Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita



Hallo travelers.. sekarang aku mau share tentang bagaimana agar kita bisa tetep jalan-jalan asik tanpa keluar kocek banyak. (in case kamu lagi pengiritan tapi kepengen jalan atau lagi pengen nyoba backpackeran). Sebenernya aku juga belum lama sih suka bepergian ke luar kota, tapi untuk sekarang ini aku mau bagi-bagi tips yang udah pernah aku aplikasiin di perjalanan pribadi dan cukup berguna. Langsung aja ya, cekidot >>

1. Buat rencana perjalanan
Rencana perjalanan sangat penting supaya kita bisa sesuaikan budget, kemampuan, kondisi fisik dan waktu kita. Jangan sampai keluar dari plan kecuali ada kejadian mendadak. Kalau bisa jangan sampai kita jalan seenaknya tanpa pikir panjang. Bisa-bisa kena semprot bos nanti gara-gara telat mulai kerja karena kecapean traveling :p

2. Gabung di banyak komunitas jalan-jalan
Ini agar kita punya banyak kenalan di berbagai daerah. Biasanya di forum-forum tertentu member nya menyediakan rumah singgah. Nggak jarang juga mereka mau nemenin kita jalan-jalan di kota mereka. Misalnya, kita dari Jakarta mau ke Jogja. Kalau kita punya beberapa kenalan disana kita bisa contact mereka yang menyediakan rumah singgah atau sekedar minta info penginapan yang murah disana. Beruntung kalau mereka mau nemenin kita wisata di Jogja. Selain terhindar dari wasting tine gara-gara nyasar, kita juga bisa punya teman baru. Syarat untuk hal ini adalah : kita harus welcome juga sama para traveller dari luar kota kita. Nggak harus sediain rumah singgah, paling nggak kita bisa kasih saran tempat yang oke buat mereka datengin. Atau menjawab dengan sebaik-baiknya pertanyaan mereka tentang kota / daerah kita. Yaa.. semacam simbiosis mutualisme gitu lah. Hehe..

3. Rajin cek promo tiket dan tarif tiket yang up to date
Ini nih, buat yang sering bepergian pakai kendaraan umum. Yang biasa naik pesawat pasti nggak asing sama yang namanya promo tiket. Silahkan rajin-rajin cek situs web yang menyediakan info tentang promo tiket. Nggak jarang hlo yang dapat harga dibawah 100ribu untuk perjalanan pulang pergi.
Kemudian buat kalian yang sukanya naik kereta, ini lebih mudah. Situs resmi PT. KAI bisa diakses sewaktu-waktu (kecuali kalau server nya lagi eror :D) apalagi sekarang kita bisa pesen tiket H-90. Jadi bisa booking dan punya deposit tiket untuk perjalanan yang terencana :D Biasanya ada periode tertentu harga tiket naik dan turun. Call center nya juga mudah dihubungi. Nomornya saat ini adalah 121.
And then .. buat pecinta bus. Ada komunitas nya kok, misalnya busmania. Kalian bisa tanya-tanya sama mereka lama perjalanan, agen buas apa dan harga tiket sama mereka. Atau datangi langsung loket nya di agen resmi atau terminal. Jangan sampai ketipu sama calo.

4. Targetkan pengeluaran
Penting. Supaya kita nggak kebablasan belanja atau boros saat sedang bepergian. Biasanya ini sudah termasuk dalam rencana perjalanan. Ingat, kita sedang belajar bepergian secara irit :'D

5. Jangan gengsi
Jangan gengsi untuk makan di warteg emperan. Jangan gengsi untuk tanya-tanya orang sekitar biar nggak nyasar dan abisin duit ongkos buat nyari jalan balik. Jangan gengsi untuk masuk ke toko-toko souvenir yang gak menjual barang bermerek terkenal. Pilih segala sesuatunya yang pas di kantong. Biasanya pilihannya adalah mau makan enak atau tidur enak. Alias makan di restoran atau tidur di hotel. Sebisa mungkin cari tempat menginap yang cukup nyaman dan murah. Buat tidur doang, guys. Nggak perlu cari yang bintang lima kan :D Masalah makanan, walaupun murah tetep cari yang higienis ya. Biasanya makanan khas nggak sulit dicari kok.

6. Abadikan momen, catat perjalanan
Ini akan membantu sewaktu-waktu. Bisa saja kita pernah mengunjungi Dieng tahun kemarin dan ternyata dua tahun kemudian kita ingin kesana lagi? Memang sih perubahan harga bisa terjadi sewakti-waktu. Tapi paling tidak kita masih punya bekal info. Nggak harus bersusah cari info dari nol seperti dulu. Atau siapa tau kamu suatu saat akan buka jasa konsultan perjalanan? ;)


Nah gaes, sementara itu dulu tips dari aku. Maaf kalau cuma segini. Hihi.. Untuk kawan-kawan yang punya tips lain, silahken ditambahkan. Semoga bermanfaat ya :)

Salam ransel,
Naredita
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Consina Alpine 55+5 ltr

Lagi iseng dan nggak ada kerjaan, sekarang mau review tas keril yang saya pakai belakangan ini.
Buat yang baru-baru suka mendaki gunung, atau sekedar rajin backpackeran tapi masih anak sekolah, mahasiswa atau yang lagi ngirit. Menurut saya tas ransel yang satu ini cukup memuaskan.

Merk Consina seri Alpine, dengan ukuran 55+5 liter. Tas ransel (atau yang biasa disebut 'carrier' alias 'keril' sama anak gunung) ini menurut saya lebih cocok dipake sama kaum hawa. Warna nya merah kombinasi abu-abu, nggak norak dan nggak ribet diliatnya.
Saya beli tas ini sekitar setahun yang lalu dengan harga 360k, cukup bersahabat buat mahasiswa perantauan seperti saya. Buat cewek, tas ini nggak terlalu besar dan panjang, karena umumnya kalo cewek naik gunung dalam satu rombongan dia nggak akan bawa tenda di dalam tas nya. Alias tenda biasa jadi urusan kaum lelaki. Hahaha..

Saya pernah pakai tas ini untuk pergi one day trip, two day one night, bahkan perjalanan ngegembel satu minggu penuh. Dan oke-oke saja, cukup untuk barang bawaan termasuk sleeping bag saya yang segede gaban.

Ruang utama tas ini cukup diisi beberapa baju, dua celana, logistik selama empat hari, sleeping bag, jaket dan raincoat (itu yang biasa saya bawa dan muat di ruang utama). Ada penutup nya yang juga berfungsi untuk ruang tambahan berukuran 5liter.
Di bagian kanan kiri nya ada kantong jaring, bisa dipake buat naruh botol minum, frame tenda, matras, dan lain sebagainya asal muat. Di 'badan' nya sendiri, masih dibagian kanan kiri, ada resleting yang kalau dibuka juga menyediakan tempat meski kecil. Saya biasa naruh obat-obatan disini. Selain mudah pas ngambil nya, bagian ini juga nggak luas jadi cuma barang-barang kecil tapi penting yang bisa masuk.

Lalu beralih ke 'kepala' nya. Ada dua ruang disini, bagian dalam dan luar. Nah, bagian yang dalam ini saya paling suka. Bentuknya jaring-jaring dan ada resleting nya. Biasa saya pakai untuk naruh kaos kaki, sarung tangan, headlamp, senter, sunblock dan barang penting lainnya yang tentunya sudah dibungkus kantong plastik. Ruang ini seperti 'melar' karena saya isi barang-barang diatas tadi tapi pas ditutup nggak keliatan gemuk. Bagian luarnya, cukup untuk naruh jas hujan sekali pakai (yang plastik tipis itu), rokok (buat yang ngerokok), dan pernik-pernik penting lainnya.
Bagian belakang nya juga cukup nyaman di punggung. Bantalan tali samping nya juga empuk dan ini penting karena akan mengurangi beban di pundak kita.

Nah sekarang kelemahannya. Menurut saya pribadi sih nggak banyak, hanya saja bagian tengah keatas sepertinya tidak proporsional dengan yang bawah, sehingga kalau packingan dalam nya nggak dilapisi matras dasar tas ini kelihatan lebih kecil dan tas sulit berdiri. Atau kemungkinan besar saya sendiri yang nggak bisa ngatur packingan paling bawah supaya bagian atasnya nggak menggemuk. Lalu bagian kepala nya juga nggak bisa dilepas seperti beberapa tas keril seri lainnya.

Tapi over all, saya puas pakai tas ini karena nyaman dengan harga yang murah meriah. Nah buat kalian yang baru jajal hiking atau lagi nyari tas ransel buat sekedar gonta-ganti tas pas backpackeran, consina alpine cukup bersahabat. Tapi jangan dibandingin sama merk semacam deuter, osprey dan sebangsanya ya, harga dan kualitas memang beda. Hehe...

Salam ransel,
Naredita.
Share
Tweet
Pin
Share
9 komentar
Suatu waktu di Jogja. Malam tampak manis, meski ramai lalu lalang manusia memenuhi Malioboro. Manis, karena ada kau disisiku. Dan hangat, karena kopi yang kau pesan masih mengepul uap nya. Kau bertanya apakah benar itu arang yang ada di gelas kopimu. Aku mengangguk, dan menjelaskan sedikit fungsi arang yang dicelupkan di kopi pesananmu. Sedangkan es susu pesananku semakin memudar rasanya. Es batu itu mulai mencair dan menyamarkan rasa manisnya. Badanku masih terasa lengket, karena sejak siang kita telah menghabiskan waktu untuk berpindah kota dari Solo ke Jogja.

Pengamen silih berganti datang. Ada yang memainkan lagu modern, kadang lagu campursari, tak jarang tembang-tembang lawas yang syahdu di telinga. Lalu kita bicara akan kemana besok. Tentu kau ingin berburu buku disini. Aku ingin ke Taman Sari. Kemudian setelah membayar kopi dan susu tadi, kau bertanya sedikit pada si penjual jalan untuk ke Taman Pintar, yang tak jauh dari shopping center; surga buku di Jogja. Aku merengek untuk segera balik ke penginapan. Risih dengan keringat yang diterpa asap-asap penjaja makanan.

Esoknya, ku ketuk kamarmu yang bersebelahan dengan kamarku. Rupanya kau sudah bangun. Masih bengkak matamu, dan kulihat baju yang menempel dibadanmu masih sama. Haha aku lupa, perjalanan ini seminggu lamanya, pasti ransel mu penuh dengan alat pendakian dan hanya sedikit baju yang terbawa. Kau mulai gelisah akan pakai baju apa hari ini. Rupanya kau sudah kehabisan baju bersih, tinggal satu-satunya untuk dipakai balik ke Jakarta nanti. Aku melirik pada jaket hitam mu, ah tidak. Mungkin sekarang sudah nampak abu-abu? Kusarankan kau memakainya. Tanpa perlu di dobeli kaos lagi di dalamnya. Dan meski sedikit tak nyaman, akhirnya kau turuti saja saranku.

Masih belum mandi, kita melangkah keluar untuk cari sarapan. Nah, suasana Jogja di hari Rabu pagi begini lebih nyaman. Tak terlalu ramai, orang-orang beraktivitas sewajarnya, dan sayangnya justru sedikit warung makan yang sudah buka. Aku menjatuhkan pilihan pada lontong sayur khas Sumatra, karena kau selalu bilang 'terserah' setiap kita akan makan. Lalu kita sarapan. Tak lama, karena aku mengingatkan sudah jam sembilan dan kita belum siap-siap. Kau membayar selagi aku menyelesaikan suapanku yang terakhir.

Bus ini begitu penuh. Trans Jogja yang kita tumpangi berhenti di halte beberapa meter dari taman pintar. Kita berjalan masuk dan terus melangkah lurus, sampai menemui kios-kios pedagang buku. Aku tersenyum tanpa kau tahu. Sudah kupikirkan, kau pasti akan belanja banyak disini. Lihat, buku-buku lawas itu. Kau menyambangi satu persatu kios dan menawar. Satu, dua, tiga buku.. dan aku masih tetap menungguimu menawar harga buku yang ketujuh. "Maaf," ucapmu segan karena membuatku menunggu lama. Hari telah beranjak siang dan kita masih berkutat di tempat itu saja. Bumi Manusia, kaya Pram, sastrawan kesayanganmu itu. Akhirnya terbeli untukku. Kau sangat ingin aku membacanya. Nah, setelah tumpukan buku di tangan kita terasa cukup berat, akhirnya perut ini mulai merengek untuk di isi ulang. Kau pilih rumah makan sederhana yang tak terang tempatnya, ada di sudut jalan. Kita makan dalam hening karena kau sibuk membolak balik halaman buku '100 tahun kesunyian' yang baru saja kau beli.
Lalu tanpa naik bus lagi, berjalanlah kita ke arah komplek Taman Sari. Tapi sayang, taman air nya sudah tutup. Kusadari sekarang pukul empat sore. Tak apalah, kita susuri saja tembok-tembok tua ini. Oh, ini saja aku sudah cukup puas. Senja di Jogja, diantara tembok tua berukir yang cantik, dan semilir angin yang menenangkan. Ketika jam ku menunjuk ke angka enam, kita telah sampai lagi di jalanan Malioboro. Aku begitu lelah, sehingga jalanan ini tampak seperti berkilo-kilo meter untuk sampai ke gang Sosrowijayan, tempat penginapan yang kita singgahi.

Dan malam kembali datang. Keramaian mulai merayapi jalanan Malioboro lagi. Hmm, lagi-lagi kita makan menu yang sama dengan malam kemarin. Bebek goreng di piringku begitu panas , berminyak dan sulit untuk dimakan. Dengan sabar kau ambil alih piringku. Kemudian membagi daging itu dalam beberapa bagian kecil agar aku mudah memakannya. Kuucap terimakasih dan kita makan dengan tenang. Baru saja kita akan beranjak, hujan turun cukup deras. Terpaksa kita menunggu. Saat hanya tinggal gerimis, aku memaksamu untuk keluar dari warung makan. Tadi kau bilang ingin wedang ronde, maka kita berjalan menembus gerimis untuk mendapati gerobak penjual wedang itu.
"Bagaimana rasanya? Jahe nya pedas?"  tanyaku, yang tak ikut memesan.
"Lumayan," jawabmu, sembari menyesap wedang yang masih tampak panas itu.
Sudah pukul setengah dua belas malam. Jalanan mulai sepi, para pedagang telah menutup lapaknya. Gerimis masih jatuh sedikit-sedikit. Lalu kita akhiri malam ini.

Pagi datang. Keril telah rapih dan kita siap untuk kembali ke Jakarta. Sebelumnya memang kita sempatkan mengunjungi Keraton. Hanya kita sempatkan dua kali foto bersama. Itupun terburu-buru, karena kita harus bergegas ke stasiun Lempuyangan. Kali ini tidak jalan kaki. Becak yang digenjot bapak tua itu berjalan pelan-pelan menuju stasiun. Kau mengobrol dengan si bapak tua. Aku mendengarkan sambil mengawasi jalanan. Dan lima belas menit berlalu, sampailah di stasiun.

Peron cukup ramai, dan sekarang pukul lima sore. Kita mengobrol di pinggiran peron tempat khusus merokok. Ya, kau kan perokok. Bercanda ringan sampai akhirnya kereta Jaka Tingkir itu datang. Perjalanan malam memang akan terasa lebih cepat. Sepanjang jalan, pada lenganmu aku bersandar. Kota demi kota terlewati. Meski tetap ramai penumpang bercengkrama, namun aku cuma diam. Memenjamkan mata disampingmu, sambil berharap bahwa Jakarta masih berjarak seribu kilometer lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates