakan lengkap kok :)

 pict by booking.com

Selanjutnya fasilitas yang didapat adalah sarapan. Nahh untuk sarapan jika menginap disini usahakan jangan kesiangan. Karena, sepertinya, pihak hotel tidak terus-terusan me-refill menu walaupun jam breakfastnya masih panjang. Waktu itu saya turun ke resto sekitar jam 8 pagi, tapi nggak banyak yang tersisa. Padahal, menunya tradisional banget. Bahkan ada beberapa macam jamu hlo, yang bisa bikin badan segar sebelum kembali berkeliling :) menu makanannya juga nggak kebarat-baratan, lebih seperti gethuk, sayur tumisan, meski ada juga salad dan roti.

Di hotel ini banyak bule, mungkin karena situasinya juga yang tradisional banget dan beda dengan hotel modern lainnya. Paku Mas Hotel dapat rate 4 dari 5  dari saya, karena harga yang bersahabat dan suasana yang menyenangkan.

Tangerang,
17 Juni 2017


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Menulis itu bebas. Sebuah kalimat yang paling dekat dengan penulis bernama Seno Gumira Ajidarma (kerap disebut SGA dalam tulisan-tulisan pembacanya). Saya baru tahu bahwa menulis bisa begitu liar untuk sebuah objek : senja. Sebagai mahasiswa-bukan-jurusan-sastra, saya tidak tahu harus mengolongkan kumpulan cerpen ini dalam genre apa. Tapi saya rasa, ia lebih merapat pada surealis daripada realis. Tapi ada juga, yang menyebutnya realisme-magis. Ah, apasih, toh yang saya lakukan hanya membaca, menikmati kata-kata di dalamnya dan berimajinasi sebebas-bebasnya. Sebab, yang ditulis Pak Seno ini, sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang mengerat sebuah senja, yang merupakan bagian dari semesta, untuk masuk ke dalam saku dan dikirim pada perempuan yang dicintainya?

Dalam buku Sepotong senja untuk pacarku yang berisi 16 cerpen, ada sekiranya 3 tokoh penting : Sukab, Alina dan Tukang pos. Si Sukab ini, namanya sering dipakai oleh Pak Seno di tulisan-tulisannya. Sehingga, karakter  Sukab tidak pernah konsisten. Ia bisa menjadi remaja belasan tahun, pemuda tajir atau sekedar tokoh numpang lewat. Yang paling menarik, tentunya, Trilogi Alina. Di sinilah pendekatan sureal sungguh terasa. Waktu membacanya, akhirnya saya masa bodoh dengan kenyataan dan melepas akal sehat.  Untuk sampai ke titik tersebut, saya sudah membayangkan bagaimana senja yang digambarkan oleh Pak Seno dengan detail mulai dari langit keemasan, debur ombak, kepak burung dan matahari setengah terbenam. Sampai akhirnya, Sukab memotongnya pada empat sisi dan memasukkannya ke amplop untuk di kirim kepada Alina.

Surat itu baru sampai 10 tahun kemudian. Sebab, Tukang pos yang jahil tidak hanya mengintip, namun masuk ke dalamnya dan tinggal di sana selama 10 tahun. Coba jelaskan : bagaimana mungkin seseorang masuk ke dalam amplop, yang berisi senja, lengkap dengan daratan pasir dan langit jingganya, lalu keluar 10 tahun kemudian tanpa pernah menua. Rasanya, adegan seperti itu hanya ada di film-film Hollywood saja. Saya jadi penasaran, berapa lapis kehidupan ini ada? apakah kita juga tinggal di dalam sebuah potongan semesta? Ah sudahlah, toh kegilaan ini belum berakhir. Surat balasan Alina, ternyata lebih menggelikan lagi.

Surat itu sampai kepada Alina, dari seorang tukang pos yang wajahnya bahagia. Begitu surat itu terbuka, senja itu luber keluar, sehingga matahari di salamnya beradu dengan matahari yang sebenarnya. Tunggu. Memangnya kita tahu, mana matahari yang sebenarnya? Kata Alina, akibat laut dari sepotong senja itu luber, air bah Nuh terulang kembali. Maka ia mengumpat, menyumpahi Sukab yang menurutnya tidak punya otak itu sebab semua orang mati akibat air menggenangi seluruh bumi. Nah, sampai di sini, bukankah sudah dapat kalian duga seperti apa cerpen yang di tulis Pak Seno?

Terlepas dari imajinasi liar yang ada dalam cerita ini, perasaan Sukab terhadap Alina saya rasa perlu juga ditanggapi. Bagaimana tidak, coba kau baca kalimat terakhir dari Sukab dalam cerpen ini :

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. 

Atau yang ini :

Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina. Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. 

Yah pokoknya, begitulah. Kalian juga mungkin akan terbawa rasa kesal Alina ketika membaca makian dan keluhannya karena senja sialan yang dikirimkan Sukab.

Rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir. Senja yang engkau kirimkan telah menimbulkan bencana tak terbayangkan. Apakah engkau tahu suratmu itu baru sampai sepuluh tahun kemudian? Ah, engkau tidak akan tahu Sukab, seperti juga engkau tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan senja yang kau kirimkan ini. Senja paling taik kucing dalam hidupku Sukab, senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia.

Atau ini :

Air laut kulihat makin dekat, setidaknya setengah jam lagi tempat aku menulis surat ini sudah akan terendam seluruhnya. Aku akan naik perahu, mendayung sampai teler, makan supermi mentah, lantas menanti maut. Akan ku kirim kemana surat ini? Barangkali kamu pun sudah mati Sukab. Semua pengembara di lautan sudah mati.  Sedangkan di puncak tertinggi di dunia ini tinggal aku  sendiri, dari hari kehari memandang senja yang selesai, dimana matahari tidak pernah terbenam lebih dalam lagi. Semesta dalam amplop itu telah menjadi pemenang dalam benturan dua semesta, namun semesta
dalam amplop itu cuma sepotong senja, sehingga dunia memang tidak akan pernah sama lagi. 

Waktu baca cerita ini, jangan maksa untuk mikir seperti membaca Supernova KPBJ yang penuh sains fiction-nya, kalau tidak ingin pusing sendiri. Atau jangan juga terlalu sentimentil seperti saat membaca Hujan bulan Juni milik Pak Sapardi Djoko Darmono. Ada sensasi mirip-mirip sih dengan tulisan Pak Djoko Pinurbo, terutama puisinya dalam buku “Selamat menunaikan ibadah puisi”. Tapi kan, semua penulis atau sastrawan punya ciri khas nya sendiri. Jadi tidak semestinya membanding-bandingkan.


Tapi ngomong-ngomong, kalau kalian mau tahu seperti apa senja di dalam amplop itu, bacalah cerita yang berjudul “Tukang pos dalam amplop”. Si bapak tukang pos itu, membeberkan seperti apa senja di dalamnya. Dan jangan kaget, bahwa ia kawin dengan lumba-lumba yang melahirkan spesies baru. Haha. Rumusnya satu saja : abaikan semua logikamu yang mungkin kau cari-cari kemungkinannya dalam cerita ini. Cukup duduk santai, sambil menyesap teh sore-mu ditemani sepotong senja paling tidak masuk akal dari Pak Seno.

Tangerang,
14 Juni 2017

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates