Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita




Liburan identik dengan bepergian untuk berjumpa dengan alam bebas atau keluar dari lingkungan kita sehari-hari . Entah itu ke gunung,pantai, atau mengeksplor daerah dan pulau yang belum pernah kita kunjungi. Tentunya, tidak terlepas dari sengatan sinar matahari. Bepergian dalam waktu lama kadang membuat kita menjadi sedikit ‘berbeda’ dari sebelumnya. Salah satunya adalah makin kucel, makin hitam, dan makin terlihat tak terurus. Hehe. Ini karena saat liburan kita cenderung fokus pada perjalanan dan mengabaikan kebutuhan kulit tubuh. Normalnya, kulit akan meregenerasi secara alami setelah kita kembali pada aktivitas normal. Jujur, dulu saya juga tidak pernah ambil pusing saat naik gunung atau sekedar city trip yang memakan waktu lebih dari 5 hari. Tapi lama-lama, sedih juga kalau lihat kulit pas sampai di rumah lagi.

Tapi untuk menjaga kulit selama perjalanan bukan berarti jadi ribet, rempong, boros karena memilih merek yang mahal demi kualitas dan memenuhi tas kamu dengan berbagai macam lotion. Cara mengakalinya adalah dengan memilih produk yang merangkap beberapa fungsi. Berikut adalah yang selalu saya bawa kemana-mana ketika liburan (pssst.. merek yang di sebut hanya untuk referensi, ya, Kamu bisa pakai merek yang sudah biasa kamu pakai sehari-hari) :


1. Body lotion dengan SPF tinggi
Awalnya sih, coba-coba sayaselalu pakai tabir surya ketika liburan, dan selalu berganti-ganti merek. Tapi kamu tahu, kan, kalau tabir surya itu rata-rata bertekstur lengket dan kadang bikin kita nggak nyaman. Pernah pakai Sebamed Sun Care, Ristra dan Vaseline. Tapi merasa sama saja. Toh matahari memang membakar kulit dan jadi hitam itu resiko dari bepergian. Jadi, belakangan aku memilih pakai lotion dengan kadar SPF yang nggak jauh beda dengan sunblock murni. Dari beberapa lotion, saya pakai Vaseline healthy white. Karena selain mengandung SPF 30, dia juga memberikan perawatan dari dalam dengan serumnya itu. Jadi selain melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB, kulit juga terasa lembab dan meresap dengan cepat di kulit. Untuk wajah, kalian bisa pakai tabir surya khusus wajah yang disediakan oleh berbagai merek kosmetik. Pilihlah merek yang sering dan cocok kalian pakai, jangan samapi malah jadi keki ketika jalan keluar karena tabir surya nya bikin kulit kelihatan berminyak.


2. Pelembab / Olive Oil
Saya selalu bawa petroleum jelly dari Vaseline kemana-mana karena multifungsi. Saya pakai terutama untuk bibir, karena dengan mengoles dan didiamkan selama 15 menit saja kulit keringnya (pada bibir) langsung rontok begitu diusap dengan tisu. Tapi lama-kelamaan, jadi kasian juga sama kulit bibirnya. Sebagai pengganti, aku memilih olive oil. Pilihlah yang dikemas dalam botol kecil dan rapat supaya nggak tumpah dan praktis dibawa kemana-mana. Saya pakai wardah pure olive oil karena nilai plusnya untuk urusan kemasan. Pada dasarnya, olive oil semua sama siapapun produsennya. Kecuali jika ada merek-merek tertentu yang memberi kandungan plus-plus shehingga membuat olive oilnya nggak jadi pure lagi.

Olive oil ini juga serba guna, mirip petroleum jelly. Selain saat liburan, saya juga pakai sehari-hari. Ketika melakukan perjalanan yang membuat kalian harus berjemur di bawah terik matahari seharian atau polusi udara, pasti kulit wajahnya jadi kusam dan lelah. Begitu sampai hotel atau peristirahatan, selesai mandi atau malamnya kalian bisa pakai olive oil untuk masker, pelembab kulit (dari wajah sampai kaki) atau cukup di bibir saja. Khusus penggunaan di bibir, hasilnya sedikit beda dengan petroleum jelly. Bibir lebih lembut tanpa harus terkelupas. Oiya, olive oil juga bisa untuk membersihkan sisa make up kamu hlo. Juga melembabkan kulit yang kering akibat proses penyembuhan jerawat. Sebaiknya pakai olive oil menjelang tidur karena bagaimanapun bentuknya adalah minyak, jadi gunakan ketika kamu sudah free dari kegiatan yang macam-macam.


3. Lotion Malam
Setelah memproteksi kulit di siang hari dan merawat kulit wajah selesai mandi, menjelang tidur kamu juga bisa pakai lotion malam untuk melembabkan kulit. Selain itu, juga untuk meperbaiki kulit kamu yang kusam karena seharian terpapar sinar matahari dan debu. Pilih lotion yang sering kamu gunakan atau yang memang kamu percaya cocok di kulitmu. Sekarang banyak merek kosmetik yang menjual lotion bukan hanya untuk siang, tapi juga malam hari. Saya sendiri pakai Nivea night whitening yanga da berry extract dan vitamin E nya. Lebih baik cari produk yang menurut kamu nggak lengket supaya tidurmu nyaman dan nggak risih.

Nah untuk perawatan kulit dari luar, saya hanya pakai 3 produk itu. selain praktis, pastinya juga multifungsi.  Jadi nggak ribet bawa macam-macam produk saat lagi liburan. Kalau produk yang kamu pakai semua kemasannya besar-besar, pindahkan sebagian isinya ke botol kecil (misalnya botol bekas shampoo atau sabun dari hotel) supaya muat di ransel atau koper kamu.

Rekomendasi aku di atas hanya bila kalian melakukan city trip atau liburan yang menyediakan tempat istirahat cukup nyaman, sehingga kalian bisa membersihakan dan merawat kulit ketika selesai jalan-jalan. Kalau lagi naik gunung, biasanya saya memangkas semua itu jadi 1 produk, yaitu tabir surya. Karena dari pengalaman selama ini, tidak banyak waktu untuk mengurus badan karena mandi pun hanya berbekal tisu basah. Hehe. Jadi ya.. nikmati saja perjalananmu dengan alam :)
Intinya, jangan sampai merawat diri justru menganggu liburanmu. Jalani yang menurutmu nyaman yaa :)

Tangerang,
31 Januari 2017,

Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar


Kemarin sampai mana ya? Oiya Klayar ya. Nah setelah dari Klayar yang sukses bikin gosong kulit itu, kami menuju ke pantai Ngiroboyo. Sayang sekali, jalan masuk ke pantai ini sungguh penuh perjuangan dan tantangan. Terutama untuk yang bawa mobil, karena jalanannya sempit banget. Ada bagian jalan yang kanan kirinya jurang, jadi kalau papasan sama mobil yang lain nggak tau harus gimana alias maju kena mundur kena. Tapi katanya, ada jalan lain selain jalan yang kemarin kami lewati dan konon katanya lebih lebar. Nggak tau hoax atau beneran. Biasa, awal tahun banyak hoax. Hehe.

Intinya akses masuk ke pantai Ngiroboyo masih kurang mulus, tapi kalian akan disuguhi pemandangan yang yahud dari atas bukit karena jalanan yang memang menurun. Jangan berharap pasir putih dan air biru yang melambai untuk dimainkan. Ngiroboyo memiliki pasir yang dominan hitam dan air yang tidak terlalu bersih juga. Tapi entah kenapa, ya bagus aja gitu. Gue sendiri enggan turun ke bibir pantai karena ampun deh panasnya nggak bisa ditawar lagi sama sun block. Jadi kami sekalian makan siang aja di warung kecil yang ada di  pinggir pantai. Ya seadanya sih, kami pesan ikan tuna bakar (katanya itu tuna, tapi gue gak bisa bedain juga sama ikan yang lain karena gak terlalu suka seafood). Juga orek tempe dan yang paling nagih ya sambelnya yang pedes itu sebagai penolong rasa ikan yang entah kenapa kurang gurih. Tapi tetep, rasanya nikmat aja gitu. Haha.



Kembali pada keindahan yang bisa kalian temukan di Ngiroboyo. Jalan terus sampai ke pojok, kalian akan menemukan muara sungai yang langsung melepas airnya ke lautan. Ini mirip-mirip sama pantai Baron-nya Jogja sih ya, cuma kalau di Baron kan muaranya bisa buat renang-renang gitu, tapi kalau disini sepertinya dalam jadi nggak ada juga pengunjung yang nyebur atau sekedar main air. Airnya tampak dominan ke hijau mungkin juga karena efek pantulan tanaman dan pohon-pohon yang tumbuh di tebing-tebing karang di kanan kiri sungai. Ada banyak kapal-kapal di sana, yang rupanya memang disewakan untuk menyusuri sungai. Di sini, gue inget tentang teman yang pernah cerita pengalamannya ke sungai maron. Dari tampilannya, gue yakin kalau ini adalah sungai yang sama.

Kapal-kapal Ngiroboyo dan pasir hitamnya

Kami memutuskan untuk mencoba dan menyewa 3 kapal. Seharusnya penumpang menggunakan rompi pelampung tapi karena habis, ya kami tetap naik karena menurut abang-abangnya cukup aman. Satu kapalnya muat 6-7 orang dan dihargai 100ribu tiap satu kali perjalanan PP. Saat kapal mulai berjalan, mulailah wawancara gue ke si abangnya untuk memastikan beberapa hal.
“Mas, ini tarifnya berapa per kapal?”
“100 ribu mbak.”
“Itu kapal lain pakai pelampung, kok kita engga?”
“Abis sih mbak soalnya.”
“Oh. Terus ini sungai dalemnya berapa meter mas?”
“Kalau yang di sini (saat itu sekitar seperempat perjalanan) yaa 2,5 meter lah kira-kira”
“Eh iya, ini sungai Maron kan mas?”
“Bukan mbak. Itu beda lagi. Ini sungai warna.”
“Tapi mas, temen saya pernah kesini, naik kapal begini juga terus namanya sungai Maron gitu.”
“Beda lagi mbak, kalau Maron di sana (nunjuk ke satu arah), beda sama yang ini tapi ya ngalirnya kesini-sini juga sih.”
“Masa sih?” (masih ngeyel)
“Iya.”
“Mas, ini sebelah kanan kirinya hutan ya?”
“Yang kiri ini ada kampung rada ke dalem, kalau yang di kanan sana sih hutan mbak.”
“Oh… panjang perjalanan kita ini berapa KM mas?”
“PP 3 kilometer mbak.”
“Mayan yha.”

Nah setelah itu gue memutuskan untuk percaya aja sama apa yang di ceritain si mas. Sungai ini bener-bener KW-an nyaAmazon sih gue rasa. Hehe. Kanan kirinya tampak lebat hutan tang dominasi pohon kelapa. Ada beberapa mangrove juga tapi nggak banyak, terus ada aliran sungai-sungai kecil gitu. Beberapa pinggirannya malah ada juga yang berupa pasir, seorah-olah pantai versi mini. Pokoknya sepanjang perjalanan bolak-balik kalian akan disuguhi pemandangan hijau dan gak usah takut kepanasan, karena rindang kok berkat pohoon-pohon yang ada di pinggiran sungai.

Setelah selesai di Ngiroboyo. Kami kembali pulang ke villa karena para krucil udah kecapean (yang gedenya juga sih). Setelah sampai villa, gue adalah penghuni kamar para gadis yang pertama mandi. Lengket bener seharian ketemu laut. Sambil menunggu hujan berhenti, gue duduk santai aja di teras. Jam 8 malam, baru hujan benar-benar berhenti. Untuk makan malam kami butuh cuaca cerah, karena nggak makan di cottage lagi tapi mau ke luar. Sepertinya sih mau ke alun-alun. Setelah sampai di TKP, kami pun terheran-heran karena di alun-alun pun nggak ada yang jual makanan berat. Rata-rata jual minuman atau makanan ringan seperti wedangan gitu. Bahkan, kami sempat muterin alun-alun 2 kali untuk memastikan apakah ada tenda penjual makanan. Ternyata, nihil.

morning view Pantai Teleng Ria

Walhasil kami pasrah dan memutuskan untuk berpencar saja cari makanan yang diminati masing-masing. Para sepupu mempilih untuk makan di resto terdekat, yang sedihnya juga beberapa mnu sudah habis. Ya pokoknya sekali lagi, kalau keluar untuk cari makan harus sabar dan jangan kemaleman. Ini bukan Jakarta yang keluaran kosan jam 2 pagi ada tukang nasi goreng. Setelah makan, kami kembali ke villa dan tidurrr karena besok akan check out. Nggak ada main-main uno lagi soalnya males mikir.




Paginya, kami sarapan di resto Sea View yang memang dimiliki cottage ini. pantai Teleng Ria pagi-pagi begini memang lebih sedap dipandang, karena masih sepi apalagi sambil nyeruput kopi di bale-bale. Kalian juga bisa jalan santai penyusuri bibir pantai tanpa terganggu pengunjung kecuali mereka yang juga menginap di cottage. Sepagi itu sudah ada mamang andhong juga, jadi kalau malas jalan atau pengen lebih asoy boleh naik andhong. Oiya, rata-rata tariff andhong itu 30 ribu sekali keliling. Puas foto-foto kami bersiap check out karena udah lumayan siang. Karena sepanjang jalan hujan deras, jadi ya kami nggak bisa mampir kemana-mana lagi dan langsung  menuju Solo dengan jalur Wonogiri – Sukoharjo – Solo. Jadi ya segitu dulu aja tentang Pacitannya. Mau di certain engga jalan-jalan lanjutannya dari Solo lalu ke Jogja lagi sebelum balik ke Jakarta? Nanti yaa. Sekarang kerja dulu ngumpulin modal nikah jalan-jalan. Dadaahh.


28 Januari 2017,
Dita
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Muara Sungai Warna

Kalau ditanya liburan kemana? Lalu jawabnya Jawa Timur, pertanyaan berikutnya adalah : Malang? Surabaya? Wonosobo? Eitsss…  jangan dikira cuma kota-kota itu aja yang potensi wisatanya bagus di Jawa Timur. Liburan akhir tahun kemarin, karena satu dan lain hal gue dan keluarga menuju ke Pacitan untuk berlibur. Tentunya setelah dari Jogja dong .. Nah untuk ke Pacitan dari Jogja, kami mengambil jalur Gunung Kidul dan terus hingga Wonogiri, yang nantinya langsung tembus ke Pacitan. Memang sih, Pacitan masih dekat dengan perbatasan Jawa Tengah.

Jalanan dari Gunung Kidul – Wonogiri (Pracimantoro)– Pacitan jangan pake ditanya. Meliuk-liuk nan melambai-lambai. Berasa kayak naik roaler coaster sepanjang jalan. Ati-ati kalo duduk di bangku tengah, bisa kebanting-banting ke kanan dan kiri soalnya banyak belokan yang tajem. Masuk perbatasan Pacitan dari Gunung Kidul menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Nah, pas sampai di Gunung Kidul dari Jogja kami sempat mampir ke rumah makan khas Gunung Kidul, tapi sistem penyajiannya kayak RM Padang gitu. Yang paling gue suka adalah sayur daun pepaya + ikan wader gorengnya. Endeuuusss banget.  Tapi.. gue lupa nama rumah makannya apa (hiks gak guna banget sih ya). Yhaa maap.

Pantai Teleng Ria

Selepas dari Gunung Kidul dan Wonogiri, begitu memasuki Pacitan pantai yang pertama terlihat adalah Teleng Ria. Pantai ini langsung terlihat ketika kalian masih ada di jalanan yang berada di pinggiran bukit (atau tebing ya?) sehingga ramainya pantai terlihat dari atas. Kebetulan, kami sudah booking penginapan yang ada di dalam kawasan Pantai teleng Ria. Namanya adalah Sea View Surfing Bay Cottage. Jadi kalau kalian sudah menginap di salah satu cottage yang ada di dalam kawasan pantai, kalian nggak perlu lagi membayar retribusi walaupun 100 kali keluar masuk. Kalian juga langsung dapat voucher water boom (yang seadanya gitu) . Plus voucher sarapan juga.

Teras Villa

Sea View Surfing Bay Cottage ini cukup nyaman, karena kami sekeluarga menyewa sebuah villa yang memiliki 3 kamar di dalamnya. Jadi bukan nyewa per kamar gitu. Lebih privat dan cocok untuk kalian yang memang mau quality time sama keluarga. Di dalam villa ada sebuah bangunan joglo dengan 3 kamar, teras dan taman, serta ruang tengah yang nyaman untuk berkumpul. Tapi jujur, gue kurang suka dengan makanan dari cottage ini. mereka punya restoran sendiri, tapi untuk seafoodnya entah mengapa gue kurang cocok. Sambil nunggu jam check in, gue melipir ke pantai dulu yang memang airnya kurang bersih alias cokelat gitu. Disana juga ngga boleh berenang, kita cuma boleh main-main air biasa. Ada kampung cemara juga di pinggir pantai, sebuah kawasan yang memang ditumbuhi pohon-pohon cemara dan dipagari sekelilingnya. Banyak orang yang menggelar tikar dan piknik di sana. Tapi gue, Sita, Gifa dan kedua tante memilih untuk naik andhong mengitari kawasan pantai.  

Bagian depan resto cottage

By the way, satu hal yang perlu kalian ketahui tentang kota ini adalah : tidak cukup ramai. Pusat kotanya dekat dengan pantai Teleng Ria, ada alun-alun di dekat kantor Pemerintahannya. Oh ya, ada rumah mantan presiden ke-6 kita juga. Tapi sayang sekali, di pusat kotanya pun jarang ada rumah makan (atau mungkin karena itu masa liburan jadi pada tutup? Entahlah). Alhasil kami kesulitan mencari makan siang dan kalau mau cari sesuatu yang khas, kalian akan menemukan tahu tuna di mana-mana. Akhirnya untuk makan malam kami tetap makan di cottage sambil menyewa sound untuk karaoke. Selesai makan, gue dan Sita berjalan ke bangku-bangku yang ada di pinggir pantai. Di sini nggak banyak nelayan, jadi nggak ada lampu-lampu kapal gitu. Cuma debur ombak aja, dan curhatan Sita tentunya. 

Paginya kami bersiap-siap untuk ke pantai Klayar. Dari Teleng Ria ke Klayar butuh waktu sekitar  1 jam. Guys saran gue sih kalau ke Klayar baiknya sore, untuk sunset dan mengindari kulit gosong karena kepansan. Kami sampai di Klayar sekitar pukul 10 pagi. Aduh, mataharinya terik poll sehingga kacamata hitam + topi sangat berguna di sana. Jangan lupa pakai sun block mu juga ya. Pantai Klayar memiliki pasir cokelat muda menuju putih dengan air yang lebih bersih daripada Teleng Ria. Dan pastinya lebih ramai, karena di sini pengunjung bisa bermain ombak dengan lebih bebas meski tetap ada garis batas yang ditentukan.

 Pantai Klayar

Lengkungan garis pantai Klayar memiliki ombak yang tidak terlalu besar, sehingga lebih aman. Tapi jika kalian menginginkan ombak yang lebih menantang, berjalanlah terus ke kiri. Semakin ke timur, ombak terasa lebih tinggi dan besar. Memang akan lebih asyik kalau mau main ombak di sini. Tapi lebih banyak juga bebatuan atau karang kecil yang terbawa ombak, jadi hati-hati ya, bisa sakit badan atau kakinya kalau kena hempasan batu itu. Kaki gue sempat sobek dikit karena batu yang terinjak saat menghindari ombak. Oh ya dan yang terpenting, kalau kalian bawa adik, anak atau siapapun yang masih kecil, pengawasannya harus ekstra ya. Karena begitu ombak datang dan kembali ke lautan, akan langsung disusul ombak berikutnya yang nggak kalah besar. Bahaya kalau adik atau anak kalian di lepas main ombak sendirian. Jangan cuma nontonin di pinggiran, tapi selalu gandeng ketika mereka main ombak.

Pantai Klayar

Kalau mau yang lebih bagus lagi khususnya untuk foto-foto, bisa jalan lebih ke timur. Di sana ada semacam lengkungan kecil yang diapit dua tebing. Ombaknya lebih besar dan daratan pasirnya lebih dalam, jadi memang nggak boleh main air. Boleh kalau cuma mau foto-foto di pinggirannya. Saran nih kalau udah selesai main air dan pengen bilas, cermatlah memilih toilet. Karena ada yang airnya kadang mampet. Kan repot kalau udh lepas tapi tiba-tiba ngga ada air buat bilas. Jadi di cek dulu ya, dan bawalah sabun serta keperluan mandi lainnya supaya kalian ngga perlu beli di TKP.


Aduh cyin, kepanjangan kayaknya kalau gue jabarin semua dalam satu postingan. Jadi gue bikin 2 part aja yaaa.. supaya gak bosen juga bacanya ‘kok gak kelar-kelar’ gitu. See you next post J
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ►  2018 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Januari (2)
  • ▼  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ▼  Januari (3)
      • Jaga kulitmu, nikmati liburanmu
      • Explore Pacitan (Part 2)
      • Explore Pacitan (part 1)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates