Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita


Muara Sungai Warna

Kalau ditanya liburan kemana? Lalu jawabnya Jawa Timur, pertanyaan berikutnya adalah : Malang? Surabaya? Wonosobo? Eitsss…  jangan dikira cuma kota-kota itu aja yang potensi wisatanya bagus di Jawa Timur. Liburan akhir tahun kemarin, karena satu dan lain hal gue dan keluarga menuju ke Pacitan untuk berlibur. Tentunya setelah dari Jogja dong .. Nah untuk ke Pacitan dari Jogja, kami mengambil jalur Gunung Kidul dan terus hingga Wonogiri, yang nantinya langsung tembus ke Pacitan. Memang sih, Pacitan masih dekat dengan perbatasan Jawa Tengah.

Jalanan dari Gunung Kidul – Wonogiri (Pracimantoro)– Pacitan jangan pake ditanya. Meliuk-liuk nan melambai-lambai. Berasa kayak naik roaler coaster sepanjang jalan. Ati-ati kalo duduk di bangku tengah, bisa kebanting-banting ke kanan dan kiri soalnya banyak belokan yang tajem. Masuk perbatasan Pacitan dari Gunung Kidul menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Nah, pas sampai di Gunung Kidul dari Jogja kami sempat mampir ke rumah makan khas Gunung Kidul, tapi sistem penyajiannya kayak RM Padang gitu. Yang paling gue suka adalah sayur daun pepaya + ikan wader gorengnya. Endeuuusss banget.  Tapi.. gue lupa nama rumah makannya apa (hiks gak guna banget sih ya). Yhaa maap.

Pantai Teleng Ria

Selepas dari Gunung Kidul dan Wonogiri, begitu memasuki Pacitan pantai yang pertama terlihat adalah Teleng Ria. Pantai ini langsung terlihat ketika kalian masih ada di jalanan yang berada di pinggiran bukit (atau tebing ya?) sehingga ramainya pantai terlihat dari atas. Kebetulan, kami sudah booking penginapan yang ada di dalam kawasan Pantai teleng Ria. Namanya adalah Sea View Surfing Bay Cottage. Jadi kalau kalian sudah menginap di salah satu cottage yang ada di dalam kawasan pantai, kalian nggak perlu lagi membayar retribusi walaupun 100 kali keluar masuk. Kalian juga langsung dapat voucher water boom (yang seadanya gitu) . Plus voucher sarapan juga.

Teras Villa

Sea View Surfing Bay Cottage ini cukup nyaman, karena kami sekeluarga menyewa sebuah villa yang memiliki 3 kamar di dalamnya. Jadi bukan nyewa per kamar gitu. Lebih privat dan cocok untuk kalian yang memang mau quality time sama keluarga. Di dalam villa ada sebuah bangunan joglo dengan 3 kamar, teras dan taman, serta ruang tengah yang nyaman untuk berkumpul. Tapi jujur, gue kurang suka dengan makanan dari cottage ini. mereka punya restoran sendiri, tapi untuk seafoodnya entah mengapa gue kurang cocok. Sambil nunggu jam check in, gue melipir ke pantai dulu yang memang airnya kurang bersih alias cokelat gitu. Disana juga ngga boleh berenang, kita cuma boleh main-main air biasa. Ada kampung cemara juga di pinggir pantai, sebuah kawasan yang memang ditumbuhi pohon-pohon cemara dan dipagari sekelilingnya. Banyak orang yang menggelar tikar dan piknik di sana. Tapi gue, Sita, Gifa dan kedua tante memilih untuk naik andhong mengitari kawasan pantai.  

Bagian depan resto cottage

By the way, satu hal yang perlu kalian ketahui tentang kota ini adalah : tidak cukup ramai. Pusat kotanya dekat dengan pantai Teleng Ria, ada alun-alun di dekat kantor Pemerintahannya. Oh ya, ada rumah mantan presiden ke-6 kita juga. Tapi sayang sekali, di pusat kotanya pun jarang ada rumah makan (atau mungkin karena itu masa liburan jadi pada tutup? Entahlah). Alhasil kami kesulitan mencari makan siang dan kalau mau cari sesuatu yang khas, kalian akan menemukan tahu tuna di mana-mana. Akhirnya untuk makan malam kami tetap makan di cottage sambil menyewa sound untuk karaoke. Selesai makan, gue dan Sita berjalan ke bangku-bangku yang ada di pinggir pantai. Di sini nggak banyak nelayan, jadi nggak ada lampu-lampu kapal gitu. Cuma debur ombak aja, dan curhatan Sita tentunya. 

Paginya kami bersiap-siap untuk ke pantai Klayar. Dari Teleng Ria ke Klayar butuh waktu sekitar  1 jam. Guys saran gue sih kalau ke Klayar baiknya sore, untuk sunset dan mengindari kulit gosong karena kepansan. Kami sampai di Klayar sekitar pukul 10 pagi. Aduh, mataharinya terik poll sehingga kacamata hitam + topi sangat berguna di sana. Jangan lupa pakai sun block mu juga ya. Pantai Klayar memiliki pasir cokelat muda menuju putih dengan air yang lebih bersih daripada Teleng Ria. Dan pastinya lebih ramai, karena di sini pengunjung bisa bermain ombak dengan lebih bebas meski tetap ada garis batas yang ditentukan.

 Pantai Klayar

Lengkungan garis pantai Klayar memiliki ombak yang tidak terlalu besar, sehingga lebih aman. Tapi jika kalian menginginkan ombak yang lebih menantang, berjalanlah terus ke kiri. Semakin ke timur, ombak terasa lebih tinggi dan besar. Memang akan lebih asyik kalau mau main ombak di sini. Tapi lebih banyak juga bebatuan atau karang kecil yang terbawa ombak, jadi hati-hati ya, bisa sakit badan atau kakinya kalau kena hempasan batu itu. Kaki gue sempat sobek dikit karena batu yang terinjak saat menghindari ombak. Oh ya dan yang terpenting, kalau kalian bawa adik, anak atau siapapun yang masih kecil, pengawasannya harus ekstra ya. Karena begitu ombak datang dan kembali ke lautan, akan langsung disusul ombak berikutnya yang nggak kalah besar. Bahaya kalau adik atau anak kalian di lepas main ombak sendirian. Jangan cuma nontonin di pinggiran, tapi selalu gandeng ketika mereka main ombak.

Pantai Klayar

Kalau mau yang lebih bagus lagi khususnya untuk foto-foto, bisa jalan lebih ke timur. Di sana ada semacam lengkungan kecil yang diapit dua tebing. Ombaknya lebih besar dan daratan pasirnya lebih dalam, jadi memang nggak boleh main air. Boleh kalau cuma mau foto-foto di pinggirannya. Saran nih kalau udah selesai main air dan pengen bilas, cermatlah memilih toilet. Karena ada yang airnya kadang mampet. Kan repot kalau udh lepas tapi tiba-tiba ngga ada air buat bilas. Jadi di cek dulu ya, dan bawalah sabun serta keperluan mandi lainnya supaya kalian ngga perlu beli di TKP.


Aduh cyin, kepanjangan kayaknya kalau gue jabarin semua dalam satu postingan. Jadi gue bikin 2 part aja yaaa.. supaya gak bosen juga bacanya ‘kok gak kelar-kelar’ gitu. See you next post J
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


Hari dimana ngga ada kelas itu emang bikin lega. Tapi bikin ciut dompet juga, apalagi kalo partner jajannya ngajakin ketemuan. Dari beberapa tempat yang ditawarkan Bena, gue memilih Lucky Cat Coffe & Kitchen. Tempatnya ada di dalam Plaza Festifal, tepatnya parkir selatan. Jadi ngga susah kok dicarinya. Karena kami berdua adalah pengguna transportasi umum yang budiman, maka kami sepakat untuk naik commuterline dan ketemuan di salah satu stasiun transit yang paling crowded se-Jakarta raya : Manggarai. Dari sana bisa lanjut naik ojek atau taksi berbasis online ke Plaza Festival supaya lebih mudah perjalanannya.

Tampilan luar café ini sedikit terkesan beda dari foto-fotonya di dunia maya, karena pengunjung bener-bener langsung dihadapkan dengan pintu masuk tanpa ada teras di muka. Tapi begitu masuk ke dalam, atmosfernya langsung berubah. Desain interior yang di dominasi dengan kayu dan pendingin udara yang berfungsi dengan baik membuat kita lupa panasnya udara Jakarta di luar sana. Begitu menoleh ke sebelah kanan, langsung ada kasir dimana kalian bisa langsung order dan bayar di situ. Tapi jangan khawatir kerepotan karena waiters yang akan mengantar pesanan kamu ke tempat dimana kamu duduk.


Ada 2 lantai, di mana untuk menuju lantai 2 bisa melalui tangga yang bercabang ke kanan dan ke kiri. Lantai 2 hanya ada di pinggiran dinding, sementara smooking room berada di balkon yang menghadap langsung ke jalanan dan memiliki banyak jendela yang sengaja dibuka. Lantai 1 nya sendiri memiliki tempat duduk bervariasi mulai dari sofa, bangku kayu untuk beramai-ramai ataupun berdua.



Satu hal yang membuat betah di sini adalah banyak tanaman hijau di dalam café, bahkan ada pohon juga! Tepat di sebelah tangga. Pot-pot kecil berisi tanaman mini dan daun menjuntai digantung pada balok kayu di atap. Lampu-lampu tang ada di atap bagian tengah juga tidak terlalu terang, karena sudah cukup banyak sinar matahari yang masuk dari jendela. Jangan lupa juga, wifinya lumayan kenceng.  Hehe. Untuk kopinya harga dan rasa ngga jauh beda dari coffee shop yang lain di Jakarta. Untuk makanannya bisa dibilang sedikit lebih mahal, tapi enak. Pokoknya worth it deh walaupun ngga bikin kenyang juga. Hehe. Saran gue kalau mau kesini lebih baik weekday atau tengah hari, di mana ngga banyak orang datang jadi ngga berisik juga. Kamu bisa sekalian nugas, ngobrol lama sama pacar atau quality  time sama temen.

Lucky Cat Coffee & Kitchen 
Plaza Festival Parkir Selatan, Jl. Haji R. Rasuna Said Kav. C 
Telepon: (021) 52961475




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar






Alohaaaa. Yawla. Lama banget banget banget nggak posting di mari. Yhaaa maap, kusibuk soalnya :/ sampe waktu untuk liburan pun tak adaaaa. Tapi berhubung kemarin baru banget selesai UAS, yang bikin puyeng dan cenat cenut itu, akhirnya untuk pertama kali dalam 3 bulan terakhir gue bisa keluar rumah dengan bebas hambatan.  Karena waktu yang terbatas dan setiap minggu di bulan Desember ini selalu ada acara Natal di gereja, jadi gue main ke tempat yang deket-deket aja. Lagi dan lagi … TNGGP. Kayaknya mah ngga perlu gue jelasin lagi itu ada di mana. Kebetulan tanggal 18 Desember kemarin lagi ada lomba kebut gunung gitu di Gede, tapi karena gue nyampenya juga udah rada siangan ya udah sepi juga di pintu masuk jalur Cibodas.


Karena kali ini gue ngajak Amen, jadi sebisa mungkin ya gue well prepare. Walopun memang cuma berujung di Cibereum haha. Sekalian ‘test drive’ si pacar, sengaja ngitung speed nya dari pintu masuk sampe ke Cibereum. Dan ternyata kami sampai kurang lebih 50menit (waktu bersih setelah dikurangi foto-foto). Yha. Berarti bisa diajak naik gunung kapan-kapan. Begitu sampai di Telaga Biru, kami mampir sebentar. Jarang lewat sini lagi sepi. Beberapa kali kesini biasanya Cuma asal lewat, ngintip juga engga. Yaudah sekarang mampir dulu bentar. Ternyata boleh juga walopun ya nyempil gitu. Di pinggir kanan ada space buat rehat atau sekedar foto-foto. Eh tapijangan kelamaan, antri sama yang lain.


Sampai di pos 1 yang percabangan jalur pendakian dan jalur ke Cibereum, sekarang udah ada bapak-bapak penjual gorengan dan kopi. Padahal, gue udah bawa kompor, nesting dan kopi. Hehe. Ngga enak sih sama si bapak, tapi suka kesel kalo udah bawa-bawa peralatan tapi ngga kepake di TKP. Yaudah jadinya kami tetep nyeduh kopi dan masak mie. Tapi tetep dong, beli dagangan si bapak. Katanya, dari subuh Gede udah diguyur ujan. Nggak heran, bahkan pas kami baru nyampe rawa gayonggong angin udah mobat mabit dan sedikit gerimis. Beberapa pendaki yang lewat juga udah bersiap pakai jas hujan.



Cibereum juga lagi nggak rame-rame amat, beberapa pengunjung nggak berlama-lama di sana dan langsung turun setelah foto-foto. Begitupun kami, lima belas menit cukuplah. Setelah itu kembali turun karena langitnya mendung terus. Yaudah gitu aja, mau ngapain lagi. Haha. Sampe di warung Cibodas kamu bebersih dan rehat sebentar sebelum otw pulang. Kawasan puncak pass juga kabutnya parah, jarak pandang ngga nyampe dua meter. Nah sekarang mah nunggu episode liburan tahun barunya aja. Sambil nunggu halaman SIAK keisi nilai juga…
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates