Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita



    Kota-kota besar yang memiliki daya pikat dari berbagai sisi, tentunya tidak lepas dari para pendatang yang memiliki masing-masing tujuan untuk mendatangi si kota populer. Kita biasa menyebutnya perantau. Perantau sendiri ada yang telah lama berkecimpung di kota perantauan atau hanya sementara guna menyelesaikan kewajiban misalnya kuliah, dinas kantor atau sekedar mencari pengalaman.

     Istilah dari penulis sendiri, perantau ada dua macam. Perantau baru adalah mereka yang baru mulai merantau atau hanya sementara berpindah domisili untuk tujuan tertentu. Sedangkan si perantau lama, adalah mereka yang sudah memutuskan untuk menetap di kota barunya dan bahkan telah memiliki rumah, membangun keluarga dan memiliki status kependudukan di sana. Jadi istilah ‘perantau’ melekat padanya karena mereka masih memiliki sanak saudara di kampung yang secara rutin dikunjungi.

Nah, yuk kita lihat kira-kira apa saja yang dekat dengan kehidupan khas perantau :

·     >    Domisili sementara
    Para kawula remaja yang kuliah di luar kota umumnya menyewa kost atau patungan bersama teman-teman untuk mengontrak sebuah rumah di kota perantauan. Tak jarang, sebagian besar dari mereka seringkali memilih untuk tinggal di rumah sanak saudara yang kebetulan berada di kota tersebut. Begitu pula para dewasa muda yang mengadu nasib di kota lain, sedang cari kerja maupun baru-baru di terima bekerja, memiliki opsi yang sama dengan para mahasiswa tadi. Tapi jika mereka ‘betah’ , bukan tidak mungkin mereka akan mempertimbangkan untuk membeli rumah disana.
Bicara soal kost atau kontrakan, tentunya disesuaikan dengan kocek masing-masing. Mereka akan mempertimbangkan antara biaya kost, makan sehari-hari, transport dan utamanya biaya kuliah atau keperluan penunjang pekerjaan.

·        >  Waspada dengan kalender
     Berbeda dengan yang tidak merantau, para pendatang ini lebih jeli dengan kalender terutama yang berwarna merah. Kalau mereka yang penduduk tetap atau perantau lama bisa bilang “kok cepet ya udah hari senin lagi,” maka para perantau baru ini biasanya akan bilang “kok lama ya hari jumat? Udah nggak sabar mau pulang”.
Jangankan tanggal merah, weekend pun akan jadi sasaran mereka untuk curi-curi pulang kampung. Hari kerja senin sampai jumat tentunya bukan hambatan. Mereka punya hari sabtu dan minggu untuk sejenak pulang ke rumah.

·      >   Situs penjual tiket
     Para perantau baru akan sering memantau situs-situs penjual tiket secara online. Baik itu moda transportasi kereta, bus maupun pesawat. Bukan hanya penjual online, agen tiket ‘manual’ yang membuka lapak di tiap-tiap cabangnya pun tak luput dari sasaran rasa ingin tahu mereka. Apalagi sekarang yang namanya tiket bisa dipesan jauh-jauh hari. Wah, mereka pasti akan memastikan tidak kehabisan jatah kursi perjalanan.

·    >    Teman seperjuangan
    Entah sengaja atau tidak, seringkali para perantau bertemu dengan orang-orang yang berasal dari kota di mana mereka berasal. Bisa jadi memang janjian untuk mengadu nasib di kota yang sama, bisa juga bertemu di lingkungan kuliah, kerja atau kegiatan kesehariannya. Teman-teman ini di bilang seperjuangan karena ada rasa solidaritas atau kekeluargaan yang muncul lantaran kesamaan asal muasal. Umumnya hal ini akan memicu kecenderungan untuk saling membantu juga.

·    >     Oleh-oleh
     Ini adalah hal yang paling sering disebut-sebut baik oleh orang di pihak kota perantauan atau kota asal. Biasanya oleh-oleh dibeli karena memang sudah menjadi kebiasaan atau untuk menyenangkan/menghargai orang-orang yang mana akan mereka kunjungi kembali. Oleh-oleh juga kerap kali berjumlah lebih banyak bila perantau bertolak dari kampung dan kembali ke kota peraduan nasibnya. Selain memang sebagai ciri khas, mereka akan menyisihkan makanan khas kampungnya untuk dinikmati sendiri beberapa waktu ke depan, sekedar pengobat rindu yang belum usai.

·    >     Catatan keuangan
      Ini adalah salah satu yang paling penting. Para perantau harus seksama dan teliti dalam membuat catatan keuangan mereka. Jangan sampai pendapatan bulan A hanya cukup untuk bulan A saja. Siapa tahu kebutuhan yang ‘aneh-aneh’ akan datang tiba-tiba. Menyiapkan uang cadangan akan membuat mereka lebih merasa aman.

·      >   Sabar
    Sabar kalau bulan ini belum bisa pulang, sabar kalau belum bisa beli baju baru, sabar nggak bisa ikut temen kantor nge-trip, sabar akhir bulan makan mie instan aja dan sabar-sabar yang lainnya. Yah, namanya juga di kota orang :)

Itu tadi sekelumit hal-hal yang dekat dengan anak rantau . Kalau ada tambahan lain silakan cuap-cuap ya hehhehe …

Salam anak kampung,


-N-


#NulisRandom2015 #Day2 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



     Sekarang ini makin banyak orang yang memilih traveling sebagai hobinya. Untuk menjalankan hobi ini, ada yang memilih untuk bepergian seorang diri dan ada pula yang memilih untuk pergi bersama teman-teman.

   Lalu, bagaimana memilih teman yang cocok untuk berpetualang bersama ? eits, bukan berarti tulisan ini menganjurkan untuk memilih-milih teman hlo, tapi kenyamanan saat traveling itu penting, termasuk mengenai partner. Berikut penulis sampaikan beberapa tips untuk memilih partner traveling :

Ø  Memiliki hobi yang sama
Kamu tidak mungkin mengajak rekan yang tidak tertarik dengan kegiatan petualangan untuk menjelajahi destinasi impian. Kalaupun mungkin, orang yang tidak ber-hobi traveling akan memiliki satu dari dua reaksi setelah kamu ajak paksa berpetualang : jera atau ketagihan.
Mengajak orang yang memiliki hobi sama tentunya akan lebih memudahkan dan menyenangkan. Misalnya, dalam berpetualang kalian memiliki keahlian masing-masing. Kamu ahli menawar barang saat belanja oleh-oleh, dia ahli baca peta jadi tidak takut akan tersesat.

Ø  Memiliki hobi berbeda ? Bisa juga. Asal …
Calon partner traveling mu beda hobi? Jangan cepat-cepat kecewa. Buat kalian yang memiliki hobi berbeda, bisa tetap menikmati petualangan bersama bahkan berkolaborasi menjalakan hobi masing-masing asal tidak sangat bertolak belakang. Misalnya, kamu memiliki hobi menulis dan dia fotografi. Saat mengunjungi suatu destinasi, kamu bisa menulis dan dia memotret sebagai visualisasi tulisanmu. Keren kan ? :)

Ø  Mampu mengimbangi kemampuan partnernya
Kalau yang hobi traveling, umumnya juga ada dua cara dalam menjalankan kegiatan tersebut. Istilahnya, pakai cara ‘koper’ atau ‘ransel’. Cara koper, umumnya dipakai sebagai kiasan untuk mereka yang menjalankan hobi traveling dengan cara serba nyaman. Menginap di hotel, transportasi via udara, kelengkapan fasilitas yang bisa di dapatkan selama kegiatan dan tidak ada kesulitan financial yang berarti.
Cara ransel, dipakai sebagai kiasan untuk mereka yang melakukan traveling dengan cara lebih sederhana. Misalnya memilih tempat penginapan tanpa menghiraukan kelasnya asalkan layak, memilih alternative transportasi yang lebih terjangkau dan sebagainya.
Namun perlu diingat, bukan berarti cara koper dan ransel ini digunakan orang berdasarkan kemampuan finansialnya. Perbedaaan cara ini lebih dipicu oleh keinginan orang tersebut untuk memilih cara menikmati petualangannya.
Nah, kamu tipe yang mana? Pastikan parter kamu dapat mengimbangi kemampuan atau caramu dalam berpetualang. Atau, kamu yang mampu mengimbangi si dia. Bila kalian tidak sejalan dalam menentukan konsep perjalanan, tentu akan terasa sulit saat kalian harus bersama-sama dalan suatu perjalanan.

Ø  Pengertian dan bisa diandalkan
Ketika kamu mengharapkan partnermu pengertian dan diandalkan, kamu pun juga harus begitu. Dengan sama-sama pengertian dan dapat di andalkan, kalian akan jadi partner jalan-jalan yang klop dan saling melengkapi. Jangan sekali-kali hanya mengandalkan partnermu tanpa dapat menjadi parter yang bisa di andalkan. Hal ini akan membuatnya ilfeel dan kapok untuk mengajakmu berpetualang lagi.

Ø  Terbuka satu sama lain
Ini termasuk yang paling penting. Jangan sampai saling tidak jujur dengan partner jalan-jalan. Mintalah partnermu untuk terbuka tentang hal yang menyangkut kegiatan yang akan kalian lakukan bersama-sama. Jangan sampai, misalnya, saling memendam rasa kesal dalam hati ketika tidak setuju kuliner di sini atau menginap di hotel sana.

Ø  Berpegang teguh dengan komitmen perjalanan
Lagi-lagi, sikap ini di perlukan agar tidak membuat si partner kecewa. Pastikan dia menyetujui kesepakatan bersama mengenai destinasi, biaya, moda transportasi dan segala keperluan dalam perjalanan kalian. Jangan sampai di tengah perjalanan, dia atau kamu merubah rencana yang merugikan salah satu pihak. Tetapi hal ini dapat di toleransi apabila ada sebab yang lebih penting, misalnya menyangkut keluarga.



    Nah itu tadi beberapa tips untuk memilih partner perjalanan. Ingat, untuk mendapatkan partner yang menyenangkan dalam perjalanan, kalian juga harus menjadi seseorang yang menyenangkan untuk menjadi partner orang lain. Semoga bisa membantu untuk kalian yang sedang merencanakan petualangan seru :)

Salam,



Naredita

#NulisRandom2015 #Day1
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

    Jujur aja, setiap ada selentingan-selentingan diajak ke gunung Gede pasti gue rada mikir. Faktor utamanya sih satu : kapok sama bebatuannya jalur cibodas. Yang kedua : booking simaksi untuk naik via jalur putri di hari weekend itu ampun-ampunan ramenya. Pasti udah keduluan sama ratusan pendaki yang lain. Tapi karena temen-temen gereja udah memelas dan nggak bosen-bosennya nagih ditemenin naik gunung, yasudah… gue mau ke Gede lagi dengan catatan : lewat jalur putri dan bukan di musim ujan.

    Setelah debat sana debat sini pikir ini pikir itu, ditentuinlah tanggal mainnya ke Gede ini. Di total semuanya jadi enam orang. Cewe semua. Eh, mikir lagi . udah cewe semua, yang empat ini belum pernah naik sama sekali. Hmmm. Musti ngajak kaum lelaki kalo begini mah. Langsung cari kontak yang bisa dihubungi. Ya iya siapa lagi kalo bukan tim Bandung. Itu dua cowo yang ada di cerita Rakutak , emang kalo diajak jalan jawabannya ‘hayuk’ aja.

    Nah udahannya nge-lobby bang Ewin sama Sandi, sekarang ngajak untuk ‘umum’ alias siapa aja yang nganggur ditawarin. Dapetlah si Ustad sama Imam. Sekarang personel nya udah cukup yaaa sepuluh orang yaitu gue, kak Vina, kak Clara, Berlian, Anita, Feby, Bang Ewin, Sandi, Ustad dan Imam. Singkat cerita kelar deh tuh urusan simaksi dan lain-lainnya. Menjelang H-10 gue udah wanti-wanti terus sama yang empat orang ini buat rutin olah raga lari. Ngga mau kan kakinya kaget.

    Hari H nih yaa… Jumat malam di terminal Kampung Rambutan. Biasalah, kalo weekend gini pasti rame dengan orang-orang yang bawa keril. Bus-bus jurusan Garut dan Cianjur yang melewati kawasan puncak penuh dengan pendaki. Kami naik bus dengan tarif Rp 25.000,- untuk sampai ke cipanas. Ternyata bukan cuma gue yang pernah ketinggalan keril di bus. Kali ini, Sandi yang dengan pede turun dari bus begitu sampai di cipanas lupa kalau keril nya masih ada di dalam bagasi bus. Ngojek lah dia ngejar itu bus yang udah jalan sekitar lima menit setelah kami turun. Untung masih itu bus sempet berhenti di rest area untuk isi bensin. Slamet, slamet deh barang-barang penting di keril. Setelah di cipanas, oper lagi angkot untuk sampai ke jalan yang menuju basecamp pintu masuk jalur putri. Kami sampai di basecamp jam dua dini hari. Wiw, dingin banget, maklum musim kemarau. Pendaki-pendaki pada antri untuk cek simaksi sebelum mulai naik.

    Istirahat beberapa jam (meski gue ngga bisa tidur kayak cewe-cewe yang lain) kami habiskan untuk ngopi dan ngobrol. Subuh, gue bangunin temen-temen untuk siap-siap. Beberapa dari kami packing ulang karena ada yang tukeran peralatan kelompok. Jalur putri menurut gue pribadi jelas lebih ‘nyaman’ ketimbang jalur cibodas. Engga sakit di kaki karena di dominasi tanah, semen dan bukan berupa jalur tangga. Selain itu, jalur putri lebih deket untuk sampai ke puncak daripada lewat jalur cibodas.

    Ini bukan pertama kalinya gue sempet tidur di pinggir jalur. Karena rombongan kami terpisah 3 - 2- 5 orang (dengan masing-masing di dampingi orang yang tau jalur) gue sempet tidur di antara pos 3 dan pos 4. Kebetulan lagi barengan sama Imam. Udah deh, molor ada kali satu jam. Ahlasil kami semua sampai di Surya Kencana udah sore, sekitar jam tiga. Badan yang udah capek, emang bikin udara dingin lebih berasa. Sambil nungguin para cowo cari lapak nenda, yang cewe-cewe pada nyeduh susu anget.

    Setelah tenda berdiri, gue persilakan temen-temen cewe untuk ganti baju duluan. Sembari itu, gue sama kak Vina ambil air ke sumber mata air yang ada nggak jauh dari tempat nenda. Hmmm, tapi kecewa, karena air yang harusnya ngalir dari pipa sama sekali nggak keluar. Akhirnya ambil aja yang di sebelahnya, air yang menggenang dan nggak sejernih air dari pipa tadi. Tiga botol satu jerigen penuh, balik ke tenda. Kak Clara lagi motongin sayuran dan yang lain bikin minuman anget. Yang lain masih rebahan, mungkin kecapean. Menu kami malam ini adalah sayur sop, nugget goreng, buah pear dan pudding cokelat. Beuh gimana ngga kenyang?

    Telisik punya telisik, salah satu rekan kami ada juga yang sedang naik gunung Gede, yaitu Bang Taufik. Kami cuma saling tukar infomasi aja sebelum berangkat bahwa kami naik di hari yang sama. Tengah malam, kami keliling deh cari tenda nya bang Taufik. Tau lah yaaa gimana ramenya Surya Kencana. Belum lagi rombongan yang tendanya sama kayak bang Taufik. Jadi intinya malam itu kami nggak ketemu ama bang Taufik.

    Musim kemarau, kami sama sekali ngga dapet ujan sampai malam di Surya Kencana. Akibatnya, dingin pun menjadi-jadi. Daripada ingus meler terus gegara nyari tenda bang Taufik ngga ketemu-ketemu, balik deh ke tenda.

  Kebiasaan, ngga bisa tidur cepet klo lagi kemping. Bawaannya melek aja sambil ngemil pudding coklat yang tadi belum dijamah temen-temen. Pas buka tenda cewe … lah tidur nya pada anget bener itu sb nya tebel-tebel. Pas liat tempat kosong tinggal sisa beberapa senti dari pintu tenda. Bang Ewin akhirnya ngalah, doi tidur di antara tenda yang hadap-hadapan (tentu ada flysheet di atasnya). Gue ngungsi di tenda si Ustad dkk.

Dari awal udah yakin, summit jam empat pagi itu cuma wacana aja. Apalagi bang Ewin dari awal udah ngga mau ikut summit, lebih milih nyusul aja sambil beberes tenda. Meskipun sebenernya sekitar jam empat sampai subuh kami denger para pendaki yang summit lewat di depan tenda kami, tetap aja males buka mata. Pas melek, udah jam tujuh. Cerah banget pagi itu. Anita dan Berlian sekarang giliran ambil air. Imam nemenin mereka, takutnya nyasar. Gue nyusulin Ustad, Sandi dan bang Ewin yang nemuin bang Taufik. Ternyata, tenda kami ngga terpaut jauh. Ya namanya malem, wajar ngga keliatan (alesan).

Setelah ngobrol sama bang Taufik, kami balik ke tenda untuk sarapan. Ngga pake lama langsung packing dan lanjut muncak. Sampai di puncak udah tengah hari, panas terik nya ampun-ampunan. Rame banget, khas gunung Gede kalo lagi weekend.

Niatnya biar yang baru pertama kali naik tau jalur cibodas, jadi kami putuskan untuk turun via cibodas. Nah, kali ini kami sempet merendam kaki di air panas. Episode lalu gue ngga sempet dudu-duduk cantik sambil nikmatin sumber air panas karena di kejar waktu. Kali ini tergoda juga untuk sedikit ngerasain angetnya air sebelum lanjut perjalanan turun. Sekitar lima belas menit, kami lanjutkan perjalanan.

Gue, bang Ewin dan Ustad yang duluan sampai di Kandang Badak, mulai masak mie dan air. Jadi nanti yang belakangan bisa langsung makan supaya ngga buang-buang waktu. Menjelang jam lima sore, kami lanjutkan perjalanan turun. Sampai di pos satu (persimpangan air terjun cibereum) kami kembali sempatkan istirahat sebentar.

Kami sampai di basecamp cibodas jam tujuh. Gue lapor ke pos dan nyerahin simaksi selagi Imam buang sampah yang dibawa dari atas. Di gerbang masuk, ketemu lagi sama bang Taufik yang udah asik ngopi sama temen-temennya. Kami duluan ke warung langganan untuk santap malam.

Badan pada lengket, gue mandi aja sambil nunggu pesenan jadi. Sejak di jalur turun, emang udah ngebayangin nasi anget + tempe tahu goreng + sambel terasi. Pas banget selesai mandi pesenan jadi. Setelah semua selesai makan, langsung cari angkot buat turun ke pertigaan cibodas. Dari pertigaan, kami berpisah. Bang Ewin dan Sandi langsung cabut ke Bandung, sisanya ke Jakarta.

Ternyata Gede emang selalu sukses bikin kaki ngilu. Mau naik lewat putri, kalo turunnya lewat cibodas sama aja efeknya di kaki :D
Tapi ngga apa-apa, nostalgia ke Gede kali ini cukup menyenangkan. Makasih kalian kawan jalan ke Gede kemarin :) nggak kapok naik gunung kan ?

Rgrd,

-N-
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates