Diberdayakan oleh Blogger.

Diary Dita

Suatu waktu di Jogja. Malam tampak manis, meski ramai lalu lalang manusia memenuhi Malioboro. Manis, karena ada kau disisiku. Dan hangat, karena kopi yang kau pesan masih mengepul uap nya. Kau bertanya apakah benar itu arang yang ada di gelas kopimu. Aku mengangguk, dan menjelaskan sedikit fungsi arang yang dicelupkan di kopi pesananmu. Sedangkan es susu pesananku semakin memudar rasanya. Es batu itu mulai mencair dan menyamarkan rasa manisnya. Badanku masih terasa lengket, karena sejak siang kita telah menghabiskan waktu untuk berpindah kota dari Solo ke Jogja.

Pengamen silih berganti datang. Ada yang memainkan lagu modern, kadang lagu campursari, tak jarang tembang-tembang lawas yang syahdu di telinga. Lalu kita bicara akan kemana besok. Tentu kau ingin berburu buku disini. Aku ingin ke Taman Sari. Kemudian setelah membayar kopi dan susu tadi, kau bertanya sedikit pada si penjual jalan untuk ke Taman Pintar, yang tak jauh dari shopping center; surga buku di Jogja. Aku merengek untuk segera balik ke penginapan. Risih dengan keringat yang diterpa asap-asap penjaja makanan.

Esoknya, ku ketuk kamarmu yang bersebelahan dengan kamarku. Rupanya kau sudah bangun. Masih bengkak matamu, dan kulihat baju yang menempel dibadanmu masih sama. Haha aku lupa, perjalanan ini seminggu lamanya, pasti ransel mu penuh dengan alat pendakian dan hanya sedikit baju yang terbawa. Kau mulai gelisah akan pakai baju apa hari ini. Rupanya kau sudah kehabisan baju bersih, tinggal satu-satunya untuk dipakai balik ke Jakarta nanti. Aku melirik pada jaket hitam mu, ah tidak. Mungkin sekarang sudah nampak abu-abu? Kusarankan kau memakainya. Tanpa perlu di dobeli kaos lagi di dalamnya. Dan meski sedikit tak nyaman, akhirnya kau turuti saja saranku.

Masih belum mandi, kita melangkah keluar untuk cari sarapan. Nah, suasana Jogja di hari Rabu pagi begini lebih nyaman. Tak terlalu ramai, orang-orang beraktivitas sewajarnya, dan sayangnya justru sedikit warung makan yang sudah buka. Aku menjatuhkan pilihan pada lontong sayur khas Sumatra, karena kau selalu bilang 'terserah' setiap kita akan makan. Lalu kita sarapan. Tak lama, karena aku mengingatkan sudah jam sembilan dan kita belum siap-siap. Kau membayar selagi aku menyelesaikan suapanku yang terakhir.

Bus ini begitu penuh. Trans Jogja yang kita tumpangi berhenti di halte beberapa meter dari taman pintar. Kita berjalan masuk dan terus melangkah lurus, sampai menemui kios-kios pedagang buku. Aku tersenyum tanpa kau tahu. Sudah kupikirkan, kau pasti akan belanja banyak disini. Lihat, buku-buku lawas itu. Kau menyambangi satu persatu kios dan menawar. Satu, dua, tiga buku.. dan aku masih tetap menungguimu menawar harga buku yang ketujuh. "Maaf," ucapmu segan karena membuatku menunggu lama. Hari telah beranjak siang dan kita masih berkutat di tempat itu saja. Bumi Manusia, kaya Pram, sastrawan kesayanganmu itu. Akhirnya terbeli untukku. Kau sangat ingin aku membacanya. Nah, setelah tumpukan buku di tangan kita terasa cukup berat, akhirnya perut ini mulai merengek untuk di isi ulang. Kau pilih rumah makan sederhana yang tak terang tempatnya, ada di sudut jalan. Kita makan dalam hening karena kau sibuk membolak balik halaman buku '100 tahun kesunyian' yang baru saja kau beli.

Lalu tanpa naik bus lagi, berjalanlah kita ke arah komplek Taman Sari. Tapi sayang, taman air nya sudah tutup. Kusadari sekarang pukul empat sore. Tak apalah, kita susuri saja tembok-tembok tua ini. Oh, ini saja aku sudah cukup puas. Senja di Jogja, diantara tembok tua berukir yang cantik, dan semilir angin yang menenangkan. Ketika jam ku menunjuk ke angka enam, kita telah sampai lagi di jalanan Malioboro. Aku begitu lelah, sehingga jalanan ini tampak seperti berkilo-kilo meter untuk sampai ke gang Sosrowijayan, tempat penginapan yang kita singgahi.

Dan malam kembali datang. Keramaian mulai merayapi jalanan Malioboro lagi. Hmm, lagi-lagi kita makan menu yang sama dengan malam kemarin. Bebek goreng di piringku begitu panas , berminyak dan sulit untuk dimakan. Dengan sabar kau ambil alih piringku. Kemudian membagi daging itu dalam beberapa bagian kecil agar aku mudah memakannya. Kuucap terimakasih dan kita makan dengan tenang. Baru saja kita akan beranjak, hujan turun cukup deras. Terpaksa kita menunggu. Saat hanya tinggal gerimis, aku memaksamu untuk keluar dari warung makan. Tadi kau bilang ingin wedang ronde, maka kita berjalan menembus gerimis untuk mendapati gerobak penjual wedang itu.
"Bagaimana rasanya? Jahe nya pedas?"  tanyaku, yang tak ikut memesan.
"Lumayan," jawabmu, sembari menyesap wedang yang masih tampak panas itu.
Sudah pukul setengah dua belas malam. Jalanan mulai sepi, para pedagang telah menutup lapaknya. Gerimis masih jatuh sedikit-sedikit. Lalu kita akhiri malam ini.

Pagi datang. Keril telah rapih dan kita siap untuk kembali ke Jakarta. Sebelumnya memang kita sempatkan mengunjungi Keraton. Hanya kita sempatkan dua kali foto bersama. Itupun terburu-buru, karena kita harus bergegas ke stasiun Lempuyangan. Kali ini tidak jalan kaki. Becak yang digenjot bapak tua itu berjalan pelan-pelan menuju stasiun. Kau mengobrol dengan si bapak tua. Aku mendengarkan sambil mengawasi jalanan. Dan lima belas menit berlalu, sampailah di stasiun.

Peron cukup ramai, dan sekarang pukul lima sore. Kita mengobrol di pinggiran peron tempat khusus merokok. Ya, kau kan perokok. Bercanda ringan sampai akhirnya kereta Jaka Tingkir itu datang. Perjalanan malam memang akan terasa lebih cepat. Sepanjang jalan, pada lenganmu aku bersandar. Kota demi kota terlewati. Meski tetap ramai penumpang bercengkrama, namun aku cuma diam. Memenjamkan mata disampingmu, sambil berharap bahwa Jakarta masih berjarak seribu kilometer lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Holaaa .... udah lama nggak posting disini. Gue mau berbagi cerita lagi dan seperti biasanya, ini adalah late post alias kejadian udah lama tapi nggak basi untuk di ceritain lagi. Pada postingan kali ini gue akan ajak kalian untuk jalan-jalan ke 3 kota sekaligus. Oke, jadi rencana untuk trip ini memang udah gue atur sebulan sebelum hari-H. Ada dua hal penting dalam trip kali ini buat temen-temen gue, yaitu nikahan bang Henry (salah satu sesepuh di tempat nongkrong) (eh maap om..) dan naik gunung Ungaran. Lama trip kali ini adalah satu minggu full alias 7 hari. Kami berangkat berlima, dengan orang-orang yang sudah nggak asing lagi yaitu Bang Ewin, Ustad a.k.a Bang Ahmad, Bang Wisnu, Bena dan gue sendiri. 



 sebelum kereta berangkat
Pagi itu entah hari apa gue lupa, kita berangkat dari stasiun Senen pagi-pagi jam 06:00. Untung nggak ada yang telat karena keretanya berangkat tepat waktu. Naik kereta Kerta Jaya, dengan harga tiket cuma Rp 45.000,- . Dengan jurusan Jakarta-Semarang. Awalnya gue pikir karena ini kereta ekonomi, pasti nyampe nya nggak akan tepat waktu. Tapi gue salah, ternyata jam 10:00 kita udah sampe cirebon dan jam 14:00 udah sampe di Semarang. Ketika kereta udah sampai di daerah Semarang dan nglewatin pinggiran laut, kami berlima kayak orang norak. meskipun bukan pertama kali naik kereta ke Semarang, ngeliat laut begitu dekat dengan kereta kita tetep bikin suasana mendadak rame. "Heh... itu lautnya deket banget!" Bang Ewin nyeletuk sambil nunjuk-nunjuk ke jendela. "Lah iya Bang, itu air nya muncrat sedikit kesini," kata Bang Wisnu sambil nunjuk pojokan kursi. Kami semua ketawa sadar betapa noraknya ngeliat hal-hal sederhana kalo lagi bareng-bareng.
Sampai stasiun Semarang Poncol. Kita kelaperan karena emang pagi nya nggak sempet sarapan. Maka dari itu, kita cari tempat makan di sekitar stasiun Semarang Poncol. Jalan sekitar 200meter, ada warung makan di pinggir jalan. Langsung kami mampir dan makan siang di situ. Dan harga untuk makan siang ini cuma Rp 9.000,- . Setelah kenyang, seperti rencana awal kami langsung menuju ke Lawang Sewu. Catet : jalan kaki + bawa keril. Kayak orang bener :D belum lagi di tambah nyasar karena gue dan Bena yang sok tau jalan ke Lawang Sewu. Tapi akhirnya kami nyampe juga di sana dan main-main sebentar sampe jam 16:00.
 ketika salah jalan, sok sok an foto kayak the beatles
 Bena













 salah satu ruangan di Lawang Sewu
sempatkan foto bareng

Kami langsung bergegas untuk cari halte Trans Semarang (selanjutnya gue sebut dengan TS) untuk menuju ke Tembalang. Beruntungnya, Bena punya temen yang tinggal di Semarang tepatnya di daerah Tembalang, namanya Andre. Jadi kami bisa numpang nginep semalem di sana. Tarif TS nggak beda sama Trans Jakarta, yaitu sekali naik Rp 3.500,-. Kami sampai di Tembalang jam 17:30 dan dijemput oleh Andre dan beberapa temennya. Ternyata Andre di sini nge-kos dan dia ada 1 kamar kosong. Kamar itu gue pake sama Bena dan buat naruh barang-barang kami berlima. Sementara para cowo bisa tidur di kamar Andre. Setelah mandi dan ngobrol-ngobrol bentar, kami keluar untuk makan malem. Warung langganan Andre tutup jadi kami berbelok ke daerah kampus Univ. Diponegoro (selanjutnya gue sebut Undip). Di sana kami makan pecel ayam yang harganya Rp. 10.000,- udah plus minum es teh manis. Karena masih jam 21:00, kami mampir masuk ke dalem Undip dan ngobrol-ngobrol di sebuah taman di dalem kampusnya. Nggak lama karena ternyata disitu nggak boleh nongkrong sampe larut malem. Kami pun lanjut ngopi di sebuah kedai kopi. Namanya Bengkel Coffe (kalo nggak salah). Tempatnya recomended deh, apalagi saat itu ada piala dunia jadi banyak yang sekalian nonton bareng. Ada live music nya juga dan tempatnya cukup nyaman, ada outdoor dan indoor. Gue sama Bena sampe ketiduran disana karena para cowok betah banget ngobrol plus ngopi. Jam 23:00 kami balik ke kosan karena nggak mau besok bangun kesiangan, kami harus ke Demak untuk dateng ke resepsi nikahan Bang Henry. 
 Ustad, gue dan Bena


 Ustad dan Andre (di Undip)
“Dit .. bangun Dit.. “ tok..tok..tok..
Suara si Ustad ngebangunin. Emangnya ini jam berapa? Gue keluar dan menemukan langit masih gelap. Gue tengok kamar sebelah, masih pada tidur. Hih, masih subuh. Agak kesel sama Ustad tapi akhirnya gue siap-siap juga dan bangunin yang lain. Cie.. pada pake kemeja. Lucu ketika ngeliat mereka dandan rapi begini. Untuk sampe ke Demak, kami harus naik TS ke terminal Terboyo dan lanjut naik bus ke Demak. Bus ke Demak tarif nya Rp.3.500,-. Kami hadir di resepsi Bang Henry sampe jam 12:00, karena Bang Wisnu harus segera ke Salatiga untuk ketemu temennya dan lanjut naik ke gunung Merbabu (yang pada akhirnya dia naik gunung Merapi). Sementara kami berempat balik ke kosan dan packing untuk naik gunung Ungaran.  

 resepsi nikahan Bang Henry
(di Demak)

Sampai kosan, bisa ditebak kami males-malesan. Akhirnya baru siap berangkat jam 16:00. Kami sewa angkot untuk ke umbul Sidomukti , dengan tarif Rp 100.000,- dibagi berlima (si Andre ikutan naik). Perjalanan kira-kira 1 jam, dan sampai di Umbul Sidomukti kami harus jalan kaki lagi ke basecamp Mawar. Kami makan dan rehat sebentar di basecamp. Kali ini kami memilih trek malem dan start jam 19:00. Kami jalan santai karena malem itu gerimis turun. Jalanan landai dan normal sampai ke kebun teh Promasan. Karena dari Promasan udah nggak jauh untuk ke puncak, kami putuskan untuk camp disini. Untung udah nggak ujan jadi kami bisa masak dan begadang. Meski akhirnya gue sama Bena duluan masuk tenda.

 citylight dari bukit diatas promasan



“Bangun woy.. mau summit nggak?” bisa ditebak, lagi-lagi Ustad yang bangunin.
“Ah gue males ah.. kalian aja.” Bena masih anget didalem sb-nya.
“Yah sama.. jam 3 deh.. ya?” gue ikutan males.
“Payah lah.. “ Bang Ewin nyeletuk. Dan karena sebenernya gue nggak bisa tidur juga, akhirnya gue bangun juga. Keluar tenda dan bergabung sama yang lain. Oh iya, semalem temen Bena yang lain dateng lagi 2 orang. Setelah ngebujuk Bena, kami start summit jam 02:30 dengan bawa bekel puding coklat, kopi, roti dan air. Eh iya bawa nesting juga. Haha..
Kami summit berlima, yang lain jagain tenda. Karena Ungaran termasuk gunung yang nggak begitu tinggi dan medannya nggak terlalu sulit juga, makanya banyak yang camping disini, dari berbagai usia. Makanya gunung ini rame, apalagi ini hari minggu. Alhasil, untuk sampe ke puncak kami harus antre. Sekitar 20menit sebelum puncak, gue dan Bang Ewin jenuh ngeliat antrian pendaki. Jadilah kami ke sebuah punggungan yang ada batu gede nya gitu, dan dari situ view citylight nya bagus banget. Buat liat sunrise juga udah oke.
“Udahlah kita disini aja..” Kata Bang Ewin. Kamis semua setuju dan masak air buat ngopi. Si Bena kembali tidur dengan damainya diantara batu-batuan dibelakang gue. Masih jam 04:00, masih gelap. Matahari baru muncul jam 05:30. Langit cerah dan awannya bagus. Jam 06:00 kami baru lanjut ke puncak. Ternyata disana banyak yang nenda, jadi emang rame banget. Kami foto-foto bentar dan segera turun. Sampe di Promasan, kami masak makan siang dan beberes. Baru turun jam 11:00 dan itu panas banget, mataharinya terik. Beberapa motor trail lewat. Disini juga jadi tempat main para peng-hobi motor trail. 
 Bena dan Bang Ewin


 awannya :o
 gaya lu Tad :p


 tim Ungaran

Kami jalan lagi ke basecamp Mawar untuk lanjut ke umbul Sidoarjo dan cari angkot. Belum jauh dari Umbul, Andre liat ada truk kosong parkir pinggir jalan.
“Dit, coba tanya yuk? Kali aja bisa numpang” kata Andre.
Dan bener, kamipun boleh numpang sampe jalan raya. Dengan badan kotor dan muka kucel ditambah jalanan yang nggak mulus, kami ketawa-ketawa diatas truk. Hah.. sampai juga di jalan raya. Kami dapat angkot untuk disewa ke Tembalang lagi dengan harga yang sama kayak pas berangkat. Sampai kos kami langsung mandi karena Bang Ewin, Bena dan Ustad harus segera ke terminal untuk naik bus balik ke Jakarta. Yah sedih. 




 makan siang sebelum turun

Kami sempatkan makan bakso di deket kosan, dan jam 18:00 mereka bertiga berangkat ke terminal dianter Andre. Gue nungguin sambil beberes juga untuk lanjut ke Solo, harus sempetin mampir ke rumah. Akhirnya kami misah-misah disini. Gue berangkat ke Solo naik bus dengan tarif Rp 30.000,- sampai ke terminal Tirtonadi Solo. Sebelumnya gue udah minta temen untuk jemput, tapi sialnya gue ketiduran karena capek banget. Akhirnya gue minta jemput sama nyokap. Gue turun bus dengan bawa tas kecil dan duduk di ruang tunggu. Lima menit.. sepuluh menit berlalu... loh, kok?????
Wuanjir, keril gue ketinggalan di bagasi bus! Secepatnya gue lari ke tempat bus yang dateng dari luar kota.
“Pak.. Pak? Bus yang dari Semarang udah berangkat lagi apa belum ya?” gue nanya ke seorang petugas terminal.
“Hlo.. udah dong mbak, emang tadi dari Semarang jam berapa?”
“Jam 20:00 pak,” dan seketika gue cek jam tangan. Sekarang jam 22:30. Mati deh ..
“Tadi itu berarti bus terakhir mbak..”
“Duh terus gimana dong pak??”
“Kandang nya jauh mbak, di Wonogiri.”
Jlebbbbbbb. Biar kata keril gue nggak mahal, tapi itu peralatan gue semua disana. Nggak lucu banget kalo sampe ilang. Hiks.
“Tapi coba mbak ke daerah Kadipiro, kadang bus nya mampir disitu.” Nah, secercah harapan.
“Oke pak. Makasih ya pak.” Langsung ke parkiran. Nyokap pasti udah nunggu disana.
Nyokap gue nunggu diatas motor, dengan senyum cerah begitupun adik gue.
“Hlo, tas mu mana? Biasanya bawa tas yang gede itu?”
“Ketinggalan di bus. Ayo ma ke daerah Kadipiro. Barangkali masih bisa dikejar..” gue ga pake basa-basi. Dan .. nyokap gue ngomel sejadi-jadinya. “Gimana sih bisa ketinggalan? Makanya kalo lagi perjalanan tuh fokus ! bla.. bla.. bla..”
Akhirnya nyampe juga ke sebuah pom bensin dengan beberapa bus serupa yang parkir di dalemnya.
“Mas mas, ada bus yang dari Semarang? Tas saya ketinggalan di bagasi”
Mas-mas yang lagi nyuci bus noleh. “Wah, nggak ada mbak. Udah pada ke Wonogiri semua..”
Hening.
“Eh tapi ada satu tempat mangkal lagi sih, coba aja cek kesana. Barangkali belum ke Wonogiri,”
“Oh ya? Dimana?”
“Em.. ribet rutenya. Saya anterin aja”
“Wah, makasih mas!”
Singkat cerita, akhirnya bus itu masih ada, beserta supirnya di salah satu kandang bus nggak jauh dari Kadipiro tadi. Dan keril gue masih ada, sehat walafiat.

Gue di Solo 2 hari lamanya. Ya, cuma 2 hari. Di Solo seperti biasa gue ketemu sahabat-sahabat lama gue, makan di angkringan sampe larut malem, minum susu segar, dan jalan-jalan keliling kota. Oh ya, gue juga sempet ke SMK gue yang dulu karena perlu minta nomer Ijazah buat ngurus sistem baru dari kampus. Hari ke-3 gue udah siap-siap dari pagi untuk lanjut ke Jogja. Di sana gue habisin waktu 2 hari sebelum akhirnya balik lagi ke Jakarta untuk memulai semester baru. Tepatnya semester akhir. Nggak cerita deatil trip di Jogja, karena kalau kalian baca yang udah-udah, kalian akan nemuin ceritanya disana. hehe. Ini mungkin trip terakhir gue sebelum ngerjain skripsi. Eh, apa iya? Coba kita liat nanti ya....

Regard,
Naredita

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hallo ... mau berbagi cerita lagi nih. Kali ini gue mau ngajak kalian jalan-jalan ke Merapi. Jadi begini ceritanya :

Lebaran kemarin, gue memutuskan untuk pulang kampung pake keril. Dalam rangka jaga-jaga kalau mendadak mau naik gunung. Hari kedua setelah lebaran, mulai banyak tawaran mampir. Lawu, Merapi, Andhong, Prau, dan kawan-kawannya. Dan karena kemarin abis bermacet ria perjalanan dari Tangerang ke Solo, gue males pergi yang jauh-jauh dari rumah. Ting ! langsung bbm mas Bayu.
"Mas, Merapi yuk."
"Kapan?"
"Besok kamis."
"Yo boleh. sama siapa?"
"Ndak ada lagi. nyari temen gih mas. "
" -____- yowes tak nyoba ngajak Ikrom"

Kemudian bbm Rian dan Talang. fyi, dua orang ini adalah oknum yang sama di team pendakian Merbabu tahun kemarin. Singkat cerita, Rian langsung setuju dan Talang juga nggak mikir dua kali karena baru seminggu lalu dia juga ke Merapi, tapi gagal muncak gegara temennya ada yang sakit. Mas Ikrom katanya ndak bisa ngikut (ini versi dari mas Bay loh ya) jadi fix kami pergi berempat.

Kamis pagi, tanggal 31 Juli 2014. gue packing dengan logistik seadanya khas one day trip. Kemudian duduk manis nunggu Talang buat tebengan ke rumah Rian. Jam 21:00, yang seharusnya kami udah ngumpul di rumah mas Bayu di Boyolali, nyatanya gue masih duduk di teras rumah Rian, ngeliatin mereka berdua packing. Dan kami bertiga baru benaran jalan jam 22:00. Untungnya Boyolali nggak jauh-jauh amat, jadi jam 22:45 kami udah sampai di rumah mas Bay yang juga lagi packing. Nggak lama, kami berempat naik motor ke basecamp Merapi.

Kami sampai di basecamp tepat jam 00:00. Disini cuma ada satu basecamp, yang parkiran motornya membludak malam itu. Setelah urusan laporan selesai, kami mulai nanjak. Hawa dinginnya sama persis kayak waktu ke Merbabu. Jalanan awal dari basecamp ke tempat wisata New Selo beraspal, dan terus begitu sampai pos perhutani. Setengah jam rehat disana dan sedikit jengkel karena ada pendaki yang gelar tenda di pos -__- bikin nggak ada ruang buat istirahat pendaki lainnya. Nah setengah jam berlalu, kami mulai jalan lagi dan kira-kira ukul 02:00 sampai di pos 1. Disini ketemu banyak pendaki bule, rombongannya sekitar 10 sampai 15 orang dengan guide 2 orang. Nggak lama-lama langsung lanjut ke pos 2. Untuk sampai ke pos 2 kami butuh waktu 2 jam. Ini sebenernya gue oknum yang bikin lama. Hehe maap yak man teman..

Sampai di pos 2 jam 04:00. Kami sebenernya berniat camp di pasar bubrah. Tapi sebelum lanjut naik, kira-kira 30 meter setelah pos 2, gue minta break. Eh... merem sampe 15 menitan. 
"Dit .. ngantuk?" mas Bayu iseng nanya.
Gue spontan melek. Tapi karena seharian dirumah nggak berhasil tidur, mata nggak bisa bohong. "Iya ngantuk. Piye kalo buka tenda aja? Hehe... " Nyengir sambil nahan dingin. 
"Yaudah.. kita camp disini aja. Lagian tempatnya juga enak kok." Rian setuju. Talang sih ngikut aja.
Kami mendirikan tenda dan duduk sambil ngobrol plus ngemil. Aneh nya, pas tenda udah siap gue malah udah nggak ngantuk lagi. *kemudian ditoyor* jadilah Rian sama Talang yang tidur pules didalem tenda, Anget bener dobel jaket sama sb. Sementara gue sama mas Bayu ngobrol di deket batu besar di samping tenda, deket jalur. Sampe jam 05:00, pendaki udah jarang yang lewat. Gue nunjuk-nunjuk kearah puncak. Keliatan kerlip lampu headlamp para pendaki yang lagi summit. Duh, ini kaki kenapa mager banget diajak gerak..






Jam 06:00. Matahari masih malu-malu, ketutup awan. Gue udah berkali-kali bilang dingin. Mas Bayu cuma cengar-cengir. Orang ini nggak pake jaket , cuma kaos dan celana pendek. Jam 06:30, matahari baru keliatan. Langit cerah, pokoknya syahdu deh :p Gue buru-buru minta difotoin, karena udah kepengen ngelingker di dalem sb. Selesai foto, gue masuk tenda. sama kayak yang lain, rapet pake jaket dan sb. Mas Bayu masih duduk di pintu tenda. Krucuk.. krucukk... itu bunyi perut gue. Mas Bayu ngikik, entah karena lagi main hape atau denger perut gue yang kelaperan. Laper sih, tapi asli, males banget mau masak. Nggak lama mas Bayu pun ikut nyempil disambing Talang. Dan zzzzzz... kami pun tidur. 

Karena dingin nggak ilang-ilang juga, jam 09:00 akhirnya gue kebangun. Pas nengok kesamping, Talang sama Rian masih dengan posisi yang sama. Tidur pules. Entah ileran atau  nggak tuh berdua. Secara udah tidur paling lama -__- 
"Riaaann.. Talangg.... bangun. Ayo sarapan.." Akhirnya gue bangunin juga duo kebo. Rian duluan melek. "Ayo.. ayo." masih setengah sadar nyaut. Talang ikutan melek. "Jam berapa nih?" "Jam sembilan. Ayo mau muncak apa engga.." gue ngejawab sambil buka-buka plastik isi logistik. Rian masang gas ke kompor, Talang nyiapin gelas buat ngeteh. Akhirnya mas Bayu pun gabung di acara sarapan itu. Jam 10:00, gue masih males-malesan mau muncak. Bahkan kepikiran untuk nggak ikutan muncak. Tapi kok sayang bener, udah sampe sini. Yaudah akhirnya gue, Talang dan Rian berangkat muncak jam 11:00. Mas Bayu nggak ikut, jaga tenda dan dengan alasn besok harus kerja. Takutnya badan jadi nggak fit. 


cieee.. narsis

Jam 12:00 kami sampai pasar bubrah. Panaaaasss nya bukan main. (iyalah, tengah hari) . Di pasar bubrah nggak banyak yang nenda. Sepi, mungkin karena hari jumat siang. Kami lanjut dan dengan medan pasir yang nyaris bikin gue putus asa, akhirnya kami nyampe juga di puncak jam 14:30. Foto-foto, rehat bentar trus setengah jam kemudian mulai turun. 



 Talang
Rian

Nah dari pasar bubrah, ini kaki udah kacau rasanya. Cenut-cenut nggak keruan. Alhasil, jam 16:30 baru nyampe tenda lagi. Langsung masak lagi, makan, dan beberes. jam 17:30 kami mulai turun. Beruntung dari kemarin nggak keguyur hujan. Hawa mulai dingin lagi. Dan karena kondisi kaki gue yang makin sakit, perjalanan turun pun dua kali lebih lama. Rian dan mas Bayu berkali-kali nawarin mau bawain tas gue. Gue geleng-geleng kepala. Antara nggak mau ngrepotin dan ngerasa masih bisa bawa sendiri.Mas Bayu juga sempet ngecek kaki gue dan dengan sabarnya nawarin istirahat.

 Mas Bayu yang jarang banget foto
Ini Rian ngotot mau foto bareng

Tapi setelah nglewatin pos perhutani dan jalanan kembali beaspal,Gue nyerah. Keril gue beralih ke Rian. Maap ya yan... :/ dan langkah gue pendek-pendek sampe New Selo. Disana kami istirahat sebentar. Mas Bayu nawarin untuk nginep aja dirumahnya kalau kecapean. Tapi karena kami bertiga sepakat kalau Solo nggak jauh dari Boyolali, akhirnya kami tetap mau pulang aja. Jam 20:30 kami sampai di basecamp lagi. Langsung cusss ke Boyolali a.k.a rumah mas Bayu.

Jam 21:30 kami sampe di rumah mas Bayu. "Mau cari makan dulu nggak?" tawar mas Bayu.Kami bertiga saling pandang. Akhirnya kami kembali tancap gas, nyari warung nasi goreng terdekat. Nasi goreng kami pun datang dan disandingkan teh hangat. Gue selonjoran sambil main hape, para cowok ngobrolin entah apa sambil ngerokok. Nggak lama gue ikutan nimbrung juga di obrolan mereka. Ah, selalu asyik emang kalo ngobrol sama mereka. Jadi inget tahun lalu juga begini . Sayangnya kali ini nggak ada Novita, Mas ikrom dan mas Gilang. (maap Nov.... dadakan. hehe). Kenyang dan sadar udah larut malam, Kami pun pamit. 

Gue, Talang dan Rian kembali naik motor ke Solo. Jam 23:30 gue sampe rumah. Sepanjang perjalanan Talang diem aja. Ternyata tau kalo gue merem dibelakang. Hehehe..Nah, dua hari setelah itu, gue kembali bersiap-siap untuk balik ke perantauan. Yah.. life goes on kalo kata orang-orang. Sekian deh cerita gue tentang pendakian ke Merapi kemarin, makasih untuk para partner. semoga kita bisa jalan bareng-bareng lagi :)

Naredita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

MEET THE AUTHOR

Foto saya
Nared Aji Widita
Tangerang, Banten, Indonesia
Outdoor addict and coffee ethusiast. naredita@gmail.com
Lihat profil lengkapku

FOLLOW ME

Categories

  • JOURNEY (29)
  • REVIEW (23)
  • DAILY (9)
  • COFFEE (8)
  • BOOK (7)
  • HOTEL (6)
  • FIKSI (5)
  • GEAR (2)
  • HAPPENING (2)

Blog Archive

  • ▼  2018 (3)
    • ▼  Desember (1)
      • Berpetualang Bersama Aroma Karsa
    • ►  Januari (2)
  • ►  2017 (18)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (4)
    • ►  Juni (6)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2016 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Mei (5)
    • ►  April (6)
  • ►  2015 (14)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (5)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (5)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)

you also can find me in :

@PENDAKI NUSANTARA @KULINER BARENG

Guest

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates